The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 105 - The Story Of Risa (Kabar Pertunangan)



Dua hari berlalu setelah insiden lift. Risa tampak menggeluti pekerjaannya. Dia sedang membuat rancangan barunya. Padahal hari kala itu sudah larut malam. Bahkan gadis tersebut hanya tertinggal sendirian di ruang kerjanya.


Hans yang tidak sengaja menyaksikan Risa lantas menghampirinya.


"Risa, ayo pulang! aku padahal tidak menyuruhmu lembur!" ujar Hans sembari memegang lembut pundak Risa.


"Sebentar lagi kok, kamu duluan saja!" sahut Risa yang tersenyum tipis.


"Bukannya begitu, ada seseorang yang sudah lama menunggumu di luar."


"Benarkah?" Risa mengerutkan dahi. "Siapa?" tanya-nya.


Hans mematri senyuman diwajahnya, kemudian mendekatkan mulut ke telinga Risa dan berucap, "Yang jelas dia sangat tampan!"


"Apa rambutnya perak?" Risa mengira lelaki yang menunggunya adalah Jay.


"Temui saja lah dulu, kau bisa melanjutkan pekerjaannya besok saja!" Hans menyarankan. Risa lantas segera bangkit dari tempat duduknya dan beranjak keluar dari butik.


Benar saja, Risa melihat ada seorang pria bersetelan rapi. Perlahan sosok tersebut menoleh, dan ternyata dia adalah Tom. Wajah lelaki itu terlihat merah merona kala menyaksikan kemunculan Risa.


"Tom?" kening Risa mengernyit bingung.


"Maaf, jika aku tiba-tiba menemuimu. Aku tidak mengganggu kan?" tanya Tom seraya mengusap tengkuk tanpa alasan.


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Aku ingin bicara kepadamu!" ucap Tom yang berusaha menunjukkan mimik wajah tenang.


"Baiklah! bagaimana kalau sambil minum teh hangat?" tawar Risa, yang langsung mendapat anggukan dari Tom. Sekarang keduanya tengah berada di kedai minuman pinggir jalan, dan sedang duduk saling berhadapan.


"Apa kau mau membicarakan masalah phobiamu itu?" Risa memulai pembicaraan.


"Iya, aku--"


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan merahasiakannya dengan baik!" Risa sengaja memotong ucapan Tom, karena merasa sudah tahu dengan apa yang ingin dibicarakannya.


"Bukan begitu, sebenarnya tidak masalah orang lain tahu." Tom menuturkan. "Aku hanya sangat berterima kasih dengan kepedulianmu kepadaku saat berada di dalam lift!" tambahnya.


"Oh itu, kan memang sudah kewajibanku untuk membantumu, toh aku satu-satunya orang yang bisa menolongmu saat itu!" respon Risa.


"Memang, tetapi kau melakukannya dengan sangat baik. Aku tidak pernah bertemu dengan seseorang sepertimu." Tom berterus terang. 'Jujur hatiku seketika terkagum kala menyaksikan betapa tenangnya dirimu menghadapiku kala itu,' batin Tom.


Risa terkekeh dan berucap, "Tidak usah berlebihan!"


"Ya sudah! aku tidak akan membahasnya lagi. Yang jelas aku sangat berterima kasih, kau tidak akan meminta imbalan apapun kan?" ujar Tom. Dia berhasil membuat Risa tertarik dengan omongannya.


"Oke, aku ingin dipromosikan. Apa kau mampu mengabulkannya?" Risa menggunakan kesempatannya dengan baik. Padahal dirinya sebenarnya tidak bersungguh-sungguh. Ia hanya mencoba menguji Tom.


"Itu mudah!" Tom mengangguk-anggukan kepala.


Mata Risa terbelalak. "Kau langsung setuju?" tanya-nya yang merasa terkejut.


"Pffft! yang pasti aku akan mengusahakannya!" jawab Tom, yang dilanjutkan dengan menyeruput teh panasnya.


"Tidak usah serius, aku hanya bercanda. Nanti karyawan-karyawanmu akan memusuhiku!" ujar Risa.


"Kau benar! mereka pasti akan iri kepadamu."


"Iyakan?" balas Risa dengan tawa kecilnya.


"Ngomong-ngomong kata Hans kau punya selera seni yang bagus, apa itu benar?" Tom melakukan tatapan menyelidik kepada gadis yang duduk di depannya.


"Entahlah! kan itu cuman orang lain yang bisa menilai. Yang jelas, aku sangat menyukai segala jenis seni. Mesir, yunani, romawi, asia, semuanya! mimpiku adalah berkeliling dunia untuk melihat peninggalan-peninggalan seni bersejarah itu." Risa menjelaskan panjang lebar.


Jantung Tom berdegub kencang, karena apa yang disukai Risa juga sangat disukai olehnya. Dia seperti menemukan seseorang yang memang ditakdirkan untuknya.


