
Semua orang memberikan tepuk tangan untuk Juni. Bahkan tiga juri yang menilai tampak puas dengan penampilannya. Risa yang paling bersemangat sedang melakukan standing applause untuk sahabatnya.
Juni mengukir senyum simpul. Setelah melakukan pose membungkuk, dia langsung turun dari panggung. Mona dan teman-temannya pun bergegas menghampiri Juni.
"Kak Jun, aku--"
"Juni!" Risa sengaja memotong kalimat Mona. Dia sudah lebih dahulu datang ke hadapan Juni. Tangannya menepuk-nepuk pundak sahabatnya tersebut.
"Sudah ah! jangan lebay, ini baru penampilan pertama," ujar Juni yang masih terlihat semringah.
"Nah begitu dong! kan tambah ganteng kalau kamu pede!" Risa mencubit kedua pipi Juni.
"Ris! kita sedang diperhatikan orang loh!" tegur Juni sambil melepaskan cubitan Risa dengan paksa.
"Itulah tujuanku." Risa terkekeh seraya tidak bisa mengalihkan atensi-nya dari Juni.
"Gila!" sumpah Juni pelan ke telinga Risa, kemudian segera kembali duduk ke kursi penonton.
"Loh Jun, kamu nggak langsung keluar? kita habis ini ada kelas musik modern loh!" tegur Ervan yang sudah memasang ransel-nya.
"Hari ini aku absen dulu ya, nggak apa-apa kan cuman sekali!" ujar Juni santai sembari menggidikkan sebelah kakinya.
"Idih! bilang aja kamu mau lihat penampilan Risa," sindir Ervan yang kembali duduk di sebelah Juni.
"Iya, aku mau balas support doang kok!" Juni menatap ke arah Risa yang sedang berbincang dengan teman se-jurusannya.
"Jun, kamu selingkuh ya?" bisik Ervan.
"Haiss!" Juni reflek mendorong kepala Ervan. "Jangan bicara macam-macam kamu! cepat masuk kelas sana!" lanjutnya dengan dahi yang mengernyit.
"Aku cuman bercanda kok, marahnya sampai segitu-nya. Jadi kayak terkesan benar kan tebakanku." Ervan memutar bola mata malas.
"Aku jelasin ya, Risa itu sahabatku sejak kecil. Wajarlah aku sangat akrab dengannya, makanya dia ngomong blak-blakan sama aku. Paham?" terang Juni dengan menatap tajam Ervan.
"Oke, untuk sementara sih begitu!" goda Ervan sambil memanyunkan mulutnya.
"Oh iya, kenapa kamu ikut diam di sini?" Juni menyunggingkan mulutnya ke kanan.
"Aku kan penggemarnya Risa. Jadi wajarlah aku juga dukung dia." Ervan membalas santai.
"Jun! kamu nggak ada kelas habis ini?" Risa berjalan mendekati Juni.
"Ada, cuman dosennya lagi nggak bisa masuk," Juni berkilah.
"Bohong! dia masih di sini karena--" Juni langsung menutup mulut Ervan rapat-rapat. Namun usahanya tidak berhasil, karena Risa tampaknya mengetahui kalimat yang hendak dikatakan Ervan.
Risa melengkungkan bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman. "Jun, jujur sajalah!" goda Risa yang sudah duduk di samping Juni.
"Kamu benar! aku membolos demi dirimu! puas?" ucap Juni dengan ekspresi datarnya. Tetapi hanya dibalas Risa dengan tawa kecilnya.
"Kau mulai ada benih-benih cinta ya denganku?" Risa menyenggol Juni dengan sikunya.
"Terserah apa anggapanmu, yang jelas aku masih mencintai Amel!" Juni mendengus kasar.
Lama-kelamaan mahasiswa/i jurusan Seni Rupa mulai berdatangan. Satu per satu sudah tampil dipanggung untuk mempresentasikan hasil karyanya.
"Ris, mana gambarmu? aku penasaran?" tanya Juni dengan nada pelan. Risa menatap Juni, gadis itu mendekatkan mulut ke telinga sahabatnya dan berucap, "rahasia. . ."
Juni yang mendengar hanya bisa menggertakkan gigi. Dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah panggung.
"Ris! tuh Kak Ello tadi nyariin kamu terus!" sapa teman satu jurusan Risa. Tetapi Risa hanya membalas dengan satu senyuman enggan.
"Kak Ello? kamu kenal dia Ris?" tanya Ervan sambil mencondongkan kepalanya ke arah Risa, dan berhasil menutupi penglihatan Juni yang saat itu sedang berada di tengah keduanya.
"Iya!" jawab Risa singkat sambil menganggukkan kepala.
"Wah gila, dia itu mahasiswa paling berprestasi di sini loh. Dia sangat ahli dengan permainan musik klasiknya!" kata Ervan yang terlihat sedang terkagum-kagum.
