
Juni sudah tidak pulang dua tahun lebih. Rahma dan Sofi tentu saja sangat merindukannya. Meskipun begitu, Juni tak pernah lupa untuk memberikan kabar kepada mereka. Termasuk mengenai hubungan seriusnya dengan Risa.
"Mamah dan Sofi akan datang ke wisudaku kan?" Juni berbicara kepada Rahma melalui telepon.
"Mamah akan berusaha!" jawab Rahma dari seberang telepon.
"Masalah biaya nggak usah dipikirin Mah, tabunganku cukuplah untuk membiayai keberangktan Mamah sama Sofi," ujar Juni.
"Iya, iya, nanti Mamah kabarin kalau mau berangkat."
"Cepetan! lima hari lagi loh, nggak lama tuh!" Juni mendesak.
"Iya deh, Mamah sama Sofi akan bersiap-siap!"
"Nenek boleh di ajak juga kalau beliau mau."
"Astaga Jun, Nenekmu mana berani naik pesawat. Berjam-jam lagi, kan lama dari sini ke London."
"Iya ya, benar juga. Titipkan salamku buat nenek dan Sofi, love you Mah. . ." ucap Juni, lalu langsung mematikan telepon lebih dahulu. Sebab baru pertama kali dirinya mengucapkan kalimat kasih sayang seperti itu kepada sang ibu. Rahma yang mendengar sontak merekahkan senyuman lebar. Hal tersebut membuatnya semakin tak sabar ingin berjumpa lagi dengan putranya yang tercinta.
...***...
...~Hari Wisuda~...
Lima hari kemudian. . .
Hari wisuda Juni telah tiba. Risa, Rahma, dan Sofi ikut berhadir untuk menyaksikan momen penting tersebut. Kebetulan acara telah selesai, Juni langsung menemui tiga wanita terhebatnya di halaman kampus. Tepatnya di lapangan nan luas berumput hijau. Kebetulan lapangan itu juga dipenuhi oleh alumni lain dan keluarga yang bersangkutan.
Juni melangkah dengan gagah. Dia mengenakan setelan wisudanya yang berwarna hitam. Tali topi toganya menjuntai ke sana kemari mengikuti arus langkah kakinya.
"Juni!" panggil Rahma, kemudian memeluk erat sang putra dengan penuh bangga. Cairan bening tak sengaja menetes dari pelupuk matanya.
Sofi yang melihat lantas ikut mendekat dan masuk ke dalam pelukan dua orang tercintanya. Risa sengaja membiarkan momen itu untuk Juni. Dia merasa ikut bahagia kala menyaksikannya. Matanya perlahan berembun karena merasa tersenyuh dengan suasana tersebut.
"Risa!" Juni mengajak Risa untuk ikut mendekat. Risa pun segera menghampirinya. Sekarang Rahma dan Sofi yang membiarkan kedua sejoli itu saling berpelukan.
"Kau ganteng banget Jun!" puji Risa sembari melepaskan pelukannya.
"Iya, terlihat bersinar banget. Aura bahagianya sangat terpancar!" komentar Sofi.
"Bisa aja kalian ah!" Juni mengacak-acak puncak kepala Risa dan Sofi secara bersamaan.
"Kalian sengaja tidak mengajakku ya?" Bayu mendadak muncul. Dia perlahan berjalan mendekat. Risa yang tak menyangka dengan kedatangannya dibuat begitu kaget.
"Ayah? aku kira nggak mau datang tadi. Soalnya aku tunggu nggak muncul-muncul," ujar Risa, menyapa sang ayah.
"Ayah tadi sedang mengurus sesuatu!" sahut Bayu. Dia berjalan menghampiri Juni.
"Selamat ya Jun!" Bayu mengulurkan tangannya.
"Terima kasih Om!" Juni menyambut tangan Bayu. Mereka saling bersalaman.
"Bisakah kalian bertiga membiarkan aku dan Juni bicara empat mata?" ujar Bayu seraya menatap Risa, Rahma dan Sofi secara bergantian.
"Tentu saja," sahut Rahma. Kemudian membawa Risa dan Sofi ikut pergi bersamanya.
Sekarang hanya tinggal Bayu dan Juni. Keduanya sedang berdiri saling berhadapan.
