
"Pak! tolong bawa kami ke pantai Brighton!" perintah Juni kepada sang sopir taksi.
"Okay!" sahut sopir taksi yang bernama Freddy itu.
"Tidak ja-- Mmmphh!"
Juni langsung menutup mulut Risa rapat-rapat, karena tahu gadis tersebut tengah berusaha mengubah lokasi tujuan.
"Ris, aku sudah tidak mau menunggu. Pokoknya kau harus turuti keinginan pemenang!" ucap Juni. Perlahan tangannya mulai melepaskan bekapannya.
Risa menghela nafas panjang, dia merasa tidak dapat berkutik lagi. Sepertinya bagaimana pun dirinya mencoba menghindar, Juni akan selalu mengikutinya.
"Baiklah! aku akan turuti maumu. Tetapi setelah jalan-jalan ini, berjanjilah kau tidak akan muncul dan mengikutiku lagi!" Risa menegaskan.
"Oke, aku akan pikirkan," balas Juni santai sembari menatap Risa dengan binaran penuh arti.
Risa tiba-tiba merasa menegang. Karena lelaki di sebelahnya terus memandanginya. Dia bisa tahu kala sudut matanya berhasil memergoki. Jantungnya kembali berdegub kencang, bahkan Risa sudah menenggak salivanya sekali. Dia hanya mampu menenangkan diri dengan cara menyilangkan tangan di depan dada.
"Jun, berhentilah menatapku!" celetuk Risa, tanpa melihat lawan bicaranya. Dia memfokuskan atensinya ke arah kaca jendela mobil.
"Kenapa? aku kangen tau!"
"Sudahlah Jun!" Risa berusaha sebisa mungkin untuk tidak berlagak salah tingkah.
"Memangnya kamu nggak kangen?" Juni mendekatkan wajahnya. Risa yang merasa geram akhirnya menoleh ke arah Juni. Namun dia malah disambut oleh wajah Juni yang berjarak sangat dekat. Keduanya saling bertukar pandang untuk sesaat. Waktu serasa berhenti untuk sesaat. Entah kenapa Risa merasakan tubuhnya seolah mematung.
Juni memanfaatkan kesempatannya untuk semakin mendekatkan wajahnya. Dia perlahan memiringkan kepalanya, karena tengah membidik bibir ranum gadis di depannya. Risa yang sudah paham maksud dari tujuan Juni lantas reflek memalingkan wajahnya. Alhasil Juni pun terpaksa mengurungkan niatnya dengan disertai wajah yang memerah malu. Lelaki itu sekarang hanya mampu mengusap bagian tengkuknya tanpa alasan.
Hening terjadi beberapa saat, menyelimuti suasana di antara Juni dan Risa. Hanya Freddy yang terlihat begitu menikmati suasana dengan radionya yang menyala. Dia sengaja memelankan volume suara radio miliknya agar penumpangnya tidak begitu terganggu.
"Kenapa kau tiba-tiba mau ke Brighton? jauh tau! kira-kira kita akan butuh waktu satu jam lebih untuk sampai ke sana!" Risa memulai pembicaraan.
"Itulah yang aku mau, perjalanan yang panjang!" sahut Juni santai. Namun Risa hanya merespon dengan ringisan wajahnya.
"Sebelum sampai di Brighton, kau lebih baik kabari tunanganmu dulu. Karena saat sampai di sana aku ingin pastikan tidak ada yang boleh mengganggu kita, jadi baik ponselku maupun ponselmu harus dimatikan!"
"Apa?! sejak kapan kau begitu Jun?!" Risa merasa tak percaya.
"Turuti saja keinginan pemenang!" balas Juni.
Tanpa pikir panjang Risa pun segera mengambil ponsel dalam tasnya. Dia mengabari Bayu dan Tom kalau dirinya sedang mengurusi masalah pekerjaan yang mendesak. Setelahnya, ia pun segera mematikan ponselnya. Hal yang sama juga dilakukan Juni.
"Puas?!" tukas Risa, yang berhasil membuat Juni terkekeh.
"Ngomong-ngomong aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu," ungkap Juni.
Juni pun menceritakan semuanya kepada Risa, mengenai alasan dirinya yang lebih memilih tinggal dibanding harus ikut ke London. Sekarang lelaki tersebut bahkan berterus terang mengenai masalah hutang yang menimpa keluarganya. Juni menceritakan segalanya, termasuk bagaimana perjuangannya agar bisa pergi ke London.
Risa terdiam seribu bahasa. Ada rasa sesal dihatinya. Raut wajahnya yang sedari tadi hanya menampakkan kekesalan berubah menjadi datar.
