The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 100 - The Story Of Juni (Audisi)



Kita adalah sepasang sepatu


Selalu bersama tak bisa bersatu


Kita mati bagai tak berjiwa


Bergerak karena kaki manusia


Aku sang sepatu kananmu


Kamu sang sepatu kiri


Ku senang bila diajak berlari kencang


Tapi aku takut kamu kelelahan


Ku tak masalah bila terkena hujan


Tapi aku takut kamu kedinginan


Kita sadar ingin bersama


Tapi tak bisa apa apa


Terasa lengkap bila kita berdua


Terasa sedih bila kita di rak berbeda


Di dekatmu kotak bagai nirwana


Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya


Sepatu by Tulus.


...______________...


Setelah mengantri sangat lama, akhirnya Ervan dipanggil terlebih dahulu untuk masuk. Sekarang Juni sedang duduk menenangkan diri untuk menunggu gilirannya. Keringat panas dingin mulai menyelimutinya. Lelaki tersebut sudah merasakan kegugupan yang teramat sangat.


'Aku harap semuanya bisa berjalan dengan baik. Jadilah dirimu sendiri Jun!' Juni berusaha memberi semangat kepada dirinya. Dia tampak beberapa kali mengeluarkan nafas dari mulutnya. Tangannya terus saja menangkup bagian wajah.


Mata Juni sesekali mengamati orang-orang yang berada di sekelilingnya. Beberapa dari mereka terlihat sedang berlatih bernyanyi. Sebagian dari orang-orang itu berhasil membuat Juni terpesona dengan suara yang mereka miliki. Juni sempat merasa kalah, dia merasa bakatnya masih di bawah dari orang-orang tersebut. Bahkan gaya mereka tampak modis.


'Hufh! setidaknya lakukanlah demi Mamah dan Risa!' lagi-lagi Juni berusaha mencuci otaknya sendiri.


"Kak Jun!" seorang gadis yang tidak asing untuk Juni tiba-tiba datang menghampiri. Dialah Chika yang ternyata juga berminat mengikuti kontes The Real Singer 8.


"Chika? kamu ikut juga?" Juni melebarkan matanya.


"Iya dong Kak! aku nggak mau membuang kesempatan berharga ini," tutur Chika sembari memposisikan dirinya duduk di sebelah Juni. Seluruh atensinya dipusatkan kepada lelaki yang tengah duduk di sampingnya. Apalagi kala itu pelipis Juni terlihat sedikit berkeringat. Chika pun berinisiatif mengusapnya dengan sapu tangan yang dia bawa.


"Kak Jun--" ucapan Chika terpotong karena pergerakan tangannya langsung dihentikan oleh Juni.


"Aku bisa sendiri kok!" ujar Juni sambil menunjukkan senyuman tak berdosa, lalu mengambil sapu tangan yang sedang berada dalam genggaman Chika. "Aku bawa pulang ya, nanti aku cucikan!" sambungnya yang merasa sadar diri kalau sehelai kain tersebut sudah ternodai dengan cairan dari tubuhnya.


"Enggak apa-apa kok Kak! biar aku sendiri saja yang nyuci!" Chika berusaha mengambil kembali sapu tangannya. Namun tangan Juni dengan cekatan menjauhkannya.


"Ini sudah kotor loh!" tegas Juni, yang sontak membuat Chika terdiam.


Ceklek!


Ervan terlihat sudah keluar dari ruangan. Raut wajahnya tampak sendu, seolah ada sesuatu yang mengecewakannya. Juni lantas segera bangkit dari tempat duduk dan menghampirinya.


"Kontes musim ke-delapan ini sepertinya bukan keberuntunganku," jawab Ervan yang mencoba memaksakan diri untuk tersenyum.


"Kau bisa mencoba di kontes menyanyi lainnya. Kan masih banyak kontes yang akan diadakan di tempat lain!" Juni berusaha menenangkan. Dia menepuk pelan pundak Ervan. Tidak lama kemudian nama Juni terdengar dipanggil untuk masuk ke ruang audisi.


"Semoga berhasil ya Jun!" Ervan mencoba memberikan semangat untuk sahabatnya.


"Kak Jun pasti bisa! aku yakin!" Chika ikut-ikutan bersuara. Senyuman manisnya terpatri jelas diwajahnya.


Setelah menghela nafasnya sekali, Juni pun segera memasuki ruang audisi. Di sana dia berhadapan dengan tiga juri berpengalaman.


Ketika masuk ke dalam ruangan, Juni disuruh memperkenalkan diri terlebih dahulu. Selanjutnya dia pun dipersilahkan menunjukkan kebolehannya.