"Jun, sekarang aku memperbolehkanmu untuk menikahi Risa!" tutur Bayu, yang tentu saja membuat mata Juni membola.
"Kenapa tiba-tiba Om?" Juni memastikan.
"Tiba-tiba? ini sudah dua tahun lebih loh. Memang lebih baik dipercepat saja. Om agak menyesal menyuruhmu terlalu bekerja keras."
"Enggak apa-apa kok Om, berdampak positif malah. Aku bisa lulus lebih cepat!"
"Syukurlah kalau kau memang berpikir begitu. Pokoknya aku sarankan, kau nikahi dahulu Risa baru cari kerja!" Bayu mendesak.
"Siap Om! dengan senang hati."
"Masalah pekerjaan, Om mungkin nanti bisa membantu." Bayu merangkul pundak Juni.
"Maksudnya?" Juni mengernyitkan kening.
"Mungkin kau bisa bekerja di perusahaan Om nanti."
Juni langsung menggeleng tegas. "Maaf sebelumnya Om, tetapi aku akan berusaha sendiri terlebih dahulu. Lagi pula, aku dan Risa sudah menyiapkan banyak rencana," tuturnya.
"Benarkah? bolehkah aku tahu?" Bayu penasaran.
Juni mendekatkan mulutnya ke telinga Bayu dan berkata, "Rahasia Om!"
Bayu langsung merubah ekspresinya menjadi datar. Membuat Juni mulai ciut. Namun sebenarnya Bayu hanya bermaksud bercanda. Setelahnya dia pun tertawa geli karena berhasil menipu calon menantunya.
"Om bisa aja, nggak jauh beda sama anaknya," tukas Juni yang pada akhirnya ikut tertawa.
Risa menyaksikan interaksi yang terjadi di antara Juni dan Bayu. Dia senyum-senyum sendiri kala melihatnya.
"Kayaknya aku sebentar lagi akan dapat menantu nih!" Rahma tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pundak Risa.
"Tante!" respon Risa yang agak sedikit kaget. Pipinya menjadi merah merona saat mendengar perkataan Rahma.
"Apaan sih! kalian membuatku malu!" Risa menutupi wajah dengan kedua tangannya karena saking malunya. Rahma dan Sofi lantas mentertawakannya.
...***...
...~Hari Pernikahan~...
Dikarenakan urusan di London telah selesai. Juni, Risa dan yang lainnya kembali ke Jakarta. Cafe mereka sendiri sudah ditutup, toh Juni dan Risa tak pernah berniat ingin menetap di London. Sekarang keduanya tengah menyiapkan acara pernikahannya. Butuh waktu dua minggu untuk merampungkan segalanya. Termasuk mengurus surat nikah, pelaminan, make up, tempat acara dan sebagainya.
"Nikah susah juga ya!" keluh Risa. Dia dan Juni sedang ikut mengantri untuk mengurus surat nikah.
"Jadi, kamu nggak mau nih?" goda Juni.
"Bukan gitu lah Jun, capek lah aku ngurus ini dan itu, coba acaranya sederhana aja. Nggak perlu megah!"
"Aku sih maunya juga gitu, tetapi ayahmu dan ibuku maunya acara yang besar. Yah, setidaknya orang tua kita senanglah karena itu."
"Iya juga. . ." Risa menyandarkan kepalanya ke pundak Juni.
Hari berlalu dengan cepat, acara pernikahan Juni dan Risa telah tiba. Tema minimalis mnghiasi suasana kala itu. Juni tampak gagah mengenakan setelan jas dan tuxedonya. Sedangkan Risa terlihat cantik dan anggun dengan gaun putihnya.
Semua tamu undangan datang silih berganti. Kedatangan seorang gadis berpakaian kantoran menarik perhatian Juni dan Risa. Dialah Amelia, yang telah bekerja lagi sebagai sekretaris di sebuah perusahaan.
"Wah! selamat ya Jun, Ris, aku nggak nyangka kalian ternyata nikah juga!" ujar Amelia seraya tersenyum lebar.
"Juni sudah jadi milikku loh Mel!" Risa mengeratkan pegangannya di lengan Juni.
