The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 49 - Maaf! Maaf! Maaf!



Juni membasuh wajahnya di kamar mandi. Kalimat Ello terus saja terngiang di telinganya.


'Kalau begitu dia buat aku saja ya!'


Pernyataan yang dilontarkan seniornya itu membuat Juni gelisah. Hingga di malam yang larut, ia tak mampu tertidur. 'Ada apa denganku! bukannya aku sudah kecewa dengan Risa dan membulatkan tekad untuk terus bersama Amel. Tetapi kenapa aku tidak rela ada seseorang yang mencoba mendekatinya,' batin Juni yang tengah mengacak-acak rambut frustasi. Perlahan ia mulai membuka tirai jendela untuk menengok ke rumah Risa.


'Bodoh! itu kamarnya Om Bayu, bukannya kamarnya Risa ada di sisi lain ya?' ucap Juni dalam hati.


"Haiss! hentikan Juni! apa yang kau lakukan?!" gumam Juni yang kemudian melayangkan pantat ke atas kasur. 'Tetapi kenapa Risa cuman diam ya? kenapa dia tidak melakukan sesuatu dan berusaha keras seperti biasa?' pikir Juni.


"Dari pada pikirin dia, mending aku packing saja!" Juni menghabiskan setengah malamnya dengan merapikan beberapa pakaian. Besok dia akan berangkat untuk mengikuti festival seni yang diadakan di Bali.


Sang surya sudah muncul dari ufuk timur, Risa terlihat sudah rapi dengan celana jeans dan kemeja satin warna coklatnya. Gadis tersebut memang tidak pernah lalai dengan waktu.


"Ris, kamu berangkat bareng Juni saja ya, Ayah sudah bilangin sama Ibunya!" ucap Bayu dengan nada tinggi. Dia tengah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan.


Tak! Tak! Tak!


Risa turun dari tangga dan menghampiri sang Ayah. "Aku sih mau aja, tetapi Juni-nya bersedia nggak pergi bareng aku?" tanya Risa yang menatap serius.


"Ya mau-lah, dia nggak bakalan berani sama ibunya!" balas Bayu yakin.


Cess!


"Tidak! tidak! jangan gosong lagi!" Bayu langsung mematikan kompor, karena telor yang sedang dia goreng sudah berwarna kehitaman.


"Ayah kalau nggak bisa, ngapain masak sih! sini aku saja!" geram Risa yang merasa geregetan menyaksikan ke-kikukkan ayahnya. Sekarang gadis itu mengambil alih dapur.


"Anak Ayah ternyata juga pintar masak ya!" Bayu mengelus kepala Risa lembut. Namun belum sempat sedetik, Risa dengan cekatan menjauhkan kepala dari tangan sang ayah.


"Ya iyalah! kan terbiasa sendirian di rumah!" sarkas Risa, yang sontak membuat Bayu terdiam.


Di sisi lain tepatnya di rumah Juni, Rahma sedang berkacak pinggang ketika menyaksikan anak sulungnya masih setia terlelap di atas kasur. Dia lantas mengambil bantal yang menganggur, lalu melayangkannya ke pantat sang anak.


"Kamu ya! kebiasaan! cepat bangun!" omel Rahma dengan aksi pukulan bantalnya.


"Huaaah. . ." Juni terbangun, dia merubah posisi menjadi duduk. Matanya masih sayu dan mengantuk.


"Kamu mau air Jun?" tanya Rahma sembari menatap tajam kepada anak sulungnya yang masih malas berdiri.


"Bentar lagi lah, ini masih pagi juga!" bantah Juni yang kembali menguap.


"Ini sudah hampir jam tujuh!" ungkap Rahma, yang segera membuat Juni membuka matanya lebar-lebar, karena dia baru ingat kalau harus tiba di bandara tepat pukul setengah delapan. Juni pun berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Dasar!" Rahma yang melihat, lantas menggeleng tak percaya.


Tidak lama kemudian, Juni keluar dari kamar. Dia sudah rapi dengan celana jeans dan kemeja garis-garis berwarna hitam putih.


"Wah, wah! kamu anak siapa ya?" Rahma menatap bingung Juni.


