The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 41 - Amukan Risa



Juni berlari menyusuri lorong rumah sakit, dia baru teringat dengan janjinya bersama Risa. Dari kejauhan terlihat para perawat yang sedang membawa pasien dalam keadaan tergesak-gesak. Juni menyadari sesuatu, tatkala dirinya melihat pasien dengan rambut merah muda sebahu. Pakaiannya pun persis dengan baju yang dipakai Risa hari ini.


"Risa?" gumam Juni dengan mata yang membulat sempurna. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengikuti para perawat hingga ke ruang darurat.


"Tunggu di luar ya Mas!" kata salah satu perawat, yang melarang Juni untuk ikut masuk.


Di sisi lain, Dokter Andi sedang berkacak pinggang sambil menatap tajam pasiennya yang baru tersadar. "Sudah aku bilang, jangan terlalu stress!" geram-nya.


"Maaf Dok, biasa masalah anak muda. Aku lagi patah hati!" keluh Risa yang mengeluarkan nafasnya lewat mulut.


"Kau hampir sembuh, emang mau tambah parah? kan sudah kubilang kalau batuknya kumat minum obatnya!" timpal Dokter Andi.


"Maaf, lain kali aku akan lebih baik." Risa memasang raut wajah memelasnya.


"Tuh temanmu sangat khawatir di luar!" ujar Dokter Andi seraya bersiap-siap ingin keluar ruangan.


"Temanku?" Risa membelalakkan mata, dia yakin teman yang dimaksud Dokter Andi adalah Juni.


"Dok! tunggu!" Risa mencegah kepergian Dokter Andi. Alhasil lelaki berbadan jangkung tersebut menghentikan langkahnya.


"Aku boleh minta bantuanmu lagi?" tanya Risa serius.


"Jangan macam-macam kamu!" balas Dokter Andi dengan dahi yang berkerut.


"Kali ini yang terakhir deh! aku ingin balas dendam dengan temanku, plis Dok!" mohon Risa sembari mengatupkan kedua tangan.


"Apa maumu?" Dokter Andi mencoba mendengarkan.


"Bilangin aku punya penyakit kanker stadium tiga sama Juni," ucap Risa dengan senyum jahatnya.


"Juni?"


"Temanku yang sedang menunggu di luar itu loh! yang kemarin bareng aku ke sini!" tutur Risa, yang kembali berniat melakukan kejahilannya.


"Kenapa tidak jujur saja dengan stadium-mu sekarang, kan sama-sama penyakit!" Dokter Andi menatap tak percaya.


"Haiss! kanker stadium satu terlalu lemah Dok, aku butuh dia ketakutan dengan keadaanku." jelas Risa.


"Segitunya? gimana kalau kejadian beneran?" timpal Dokter Andi.


"Habis dia juga keterlaluan sih! cuman Juni doang kok yang dibohongi, ya? ya Dok?" mohon Risa sekali lagi. "Kalau nggak mau, nanti aku akan aduin perselingkuhan Dokter sama istrinya!" tambah-nya lagi sambil menyunggingkan mulutnya ke kanan.


"Eh! diam!" Dokter Andi mendekati Risa dengan gelagapan. "Bagaimana kamu tahu?" sambung-nya.


"Makanya kalau mau bermain jangan di kantor Dok! ya pasti ketahuan pasien lah!" ujar Risa dengan nada pelan, lalu sedikit tertawa kecil. Dokter Andi hanya bisa mengusap wajah frustasi. Dia pun terpaksa mengabulkan keinginan Risa, dan kembali melangkah untuk membuka pintu dengan wajah merengut.


'Wah, Juni ada di sini. Aku jadi langsung semangat! awas aja kamu Jun, berani-beraninya mengingkari janjimu pada seorang Risa.' ucap Risa dalam benaknya.


Dokter Andi keluar dari ruangan, dan dirinya langsung dihampiri seorang lelaki yang tidak lain adalah Juni. Ekspresi-nya terlihat panik.


"Dok, bagaimana keadaan teman saya? apa baik-baik saja? dia sakit apa?" tanya Juni yang sudah tidak sabar. Dokter Andi yang telah terlibat perjanjian dengan Risa mulai melakukan aksinya. Dia menampakkan wajah seolah sedang sedih, layaknya seorang aktor pemain film.


