
Risa sudah menghabiskan waktunya setengah hari di cafe Jay. Dia melakukan uji coba untuk membuat hasil karyanya. Gadis itu bertugas melakukan latte art. Karena tangannya lihai menciptakan karya seni, tugas tersebut bukan hal yang sulit untuk Risa.
"Wow! itu sangat cantik! kalau begini cafe-ku bisa tambah ramai!" puji Jay, ketika melihat latte art bikinan Risa.
Ilustrasi latte art pertama Risa :
Risa menggelengkan kepala dan berkata, "Tetapi aku masih belum puas dengan hasilnya!"
"Tidak apa-apa, kan itu percobaan pertamamu. Wajar sajalah, kau baru pertamakali menggambar di atas busa latte." Jay tersenyum sembari menilik ke wajah Risa.
"Ya sudah, kau bisa memfoto dan juga memberikannya ke pelangganmu. Aku akan berusaha lebih baik lagi!" ujar Risa. Dia mencoba membuat art latte yang baru.
"Kalau kau capek, kau bisa beristirahat di sana!" Jay menunjukkan ruang yang memang dikhususkan untuk tempat santai. Ruangan tersebut tidak begitu besar, namun terlihat nyaman. Risa merespon saran Jay dengan anggukan kepala.
Setelah puas mencoba beberapa kali membuat latte art, Risa pun akhirnya memilih untuk istirahat sejenak. Dia duduk di ruangan yang tadi ditunjukkan Jay kepadanya. Risa tampak menikmati waktunya dengan membolak-balikkan lembaran majalah yang kebetulan tersedia.
Jay tidak sengaja menyaksikan Risa yang tengah menikmati waktu istirahatnya. Kala itu dia merasa terpesona dengan pemandangan yang dilihatnya. Gadis pujaan hatinya terlihat sedang duduk cantik membelakangi pancaran sinar mentari nan benderang. Cahaya yang menembus kaca jendela itu benar-benar memberikan keindahan alami untuk orang yang kebetulan duduk di sana. Jay tidak ingin membuang kesempatan tersebut. Tanpa pikir panjang dia pun segera memotret pemandangan yang telah membuatnya terpesona itu.
Klik!
Terdengar bunyi jepretan kamera. Risa lantas menyadari apa yang tengah dilakukan Jay.
"Jay! apa kau baru saja memotretku?" tanya Risa.
"Iya, maaf! aku tidak minta ijin dulu. Soalnya aku tidak ingin menghancurkan pemandangan alami!" sahut Jay seraya berderap menghampiri Risa.
"Idih! apaan sih!" respon Risa yang sedikit terkekeh.
"Aku upload di insta lagi, bolehkan?"
"Ya sudah! ini yang terakhir ya. Aku nggak mau terlalu banyak menyebarkan wajahku di dunia maya!" sahut Risa. Hingga membuat Jay memajukan bibir bawahnya.
"Dasar! harusnya kau manfaatkan wajah cantikmu itu untuk mencari uang. Seperti seleb-seleb di insta itu misalnya!"
"Enggak tertarik!" Risa menegaskan. "Ngomong-ngomong, cafe-mu ini akan ramai jam berapa?" tanya-nya, yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
"Sekitar jam tujuh malam akan sangat ramai. Tetapi tidak begitu ramai juga, kan aku punya banyak saingan disekitar sini." Jay menuturkan.
"Mengenai saingan, aku punya saran agar cafe milikmu lebih menarik!" ucap Risa, yang tentu saja membuat Jay tertarik.
"Apa?"
"Tema! kau harus memilih tema yang kau inginkan Jay. Seperti yang aku lihat, kau hanya mengusung tema cafe pada umumnya!" ungkap Risa sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.
"Benarkah? apa kau punya usul?"
Risa tampak menopang dagu dengan tangan. Dia sedang memikirkan tema yang cocok untuk cafe Jay.
Tak! Tak! Tak!
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Ternyata itu adalah Helen, ibunya Jay.
"Waaah, kau memang ada di sini Ris!" sapa Helen ramah.
"Hai Tante!" balas Risa sambil memeluk Helen lembut.
"Kau memang gadis yang baik." Helen mengusap-usap pundak Risa. Matanya perlahan melirik ke arah Jay.
"Kenapa Jay?" Risa yang tidak sengaja mendengar Jay bersuara sontak menoleh.
