
Keesokan harinya Risa dan ayahnya pindah ke rumah yang ada di sebelah Juni. Alhasil semua keluarga Juni pun ikut membantu merapikan barang-barang.
"Jun, sejak kapan kau-pacaran sama Amel?" tanya Risa seraya membuka kotak kardus besar.
"Sejak kelas tiga SMA, itu pun karena kami kebetulan kerja bareng di cafe!" jelas Juni.
Risa mendengus kasar dan berucap, "Andai aku tidak pergi mungkin kau akan berpacaran denganku." Juni yang mendengar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku kira ayahmu menikah lagi, tetapi. . ." ungkap Juni yang berakhir dengan gidikan bahu.
"Aku juga mengira begitu Jun, ternyata dia hanya gila kerja. Tapi bedanya saat sudah berpisah dengan ibuku dia lebih bisa mengatur waktunya agar bisa bersamaku," terang Risa sembari menatap ke arah sang ayah.
"Iya, kau-benar!" imbuh Juni dengan senyum tipisnya.
Saat di kampus, Amelia sengaja menemui Risa. Sepertinya ada yang ingin dikatakan oleh gadis berambut keriting tersebut. "Risaa!" panggilnya sambil memanjangkan leher ke dalam kelas Risa yang sepi. Namun dia beruntung kala itu orang yang ia cari sedang berada di sana.
"Kenapa?" tanya Risa sembari berjalan menghampiri Amelia.
"Aku cuman mau bicara." Amelia tampak cengengesan.
"Ya sudah, ayo kita ke tempat yang agak sepi biar kedengeran ngomongnya!" ajak Risa yang sengaja berjalan lebih dulu dari Amelia. Tidak lama kemudian Risa pun menghentikan langkahnya saat merasa telah menemukan tempat yang dia rasa tepat. Alhasil gadis tersebut berbalik dan menatap Amelia dengan ekspresi serius.
"Jadi, apa yang ingin kau-bicarakan? apa ini tentang yang kemarin?" Risa memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya.
"Iya, kau benar!" Amelia menjeda perkataannya untuk tersenyum. "Aku hanya ingin bilang bahwa aku mempercayaimu dan Juni. Jadi aku akan menganggap apa yang kamu katakan kemarin itu bukan apa-apa." Amelia saling bertatapan dengan Risa.
"Bukan apa-apa?" Risa memutar bola mata jengah lalu melanjutkan, "Tapi itu bagiku penting Mel, aku mencintai Juni sejak kecil. Dia tidak hanya cinta monyetku, tetapi juga cinta pertama. Dan sekarang, aku sedang tidak berminat untuk mengalah."
"Ris, aku. . ."
"Mel, jika kamu juga mencintai Juni, aku harap kau tidak menyerah!" jeda Risa yang kemudian segera melingus pergi. Amelia hanya bisa mematung dan masih merasa tidak percaya dengan perubahan Risa.
***
Ceklek!
Juni membuka pintu depan rumah Risa. Dia membawa kantong plastik hitam di tangannya.
"Wah wah wah! bawa apaan tuh Jun?" Risa datang menghampiri Juni.
"Enggak apa-apa, cuman camilan." Juni menyodorkan plastik hitamnya kepada Risa.
"Makasih ya! nonton yuk!" ucap Risa yang segera mendapatkan anggukan kepala dari Juni. Lantas keduanya pun menonton bersama di rumah Risa.
"Jun, boleh aku tanya?" kata Risa sembari memasukkan camilan rasa kentang ke mulutnya.
"Apa?"
"Kau bilang Amel sedang mengalami masa sulit. Masalah apaan sih?" Risa merubah posisi duduknya menjadi menghadap Juni.
"Masalah keuangan Ris, dia masih bekerja sana sini untuk mencukupi kebutuhannya dan juga membayar biaya pengobatan ibunya!"
"Jadi ibunya Amelia sedang sakit?" pupil mata Risa membesar. Juni pun merespon dengan satu anggukan.
'Tapi itu tidak akan menghalangiku untuk membuat Juni jatuh cinta padaku. Maafkan aku Mel, tetapi aku hanya ingin Juni di dunia ini, untuk menjadi lelaki yang selalu ada di sampingku!' gumam Risa dalam hati seraya menatap Juni dengan penuh tekad.
