
Risa segera berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan dengan tergesak-gesak entah kemana. Juni pun otomatis mengekorinya. Sedangkan Jay sengaja mengalah, toh dia tidak akan bisa menyingkirkan posisi Juni dari atensi Risa. Sekeras apapun usahanya, Jay yakin Risa akan lebih tenang jika seorang Juni yang mencoba menenangkannya.
"Risa!" panggil Juni sembari melangkah cepat. Dia langsung meraih punggung Risa, dan membalikkan badan gadis itu. Sekarang keduanya tengah saling berhadapan.
"Kau--" Juni membuang kalimatnya jauh-jauh kala menyaksikan mata Risa yang tampak berkaca-kaca. Lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
Risa perlahan melingkarkan tangannya ke pinggang Juni. Dia berusaha menahan air mata yang terus memaksa untuk menetes.
"Keluarkan saja semuanya Ris, kau tidak perlu menahannya. . ." ucap Juni lembut. Karena suruhan Juni, Risa pun melepas sesak di hati dengan tangisannya.
'Kenapa dia sangat menyayangi anaknya seperti itu? kenapa ketika bersamaku dia sangat tak acuh? padahal aku kan juga anak kandungnya yang pantas mendapat kasih sayang. Kenapa aku selalu merasa sendirian? rasanya sangat menyakitkan melihat Mamah memperlakukan anak orang lain dengan lembutnya.' Risa membatin dengan pikiran yang berkalut.
Juni hanya terdiam, dan membiarkan Risa menangis dalam dekapannya. Dia tahu gadis tersebut butuh waktu untuk meratap. Suara dengusan hidung mulai terdengar dari seorang Risa. Air matanya bahkan sudah membasahi baju lelaki yang sedang memeluknya.
"Jun. . ." Risa reflek melepaskan pelukannya karena menyadari baju kekasihnya sudah basah.
"Kenapa?" Juni mengangkat sebelah alisnya.
"Ini. . ." Risa mengusap-usap bagian baju Juni yang telah basah karena air matanya.
"Pffft! sejak kapan kamu jadi nggak enakan begitu?" tukas Juni.
Risa lantas memanyunkan mulutnya. "Bukan begitu. Kamu kan akan segera tampil dipanggung, aku pengennya kau berpenampilan rapi dan tampan!" ucapnya.
"Kau harusnya pikirkan dirimu saja. Usaplah pipimu dahulu, bukan bajuku, monyet!" ujar Juni sembari menghapus air mata yang mengukir garis-garis tak beraturan di pipi Risa. Entah apa yang membuat Juni berbuat nekat, tetapi dia tiba-tiba mengecup kening Risa lembut di tempat umum. "Kau lebih baik pulang saja, aku tahu kehadiran ibumu selalu mengganggu mood-mu!" usulnya.
Risa yang mendengar sontak menggeleng. "Enggaklah Jun! aku mau melihat kau bernyanyi!"
"Kau yakin?" tanya Juni, yang langsung mendapat anggukan dari Risa. Keduanya lantas memasuki area cafe dan kembali menghampiri meja dimana Jay duduk.
"Are you okay?" tanya Jay, menatap khawatir. Risa pun merespon dengan anggukan dan senyuman tipis.
"Jun, kamu bersiap aja gih!" suruh Risa santai.
"Beneran?"
"Iya!" Risa mengangguk yakin. Alhasil Juni pun beranjak pergi dari meja makan Risa dan Jay.
Tidak lama kemudian Anggun dan Ello mendatangi Risa. Wanita yang terlihat awet muda itu sepertinya mencoba menyapa dan berbicara kepada anak perempuannya.
"Risa?" sapa-nya seraya memposisikan diri duduk di sebelah Risa.
"Mamah kenal Risa?" tanya Ello yang sepertinya belum mengetahui kebenaran.
"Aku adikmu Kak!" sahut Risa dengan senyuman singkatnya.
"Hah?" Ello terperangah sambil melayangkan pantatnya di kursi terdekat.
"Risa benar El, dia adalah anak Mamah dari suami pertama," terang Yenn singkat. Ello sontak membelalakkan matanya, dia merasa tidak percaya.
"Jadi gadis yang sering Mamah bicarakan itu Risa?" Ello memastikan.
"Iya!" sahut Anggun. Ello menampakkan mimik wajah terkagetnya. Tatapannya terlihat seakan kosong.
"Bagaimana kabarmu Ris?" tanya Anggun seraya mencoba membelai rambut sang putri. Namun Risa dengan sigap menghindari belaian tangan tersebut. Anggun pun hanya bisa tersenyum canggung dan berusaha bersikap normal sebisa mungkin.
