The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 81 - Mogok



Sesuatu yang tak disangka, ternyata bisa menenangkan jiwa.


Sahabat yang selalu ada, ternyata memberi cinta.


Apalah daya yang kurasa, jika hati telah memilih.


Apalah daya kita, jika takdir sudah menentu.


Sudah nikmati saja. . . cerita kita berdua.


Sudah jalani saja. . . biar waktu bicara. 🎶


Tring. . .🎶


Juni menghentikan nyanyiannya dengan hela nafas berat. "Ugh! kenapa aku merasa geli ya?" gumamnya sembari mengacak-acak rambut. Jujur saja ini bukan pertama kalinya lelaki itu menyusun padanan kata untuk sebuah lagu. Dia punya banyak syair yang telah tersaji di buku hitam miliknya.


Prok! Prok!


"Mantap kali lah!" Ervan muncul dari balik pintu. Kedua tangannya menepuk pelan beberapa kali untuk memuji aksi dari seorang Juni.


"Gila! sejak kapan kau di situ Van?" Juni membulatkan mata.


"Sejak kamu bernyanyi lah. Ngomong-ngomong lagunya bagus juga, pasti buat Risa ya?" goda Ervan dengan mimik wajah mengejek.


"Rahasia dong!" Juni membuang muka.


"Ya elaaah. . . jelas-jelas tuh lagu tentang persahabatan jadi cinta. Mau ngibul kek mana lagi kamu Jun?" timpal Ervan yakin.


"Kalau begitu, rahasiakan ya! apalagi sama Risa!" Juni mencengkeram kerah baju Ervan.


"Kenapa?"


"Ini semua sepenuhnya belum siap!" Juni melembut sembari menampakkan ekspresi sendunya.


"Kalau belum siap, terus kapan? di ajak bikin band aja kamu nolak terus! maumu apa sih Jun?" Ervan menggeleng heran.


Juni menghela nafas panjang dan berucap, "Aku nggak tahu Van kenapa aku gini. Aku selalu merasa belum pantas dan merasa kekurangan." Juni berterus terang.


"Jujur saja, apa yang paling membuatmu khawatir? mungkin dengan menceritakannya padaku, kau bisa lega." Ervan melayangkan pantatnya ke sebuah kursi. Dia bermaksud bicara serius.


"Aku mengkhawatirkan semuanya. Keluarga, Risa kuliah!"


"Astaga, tinggal jalani saja kan? kau kan sekarang sedang menjalaninya?" ujar Ervan sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Maksudku kan ke depannya gitu Van."


"Masalah masa depan itu urusan belakangan dulu lah. Kau jalani saja dengan melakukan yang terbaik. Ayolah lebih berani Jun, kau kan cowok! jujur ya, kepercayaan dirimu itu kalah sama Risa!" tukas Ervan, yang membuat Juni menatapnya malas. Namun dia tidak bisa berkilah, memang pada kenyataannya seorang Risa selalu tampil percaya diri bahkan kadang terlalu berani.


..._________________...


Risa dan Jay masih dalam perjalanan. Namun tiba-tiba mobil yang mereka bawa mesinnya mati.


"Astaga! kenapa ini harus terjadi!" keluh Jay seraya mengacak-acak rambutnya.


"Gila banget nih mobil, padahal udah aku servis seminggu yang lalu loh!" ujar Risa sambil turun dari mobil. Dia segera membuka kap mobil depan. Kepulan asap langsung menyambar wajah cantiknya.


"Ya ampun Ris! harusnya kau serahkan saja kepadaku!" kata Jay sembari memaksa Risa menjauh dari kepulan asap.


"Emang kamu ngerti dunia perbengkelan?" Risa memasang gaya berkacak pinggang di belakang Jay.


"Mana ada cowok yang nggak ngerti!" balas Jay yakin.


"Ada kok!"


"Siapa?" Jay menatap penuh tanya.


"Juni." Risa menjawab singkat. Menyebabkan Jay tak kuasa menahan tawa.


"Bagaimana nasibmu nanti kalau menikah dengannya. Dia itu cuman cowok cupu yang nggak bisa apa-apa!" ucap Jay. Risa yang mendengar sontak mencengkeram kerah baju lelaki berambut perak tersebut.


"Jangan coba-coba meremehkan dia!" tegas Risa.


"Maaf Ris, tetapi itulah kenyataannya. Aku berani bertaruh baik untuk sekarang atau pun masa depan, dia nggak akan berubah!" Jay masih bersikeras dengan pemikirannya. Membuat Risa semakin menguatkan cengkeramannya.


"Aku ragu Juni bisa membuatmu bahagia? dia--"


Plak!


Jay langsung terdiam ketika tamparan Risa melayang ke pipinya.


"Risaaa! maafkan aku! kau mau kemana?!" Jay memekik keras seraya memegangi area pipinya yang sakit. "Risaaa!" dia kembali memanggil untuk yang kedua kalinya. Kakinya segera berlari untuk mengejar Risa.