Juni mengawali penampilannya bersama petikan gitar yang mengalun lembut. Kemudian dilanjutkan dengan lantunan suaranya yang serasa menenangkan. Dia memilih lagu Sepatu milik Tulus.


Ketika menyanyikan lirik lagunya, Juni tidak sengaja begitu menghayati. Terbayang masa bahagianya saat masih kanak-kanak. Dia dan Risa melakukan banyak hal bersama. Suka duka mereka lewati.


Juni membayangkan dirinya saat masih berusia tujuh tahun. Sebab dia dan Risa sangat suka bermain layang-layang. Momen tersebut sangat bermakna untuknya. Apalagi setelah mendengar presentasi Risa mengenai filosofinya tentang bermain layang-layang. Bukan hal yang mudah untuk menerbangkan benda yang dapat melayang tinggi itu. Butuh perjuangan berkali-kali agar dapat membawanya terbang ke langit menghiasi cakrawala.


Refrain dari lagu yang dibawakannya semakin membawa Juni larut dalam keadaan. Apalagi sekarang dirinya dan Risa seakan sedang berada di rak yang berbeda. Terpisahkan oleh jarak dan waktu. Bahkan tak mampu saling bicara, hanya karena sebuah masalah yang harus dirahasiakan oleh salah satunya.


Tring. . .


Juni mengakhiri lagu dengan petikan terakhir dari gitarnya. Penampilannya langsung mendapatkan tepuk tangan meriah dari para juri.


Juni terkesiap, dia yang sedari tadi memejamkan mata karena terlalu menghayati, tidak pernah menyangka akan mendapatkan sambutan hangat.


"Kau menyanyikan lagunya dengan asyik, tetapi kenapa aku merasa kalau kau menghayatinya dengan kesedihan, apa aku benar?" salah satu juri bernama Maria bertanya kepada Juni.


"A-aku, memang lagi sedih Kak!" jawab Juni seraya mengusap tengkuknya tanpa alasan. Rasa gugupnya kembali muncul karena di ajak bicara oleh juri.


"Hiyaaakk! Maria dipanggil Kakak, dia sudah tua Jun. Eh nama kamu Juni kan tadi?" juri yang bernama Arman menimpali rekannya tersebut. Seperti biasa, para juri itu terkadang mengomentari dengan penuh canda dan tawa. Sehingga kebanyakan para kontestan bisa melupakan rasa gugupnya sejenak.


"Iya Om!" sahut Juni kepada juri lelaki yang sepertinya paruh baya.


"Ya elah, aku dipanggil Om!" Arman tampak berlagak gusar.


"Jangan dipanggil Om, panggil eyang aja!" juri yang bernama Riana ikut menimpali. Alhasil Juni pun tak kuasa menahan tawa kala menyaksikan kelakuan para juri.


Setelah puas saling bercanda gurau, ketiga juri akhirnya menilai satu per satu.


Ceklek!


Juni keluar dari ruangan audisi dengan tatapan datar. Dia lagi-lagi mengeluarkan nafasnya lewat mulut. Ervan dan Chika yang sudah menyadari kemunculan Juni segera berlari menghampiri. Mereka saling melontarkan pertanyaan dengan antusias.


"Gimana Jun?" tanya Ervan sembari memperhatikan mimik wajah Juni dengan seksama.


"Kak Jun, cepat kasih tahu kita!" desak Chika yang sudah tidak sabar. Namun Juni masih terdiam seribu bahasa. Sebelah tangannya tampak disembunyikan di balik gitarnya.


"Lihat! apa ini nyata?" Juni mengeluarkan tiket kelulusannya yang sedari tadi dia sembunyikan di belakang gitar. Mata Ervan dan Chika langsung membola karena merasa ikut senang terhadap keberuntungan yang telah diterima Juni.


"Aku memang nggak lolos, tetapi setidaknya sahabatku ini berhasil! wah aku salut sekali kepadamu Jun!" Ervan tersenyum bangga. Dia benar-benar tulus mengucapkan pujiannya.


"Sudah kubilang kan! Kak Jun pasti lolos!" Chika tak kuasa menahan rasa bahagianya. Dia semakin mengagumi sosok dari seorang Juni.


"Kau harus bersiap untuk tahap selanjutnya. Soalnya kontes ini punya tahap yang cukup panjang. Tapi aku yakin kau pasti bisa!" Ervan kembali memberikan semangat.


"Makasih ya, untuk kalian berdua!" Juni menatap Ervan dan Chika secara bergantian, dibarengi senyuman simpul yang merekah.