"Baik!" Risa menjawab dengan nada datar.
"Ris, mereka siapa?" Jay yang sedari tadi terdiam akhirnya bersuara.
Anggun tersenyum senang, setidaknya ada seseorang yang bisa menyambut kehadirannya dengan penuh semangat. Dia pun saling bersalamn dengan Jay. "Hai Jay! sepertinya kau dari London ya?" tebaknya yang bisa mengetahui logat bicara Jay.
"Iya!"
"Lalu sedang apa di sini? kamu sama Risa pacaran?" tanya Anggun.
"Enggak Mah! dia kehilangan paspornya, makanya terpaksa menginap di rumah!" Risa menyambar pertanyaan yang tidak seharusnya dijawab olehnya.
"Risa!" Jay menegur Risa dengan dahi yang berkerut. Dia sangat bingung kenapa gadis tersebut berperilaku seperti itu di hadapan ibunya sendiri.
"Enggak apa-apa Jay!" Anggun lagi-lagi berusaha tenang.
"Kak Ello kenapa diam saja?" tanya Risa yang heran menyaksikan raut wajah sendu yang ditunjukkan Ello.
"Tidak apa-apa. Kepalaku tiba-tiba pusing." Ello memegangi bagian kepalanya sendiri.
"Benarkah? apa kau sudah makan?" Anggun bertanya karena mencemaskan sang putra tirinya.
"Dia anak ibumu juga?" Jay menatap penuh tanya. Risa hanya menjawab dengan anggukan malas.
"Kak Ello nggak akan tampil bareng Juni?" ujar Risa.
"Aku sudah tampil tadi kan? sekarang giliran Juni setelah ini. Kenapa? kau sudah tidak sabar melihat penampilan buruknya itu?" timpal Ello meremeh.
Bruk!
"Apa?! buruk?!" Risa bangkit dari tempat duduknya setelah memukulkan tangan ke meja. Aksinya itu berhasil menyita atensi semua orang di sekelilingnya.
***
Tak! Tak! Tak!
Amelia melajukan langkahnya ketika menyaksikan kehadiran Bayu. Dia membawa berkas-berkas penting untuk di rundingkan kepada lelaki yang merupakan ayah kandung Risa itu.
"Halo Pak. . ." Amelia menunduk ramah.
"Eh, Amel? ada apa?" Bayu menampakkan wajah masamnya. Semburatnya menunjukkan lelah yang sangat jelas.
"Hanya ingin mendiskusikan terkait kerjasama Bapak dengan perusahaan saya!" Amelia berbicara formal.
"Ya sudah, silahkan masuk ke ruanganku kalau begitu!" titah Bayu, yang segera dilaksanakan oleh Amelia. Sekarang keduanya sudah berada di sebuah ruangan.
Bayu tampak beberapakali mengusap wajah frustasi. Pakaiannya bahkan terlihat tidak rapi, bahkan ada sedikit noda kopi pada kemejanya.
'Ayahnya Risa kenapa ya? mungkin ada masalah pekerjaan kah? sekarang aku semakin tidak tega mengganggu ketenangan Risa.' benak Amelia bertanya-tanya. Dia terus menilik ke arah Bayu. Awalnya dia memang berniat ingin melakukan hal ekstrim terhadap Bayu. Karena dirinya tahu, lelaki berperawakan jangkung tersebut juga merupakan orang istimewa untuk Risa.
"Ini, katakan pada atasanmu kalau aku setuju untuk bekerjasama!" ucap Bayu sambil menyerahkan kembali berkas-berkas Amelia.
"Terima kasih Pak!" sahut Amelia. 'Haruskah aku menanyakan apa yang terjadi?' pikirnya dengan biji mata yang bergerak pelan.
"Kenapa kau bengong?" tegur Bayu yang bingung menyaksikan Amelia diam mematung.
"Eh! enggak Om, eh Pak!" Amelia segera bangkit dari sofa dengan gelagapan. Setelahnya ia pun segera berpamitan.
"Akhirnya pekerjaanku selesai. . . huaaah. . ." gumam Amelia yang dilanjutkan dengan uapan panjang. Dia merasa lega melepas penatnya. "Jadi kangen Juni. . . meskipun dia sudah memilih Risa, tetapi menatapnya dari jauh tidak salahkan." Amelia kembali berbicara kepada dirinya sendiri, lalu segera mencari transportasi umum. Dia berniat pergi ke cafe dimana Juni bekerja paruh waktu.