
Ceklek!
Jay baru saja keluar dari kamar mandi. Dia terlihat hanya mengenakan handuk di bagian pinggangnya. Dengan tampilan telanjang dada, tubuh atletisnya menjadi terpampang nyata. Lelaki tersebut memang terbiasa mandi di malam hari, khususnya setelah melakukan beberapa olahraga kecil.
Tak! Tak! Tak!
Risa menuruni tangga dengan santainya. Wajahnya yang sedari tadi lesu akibat bangun tidur langsung berubah tatkala menyaksikan penampakan Jay. "Wow Jay! kau seksi sekali," tegur Risa sembari tersenyum tipis.
"Apa kau baru menyadari ketampananku?" tukas Jay percaya diri.
"Aku sudah sadar dari dahulu. Tetapi, ketampananmu itu tidak berhasil mengalahkan orang yang ada dihatiku!" tutur Risa.
"Apa? maksudmu?" Jay membulatkan mata.
"Bukan apa-apa!" Risa mendengus kasar lalu melanjutkan, "Jay, aku. . ."
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Jay melangkah maju untuk semakin mendekat dan menatap Risa lekat.
"Ish! kau ini apa-apaan?" keluh Risa yang sedikit terkekeh.
"Kau tidak berdebar?" Jay menatap serius.
Risa memutar bola mata dan mengatakan, "Jay, sebenarnya aku--"
"Shhhu! shhhu!" Jay meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Risa. Aksinya tersebut berhasil membuat gadis di depannya terdiam. "Beri aku kesempatan, oke?!" tambahnya. Dia semakin mencondongkan kepalanya tepat ke wajah Risa.
Plak!
"Jangan macam-macam kamu!" hardik Risa setelah melayangkan cap lima jarinya ke salah satu pipi Jay.
"Risaaa!" Jay memegangi area pipinya yang sakit.
"Ya sudah, cepat sana pakai bajumu! kau mau aku telanjangi? hah?!" ancam Risa yang agak geram. Tangannya hampir saja menarik handuk yang melingkar di pinggang Jay.
"Silahkan saja kalau kau mau Ris! mungkin kau akan menyukainya!" balas Jay percaya diri.
"Dasar kurang ajar, kau pikir aku cewek apaan hah?!" Risa melayangkan beberapa tendangan tepat ke pantat Jay. Lelaki yang menerima tendangannya itu hanya bisa tertawa malu akibat serangan yang diberikan Risa.
"Oke, oke! aku cuman bercanda!" Jay mencoba menenangkan Risa yang masih menampakkan ekspresi cemberutnya. "Besok kita lari pagi yuk! mumpung juga hari minggu. Kau libur kuliah kan?" tanya-nya.
"Ide bagus!" Risa langsung menyetujui, toh kali ini dia berniat mengajak Juni untuk ikut bersamanya. Dia pun segera mengabari sang kekasih melalui pesan seluler. Awalnya Juni menolak, namun karena mendengar Risa akan pergi bersama Jay, dia langsung mau ikut. 'Apaan sih Jay, ngajak-ngajak Risa lari pagi bareng. Tunggu, tunggu, apa Risa belum menjelaskan mengenai hubunganku dengannya kepada Jay?'
Juni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian kembali melanjutlan aktifitasnya.
***
Di pagi-pagi sekali, Risa tampak sudah berpakaian setelan oahraga. Kali ini dia mengenakan pakaian yang lebih longgar dari biasanya. Sekarang dirinya tengah berusaha membangunkan Juni yang masih bergeming dengan kasur dan bantalnya.
Tok! Tok! Tok!
"Juniii!" panggil Risa. Dia sedang berdiri di depan pintu kamar Juni.
"Buka aja pintunya Ris. Ngapain juga digetok-getok, dia nggak bakalan bangun!" pekik Rahma dari dapur.
"Siap Tante!" sahut Risa, lalu segera membuka pintu kamar Juni. Dirinya menemukan pemandangan tidak biasa. Juni tertidur dalam keadaan tengkurap dengan keadaan kepala yang sudah berada di ujung kasur.
'Astaga, dia tidur seperti cacing kepanasan. Apa dia selalu begini ya? perasaan waktu di penginapan kemarin enggak deh!' batin Risa sembari mengingat cara tidur Juni ketika bermalam bersamanya di penginapan. Perlahan gadis tersebut menciptakan senyuman miring. Siapa bilang Risa telah tobat dengan kejahilannya? itu hanya omong kosong dari mulutnya belaka.
Bruk!
Risa merebahkan dirinya di sebelah Juni, lalu berbisik, "Juni. . . bangun. . ."
Usaha pertamanya tidak membuahkan hasil, dia pun mengubah posisinya menjadi duduk dan mengambil gelas yang berisi air. Dituangnya sedikit air itu tepat ke wajah Juni.