"Ris!" tegur Juni yang merasa tak enak.
Amelia yang melihatnya hanya tersenyum kecut. Dia memang masih menyukai Juni, walaupun begitu dia sangat senang dapat menyaksikan Juni bahagia.
"Enggak perlu disebutin dong aku tahu!" respon Amelia sambil menunjukkan ekspresi bahwa ia juga bahagia. Setelahnya Amelia pun bersalaman kepada Juni dan Risa, kemudian berlalu pergi.
Tidak lama kemudian, tampaklah Irfan dan Agus. Irfan terlihat membawa pasangannya. Berbeda dengan Agus yang sepertinya masih betah sendiri. Agus lebih dahulu menghampiri Juni dan Risa.
"Kalian berdua harus berterima kasih kepadaku, karena aku banyak membantu menyatukan hubungan kalian berdua, iyakan?" tukas Agus, yang tengah menyombongkan diri.
"Terus kau maunya apa?!" gemas Juni.
"Carikan pacarlah buatku. . ." sahut Agus sambil memanyunkan mulutnya.
"Ya elah! nanti deh!" balas Risa yang merasa geli.
"Kasihan juga sih aku lihatnya Ris!" ucap Juni.
"Iya, sendirian mulu! pffft!" respon Risa.
"Jangan berani-berani menghina jomblo ya!" geram Agus yang merasa tersindir.
"Enggaklah Gus! kami cuman bercanda!" Juni langsung merangkul pundak Agus.
"Maaf guys, aku telat. Eh kenalin calon istriku, namanya Mira!" Irfan ikut bergabung sembari menggandeng seorang gadis cantik.
"Hiyaaak! calon istri, huhuy!" goda Agus, yang langsung menyebabkan pipi Irfan memerah malu.
"Semoga lancar ya!" ujar Risa. Setelahnya mereka berniat ingin berfoto bersama.
"Eh aku gimana dong?" tanya Agus yang kebingungan karena tak punya pasangan.
"Jadi anak Juni sama Risa aja kau duduk di bawah sana!" imbuh Irfan seraya menahan tawa.
"Eh tunggu, itu ada temanku. Aku panggil ya!" ujar Juni, kemudian memanggil nama Ratih untuk ikut berfoto bersama. Ratih pun mau saja, lagi pula dia tak mau menolak ajakan Juni. Mereka semua pun berfoto bersama.
...***...
...~Setelah Menikah~...
Acara pernikahan telah selesai. Juni dan Risa merasa kelelahan. Keduanya sama-sama sedang merebahkan diri di kasur yang sama.
"Jay mengucapkan selamat untuk kita, dia minta maaf karena tidak bisa datang," ujar Risa seraya menggeser-geser layar ponselnya.
"Iya. . ." sahut Juni malas, ia mulai menggeser badannya untuk mendekati Risa. Perlahan tangannya memeluk Risa dari samping. Sekarang lelaki itu mendekatkan wajahnya ke pipi Risa.
"Begini ya caramu Jun, pffft! menggemaskan!" ungkap Risa sembari melirik ke arah Juni. Keduanya sekarang saling bertukar pandang.
Mata Juni mulai menyorot bibir merah muda alami Risa. Perlahan dia mulai semakin mendekat.
"Tapi Jun, aku sedang datang bulan!" ucap Risa, yang berhasil mencegah Juni dari niatnya. Alhasil lelaki tersebut kembali menjauhkan diri dari istrinya dengan dengusan kasar. Risa yang melihat raut wajahnya sontak tertawa lepas. Dia segera lekas-lekas memeluk Juni erat.
"Kena lagi kamu Jun! aku cuman bercanda. Kau lucu sekali, hahaha!"
"Nggak lucu!" Juni gusar. Risa pun segera mengecup singkat bibirnya. Juni yang merasa gemas segera mendorong, hingga posisinya berada di atas Risa.
Sekarang Juni mencium bibir Risa yang telah menjadi pasangan hidup sahnya. Keduanya kembali melewati malam bersama, namun kali ini dengan suasana dan hubungan yang berbeda dari sebelumnya.
...***...
Catatan Author : Belum berakhir guys, masih ada bonus cerita, cekidot bab selanjutnya!