The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 111 - Menangis Bersama



"Ini kunci kamarnya!" ujar resepsionis hotel sambil menyerahkan sebuah kunci.


"Hanya satu?" Risa mengerutkan dahi.


"Tentu saja, bukankah kalian sepasang kekasih?" resepsionis berambut pirang itu tersenyum mengejek.


Juni dan Risa sama-sama membisu. Seolah tak mampu mengelak pernyataan yang sudah di ucapkan sang resepsionis.


"Tapi kami--"


"Sudahlah! selamat bersenang-senang!" potong si resepsionis, yang segera menyuruh Juni dan Risa untuk pergi ke kamar.


"Kami bukanlah pasa--"


"Ayo pergi sajalah! aku bisa melihat dari tatapan mata kalian, kalau kalian berdua saling mencintai!" sang resepsionos bersikeras.


Akhirnya Juni dan Risa tak punya pilihan lain. Karena resepsionis itu terkesan memaksa. Sekarang keduanya telah berada di kamar yang sama. Entah kenapa, baik Juni dan Risa sama-sama tak mampu memulai pembicaraan.


"Jun!"


"Ris!"


Saat hendak memulai pembicaraan, Juni dan Risa malah berbicara secara bersamaan. Hingga membuat mereka semakin terkejut.


"Kau saja duluan!" Juni mengalah.


"Bukan hal penting, kau saja deh yang bicara lebih dulu!" tepis Risa.


"Yakin?" tanya Juni, yang langsung mendapat anggukan kepala dari Risa.


"Bagaimana lagu yang aku buat untukmu? kau suka?" Juni bertanya sambil mengusap tengkuknya tanpa alasan. Namun gadis yang dia tanya malah menatap bingung ke arahnya.


"Lagu? maksudmu?" Risa meminta penjelasan.


"Kau lupa dengan tas karton yang aku berikan sebelum keberangkatanmu ke London?"


"Tas karton?" Risa menelusuri ingatannya. Hingga gambaran dalam kepalanya pun mengingat kalau dirinya sudah membuang hadiah Juni bahkan tanpa memeriksa isinya. Risa semakin merasa bersalah karena sudah menginjak-injak hadiah Juni dengan penuh amarah.


"Kenapa? jangan bilang kau membuangnya karena marah kepadaku?!" tebak Juni dengan kening yang mengernyit.


"Maaf! kau benar. Aku sudah membuangnya, sudah kubilang kan harusnya kau beritahu aku lebih awal mengenai masalahmu!" Risa mencoba melakukan pembelaan.


"Baguslah! lagi pula lagunya jelek kok!" sahut Juni gusar. Dia segera merebahkan diri ke kasur, lalu membelakangi keberadaan Risa yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Jun, aku saat itu sangat kesal kepadamu. Makanya aku memilih tidak memeriksa hadiahmu dan langsung membuangnya." Risa berterus terang.


"Sudahlah, sana mandi gih!" sahut Juni yang tak mau peduli lagi. Alhasil Risa pun langsung masuk ke kamar mandi. Sekarang gadis tersebut sedang berdiri di depan cermin.


'Kenapa malah aku merasa bersalah ya. Apalagi setelah mendengar cerita mengenai hadiah dan perjuangan Juni untuk ke London. Astaga ini makin memusingkanku saja' Risa mengacak-acak rambutnya sendiri.


Sedangkan di sisi lain, Juni tengah merebahkan diri dengan perasaan kecewa. Ia tak percaya Risa membuang hasil rekamannya. Padahal dia sudah mengorbankan uang tabungan dan juga keberaniannya hanya untuk lagu tersebut.


'Semarah itukah Risa kepadaku. Dadaku kenapa rasanya sangat sesak ya. Aku jadi tidak bisa tidur kalau begini,' batin Juni seraya memejamkan mata namun sama sekali tak dapat tertidur.


Ceklek!


Risa sudah selesai membersihkan badan. Sekarang Juni yang segera bangkit dari kasurnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Risa melihat ekspresi Juni selintas, dan ia dapat merasakan kalau lelaki itu tengah kecewa kepadanya.


'Sepertinya Juni benar-benar kecewa. Aku tidak tahu harus bagaimana cara berbicara kepadanya..." gumam Risa dalam hati sembari merebahkan diri ke kasur.


Setelah beberapa menit kemudian, Juni pun tampak sudah keluar dari kamar mandi. Risa reflek mengubah posisinya menjadi duduk.


"Juni!" panggilan Risa sontak menghentikan langkah kaki Juni.


"Kau tidak perlu melakukannya!" ucap Risa serius.


