
Juni menyodorkan segelas teh hangat untuk Amelia. Meskipun gadis tersebut tidak mau makan, setidaknya dia meminum sesuatu yang dapat menenangkan pikirannya.
"Minumlah Mel, mungkin perasaanmu bisa lebih baik." Juni memancarkan binar penuh harap.
"Terima kasih." Amelia tersenyum, lalu segera menenggak teh pemberian Juni. Dia hanya tiga kali meneguk, kemudian berhenti meminum. "Jun, aku lebih baik pulang sekarang saja," ujarnya sembari mengaitkan tas ke salah satu bahunya.
"Aku anterin kalau gitu." Juni langsung bangkit dari tempat duduknya. Amelia hanya mengangguk pelan pertanda setuju. Keduanya pun segera memasuki mobil.
Ketika hendak meluncur ke jalanan, Juni tiba-tiba reflek menghentikan mobilnya. Dia melihat Risa dan Jay baru saja tiba entah dari mana.
***
Risa mencoba membelokkan mobilnya tepat ke pekarangan rumah, namun langsung urung karena menyaksikan mobil yang terhenti di depannya. Di saat itulah dirinya menyaksikan Juni dan Amelia berada dalam mobil yang sama. Dia sontak mematung dan melebarkan matanya.
Juni dan Risa saling bertukar tatapan terkaget dari kejauhan. Pikiran mereka menerka kemana-mana. Hingga Juni-lah yang pertama kali mengalihkan pandangannya dengan cara kembali menjalankan mobilnya, dan berlalu begitu saja.
"Waduh. . . sepertinya dia marah tuh," ungkap Jay seraya memandang iba ke arah gadis di sampingnya. Namun Risa sama sekali tidak menepis pernyataan Jay, dia hanya lekas-lekas memarkirkan mobilnya, lalu berderap memasuki rumah.
Di sisi lain Amelia tengah menatap Juni yang menyetir di sebelahnya. Lelaki tersebut hanya menampakkan raut wajah datar dan terdiam seribu bahasa. Seolah banyak pikiran yang menghantui kepalanya.
'Risa bersama Jay? bukankah dia bilang tadi siang sedang mengerjakan tugas kuliah? dia berbohong kepadaku, lagi?' batin Juni yang dilanjutkan dengan dengusan berat. 'Terus apa yang dia lakukan bareng Jay seharian?' lanjutnya.
"Jun, kamu nggak apa-apa?" Amelia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Juni tersenyum tipis. "Nggak juga." jawabnya singkat.
Amelia pun mengerutkan dahi dan mencondongkan wajahnya untuk menilik eskpresi Juni. "Ceritakan saja kepadaku. Supaya kita bisa impas!" ucapnya pelan. Membuat Juni melebarkan senyumannya.
"Ini tentang Risa," ungkap Juni.
"Sudah ku-duga," Amelia mengangguk yakin. "Mengenai kebersamaannya dengan Jay tadi ya?" tebaknya.
"Nggak juga sih, cuman dia membohongiku lagi." Juni kembali mengungkapkan.
"Lagi?" kening Amelia mengernyit.
"Kau ingat penyakit kanker stadium empat yang dia derita dulu?"
"Iya?"
"Itu adalah kebohongan Risa yang pertama. Dan hari ini, dia membohongiku juga. Risa mengatakan sedang mengerjakan tugas kuliah, tetapi ternyata pergi bersama Jay!" jelas Juni sambil memutar setir mobil dengan pelan.
"Jadi sakitnya kemarin adalah kebohongan? pantas saja sekarang dia terlihat sehat sekali!" Amelia tampak terkejut. Sekarang dia semakin dibuat geram dengan kelakuan Risa.
'Gila! ternyata dia rela ngelakuin itu cuman buat rebut Juni dariku?' gumam Amelia dalam hati.
"Kamu baru tahu? aku kira sudah tahu!" tukas Juni.
"Enggaklah!" bantah Amelia. "Tapi setidaknya usaha dia berhasil!" tambahnya.
"Berhasil?"
"Dia berhasil membuatmu jatuh cinta," terang Amelia singkat sambil menatap datar ke kaca depan mobil.
"Oh." Juni tidak mampu merespon dengan kata-kata. Beberapa saat kemudian sampailah mereka di rumah Amelia.
"Sekali lagi terima kasih ya Jun!" Amelia menggenggam jari-jemari Juni. Membuat lelaki itu sontak menoleh ke arahnya. Keduanya saling bertukar pandang sejenak.
"Sudahlah, kau tahu? kau sudah mengucapkan terima kasih tiga kali lebih. Itu sudah lebih cukup!" Juni beralasan sambil memutuskan kontak mata dengan Amelia.