"Kamu ikut reuni besok nggak Ris?" tanya Juni.
"Iyalah! reuni apa lagi dong!" sahut Juni santai.
"Ya sudah, kalau kamu ikut aku juga ikut dong!" Risa mengapit kepala Juni dengan lengannya. Alhasil Juni pun melakukan protes dengan mencubit batang hidung Risa.
"Hahaha! geli Jun!" usaha Juni berhasil untuk lepas dari serangan sang sahabat.
"Malah tawa! kamu sendiri kan yang mulai!" timpal Juni.
"Oh iya, kabar Agus dan Irfan sekarang gimana Jun?"
"Irfan sudah jadi polisi Ris, sedangkan Agus dia kuliah di jurusan komunikasi," terang Juni.
"Wah! nggak sabar pengen ketemu mereka!" Risa tampak sangat bersemangat.
***
"Ayo Ris cepat! nanti kita terlambat!" pekik Juni dari luar rumah. Dia sedang menunggu Risa berdandan. Keduanya akan pergi ke acara reuni.
"Sabar dong Jun!" Risa keluar dari rumah seraya mengencangkan ikatan sepatunya. Gadis tersebut terlihat lebih cantik dengan dress bunga-bunga berwarna maroon. Rambut pendek sebahunya yang berwarna merah muda tampak tergerai dengan indah. Juni sempat rerkesiap melihat penampilan sahabatnya sendiri.
"Wah Ris! kamu terlihat sangat berbeda!" Juni memberikan senyuman kepada Risa yang sudah membuka pintu mobilnya.
"Iya dong! kita kan mau ke acara penting." Risa membalas senyuman Juni.
"Eh! tunggu Ris! kau duduk di belakang!" cegah Juni pada Risa yang sudah duduk di sampingnya.
"Hah? serius Jun? kamu emang mau jadi supirku?" Risa menatap Juni tak percaya.
"Bukan gitu, aku kan juga mau jemput Amel. Jadi dia akan duduk di sebelahku. Maaf ya!" ujar Juni dengan menampilkan ekspresi memelasnya.
"Idih! belum juga kok! nanti kalau sudah sampai rumah Amel aku pindah ke belakang deh. Awas ya kalau bermesraan di depanku!" ancam Risa sambil menggertakkan giginya.
"Terserahmu lah Ris!" respon Juni santai.
Singkat cerita, Juni telah menghentikan mobilnya di depan rumah Amelia. Kepala lelaki tersebut terlihat celingak-celingukan ke arah jendela kamar sang pacar.
"Eh! ngapain?" kritik Risa dengan dahi yang berkerut.
"Cuman mau nengok doang kok!" balas Juni.
"Mengerikan Jun, kayak penguntit aja kamu!" timpal Risa seraya menyilangkan tangan di dada.
"Aku cuman kangen, kamunya aja yang nggak pernah rasain pacaran!" timpal Juni.
"Ya sudah, aku mau pacaran kok! tapi sama kamu ya!" goda Risa dengan binaran matanya.
"Hah? nih pacaran!" Juni segera mencubit hidung Risa untuk sekedar menyuruhnya diam. "Jun, hentikan!" sontak Risa tak kuasa menahan tawa.
Di sisi lain, Amelia melangkah mundur dari jendela karena baru saja melihat Juni dan Risa tengah saling bercanda. Matanya mulai berembun, dia berusaha meyakinkan diri untuk tidak mempercayai semua perkataan Risa. Namun setelah melihat kenyataan, barulah Amelia tersadar bahwa Risa benar-benar serius dengan ucapannya.
'Sepertinya benar Risa ingin merebut Juni dariku. Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang? memarahinya? menyingkirkannya? tapi aku bukanlah orang yang tega melakukan hal tersebut kepada orang lain. Apalagi Risa kan juga temanku.' Mata Amelia terpejam pelan, dia memegangi dadanya karena berusaha menahan rasa kekecewaan yang tengah ia rasakan.
Amelia bisa saja memarahi Risa dengan mudahnya, namun dia bukan tipikal gadis yang tega menyakiti hati orang lain. Amelia memiliki hati yang lembut dan baik, dia juga selalu berpikir positif.