
Juni langsung melangkahkan kaki melewati Amelia. Dia mengambil sepedanya dengan pelan. Tanpa di duga Amelia berdiri dan menatap Juni.
"Kamu temannya Risa kan?" tanya-nya tiba-tiba. Juni pun langsung mengalihkan pandangannya pada gadis itu.
"Iya!" sahut Juni singkat.
"Kamu nyari aku?" tiba-tiba Risa muncul entah dari mana. Dia terlihat berjalan mendekati Amelia.
"Risa?" ujar Amelia dengan senyum tipisnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan, ini tentang Dina..." sambung Amelia lirih sembari menatap canggung Juni yang masih terdiam melihat kehadiran Risa.
"Sama! ada yang ingin aku bicarakan juga sama kamu Mel!" balas Risa pelan.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya!" Juni mencoba mengayuh pelan pedal sepedanya. Namun Risa segera menghalangi jalannya, dia menatap getir sang sahabat.
"Aku tunggu kamu tadi lama banget tau!" imbuh Risa seraya mencengkram erat bagian depan sepeda Juni.
"Aku nggak suruh kamu nunggu kok!"
"Kau masih marah karena masalah tadi Jun?"
"Sepertinya aku tunggu di pintu gerbang aja ya," Amelia menyela dengan canggung.
"Nggak! kamu di sini aja!" titah Risa pada Amelia yang saat itu hampir beranjak pergi.
"Ris aku mohon biarin aku sendiri, bukankah kalian memberi waktu buatku untuk memilih?" ujar Juni dengan raut wajah yang serius.
Sontak membuat Risa perlahan melepaskan cengkeramannya. Kakinya melangkah mundur untuk membiarkan Juni pergi dengan sepedanya.
Risa menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh dari pandangan. Angin perlahan menerpa, menjatuhkan beberapa helai dedaunan kering. Risa masih mendiamkan Amelia yang kala itu masih berdiri mematung menatapnya.
Rambut sebahu yang di miliki Risa beterbangan karena angin. Dia akhirnya menatap Amelia yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
"Sebelum kau bicara, bolehkan aku yang bicara lebih dulu?" tanya Risa. Amelia pun menganggukkan kepalanya sembari mengukir senyuman tipis diwajahnya.
"Aku cuma mau minta maaf, saat latihan karate aku menggunakan tenaga yang terlalu kuat, jadi kau..." sambung Risa yang di akhiri dengan menundukkan kepalanya.
"Ris! udah lama kali aku maafin kamu!" Amelia memegang lembut lengan Risa, senyuman tipisnya kembali terukir. Risa yang mendengarnya ikut tersenyum. Dia merasa sedikit lega. Setelah sesi permintaan maaf itu, mereka berdua langsung membicarakan tentang sikap Dina yang berubah total saat ini.
"Kau tahu Mel alasan sikap Dina berubah kayak gitu?" tanya Risa dengan raut wajah serius.
"Sepertinya ini karena kehamilannya..." balas Amelia lirih. Mendengarnya Risa langsung membelalakkan mata.
"Kamu juga tahu kalau... tapi Dina bilang dia tidak mau memberitahumu tentang ini!" Risa tampak bingung.
"Iya Ris! dia nggak kasih tahu aku, tapi aku tahu dari keluarganya Dina,"
"Jadi keluarga Dina sudah tahu?"
"Mungkin itulah alasan Dina mau kembali ke sekolah saat ini!" raut wajah Amelia tampak sendu.
"Aku harap Dina baik-baik saja... keluarganya tidak memarahinya kan?" ujar Risa dengan kernyitan di dahinya.
"Itulah yang pengen aku tahu, tapi Dina selalu menghindar akhir-akhir ini,"
"Sama! sikap dia juga begitu ke aku dan Juni!"
Amelia langsung menatap Risa, "Jadi Juni juga tahu tentang masalah ini?"
"Iya Mel, karena saat itu aku lagi jalan bareng sama dia sebelum kebetulan ketemu Dina! tapi kita nggak usah khawatirkan itu, Juni bukan tipe orang yang bocorin rahasia orang!" jelas Risa dengan nada yang meyakinkan.
"Memaksa adalah jalan ninjaku!"
