The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 72 - Curahan Hati



Jalanan sangat sepi, yang membuktikan bahwa malam semakin larut. Namun Risa tampak santai mengemudikan mobilnya. Berbeda dengan Juni yang sepertinya mengkhawatirkan keadaan gadis di sampingnya.


"Ris, aku nggak mau ke klubing ya!" ungkap Juni yang menatap Risa dengan sudut matanya.


"Siapa yang mau ke klub malam?" Risa mengernyitkan dahi sembari mengalihkan pandangan ke arah Juni selintas.


"Katanya mau ngelakuin hal ekstrim?"


"Iya, tetapi bukan itu, aku ingin menunjukkan dan menceritakan sesuatu kepadamu. Bagiku itu ekstrim loh!" Risa perlahan memarkirkan mobilnya di depan sebuah apotek. Juni hanya bisa menggeleng maklum.


"Ngapain ke sini?" Juni sekali lagi bertanya.


"Kau tunggu saja di sini!" suruh Risa yang segera keluar dari mobil, lalu berjalan menuju apotek.


'Kira-kira Risa mau ngapain ya?' batin Juni yang tidak mengalihkan padangannya dari keberadaan Risa. Tidak lama kemudian gadis itu kembali, dia terlihat membawa sekantong plastik di tangannya.


"Kamu beli apa?" tanya Juni kepada Risa yang baru masuk ke mobil.


"Kita cari tempat yang tepat dahulu untuk membicarakannya." Risa memutar setirnya dan kembali menjalankan mobil. Beberapa saat kemudian, sampailah dia di tempat yang dituju. Yaitu sebuah gedung yang lumayan tinggi.


"Ini tempat apa? ayolah katakan kita ini mau apa?" desak Juni.


"Ikuti saja dahulu lah!" titah Risa yang lebih dahulu melangkah untuk memimpin jalan.


Juni dan Risa memasuki elevator. Hanya ada mereka berdua di dalam sana. Risa bersikap tidak seperti biasanya, yang tentu membuat Juni merasa gelisah.


Setelah pintu lift terbuka, Risa kembali berjalan lebih dahulu. Tempat tujuannya ternyata adalah atap gedung. Desiran angin malam menerpa keduanya kala tiba di tempat tersebut. Sekarang mereka tengah duduk berdampingan di atas kayu bekas yang kebetulan tergeletak di bawah.


"Ayo cepat tunjukkan dan ceritakan kepadaku!" ujar Juni. Risa lantas menyerahkan kantong plastik yang dia bawa kepada lelaki di sampingnya. Juni pun langsung memeriksa isinya, dan dia menemukan beberapa obat di dalamnya.


"Kamu sakit lagi?" Juni menatap khawatir, tanpa menilik obat apa yang tengah di pegangnya.


"Kalau mau tahu baca label di botol obatnya lah Jun!" balas Risa dengan tatapan datar. Alhasil Juni pun membaca obat yang Risa maksud. Ternyata itu adalah obat anti-depresan.


"Kau. . ." Juni tak mampu meneruskan kalimatnya.


"Aku sudah lama bergantung dengan itu." Risa mulai bercerita.


"Sejak kapan?" tanya Juni serius.


"Sejak ayah dan ibuku bercerai. Aku ikut ke London bersama ayahku, dan tinggal bersamanya. Dan kau tahu apa? hidupku tetap sama. Meskipun ayah menjadi lebih perhatian, tetapi tetap saja dia lebih mementingkan pekerjaannya dibanding diriku." lanjutnya yang perlahan menundukkan kepala. Terlintas dalam bayangannya akan kenangan tersebut.


"Kenapa kau tidak bilang? apa Om Bayu mengetahuinya?"


Risa menggeleng. "Tidak. Tetapi sebenarnya beberapa hari yang lalu, ayahku berhasil menemukan obat itu dan langsung menyuruhku berhenti meminumnya. Respon dia terkesan biasa saja. Hanya Jay yang tahu dari awal!" tuturnya yang sekarang menghembuskan nafas berat.


"Jay?!" Juni meninggikan nada suaranya. Dia agak kesal mendengar Risa sudah menyebutkan nama itu.


"Iya, aku bertemu dengannya di pusat rehabilitasi. Saat itu Jay kebetulan seorang pasien yang ingin meminimalisir kecanduannnya," terang Risa.


"Lalu kau?"


"Aku hanya berkonsultasi dengan dokter yang sama dengan Jay, makanya kami bisa saling mengenal. Dan sekarang orang kedua yang mengetahuinya adalah kau!" Risa menoleh ke arah Juni.