Juni melayangkan cap lima jari ke pipi Ervan. "Nggak perlu dijelasin kali cunguk! semua mahasiswa di fakultas ini juga tahu!" kesal-nya yang sekarang menyender ke kursi.
"Kak Ello ngejar-ngejar kamu? kok nggak pernah curhat ke aku?" Juni berbisik ke kuping Risa.
"Karena aku tidak tertarik dengannya. Seperti yang sudah ku-bilang, aku hanya menyukaimu Jun!" ujar Risa santai. Dia tidak peduli dengan orang-orang di sekitar yang tidak sengaja mendengar.
"Ris!" Juni mencengkeram lengan Risa.
"Marisa Indriyani!" nama Risa dipanggil ke depan. Lantas Risa segera menghempaskan tangan Juni. Gadis tersebut bangkit dari tempat duduk, kemudian naik ke atas panggung.
Risa mengambil lukisannya yang sudah dipersiapkan panitia dibalik panggung. Tanpa ba bi bu, dia pun langsung mempresentasikan hasil karyanya. Dia membuka kain yang menutupi lukisannya terlebih dahulu.
Ilustrasi hasil karya Risa :
Mata Juni membulat sempurna kala menyaksikan hasil karya Risa. Kenangan masa kecil dirinya bersama Risa terlintas dalam ingatannya.
"Aku melukis dua anak kecil yang sedang bermain layang-layang di sebuah desa kecil yang ada di Inggris. Mereka menarik perhatianku, ketika aku sedang berjalan-jalan bersama ayahku." Risa menjeda penjelasannya sejenak. Dia tersenyum lebar. Gadis itu melakukan presentasinya dengan percaya diri. Apalagi kala melihat keberadaan Juni yang juga ikut menonton.
"Kenapa dua orang anak dan layang-layang? karena dalam lukisan ini semua makna hidup tergambar dengan sempurna. Boleh aku tanya, apa kalian pernah mencoba menerbangkan layang-layang?" Risa mengangkat sebelah tangannya. Hingga semua penonton pun menjawab kata 'pernah' dengan serentak.
"Sumpah Jun, dia keren banget!" puji Ervan yang tengah menatap Risa kagum. Juni hanya merespon dengan senyum tipisnya.
"Kalau pernah, berarti kalian tahu betapa sulitnya membawa layang-layang itu terbang dan bergabung dengan birunya langit. . . bagiku, itu merupakan metafora kehidupan. Karena sebelum kita berada di puncak keberhasilan, pasti ada banyak kegagalan yang harus dilewati." Risa berhenti bicara hanya untuk menatap ke arah sahabatnya di kursi penonton. Alhasil Juni pun mengangkat sebelah tangannya dengan kepalan untuk memberikan semangat. Sepertinya lelaki tersebut memang membalas apa yang sudah dilakukan Risa untuknya.
"Selain itu, layang-layang. . . juga selalu mengingatkanku kepada seseorang. Sahabat dan sekaligus cinta pertamaku."
"Ciee. . ."
"Siapa Ris? huhuy!"
"Kak Ello! Kak Ello!"
Semua penonton saling bersahutan karena tertarik dengan perkataan Risa.
"Uhuk! uhuk! uhuk!" Risa tiba-tiba terbatuk dengan sangat keras. Dia terus memegangi area tenggorokan untuk menghentikan batuknya.
"Haiss!" dahi Juni berkerut kala melihat keadaan sahabatnya.
"Apa kau bisa melanjutkan?" tanya salah satu juri kepada Risa.
"Aku. . . bisa! uhuk!" Risa berusaha sebisa mungkin menahan batuknya.
'Perasaan dari kemarin batuknya nggak sembuh-sembuh? mungkin inikah yang sedang disembunyikan Risa?' benak Juni bertanya-tanya.
Setelah selesai melakukan presentasi yang tidak sesuai rencana, Risa pun turun dari panggung. Namun gadis itu berjalan keluar dari ruangan audisi. Sontak membuat Juni bergegas untuk mengekori.
Juni menyenderkan tubuhnya di depan toilet wanita. Dia menunggu Risa untuk keluar.
Ceklek!
Pintu toilet terbuka, Juni langsung menyeret Risa ikut bersamanya.
"Jun! ish! kenapa? baru ditinggal sebentar udah kangen aja?" ujar Risa yang sedikit terkekeh. Juni menghempaskan tangan Risa dengan wajah cemberut.
"Kamu sedang sakit?" sekarang Juni mendekatkan wajahnya.
"Eng-enggak kok! siapa bilang!" Risa diam di posisinya.
"Buktikan!" Juni menatap serius.
"Oke! ayo kita ke rumah sakit, tetapi kalau aku sehat kau harus berkencan denganku ya?" ucap Risa yang seketika membuat Juni memutar bola mata jengah.
"Terserah!" respon Juni singkat.