"Eh! tidak apa-apa!" Jay mengusap tengkuknya tanpa alasan.
"Sudahlah. Ayo duduk lagi!" ucap Helen yang kembali menyuruh Risa duduk bersamanya.
"Aku ke depan dulu ya!" kata Jay seraya berlalu pergi meninggalkan Risa dan ibunya berduaan.
"Apa kau akan lama tinggal di sini?" tanya Helen.
"Sepertinya begitu." Risa menjawab singkat.
"Kau tahu, aku senang dengan kehadiranmu di samping Jay. Kamu benar-benar memberikan energi positif kepadanya. Setelah bertemu denganmu di klinik dokter Jose, Jay langsung membuang jauh-jauh semua obat-obatannya." Helen bercerita sambil mengingat masa-masa sulit Jay ketika mengalami overdosis.
"Benarkah begitu?" Risa tersenyum tipis.
Helen mengangguk pelan. "Ketika mendengarmu akan kembali ke London, Jay sangat bersemangat!" ucapnya sembari tertawa kecil.
"Kalau itu aku tahu Tante! kelihatan banget dari wajahnya!" sahut Risa yang ikut terkekeh.
"Aku harap hubunganmu dan Jay berjalan baik ya!" Helen memegangi tangan Risa lembut.
Risa terkesiap, senyuman yang tadinya sempat terpatri diwajahnya memudar begitu saja. Dia sangat paham mengenai maksud dari perkataan Helen.
Sudah dipastikan, Risa sekarang sama sekali tidak berniat memulai hubungan untuk sementara. Apalagi dengan Jay, dia hanya menganggap lelaki berambut perak tersebut sebagai sahabat.
Risa perlahan mengangakan mulutnya, karena hendak mengucapkan sesuatu. Namun Helen langsung berucap lebih dahulu.
"Kau jangan salah paham Ris. Aku tidak bermaksud memaksamu harus memulai hubungan dengan putraku. Aku hanya mengungkapkan apa yang sedang diharapkan hatiku sekarang. Jadi, jangan merasa terbebani ya?" kata Helen, yang dilanjutkan dengan senyumannya.
"Iya!" jawab Risa singkat.
Malam telah tiba, cafe Jay memang semakin bertambah padat. Baik Risa maupun Jay sedikit kewalahan bersama tiga karyawan lainnya. Apalagi, latte buatan Risa disambut hangat oleh para pelanggan yang berdatangan. Mereka sangat suka dengan gambaran indah yang terdapat di busa latte mereka.
"Hei Jay! siapa yang membuat ini?" sapa Sammy, salah satu pelanggan setia Jay. Dia menunjukkan latte miliknya yang masih belum diminum sedikit pun.
"Itu buatan temanku, dia baru saja bekerja di sini!" sahut Jay, dengan pancaran semburat riang di raut wajahnya.
"Cantik sekali. Gambarnya beda dari yang lain, sampai aku tidak tega meminumnya!" imbuh Sammy. "Sampaikan salamku untuk pembuatnya!" tambahnya dengan senyuman merekah.
Jay semakin dibuat senang. Risa benar-benar memberikan kebahagiaan besar kepadanya hari itu. Bukan saja karena dirinya dapat melihat wajah cantiknya setiap hari, tetapi juga karena Risa memberikan banyak pemasukan untuk bisnisnya.
Hari semakin larut, sudah saatnya cafe Jay ditutup. Risa terlihat sudah memakai tas selempangnya.
"Jalan kaki yuk! biar bisa sekalian jalan-jalan!" ajak Jay kepada Risa.
"Emmm. . ." Risa berpikir sambil mengarahkan bola matanya ke kanan atas. "Boleh juga!" sambungnya dengan senyuman simpul. Keduanya pun akhirnya berjalan berbarengan menyusuri jalanan trotoar.
"Ris, apakah mungkin kau bisa jatuh cinta kepadaku. . ." lirih Jay sambil berjalan dengan kepala menunduk.
"Jay, aku mohon jangan membahas masalah ini dahulu ya. Aku benar-benar mau fokus dengan pekerjaan. Lagi pula, rasa cinta kan datangnya secara perlahan." Risa berterus terang.
"Berarti aku punya kesempa--"
"Jay! aku tidak ingin membuatmu terlalu berharap!" tegas Risa. Dia sekarang saling bertukar pandang dengan Jay. Dengan tatapan yang sama sekali tidak bermakna apapun.