The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 44 - Perasaan Tak Terduga



"Sebenarnya aku masih belum begitu pede nyanyi dipanggung Kak!" ungkap Juni sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Itu normal Jun, aku juga begitu loh dulu. Dan aku akan beritahu kamu tips rahasiaku. . ." ucap Ello yang di akhiri dengan nada pelannya.


"Apa tipsnya?" tanya Juni.


"Resapi lagu dan pejamkan matamu. Maka kau akan lupa kalau dirimu sedang tampil di puluhan pasang mata." Ello terlihat yakin.


Sebelum melakukan penampilan, Juni dan yang lain di ijinkan untuk berlatih. Kala itu Juni juga menyaksikan betapa lihainya permainan piano yang dimainkan Ello.


"Ayo Jun! saatnya giliranmu, kamu mau menyanyikan lagu apa?" tanya Ello seraya menyeret Juni naik ke atas panggung.


Benar saja, malam itu Juni bisa tampil dengan baik. Tips dari Ello memang sangat manjur, hingga membuat kepercayaan diri dari seorang Juni muncul sepenuhnya.


Setelah pulang bekerja di waktu yang sudah larut. Juni langsung mendatangi Risa di rumah sakit. Sebab dia tidak ingin mengingkari janji yang dia lontarkan sendiri kepada sahabatnya.


"Ris, kamu mau aku suapin?" tanya Juni yang baru saja datang.


"Kamu kenapa capek-capek ke sini lagi sih?" Risa berbalik tanya.


"Ya buat jagain kamu lah. Kan ayahmu nggak bisa seharian nemenin kamu!" balas Juni sembari mengambil makanan yang sudah diletakkan perawat di atas meja. Perlahan dia mulai menyendok nasi dan lauk untuk disuapkan kepada sahabatnya. Risa yang merasakan perhatian berlebih dari Juni semakin dibuat terkagum.


"Jun, kalau aku tidak sakit, kamu akan se-perhatian ini nggak sih?" tanya Risa serius, dia menatap Juni dengan binar matanya.


"Kemungkinan tidak," sahut Juni santai.


Plak!


Risa langsung melayangkan cap lima jarinya ke pipi Juni. "Dasar! emang tega kamu!" geram Risa dengan dahi yang mengernyit.


"Sakit tau!" Juni memegangi pipinya. "Lagian kalau kamu sehat kan bisa lakuin segalanya sendiri," tambahnya lagi.


"Terserah! kalau aku mati baru tahu rasa!"


"Eh jangan bicara gitu!" tegur Juni dengan nada tinggi.


"Emang benar pada kenyata--" Juni menggenggam erat tangan Risa, hingga membuat sahabatnya itu sontak terdiam. Keduanya saling bertukar pandang. Hingga mata Juni perlahan mulai menyorot bibir merah muda sahabatnya.


Deg!


Jantungnya berdebar tidak karuan.


'Astaga, apa yang aku pikirkan!' ucap Juni dalam hati, lalu menggeleng beberapa kali untuk menyadarkan diri.


"Sudah Jun, kau bisa memelukku kok!" ucap Risa yang langsung membawa Juni masuk ke pelukannya.


Juni awalnya terdiam, dan hanya membiarkan Risa mendekapnya begitu erat. Detak jantungnya mendadak menggebu. Alhasil dia pun perlahan melingkarkan tangannya ke punggung Risa.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuat Juni dan Risa harus segera menghentikan aktifitas mereka. Keduanya sama-sama sedang salah tingkah.


"Si-siapa?" tanya Juni yang masih berusaha mengatur nafasnya. Dia takut orang yang ada di depan pintu adalah Bayu.


"Mau cek infus pasien. . ." sahut orang dari luar dengan nada lembut, yang tidak lain adalah seorang perawat. Juni dan Risa pun langsung mendengus lega.


Setelah perawat keluar dari ruangan. Hening terjadi dalam beberapa saat.


"Kanker nasofaring kan?" Juni menatap serius.


"Cari dulu gih di internet!" suruh Risa yang kemudian mengukir seringai diwajahnya. Juni memutar bola mata jengah, lalu melakukan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.


"Eh tunggu--" Juni memegangi mulutnya sendiri, hingga membuat Risa yang melihatnya tertawa geli.


