The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 50 - Tiba Di Bali



Risa melepaskan tangan Juni dengan paksa, kemudian membuang tisu yang menyumpal mulutnya. Dia berusaha mengatur gebu amarahnya. Hal yang sama juga tengah dilakukan oleh Juni. Keduanya menampakkan raut wajah cemberut dan sama sekali tidak saling bicara.


Setelah beberapa saat, tibalah Juni dan Risa di tempat yang mereka tuju. Risa sontak turun dari mobil tanpa sepatah kata pun. Terlihat sudah banyak temannya yang sudah berkumpul. Masing-masing jurusan diwakilkan oleh tiga orang. Tiket pesawat mereka pun segera dibagikan.


Risa melangkahkan kaki memasuki pesawatnya, lalu berusaha mencari nomor tempat duduk yang tertera pada tiketnya. Gadis itu berusaha fokus untuk mengedarkan pandangannya. Hingga tibalah dia ke kursi yang dicari. Risa mengukir semringah diwajahnya, namun langsung pudar tatkala menyaksikan Juni yang juga duduk di deretan kursinya.


"Kau duduk di sini?" tanya Risa.


"Harusnya aku yang tanya, aku datang lebih dahulu!" balas Juni yang lantas memutar bola mata ke kanan, tepatnya ke arah jendela.


"Terserah!" ujar Risa sembari melayangkan pantatnya ke kursi yang berada di sebelah Juni.


"Wah, kalian duduk di deretan ini juga?" Ello tiba-tiba datang. Dia segera duduk ke kursi yang ada di samping Risa. "Mungkinkah kita berjodoh?" lanjutnya seraya memandang ke arah Risa.


'Apaan sih si Ello kampret, norak banget!' batin Juni.


"Mungkin saja Kak!" sahut Risa yang tersenyum hingga membuat kedua matanya menyipit.


"Memangnya kamu mau berjodoh denganku Ris?" goda Ello sambil menopang dagunya dengan tangan.


"Kalau jodoh kan tidak akan kemana Kak," Risa lagi-lagi tersenyum. Membuat Juni yang tidak sengaja mendengar lantas menggeleng tak percaya.


Pesawat telah lepas landas, dan sekarang sedang berada di udara. Juni menyenderkan kepalanya sejenak dengan headset yang terpasang di kedua telinga. Berbeda dengan Risa yang sudah lelah mendengar celotehan Ello.


'Astaga aku menyesal telah memanfaatkan nih orang untuk membuat Juni cemburu,' batin Risa yang dilanjutkan dengan helaan nafas. 'Ah, aku punya ide!' lanjutnya dalam hati.


Selanjutnya Risa mencoba memulai aksinya, yaitu dengan berpura-pura tidur. Ello yang melihat sontak terdiam dan menggeleng maklum. Perlahan Risa menyenderkan kepalanya ke bahu Juni.


Deg!


Jantung Juni berdebar tidak karuan, dia melepaskan salah satu headsetnya. Ditengoknya wajah sahabatnya yang sedang tertidur. Tiba-tiba saja Risa memeluk lengan Juni bak sebuah guling.


"Jun, teman kamu sepertinya tengah bermimpi tertidur di atas kasurnya. Kalau kau merasa risih, lebih baik pindahkan saja ke bahuku," tegur Ello, yang sontak membuat Juni merasa tertangkap basah.


"Si-silahkan!" respon Juni. Dia mencoba melepaskan kedua tangan Risa yang melingkar, lalu memindahkannya ke bahu Ello.


'Ish! Juni kurang ajar sekali!" kesal Risa dalam hati. 'Terserahlah! yang penting si Ello sudah diam!' lanjutnya yang terpaksa menyendekan kepala ke bahu Ello.


***


Bruk!


Risa melemparkan tasnya ke atas kasur. Iya, dia sudah tiba di hotel tempat dirinya dan yang lain menginap.


"Ris, kamu pacaran sama Kak Ello ya? tadi kok kelihatan sudah akrab banget?" tanya Winda. Dia merupakan teman satu jurusan Risa yang juga terpilih untuk mewakili festival seni.


"Enggaklah ya!" balas Risa malas sembari merebahkan diri ke kasur.


"Masa? aku melihat kau mesra sekali saat di pesawat!" Gita ikut masuk ke dalam pembicaraan. Dia juga salah satu teman satu jurusan dengan Risa.