"Ris aku rasa itu bukan ide bagus buat deketin orang hamil!" Amelia sedikit meringis.
"Maaf Mel kebiasaan!" Risa langsung tersenyum malu, Amelia yang melihat tingkahnya hanya sedikit memanyunkan mulutnya mencoba memahami sikap Risa.
Tidak terasa hari semakin sore, Risa dan Amelia pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Tidak lupa mereka saling bertukar nomor satu sama lain.
***
Sesampai di rumahnya Risa langsung di sambut oleh suara perdebatan kedua orang tuanya. Perlahan Risa menghentikan langkah kaki di depan pintu rumahnya. Suara kedua orang tuanya yang sedang naik pitam itu terus terngiang di telinga.
Bukannya menangis, Risa malah memiringkan mulutnya membentuk seringai. Dia membuka pintu rumahnya dengan percaya diri.
BRAK!!
Risa menghempaskan pintu dengan keras, dan seketika membuat ayah dan ibunya berhenti bertengkar. Mereka terlihat terdiam melihat kedatangan sang anak semata wayang.
Dengan raut wajah cemberut Risa berjalan melaju ke dalam kamarnya. Dia bersikap seolah tidak tahu menahu dengan perdebatan ayah dan ibunya. Toh lagi pula tidak ada hal yang bisa Risa lakukan untuk menghentikan perdebatan tersebut.
Saat di kamar Risa segera melepas seragamnya dan segera mengganti pakaiannya dengan cepat. Tidak lupa dia mengambil tas ransel dan juga kunci mobilnya. Tanpa makan dan istirahat, dia langsung beranjak pergi lagi dari rumah.
Kedua orang tuanya yang melihat kepergian Risa tampak terdiam seribu bahasa. Mereka tidak melakukan apapun untuk mencoba mencegah atau menenangkan putri tunggalnya itu.
Brrrmm!
Risa menyalakan mesin mobilnya dan langsung menginjak gas. Mobilnya pun melaju sangat cepat.
***
Syut!
Risa menginjak rem mobilnya saat sudah tiba di depan rumah Juni. Dia menatap lumayan lama rumah sang sahabat. Pikirannya sedang berkecamuk kala itu.
Hanya Juni yang ada di pikiran Risa, ketika dia sedang dalam kekalutan. Namun bagi gadis tersebut, ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Juni. Apalagi siang tadi lelaki itu mengatakan bahwa dia ingin sendiri. Alhasil Risa pun kembali menjalankan mobilnya.
"Mas! mobil ini laku berapa kalau di jual?" tanya Risa pada manajer dealer mobil.
Setelah sedikit berbicara pada manajer dealer mobil tersebut, akhirnya Risa memutuskan untuk menjual mobil yang saat ini dimilikinya.
Sebenarnya keputusan itu sudah dia rencanakan bahkan sebelum hari ini tiba. Risa benar-benar muak melihat mobilnya itu sekarang. Apalagi setelah dia sering mendengar ayah dan ibunya terus bertengkar di rumah.
Dengan membawa uang yang lumayan banyak, Risa berniat pergi ke dealer mobil bekas. Dia melangkahkan kaki masuk ke toko dealer mobil bekas tersebut.
Namun saat memasuki toko itu, seorang lelaki yang Risa kenal menarik atensinya. Risa pun mencoba mengulik ingatannya untuk mencoba mengingat lelaki tersebut.
"Wanto! kemana aja!" tiba-tiba seseorang datang menyapa lelaki yang sedari tadi Risa anggap tidak asing.
Risa langsung membulatkan matanya karena mendengar nama Wanto. Dia sangat ingat betul perlakuannya yang selalu ketus pada kakak kelasnya itu. Perlahan Risa membalikkan badannya agar Wanto tidak melihat keberadaannya di sana.
"Mbak! kok nggak jadi?" tegur Wanto yang masih tidak tahu gadis yang sedang di panggilnya itu adalah Risa.
Wanto menyipitkan matanya, dalam perasaannya mengatakan bahwa gadis yang ada di hadapannya tersebut terasa tidak asing.
"Risa?" terka Wanto sembari berjalan mendekat.
Risa hanya bisa menghela nafas panjang dan membalikkan badannya untuk menatap Wanto yang saat itu sudah berdiri di belakangnya.