"Baiklah, aku minta maaf Ris. Oke? anggap saja aku tidak mengatakan semuanya tadi," Jay sekarang menyamakan lajunya dengan gadis berambut hitam di sebelahnya. "Ris, kumohon!"


Risa akhirnya menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah lelaki yang sedang memegangi lengannya. "Baiklah! tetapi jangan pernah mengulanginya lagi. Kau tahu kenapa? karena kalimat-kalimat itulah Juni selalu merasa merendah. Syukur kau mengatakannya kepadaku, bukan di hadapannya!" ujarnya dengan kening yang mengernyit.


"Oke. . ." Jay melembut. "Sekarang kau mau kemana?" tanya-nya.


"Mencari bengkel! kau mau diam di sana terus sampai belumut?"


"Aku bisa memperbaikinya!" sahut Jay yakin.


"Lebih cepat tukang bengkel-lah!" Risa tetap pada pendiriannya. Membuat Jay terpaksa harus mengikutinya.


Setelah berjalan cukup lama, Risa dan Jay pun menemukan tempat bengkel terdekat. Mobil mereka segera di derek untuk diperbaiki. Keduanya sekarang sedang duduk bersama untuk menunggu. Dua kaleng soda dingin ikut menemani mereka.


"Aku tidak menyangka hari spesialku jadi begini. Sepertinya mobilmu membenciku!" keluh Jay yang tampak sudah melepaskan jaket kulitnya akibat kepanasan.


"Kau benar, mobilku sepertinya tidak suka padamu!" sahut Risa dengan kekehnya.


"Syukurlah bisa melihatmu tersenyum lagi," celetuk Jay. Dia menatap Risa lewat sudut matanya.


"Makanya, mulut tuh dijaga!"


"Aku hanya mengatakan pendapatku." Jay berkilah.


"Jangan mulai lagi deh!" Risa menatap malas.


"Maaf, nggak lagi kok!" Jay mengukir senyum lebar untuk membuat Risa lebih tenang.


"Oh iya, sebenarnya kau mau mengajakku kemana hari ini?" tanya Risa seraya meminum sodanya dengan sedotan.


"Banyak tempat. Tetapi sepertinya sudah tidak sempat lagi, hari sudah semakin sore, huhh!" ungkap Jay sambil mendengus kasar.


"Pilih saja salah satu, supaya semuanya tidak sia-sia!" Risa memberikan saran.


"Benarkah? kau masih punya waktu?" Jay melebarkan matanya karena merasa bersemangat.


"Punya-lah. Batasnya sampai jam sepuluh malam ya! lewat dari itu, aku tendang pantatmu!" Risa menyilangkan tangan di depan dada.


"Oke. . . kalau begitu, habis ini kita ke restoran ya!" imbuh Jay dengan raut wajah yang cengengesan. Risa pun menganggukkan kepala pertanda setuju.


Drrrt. . . Drrrt. . .


Ponsel Risa tiba-tiba bergetar, dia segera memeriksa panggilan yang ternyata dari kekasihnya. Matanya otomatis membola, dia takut Juni akan menanyakan keberadaanya sekarang. Meskipun begitu, Risa berusaha tenang sebisa mungkin.


"Juni?" mimik wajah Jay terlihat tegang. Risa hanya menjawab pertanyaan singkatnya dengan anggukannya lagi.


"Halo Jun?" sapa Risa, yang sudah meletakkan handphone-nya di samping telinga.


"Kamu nggak kuliah hari ini?" tanya Juni dari seberang telepon.


"Emmm. . . aku ketiduran Jun!" Risa beralasan, ia juga reflek mengigit bibirnya karena merasa tidak nyaman dengan kebohongan yang dikatakannya.


"Benarkah? perasaan kamu nggak pernah tidur kesiangan? emangnya tadi malam ngapain?" Juni mengerutkan dahi bingung.


"Aku. . ." Risa terdiam sejenak, karena mencoba berpikir. 'Ya ampun Juni, kenapa nanya sampai detail gitu. Gila kali dia! tetapi kenapa aku ciut ya? eh benar juga!' lanjutnya dari dalam hati.


"Emangnya kenapa Jun? mau tahu banget ya!" Risa sengaja bersuara dengan nada tinggi untuk bersikap se-normal mungkin.


"Ya iyalah!" balas Juni.


"Ish! sudah sampai ketemu--"


"Tunggu, tunggu!" Juni mencegah keinginan Risa yang hendak mematikan panggilannya.


"Kamu malam ini sibuk nggak? kalau--"


"Aku sibuk Jun, besok malam saja gimana?"


"Hah? emang malam ini sibuk ngapain?"


Risa memutar bola mata malasnya dan berkata, "Ada tugas kelompok Jun, aku sedang berusaha fokus nih!"


"Oke, oke! santai dong, gitu aja marah. Dasar!" sahut Juni, kemudian langsung mematikan panggilannya. Risa pun bisa bernafas lega.