"Kau yakin?"


"Sebab aku ingin berbicara banyak hal denganmu." Risa menjelaskan, hingga berhasil membuat Juni mengurungkan niatnya. Dia berjalan mendekati Juni. Sekarang keduanya sedang bicara saling berhadapan.


"Bicara apa? mengenai rekamanku itu? sudahlah Ris, jangan dibahas lagi. Yang berlalu biarlah lewat!" balas Juni.


"Aku harusnya tidak mengambil keputusan terlalu cepat, sekarang semuanya jadi begini..." lirih Risa yang perlahan menundukkan kepala.


"Berarti kau masih mencintaiku kan?" Juni mengangkat dagu Risa, agar ia dapat menatap wajah gadis itu sepenuhnya. Sekarang keduanya terpaku untuk saling menatap.


"Aku tidak--"


"Tak perlu dijawab! sebab aku sudah tahu kala melihat caramu menatapku." Juni hanya tersenyum tipis. Namun tidak dengan Risa, dia tak mampu lagi menutupi hasratnya. Gadis tersebut segera mendekap Juni dengan erat. Secara alami tangan Juni pun melingkar ke pinggangnya. Sensasi jantung yang berdegub kencang kembali muncul di antara keduanya. Mereka reflek sama-sama sedang memejamkan mata.


Ketika Risa membuka matanya sejenak, atensinya tiba-tiba terfokus pada cincin yang tersemat di jari manisnya. Gadis itu pun segera melepaskan tautan bibirnya. Kemudian mengamati cincin pertunangannya di hadapan Juni.


"Ris, kau--"


Kalimat Juni terhenti tatkala menyaksikan Risa melepaskan cincinnya dan menghempaskannya ke lantai. Juni terkesiap dengan tindakan Risa tersebut, dia terpaku menatap cincin yang terguling di lantai.


"Aku akan mencoba bicara kepada Tom!" ujar Risa.


"Benarkah?" Juni memastikan. Risa pun menjawab dengan anggukan kepala, lalu mengecup singkat bibir Juni. Perlahan keduanya pun kembali saling berpelukan. Entah kenapa Juni tak mampu menahan tangisnya. Cairan bening menetes begitu saja dipipinya. Hidungnya bahkan mulai terdengar mendengus, hingga akhirnya Risa pun menyadari kalau lelaki itu tengah terisak.


"Kau kenapa menangis?" tegur Risa seraya melepaskan pelukannya. Dia menangkup wajah Juni.


Teguran Risa malah semakin membuat tangisan Juni semakin parah. Sebenarnya Juni hanya merasa lega, karena usahanya selama ini tidak berakhir sia-sia.


Sepertinya tangisan Juni menular, sebab Risa menjadi ikut-ikutan merengek bersamanya. Sekarang mereka saling menempelkan jidat dan menangis bersama.


Malam itu Juni dan Risa tidak bisa tertidur. Hanya saling mengobrol seolah tengah bernostalgia. Sambil berbaring bersama di atas kasur, keduanya bercerita banyak hal. Mengenai cerita mereka sebelum bertemu lagi sekarang.


"Aku kesal banget loh Ris, sudah masuk dua puluh besar The Real Singer malah aku yang pertama kali keluar!" keluh Juni, yang sontak membuat Risa tergelak.


"Ugh! kaciaaaan!" goda Risa sambil mencubit pipi Juni.


"Kamu ya! mentang-mentang selalu beruntung, nggak usah ngejek aku!" Juni memanyunkan mulut kesal.


"Huaaaah! aku mulai ngantuk Jun." Risa sama sekali tak menjawab keluhan Juni. Dia perlahan memejamkan matanya akibat serangan kantuk yang teramat sangat.


"Dasar! padahal sudah jam lima subuh!" cibir Juni yang pada akhirnya ikut memejamkan mata.


Ketika waktu sudah menunjukkan jam sepuluh siang, Juni membuka matanya perlahan. Dia menengok ke samping untuk memastikan kehadiran Risa. Namun gadis tersebut sudah menghilang. Juni sontak segera bangkit dari kasurnya.


"Risa?!" panggilnya gelagapan.


"Iya? kenapa Jun?" jawab Risa yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Lidah Juni langsung berdecak kesal dan berkata, "Aku kirain kamu pergi kemana tadi, taunya di kamar mandi."


"Idih! baru ditinggal bentar udah kangen, pffft!" goda Risa sambil tertawa kecil.


'Akhirnya Risa yang dulu, kembali lagi,' batin Juni yang perlahan tersenyum senang.