"Jangan tanyakan padaku, tuh tanyakan Winda saja. Dia fans berat Kak Ello!" tunjuk Gita yang sedikit terkekeh.


"Benarkah? ya sudah ambil saja. Aku tidak menyukainya!" ucap Risa yakin seraya mengubah posisi menjadi duduk. "Aku fans sama yang namanya Juni saja," sambungnya yang kembali menjatuhkan diri ke kasur.


"Juni? eh, aku juga menyukainya!" celetuk Gita yang menatap Risa dengan penuh semangat.


"Eh? benarkah?" Risa menatap serius.


Gita menganggukkan kepala. "Aku melihatnya menyanyi di cafe, dan dia sangat. . . wah! aku kesulitan menjelaskannya!" ujar Gita dengan gelagat tersipu malu, karena terbayang akan wajah orang yang disukainya.


"Gita!" panggil Risa dengan nada tinggi, dia kemudian mencengkeram leher baju yang dikenakan Gita.


"Eh Ri-ri-ris? kenapa?" respon Gita yang ketakutan melihat tatapan tajam dari seorang Risa. Bahkan Winda yang juga menyaksikan tampak merasa gugup.


"Juni milikku!" tegas Risa, lalu dilanjutkan dengan tawa gelinya. "Aku cuman bercanda!" tambahnya, yang tentu saja membuat Gita merasa lega sekaligus kesal.


"Dasar! aku kira apa Ris!" Gita menggeleng tak percaya.


"Kita jalan-jalan yuk! mumpung lagi ada waktu luang," ajak Winda. Dia sudah siap dengan bibir yang sudah di poles lipstik.


"Yuk!" Gita langsung setuju. "Kamu ikut Ris?" tanya-nya yang sekarang mengalihkan pandangannya ke arah Risa.


"Kalian saja deh, aku sedang ingin tiduran saja," balas Risa yang masih bermalas-malasan di atas kasur. Alhasil Risa pun ditinggal sendirian di kamar. Pandangannya terus saja menatap ke arah jendela yang berseberangan langsung dengan pantai.


Saat Risa ingin memejamkan mata, sosok lelaki tiba-tiba muncul dan menarik atensinya. Dialah Juni, sahabat dan juga lelaki yang telah berhasil membuatnya jatuh hati. Risa lantas mengubah posisinya menjadi duduk.


Juni terlihat sedang menikmati indahnya pantai sendirian. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Risa mengambil buku gambarnya, dan membuat sketsa pemandangan yang sedang dilihatnya.


Tidak disangka, Juni menoleh ke belakang. Dia tetap diam dalam posisinya lumayan lama. Kemeja yang dikenakannya beterbangan karena diterpa angin. Semuanya terlihat bak slow motion.


Risa yang menyaksikan sontak tersenyum simpul. Dirinya merasa telah menemukan gaya yang tepat dari seorang Juni. Tidak lama kemudian, selesai sudah sketsa yang dia buat.


"Kau memang selalu tampan dimataku Jun, bahkan saat kau gendut!" gumam Risa sembari memandangi gambarnya yang sudah jadi. Perlahan dia kembali mengalihkan perhatian ke arah Juni, dan langsung dibuat kaget. Dikarenakan Juni sudah menghilang. Alhasil Risa pun bergegas keluar kamar, dan berlari menuju tempat dirinya melihat Juni.


Risa sekarang berada di bibir pantai dengan lari kecilnya. Gadis tersebut terus mengedarkan pandangannya, berharap bisa melihat keberadaan Juni.


"Risa?!" tiba-tiba suara seorang lelaki yang tidak asing memanggilnya dari arah belakang. Risa yang mengenal suara itu langsung menoleh.


"Ja-jay?" mata Risa membulat sempurna, ketika menyaksikan kehadiran Jay. Lelaki yang sempat dekat dengannya saat tinggal di London.


"Aku berusaha menghubungimu, tetapi kau tidak pernah menjawab dan membalas pesanku!" imbuh Jay, tentu saja dengan bahasa inggris dan logat british-nya.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Risa enggan.


"Aku sedang liburan, kamu tahu kan ber-traveling adalah mimpiku saat masih berada di pusat rehabilitasi!" terang Jay. Risa yang mendengar mencoba tersenyum lebar. Alhasil Jay pun membawa Risa masuk ke dalam pelukannya.