The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 77 - Bicara Perihal Nikah



"Ada apa?" ujar Jay. Amelia pun menghampiri lelaki berambut perak tersebut.


"Tidak apa-apa, hanya menyapa." Amelia berkata sambil menolehkan matanya ke arah Juni dan Risa yang semakin menjauh.


"Kau tidak akan melakukan hal yang buruk kan terhadap hubungan mereka?" Jay memastikan.


"Tadinya iya. Tetapi sekarang tidak!" sahut Amelia sembari memegangi tas yang menempel dibahunya.


"Kenapa?" Jay menatap gadis berambut keriting di sebelahnya dengan sudut matanya.


"Mungkin. . . karena aku merasa itu bukanlah diriku yang sebenarnya," ucap Amelia pelan.


"Memang sulit melakukan sesuatu pada dua orang yang telah saling mencintai." Jay ikut berkata.


***


Juni membawa Risa ke balkon yang ada di cafe. Risa tampak menyeka air mata yang tidak sengaja berjatuhan dipipinya. Kebetulan tempat itu sepi, dan hanya beroperasi ketika malam saja.


"Kamu tunggu di sini ya!" Juni menyuruh Risa duduk di salah satu kursi. Dia segera pergi mengambilkan obat yang disimpan dalam tas ranselnya.


"Nih! kau bisa minum sekarang!" Juni menyodorkan segelas air putih kepada Risa.


"Obatnya?" dahi Risa mengernyit, dikarenakan Juni tidak memberikan obatnya.


"Minum saja dahulu, mungkin air putihnya lebih manjur!" ujar Juni dengan patrian senyum tak berdosa. Sedangkan Risa terlihat menunjukkan mimik wajah masamnya, matanya menyalang tepat ke arah sang kekasih. Sebenarnya gadis itu hanya ingin menginginkan butir-butir kecil yang mampu menenangkan perasaannya sekarang.


Glek! Glek! Glek!


Meskipun kesal dengan anjuran Juni, Risa tetap menenggak air putih yang diberikan untuknya.


Bruk!


Risa menghempaskan gelas yang sudah bersih ke atas meja. Dia sengaja melakukannya, agar Juni sadar kalau air mineral tidak akan cukup untuk membuatnya tenang.


"Ris!" Juni melebarkan matanya, karena dibuat begitu kaget.


"Obatnya!" desak Risa seraya menyodorkan sebelah tangan dengan keadaan telapak yang terbuka. Juni menghela nafas berat, dia akhirnya terpaksa memberikan benda yang sedari tadi di inginkan oleh kekasihnya. Tanpa basa-basi, Risa langsung merebut obat yang disodorkan Juni, dia mengambil puluhan butir untuk dimasukkan ke dalam perutnya.


"Eh, eh! tunggu!" cegah Juni, kepada Risa yang hampir melemparkan obat ke atas lidahnya. Risa lantas kembali mengukir wajah merengut.


"Kebanyakan, kurangi-lah sedikit!" usul Juni dengan ekspresi wajah memohon. Alhasil Risa memasukkan satu butir obatnya kembali. Tetapi biji-biji berbahan kimia di genggamannya tampak masih banyak.


"Astaga Ris, itu masih banyak loh!" protes Juni lagi.


"Sialan kau Jun! kau ingin kena tonjokanku seperti Ello? hah?" timpal Risa, yang menyebabkan Juni sontak terdiam.


"Ya sudah, terserah. Aku akan ambilkan air dulu." Juni kembali bangkit dan berderap untuk mengisi gelas Risa lagi. Setelah beberapa saat, lelaki tersebut kembali dengan keadaan gelas yang sudah terisi penuh.


"Maaf ya Jun, aku tidak bermaksud--" Risa menyesali ucapan yang dia lontarkan beberapa menit sebelumnya.


"Sudahlah, minum saja obatnya." Juni mengalah dengan bersikap tenang. Risa yang merasa tidak enak mencoba berpikir sambil menatap puluhan obat di tangannya. 'Mungkin Juni benar. Aku harus berusaha berhenti!' pikirnya.


Tanpa diduga Risa kembali memasukkan obatnya ke dalam botol. Kemudian langsung menghabiskan air putih yang ada di hadapannya.


"Ris, kau tidak perlu memaksa jika memang tidak bisa," Juni menatap cemas.


Risa mengukir senyuman diwajahnya dan berkata, "Kau benar, air putih sedikit membuatku lega!"


"Yang bener? jangan berbohong dong nyetmo!" goda Juni sembari melipat tangannya di depan dada.


"Monyet!" Risa mengoreksi ejaan yang sengaja disalahkan oleh Juni. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Juni, lalu dilanjutkan dengan tawa kecilnya.