"Itu yang ingin aku beritahukan," jelas Risa. "Jadi, kau bisa menciumku lain kali!" tambahnya dengan sedikit terkekeh.


"Ish! menyebalkan!" Juni masih memegangi area bibirnya. Wajahnya memerah bak kepiting rebus.


"Keadaanmu sudah membaik kan?" tanya-nya.


"Baik dong! apalagi setelah mendapatkan pelukan dari seorang Juni!" goda Risa dengan raut wajah semringah. "Ngomong-ngomong, itu bisa disebut selingkuh loh!" lanjutnya lagi. Juni yang mendengar lantas hanya terdiam seribu bahasa.


"Aku menunggu kepastianmu," Risa tak henti memandang Juni dengan binaran mata. "Tapi kalau jadi selingkuhanmu pun aku rela. Asal kau berakhir menikah denganku!" ungkap Risa yang segera membuat Juni menjewer kuping sahabatnya tersebut.


"Aku harus pergi!" ujar Juni seraya memakaikan ransel ke punggung.


"Cepat banget sih sayang!" keluh Risa yang tidak terima dengan kepergian sahabatnya.


"Kurang ajar nih anak!" geram Juni yang sedikit tertawa kecil. Lalu melangkah keluar ruangan.


'Omg! aku senang banget sumpah! kalau begini, aku tidak ingin mengakhiri kebohonganku dong. Terserah! yang pasti Juni sepertinya mulai tertarik denganku.' Girang Risa dalam benaknya. Dia senyum-senyum sendiri bak orang gila.


Keesokan harinya, Juni sengaja mengajak Amelia berkencan untuk menonton film bersama. Dia mencoba mencari detak jantung yang dia rasakan seperti saat bersama Risa.


"Mel, kamu mau brondong jagung?" tawar Juni.


Amelia menggeleng dan berucap, "Nggak usah Jun!"


"Kalau nggak mau, gimana kalau brondong tampan saja?" canda Juni yang lantas berhasil membuat pipi Amelia memerah dan sedikit tertawa.


Amelia kemudian menatap ke arah Juni lekat. Perlahan gadis itu mulai mendekatkan wajahnya. Hingga jarak di antara keduanya hanya beberapa senti. Namun saat Amelia ingin memulai lebih dulu, Juni malah mundur dan memalingkan wajah.


"Maaf Mel. . . a-aku--"


"Nggak apa-apa kok Jun," jeda Amelia yang harus menerima penolakan dari kekasihnya sendiri.


'Haiss! kenapa denganku sih! kenapa rasanya aku tidak sanggup mencium Amel?' ucap benak Juni sambil menatap Amelia dengan sudut matanya.


Saat pikiran Juni berkecamuk, tiba-tiba tangannya merasakan kehangatan dari gadis yang sedang duduk di sebelahnya. Iya, Amelia menggenggam lembut tangan Juni, kemudian menyenderkan kepala ke bahunya.


"Jun, aku hari ini sedih banget!" celetuk Amelia, yang membuat mata Juni membulat sempurna. Dia mengira Amelia mengetahui apa yang sudah dilakukannya bersama Risa.


"Ke-ke-kenapa?" tanya Juni dengan tergagap.


"Kamu harus tahu. . ." Amelia menjeda ucapannya sejenak. Hal itu pun sontak membuat Juni semakin gugup.


'Jangan bilang Amel tahu? apa dia mengintip dari luar? oh tidak, tidak! jendelanya kan ditutup dengan tirai. Lalu bagaimana Amel tahu?' gumam Juni dalam hati.


"Kamu harus tahu Jun, kalau hari ini aku dipecat dari salah satu pekerjaanku," sambung Amelia. Juni yang mendengar langsung mendengus lega. Pikirannya menjadi agak berlebihan gara-gara insiden detak jantung yang dirasakannya terhadap Risa. Dia dan Amelia sekarang terdiam dan sama-sama mrmfokuskan perhatian kepada film yang terputar di hadapan mereka.


Sekilas info : Kanker nasofaring tidak hanya disebabkan oleh Virus Epstein-Barr (yang terkandung dalam air liur), tetapi juga ada yang disebabkan oleh polusi, asap rokok, makanan terlalu asin, faktor usia, riwayat keturunan dsb.