Juni menghela nafasnya dan berucap, "Aku yakin suatu hari nanti kau akan menemukan lelaki yang lebih pantas dariku. Aku bukan apa-apa Mel, bahkan masih tidak percaya diri apakah bisa atau tidak membahagiakan Risa. Parahnya sekarang, aku merasa Jay lebih mampu dariku."
Amelia menatap tajam Juni, dia segera menepis. "Siapa bilang? setidaknya kau berusaha melakukan yang terbaik kan?"
"Entahlah."
"Kalau begitu, sama aku aja deh!" Amelia bermaksud bercanda, dan berhasil membuat Juni tertawa kecil.
"Eh kok ketawa? aku serius Jun!" Amelia ikut terkekeh. Dia pun segera masuk ke rumah, setelah memberikan lambaian tangan kepada lelaki yang sudah bersedia mengantarnya pulang.
Singkat cerita, Juni kembali pulang. Dia langsung berderap memasuki kamarnya dan mengganti baju.
Ceklek!
Pintu tiba-tiba terbuka ketika Juni hanya mengenakan celana pendeknya. Dia lantas menoleh ke arah pintu, dan melihat kehadiran Risa.
"Risaaa!" pekik Juni sembari menutupi area dadanya. Namun Risa sama sekali tak hirau, ia malah berjalan semakin mendekat setelah menutup pintu rapat-rapat.
"Aku cuman mau melakukan penjelasan!" tukas Risa dengan tangan yang menyilang di depan dada.
"Iya! tapi tunggu aku pakai baju dulu lah!" geram Juni, dia mencoba membuka pintu lemari yang ada di belakang Risa.
"Enggak usah. Badanmu lumayan juga." Risa mencegah, sambil memperhatikan penampakkan dada bidang milik Juni.
"Jangan mesum!" Juni memegangi kedua bahu Risa, lalu memaksanya mundur. Tetapi gadis tersebut tidak terima, dia malah membalas mendorong hingga membuat Juni terhempas ke atas kasur.
"Siapa yang mesum? sudah ku-bilang ingin menjelaskan. Makanya, aku tidak ingin basa-basi!" tegas Risa. Dia memposisikan diri berada di atas Juni.
"Ayo kalau begitu jelaskan!!!" balas Juni dengan nada tingginya.
"Tadi siang aku dan Jay berkencan. Aku melakukannya karena--"
"Apa?!! berkencan?" Juni memotong penjelasan kekasihnya. Membuat Risa agak geram dan mendekatkan wajahnya, kemudian segera menutup mulut Juni.
"Aku melakukannya karena dia akan segera pergi ke London. Lagi pula tidak ada apapun yang terjadi di antara kami!" Risa terdiam sesaat. "Dan kau! apa yang kau lakukan bersama Amel? hah!" tanya-nya dengan mata yang menyalang.
"Mmphh!" Juni menjauhkan tangan Risa dari mulutnya. "Gimana mau jawab kalau mulutku ditutup?!" protesnya sambil menggertakkan gigi.
"Amel dipecat dari pekerjaannya, dia tidak punya teman curhat selain diriku. Makanya aku berusaha menghiburnya, puas?. . . lebih ekstrim kamu-lah yang berkencan bareng Jay, sampai ngerubah warna rambut lagi, aku--" Juni terdiam karena melihat mata Risa yang menyorot ke arah bibirnya.
"Ris! aku nggak mau terancam sama kamu lagi ya!" Juni mendorong Risa, hingga akhirnya dia-lah yang sekarang berada di atas badan sang kekasih. Raut wajah Risa terlihat tegang dari sebelumnya. Debaran jantungnya tidak mampu berbohong kala menyaksikan wajah Juni yang sangat dekat.
Juni berseringai, dia mengunci kedua tangan Risa, dan perlahan mendekatkan bibirnya ke mulut kekasihnya. Menyebabkan Risa reflek memejamkan mata.
Juni sebenarnya tidak berniat apa-apa. Dia hanya bermaksud menggoda kekasihnya tersebut. 'Ish! nih cewek pasti pikirannya aneh!' batin Juni seraya berusaha menahan tawanya. "Pfffft!. . ."
Ceklek!
Pintu kamar mendadak terbuka.
"Aaarkkhh!!!" terdengar suara teriakan Sofi. Kemudian segera berlari menjauh dari kamar sang kakak. Matanya telah ternodai dengan pemandangan tak terduga tersebut.
Juni lantas berdiri dengan gelagapan. Dia segera mengambil baju atasan di lemari.
"Astaga!" gumam Risa yang sudah merubah posisinya menjadi duduk. Gadis itu tampak memegangi dadanya karena merasakan jantung yang masih berdetak kencang. Bukan karena teriakan Sofi, tetapi akibat perlakuan Juni kepadanya barusan.
'Kenapa Juni jadi seberani itu?' benak Risa bertanya-tanya sembari menyaksikan Juni yang tengah memasang bajunya.