"Aku senang sekaligus sedih mendengarnya. Senang karena kau sudah mau mengatakannya kepadaku, dan sedih karena Jay orang yang pertama mengetahuinya!" imbuh Juni, yang sontak membuat Risa tergelak singkat.


"Apa?! nggak peduli? aku menghubungimu lewat telepon dan pesan puluhan kali, bahkan aku juga mencoba mengontakmu lewat media sosial. Tetapi kau tidak pernah membalasnya!" timpal Juni, dia berbicara dengan tempo cepat dan nada tinggi.


"Iya, itu karena aku mengganti nomor ketika tiba di London. Terus aku juga sudah tidak menggunakan media sosial pribadiku." jelas Risa.


Juni memutar bola mata dan berkata, "Terserah!"


"Kamu mau tahu nggak media sosialku yang sekarang? ini juga rahasia loh! semua orang menganggapku tidak memilikinya." Risa mencondongkan kepalanya untuk menatap Juni.


"Apa?" tanya Juni. Dia merasa tertarik.


"Ini. . ." Risa merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Dia segera menunjukkan akun media sosial yang disebutnya rahasia.


"Nama akunmu Clarisa?" Juni memegangi gawai milik Risa, dan menggeser layar untuk menyaksikan beberapa postingannya. Dia melihat karya-karya seni luar biasa dari kekasih sekaligus sahabatnya tersebut.


"Ini semua buatanmu Ris?" Juni terkagum.


"Iya! kau pikir aku plagiat apa? ngomong-ngomong aku juga banyak mendapatkan uang karena ini. Dan yang paling menggiurkan Jun, aku dibayar dengan dolar! bisa kau bayangkan tidak tabunganku sekarang?" Risa bercerita dengan raut wajah yang cengengesan.


"Idih! nggak usah pamer sampai segitunya dong!" tukas Juni sembari meringiskan wajah.


"Aku hanya bahagia, bisa menjadikan hobiku menjadi uang. Kau juga merasa bahagia kan, ketika bernyanyi di cafe dan bisa mendapatkan uang?"


"Kau benar, tetapi jujur rasa tidak percaya diri itu masih ada dalam diriku," ungkap Juni.


"Bukankah demam panggungmu sudah hilang?" tanya Risa dengan dahi yang berkerut.


"Bukan itu yang aku khawatirkan, tetapi bagaimana aku nanti setelah lulus kuliah. Kau tahu kan maksudku?"


"Memang aku akui menjadi penyanyi memang sulit. Apalagi sampai menjadi penyanyi yang tenar, tetapi aku tahu satu hal!" Risa menampakkan angka satu lewat bahasa isyarat jari telunjuknya. Juni lantas menatap penuh tanya.


"Kau pasti akan menjadi penyanyi terkenal!" lanjut Risa, yang sontak membuat Juni tertawa.


"Haha! kenapa kau sangat yakin? orang yang kau yakini saja tidak sampai segitunya!" ujar Juni.


Risa mencengkeram kerah baju Juni, kemudian mendekatkan wajahnya dan berucap, "Aku berani bertaruh Jun!"


"Ih! apaan sih!" Juni melepaskan tangan Risa dari kerah bajunya. "Ngomong-ngomong apa depresimu itu sudah membaik?" tanya-nya, tanpa berniat mengubah topik pembicaraan.


"Mungkin begitu, karena sudah ada kau di sisiku!" imbuh Risa seraya melengkungkan bibirnya membentuk senyum simpul.


"Aku serius Ris!"


"Aku juga serius Jun, alasan aku ngebet sama kamu ya karena itu. Setelah beberapa tahun di London tanpamu, aku tersadar bahwa kau lah yang paling peduli kepadaku sejak kecil. Bahkan keluargamu ikut andil akan hal itu, seharusnya aku tidak memilih pergi ke London." Risa kembali menundukkan kepala. Ia memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.


"Ayahmu juga peduli-lah kepadamu! mungkin itu cuman pikiranmu saja kalau menganggapnya tidak khawatir!"


"Kita lihat saja nanti." Risa menghela nafas panjang.


"Ris, jangan minum obat ini lagi ya! aku akan membuangnya saja!" kata Juni sambil mengedarkan pandangan untuk mencari tempat sampah.


"Enak saja, janganlah!" Risa mencoba merebut kembali benda yang harus menjadi miliknya.


"Enggak!" Juni reflek berdiri dan menjauh dari Risa. "Bagaimana kalau aku saja yang menyimpankan-nya?" tawarnya. Risa yang mendengar berpikir untuk sesaat. Hingga pada akhirnya ia pun menganggukkan kepala.