"Apaan sih Mah! nggak jelas banget!" respon Juni, yang meringiskan wajah. "Mamah baru nyadar punya anak yang tampan?" sambungnya percaya diri.


Plak!


Rahma lagi-lagi melayangkan pukulan ke pantat anak sulungnya. "Haiss! Mamah suka banget sih mukul pantat!" keluh Juni seraya mengusap pantatnya.


"Ya sudah, sana pergi jemput Risa. Nih bekalmu, makan di jalan saja! kamu nggak punya waktu, pergi! pergi!" desak Rahma sambil mendorong-dorong Juni ke pintu depan.


Bruk!


Rahma menutup pintu, dan telah berhasil mengeluarkan sang anak dari rumah. "Cuman Mamah Ibu di dunia ini yang melarang anaknya sarapan di rumah! aneh!" pekik Juni.


Ceklek!


Pintu kembali terbuka, Juni pun tersenyum senang. Namun Rahma hanya melempar kunci mobil dan kembali menutup pintu. "Ingat Jun! berangkat bareng Risa! awas kalau nggak!" teriak Rahma. Juni yang mendengar hanya menggeleng maklum.


"Jun!" panggil Risa yang sudah berdiri di belakang Juni.


Deg!


Jantung Juni langsung berdetak kencang tatkala melihat kemunculan Risa. Lelaki tersebut sempat terdiam dalam sesaat.


"Kalau kamu nggak mau berangkat bareng aku, bilang aja lah!" ucap Risa lagi.


"Nggak, ayo!" ujar Juni singkat, lalu segera masuk ke dalam mobil. Di susul oleh Risa setelahnya.


Hening terjadi cukup lama di antara Juni dan Risa. Sepertinya keduanya tengah memiliki pembicaraan sendiri di benak masing-masing.


"Jun," panggil Risa sambil menatap sahabatnya dengan sudut mata.


"Bicara saja. Telingaku selalu aktif!" balas Juni datar.


"Aku cuman mau minta maaf perihal kebohonganku, aku kan belum sempat minta maaf kemarin," tutur Risa, yang sekarang menundukkan kepala.


"Kamu tega! jahat!" dahi Juni mengernyit, dia kembali merasa kesal jika mengingat kebohongan sahabatnya sendiri.


"Aku cuman ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu Jun!" jelas Risa.


"Hanya itu? jadi itu alasannya?! bahkan tanpa perlu berbohong pun kau bisa menghabiskan waktu bersamaku!" kata Juni dengan nada tinggi.


"Jangan bertingkah sok tidak tahu alasannya!"


"Aku memang tidak tahu, karena itulah kau memperlakukanku seperti orang bodoh. Aku tahu, aku ini selalu tampak bodoh bagimu!"


"Iya, kau memang bodoh!" pekik Risa lalu kembali melanjutkan, "terlalu bodoh sampai kau tidak tahu bahwa alasanku berbohong itu karena aku mencintaimu! bukankah aku sudah mengatakannya puluhan kali?!"


Syuuttt!!


Juni me-rem mobilnya tiba-tiba, karena hampir menabrak seorang anak yang menyeberang. Hal itu membuat Risa sontak membulatkan mata. Baik Juni maupun Risa, keduanya tengah berusaha mengatur deru nafas akibat perasaan takut.


"Kau kalau marah tidak perlu melampiaskannya pada orang lain!" sinis Risa. Juni tak hirau, dia hanya bergegas turun dari mobil untuk memeriksa keadaan anak kecil yang hampir ditabraknya. Namun syukurlah anak kecil tersebut baik-baik saja. Juni pun kembali mengendarai mobilnya.


"Harusnya aku yang marah!" Juni menggeleng tak percaya seraya memiringkan mulutnya ke kanan.


"Aku juga pantas marah Jun. Soalnya aku sudah meminta maaf!" Risa tak mau kalah.


"Masalah tidak akan selesai hanya karena satu kata!" balas Juni.


"Oke kalau gitu!" Risa memutar bola mata malas, kemudian menghela nafas panjang. "Maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf! maaf!" pekik Risa dengan puluhan kata maafnya dan masih terus berlanjut.


Alhasil Juni pun menyumpal mulut sahabatnya tersebut dengan tisu. "DIAM!" teriaknya yang tak kalah nyaring.