"Temanmu. . . dia sakit kanker nasofaring, dan sudah berada di stadium tiga, tetapi untuk sekarang dia baik-baik saja," ujar Dokter Andi dengan nada bicara yang pelan. Juni yang mendengar kabar buruk tersebut langsung membulatkan mata. Dia masih merasa tidak percaya.


'Bagaimana bisa Risa sakit? padahal dia selalu kelihatan sehat. Astaga, aku belum siap menghaddapi ini semua. Kenapa harus kanker? stadium tiga? ini mimpi kan?' Juni mengacak-acak rambut frustasi. Kemudian segera membuka pintu kamar Risa.


"Ngapain kamu ke sini? pergi!!!" pekik Risa.


Bruk! dug!


Gadis itu melempar bantal ke arah Juni. Kemudian dilanjutkan dengan melempari benda-benda yang ada di dekatnya.


"Eh! eh! Ris!" keluh Juni yang kebingungan menghindari serangan Risa. Dia masih berdiri di depan pintu, mencoba menghindari benda-benda yang melayang ke arahnya.


"PERGI!" pekik Risa sekali lagi dengan mata yang melotot. Juni pun mengalah, dan segera kembali keluar.


"Sepertinya Risa sangat marah padaku!" gumam Juni seraya menatap ke arah kamar Risa. Alhasil dia pun hanya duduk menunggu di luar.


Beberapa saat kemudian, Bayu muncul dengan raut wajah yang terlihat panik. "Juni? kamu di sini?" tanya-nya.


"Iya Om. . ." lirih Juni denga wajah sendunya.


"Loh kenapa nggak masuk?" Bayu duduk tepat di samping Juni.


"Risa sepertinya sangat marah denganku!" jelas Juni singkat.


"Begitu, ya sudah ayo masuk bareng Om!" ujar Bayu santai.


Bayu pun mengajak Juni bersamanya untuk masuk ke kamar Risa. Kali ini Risa hanya terdiam dan terus membuang muka dari sahabatnya. Sedangkan perasaan Juni sendiri sangat dirundung khawatir.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Bayu lembut.


"Yang jelas lebih baik dari pada tadi." Risa menatap sang ayah dengan senyuman. Namun ekspresinya langsung cemberut tatkala melihat kehadiran Juni.


"Ngapain kembali lagi?!" ungkap Risa seraya mengerutkan dahi.


"Eh! kenapa marah-marah gitu sama Juni? dia nungguin kamu lama banget loh di luar," kata Bayu yang mencoba menenangkan Risa.


"Enggak apa-apa kok Om! Risa memang pantas marah kok!" balas Juni. Hening menyelimuti suasana di antara ketiganya. Hingga Bayu akhirnya mendapatkan panggilan yang mendesak mengenai pekerjaannya.


"Ris! Ayah harus pergi sebentar, ini urusan yang sangat penting. Kau jaga dirimu baik-baik ya!" Bayu membelai lembut kepala Risa. "Jun! Om nitip Risa sama kamu ya, sekalian selesaikan urusan kalian berdua. Om nggak suka lihat kalian bertengkar!" sambungnya lagi sambil melangkahkan kaki menuju pintu.


"Ris. . ." lirih Juni yang mencoba menghampiri Risa. "Aku benar-benar minta maaf," tambahnya.


"Ngapain kamu peduli sama aku, sana! urus Amelia saja. Aku sudah nggak mau mengusikmu!" timpal Risa yang terus saja memalingkan wajah dari sahabatnya.


"Ayahmu menyuruhku menjagamu. Terserah kau mau marah atau apapun itu, yang jelas aku akan ada di sini." Juni terlihat serius dengan ucapannya.


'Hebat Risa, rencana ini sepenuhnya berhasil. Juni akan terus bersamaku, mudah-mudahan ayah kembalinya lama. Paling nggak semalaman lah!" girang Risa dalam hati, dia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan ekspresi puas-nya.


"Ya sudah kamu istirahat dahulu, kalau ada apa-apa kau bisa katakan padaku," imbuh Juni sembari duduk di sofa.


"Aku memang sedang istirahat kok!" ketus Risa.


Dua jam kemudian, Juni tampak sudah terlelap di sofa. Berbeda dengan Risa yang baru saja terbangun dari tidurnya.


'Oh lihat cecunguk itu sedang tertidur pulas. Sekarang haruskah aku beraksi?' ucap benak Risa sambil tersenyum smirk.