"Tenang saja, aku tetap menganggap semuanya salahku kok!" ujar Juni yang merasa khawatir ketika menyaksikan ekspresi rasa bersalah Risa.
"Kau harusnya bilang dari awal. . ." lirih Risa. Entah kenapa hatinya terasa sesak. Tanpa terasa cairan bening menetes dari pelupuk matanya. Dia berusaha menutupinya sebisa mungkin dari Juni. Namun sayang, usahanya tak berhasil.
"Kenapa kau menangis?" tanya Juni, dia mencoba memberanikan diri untuk membawa Risa masuk ke dalam dekapannya. Untuk kali ini Risa sama sekali tak melawan, tangannya malah dilingkarkan ke pundak Juni.
"Sudah terlanjur Jun! aku sebentar lagi akan menikahi lelaki lain. Kenapa kau datang sangat terlambat?!" Risa menghapus air mata yang ada dipipinya.
Juni perlahan melepaskan pelukannya dan berucap, "Siapa bilang terlambat? kau saja belum menikah kan?"
"Aku tahu! tetapi kami sudah menyiapkan banyak hal!" Risa menjelaskan. "Sudahlah! jangan membicarakannya lagi, lebih baik kita fokus dengan rencana jalan-jalan kita saja!" tambahnya yang sengaja mengubah topik pembicaraan. Juni lantas hanya bisa menurut saja dengan kemauan Risa.
'Aku tidak bisa memutuskan begitu saja rencana pernikahan. Tom pasti akan sangat kecewa, dan bukan cuman dia saja, bahkan ayah pun akan kecewa kepadaku. Sebab dia sangat menyukai Tom. Aduhh! sekarang aku benar-benar bingung! Juni kenapa datang lagi sih ke dalam hidupku!' batin Risa yang berakhir dengan meremas bagian kepalanya sendiri.
Sama halnya dengan Risa, Juni juga sedang berceloteh dalam hatinya.
'Tangisan Risa tadi, bukankah sangat jelas dia masih sangat mencintaiku. Tetapi anehnya dia tetap tidak berniat lari dari pernikahannya. Sekarang apa yang harus aku lakukan? aku kira semua penjelasan tadi akan cukup untuk membuat hati Risa berpaling lagi kepadaku. Sekarang aku tak punya rencana lain, selain memanfaatkan waktu jalan-jalan ini dengan baik!' Juni mendengus kasar sembari menyenderkan badan ke sandaran jok mobil.
Setelah satu jam lebih di perjalanan, Juni dan Risa pun tiba di tempat tujuan. Freddy pun segera memberitahukan kedua penumpangnya. Namun kala itu hanya Risa yang merespon, sedangkan Juni sama sekali tidak menyahut karena masih asyik tertidur pulas.
"Astaga nih anak! katanya mau ngajak jalan-jalan malah dia yang malas!" gumam Risa. Akhirnya dia tidak punya pilihan lain selain memerintahkan Freddy untuk mengantarkannya dan Juni ke hotel terdekat. Toh harinya sudah larut malam, jadi baik Juni dan Risa sangat butuh untuk beristirahat.
"Jun! Juni!" Risa mengguncang tubuh Juni, karena mereka telah tiba di depan sebuah hotel.
Juni langsung terbangun dengan gelagapan. "Maaf Ris! sudah sampai ya?" tanya-nya seraya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Risa yang merasa geram lantas menggetok kepala Juni. "Dasar kau! makanya kalau mau ngajak jalan-jalan lihat situasi dan kondisi dong! masa ngajakin jalan-jalan habis aku pulang kerja. Ya jatuhnya malam lah!" Risa menggerutu kesal.
"Aku nggak punya pilihan lain!" Juni mencubit sebelah pipi Risa karena merasa gemas.
"Ish!" Risa memukul tangan yang sedang mencubit pipinya.
Setelah membayar ongkos taksi, Juni dan Risa pun berderap memasuki area hotel.
"Ris, kamu pinter banget ngajakin aku ke sini!" imbuh Juni dengan senyuman menggoda.
"Idih! jangan mesum kau!" balas Risa seraya tertawa kecil. Pipinya menjadi merah merona, karena terbesit dalam kepalanya mengenai pikiran kotor yang dimaksudnya barusan.
"Pffft! eh! siapa yang mesum juga! kamu kali, mukanya sampai merah begitu!" timpal Juni, yang sontak membuat Risa melayangkan pukulan ke pundaknya. Wajah Risa malah semakin memerah.