"Makasih ejekannya!" Juni memegangi sebelah pipi Risa. Dia menatap lekat gadis yang ada di depannya. Manik berwarna hitam kecoklatan itu membuat waktu seolah berhenti. Hingga atensinya beralih pada bibir ranum milik Risa. Secara perlahan Juni mendekatkan bibirnya pada bibir yang tampak sedikit diberi warna tersebut.


Risa yang memahami tatapan kekasihnya, mulai memajukan wajahnya. Dia dan Juni perlahan saling mendekat diri.


Tring. . . Tring. . .


Tring. . . Tring. . .


"Cukup Ris! aku takut khilaf! lebih baik angkat dahulu teleponmu!" ucap Juni dengan mata yang membola serta gelengan kepala. Lelaki itu mencoba menyadarkan diri.


"Nggak apa-apa lah Jun!" sahut Risa.


"Gila!" ujar Juni yang langsung memundurkan badannya. "Jawab teleponmu gih!" lanjutnya seraya menunjuk tas Risa dengan dagunya.


Risa segera mengambil gawai yang dia simpan dalam tas selempangnya. Dering suara telepon masih terdengar, dia melihat ada nama sang ayah yang tertera pada layar ponselnya.


"Kenapa Yah." Risa menjawab malas.


"Kamu dimana? bisakah pulang sekarang?" ujar Bayu dari seberang telepon.


"Hah? pulang? nanti deh!" sahut Risa tak acuh, lalu langsung mematikan panggilan telepon secara sepihak.


"Kenapa? apa terjadi sesuatu?" tanya Juni.


"Bukan apa-apa, sepertinya nggak penting!"


"Benarkah?. . . dari panggilannya yang lebih dari sekali itu, sepertinya penting!" Juni ber-imbuh yakin.


"Sudahlah. Oh iya, kau akan tampil lagi nggak?" Risa sengaja mengubah topik pembicaraan.


"Nanti malam mungkin."


"Bagus dong, aku akan menunggu kali ini!" Risa bertekad. "Nyanyikan lagu untukku ya, baby!" tambahnya sambil menampakkan raut wajah imut yang sengaja di buat-buat.


"Idih! apaan!" Juni memutar bola mata yang disertai kekehnya.


"Ngomong-ngomong kau tadi mau khilaf yang bagaimana Jun?" Risa bermaksud menggoda Juni. Dia menopang dagu dengan tangannya, matanya menyorot serius kepada lelaki yang duduk di hadapannya.


Juni yang mendengar pertanyaan Risa sontak tebelalak. "Jangan bepura-pura tidak paham!" kata-nya seraya mencubit hidung Risa karena merasa geram.


"Wah! kau ternyata jantan juga ya. Haha!" ujar Risa yang berakhir tergelak.


"Kau pikir aku banci apa?" Juni meringiskan wajahnya.


"Jujur saja, aku benar-benar tidak apa-apa. Dengan begitu kau bisa secepatnya menikahiku!" ungkap Risa.


"Jangan mengada-ngada ah!" Juni mengerutkan dahi.


"Aku beneran Jun! aku ingin cepat-cepat pergi dari kehidupanku sekarang!"


"Apa kau yakin kehidupan yang lain akan lebih membahagiakan?"


"Bagiku dimana saja asal bersamamu itu membahagiakan!" Risa meyakini.


"Tapi bagaimana dengan diriku?" balas Juni, yang membuat Risa sontak menatap dalam.


"Maksudmu, kau tidak bahagia bersamaku?" Risa menyimpulkan.


"Bukan begitu. Maksudku, aku masih belum menjadi lelaki yang pantas. Apalagi untukmu Ris, gadis yang aku cintai saat ini." Juni berterus terang.


"Tidak pantas bagaimana? mengenai pekerjaan? harta? atau ada yang lain?" Risa mengeluarkan semua terkaan yang ada dalam benaknya.


"Mungkin. . ." Juni menjawab lirih.


Risa tersenyum singkat. "Bukankah yang terpenting adalah kasih sayang, masalah selain itu kita bisa melakukannya bersama. Aku sangat percaya diri kalau kita mampu!" ujarnya.


"Tapi sayangnya aku tidak se-percaya diri itu. Ku-mohon aku butuh waktu untuk membuktikan." Juni terlihat menghela nafasnya.


"Pokoknya jangan lama-lama. Nanti aku keburu nikah sama yang lain!" tukas Risa, yang sontak membuat Juni tertawa kecil. "Ya elah, malah ketawa lagi. Aku serius Jun!" sambungnya dengan mulut yang memanyun.