"Oh sepertinya terlalu sedikit!" gumam Risa, yang dilanjutkan dengan menyiramkan air lebih banyak.
Pyar!
Juni reflek terbangun dengan ekspresi konyolnya. Risa kembali merebahkan diri di samping lelaki itu.
"Enggak kok! aku baru aja sampai!" kilah Risa yang tampak tenang. Alhasil Juni hanya bisa menghela nafas berat.
"Ayo sana, siap-siap! katanya mau ikut lari pagi? atau kau mau biarin aku sama Jay aja?" ujar Risa, yang sontak membuat Juni bergegas bangkit dari kasurnya.
Risa keluar dari kamar Juni dan melayangkan pantatnya di kursi yang ada di dekat meja makan. Dia sedang mencoba mengajak ngobrol Rahma seperti biasa.
"Gimana Ris, sudah bangun nggak?" tanya Rahma sambil meracik sayuran untuk hidangan sarapan. Dia juga tengah kebingungan dengan nasi gorengnya yang sedang dimasak.
"Sudah Tante, dia lagi siap-siap. Sini aku bantuin!" Risa mencoba mengatur api untuk nasi gorengnya.
"Astaga Risa, nggak usah repot-repot kamu!" ucap Rahma dengan senyuman canggungnya.
"Justru Tante-lah yang sedang kerepotan mengurusnya," balas Risa sembari mengaduk-aduk nasi gorengnya. "Setelah ini Tante langsung pergi kerja ya?" tanya-nya.
"Iya, makanya harus masak pagi-pagi. Kadang-kadang juga sekalian masak buat makan siang," jelas Rahma yang telah menyelesaikan racikan sayurannya.
"Sini Tante, masukin aja sayurannya!" usul Risa, yang mana arahannya langsung dituruti oleh Rahma.
"Ya sudah, kamu duduk lagi deh!" suruh Rahma, dia sudah bisa mengurus masakannya sendiri sekarang. Risa lantas kembali lagi ke kursi untuk duduk.
"Ngomong-ngomong kalian mau kemana?" Rahma bertanya tanpa menoleh lawan bicara. Sebab dirinya masih sibuk menekuni masakannya.
"Cuman lari pagi aja Tante," balas Risa pelan.
"Baguslah, si Juni badannya perlu gerak tuh!"
"Hahaha! dia sudah kurus gitu loh Tante," Risa menggeleng maklum yang disertai sedikit tawanya.
"Iya, Tante tahu. Makin ganteng kan? makanya kamu tambah sayang," timpal Rahma.
Risa yang mendengar reflek membulatkan mata. "Apa Tante?" tanya-nya yang berusaha memastikan.
"Kamu pacaran sama Juni ya?" tanya Rahma seraya senyum-senyum sendiri di depan masakannya.
Deg!
Entah kenapa jantung Risa berdegub kencang. Dia merasa seakan sudah tertangkap basah. "Memang terlihat seperti itu ya Tan?" Risa bertanya sambil mengusap tengkuk tanpa alasan.
"Iya!" jawab Rahma singkat.
"Anggap saja begitu deh. . ." ujar Risa pelan, wajahnya memerah karena malu.
"Mamah!"
Sofi tiba-tiba muncul dengan raut wajah yang masih mengantuk. Pembicaraan di antara Rahma dan Risa pun otomatis terhenti. Sofi segera memposisikan dirinya duduk di sebelah Risa. "Eh Kak Risa mau kemana?" tanya-nya polos.
"Lari pagi, Sofi mau ikut nggak?" ajak Risa. Sofi yang mendengar reflek menganggukkan kepala. Matanya yang tadi berat melebar begitu saja.
"Mau Kak! aku sudah lama pengen olahraga pagi. Tetapi nggak punya teman," tutur Sofi.
"Ya sudah, siap-siap gih!" titah Risa.
"Siap Kak!" sahut Sofi dengan penuh semangat.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar seseorang tengah mengetuk pintu depan. Dialah Jay yang sudah terlalu lama menunggu Risa. Rahma sontak mencoba melangkahkan kakinya menunu pintu, namun segera dicegat oleh Risa.
"Biar aku saja Tante, sepertinya temanku!" ungkap Risa. Dia berjalan menuju pintu dan membukanya.
Ceklek!
"Aku sudah menduga kau ada di sini. Apa yang kau lakukan, hah?" Jay melemparkan pertanyaan dengan dahi yang berkerut.
"Masuk dulu yuk! kamu kan belum kenalan sama keluarganya Juni. Mereka juga bagian keluargaku loh," imbuh Risa sembari berpose mempersilahkan masuk dengan elegan.