"Benarkah kau menyukai semua itu? berarti kita sama dong! aku sangat." Tom terdiam sejenak lalu melanjutkan dengan antusias, "tidak! tidak! aku mungkin tergila-gila dengan semua karya seni itu!"


"Apa?!" Risa terperangah, karena sepertinya dia telah menemukan orang yang asyik untuk di ajak bicara mengenai hobinya.


Malam itu Tom dan Risa berbincang dengan panjang lebar. Keduanya membicarakan mengenai karya seni kesukaan mereka. Bahkan waktu tak terasa berlalu. Mereka mengobrol hampir empat jam lamanya.


"Astaga! sudah hampir jam tiga dini hari. Kedai ini buka dua puluh empat jam ya?" Risa mencelingak-celingukan kepalanya.


"Sepertinya begitu. Benar-benar tidak terasa ya! ini gara-gara kamu ngajakin bicara mengenai masalah seni!" ucap Tom yang berniat menggoda Risa.


"Enak saja! kenapa kau menyalahkanku!" balas Risa seraya sedikit terkekeh. Alhasil Tom pun ikut tertawa kecil bersamanya.


'Tom menyenangkan juga ya? mungkin jika aku terus dekat dengannya aku bisa melupakan Juni,' gumam Risa dalam hati sambil mengukir senyuman tipis.


"Ayo! aku akan mengantarmu pulang! kau lebih baik tidak usah masuk kerja dahulu besok." Tom menyarankan. Dia merasa bersalah karena sudah membuat Risa bergadang hampir semalaman.


"Kenapa?" tanya Risa.


"Anggap saja sebagai terima kasihku. Nanti aku akan beritahu Hans, jadi kau tidak perlu khawatir!" Tom meyakinkan, dan akhirnya mendapatkan anggukan dari Risa.


Sejak saat itu, Risa dan Tom semakin sering bertemu. Keduanya menjadi lebih dekat. Hingga akhirnya perasaan kagum Tom perlahan berubah menjadi cinta.


Suatu hari, tepatnya setelah sebulan lebih dirinya melakukan pendekatan kepada Risa. Tom akhirnya berencana mengungkapkan perasaannya. Sekarang dia dan Risa sedang bersama di sebuah pameran lukisan.


Tom menatap Risa dengan binaran di matanya. Gadis yang ditatapnya itu malah menatap kagum lukisan di hadapannya.


"Wah! lukisan ini maknanya sangat dalam!" ujar Risa seraya menunjuk lukisan yang ia maksud.


"Risa!" panggil Tom, yang sontak membuat Risa menoleh. Dia sekarang saling bertukar pandang dengan Tom. Perlahan tangan Tom menyentuh jari-jemari Risa.


"Aku mencintaimu. . ." lirih Tom penuh harap.


Risa terkesiap, jantungnya memang sedikit berdebar. Namun tidak seantusias kala dirinya mendengar pernyataan cinta Juni. Namun Risa meyakini deguban tersebut adalah pertanda kalau dirinya bisa menerima Tom. Dia pun langsung merekahkan senyuman dan membawa masuk Tom ke dalam dekapannya.


"Kau menerima?" tanya Tom sambil melepaskan dekapan Risa untuk memastikan. Risa pun merespon dengan anggukan dan senyuman.


***


Sebulan kemudian. . .


Kabar kedekatan Risa dan Tom telah menyebar luas. Terutama di kalangan orang-orang yang bekerja di perusahaan Tom. Apalagi kabar sudah dilangsungkannya acara pertunangan mereka sedang menjadi topik hangat. Namun mengenai kebenarannya, hanya Risa dan Tom yang tahu.


Risa sekarang sedang bekerja di butiknya. Meskipun ia berpacaran dengan seorang direktur, Risa tetaplah tahu diri mengenai posisinya. Toh gadis tersebut lebih mengutamakan pengalaman dari pada jabatan.


"Risa! ada seorang lelaki mencarimu di luar. Dia ngebet banget tuh!" ujar salah satu rekan kerja Risa yang bernama Ella.


"Apa warna rambutnya perak?" Risa lagi-lagi menebak orang yang mencarinya adalah Jay. Akan tetapi dia malah mendapat gelengan tegas dari Ella.


"Bukan! temui saja gih, dia sangat mengganggu!" sahut Ella.


Karena terus mendapat desakan dari Ella, Risa pun terpaksa berderap keluar dari butiknya. Matanya membulat sempurna tatkala menyaksikan kehadiran lelaki yang selalu ia sangka tak akan pernah datang.


'Juni?' batin Risa memanggil namanya.


...________________...


Catatan Author : Dengan ini author nyatakan bab The Story Of Juni dan The Story Of Risa berakhir! stay terus ya!