
Seminggu telah berlalu, Juni sudah mendaftarkan dirinya untuk mengikuti kontes The Real Singer 8. Hari ini dia akan pergi ke lokasi audisi bersama Ervan. Juni tampak sudah berpakaian rapi, ia sekarang tengah duduk di kasur sambil mengusap-usap ponselnya.
Ceklek!
Pintu kamar perlahan terbuka, muncullah Rahma yang tengah menunjukkan mimik wajah sendunya.
"Ada apa Mah?" tanya Juni.
Rahma terdiam sambil memegangi area kepalanya. Dia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu kepada sang putra.
"Mah?" Juni memanggil sekali lagi.
"Jun, ada yang ingin Mamah katakan." Rahma memposisikan dirinya duduk di samping Juni.
"Apa?"
"Mamah harus menjual mobilmu. . ." ujar Rahma lirih.
Juni tersenyum tenang, dia sama sekali tidak keberatan. "Iya Mah, kapan mau dijualnya? biar aku bisa siapin mobilnya dulu!" ucapnya.
"Kamu nggak marah?" Rahma memastikan.
"Ngapain aku marah, toh itu kan mobil Mamah juga, kan dulu belinya pakai duit Mamah!" tutur Juni. Dia mencoba menenangkan ibunya. Alhasil Rahma tersenyum kala mendengarkan penuturan sang putra.
"Nanti Mamah ganti sama motor ya, biar kuliahmu lancar!" kata Rahma.
"Aku sebenarnya bisa naik angkot sama bus Mah!"
"Ih, enggak! pokoknya Mamah akan tetap belikan. Soalnya siapa lagi yang nganterin Mamah sama adikmu kemana-mana selain kamu."
"Oh, jadi karena itu toh Mamah bersikeras beliin motor." Juni menampakkan ekspresi kecewanya. "Iya sih, aku memang tukang ojek kalian!" lanjutnya.
"Haha! nggak lah Jun, Mamah cuman bercanda. Ya sudah, Mamah mau masak dulu." Rahma bangkit dari tempat duduknya dan mencoba berjalan menuju pintu. Namun langkahnya terhenti, ketika dia baru menyadari pakaian rapi yang sedang dikenakan Juni. Penampilan anak sulungnya tersebut terlihat berbeda dari biasanya.
"Kamu mau kemana Jun?" tanya Rahma sembari membalikkan badan untuk menatap Juni.
"Emm. . ." Juni mengusap tengkuknya tanpa alasan. Dia merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Rahma mengenai kontes menyanyi. "Mau ke rumah dosen Mah!" ujarnya, tanpa menatap ke arah lawan bicara akibat kebohongan yang dia ucapkan.
"Oh begitu, ya sudah. Berhati-hatilah, nanti Mamah kabari lagi mengenai rencana menjual mobilnya." Rahma segera berlalu pergi dari kamar Juni.
'Hufh! hampir saja, aku akan beritahukan Mamah kalau sudah lolos audisi. Jika dikasih tahu sekarang, dia sama Sofi pasti jadi hiperaktif menanggapinya,' gumam Juni dalam hati. Selanjutnya dia segera berangkat dengan membawa gitar kesayangannya.
Juni dan Ervan telah tiba di lokasi audisi. Matanya langsung membulat ketika menyaksikan panjangnya antrian.
"Gila! banyak banget yang ikut!" keluh Juni yang tiba-tiba diserang rasa lelah.
"Kamu nggak pernah nonton telivisi Jun? terutama mengenai acara kontes menyanyi ini gitu?" Ervan menanggapi.
"Pernah, cuman aku nggak nyangka aja bakalan sepadat ini."
"Ayo masuk ke antrian! kan kalau lebih cepat lebih bagus!" Ervan berjalan memimpin untuk masuk ke dalam antrian. Di ikuti Juni dari belakang.
"Ngomong-ngomong, kau mau menyanyi pakai lagu apa Jun?" tanya Ervan yang sedang berdiri membelakangi Juni.
"Entahlah, sekarang aku tengah memikirkannya."
"Pikirkan baik-baik Jun, soalnya pemilihan lagu itu penting!" Ervan memberikan saran.
"Sok tau banget kamu!" respon Juni, hingga membuat Ervan menoleh ke arahnya dan berucap, "Beneran Jun! jangan remehin saranku lah!"
"Oke, oke deh kalau gitu!" Juni mengalah.
Tidak lama kemudian seorang gadis yang tidak asing terlihat berlari kecil menghampiri Juni. Dialah Amelia yang sedang membawa sebotol air mineral di tangannya.
"Wah, kau balikan sama Amel ya Jun?" Ervan memastikan.
"Akhirnya ketemu juga!" gumam Amelia, saat telah tiba di hadapan Juni.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Juni.
"Ya kasih semangat buat kamu lah! aku tahu loh kalau audisinya akan memiliki antrian yang panjang, ditambah harinya panas banget lagi. Nih aku bawakan minuman dingin!" Amelia memberikan sebotol air mineral kepada Juni.
"Makasih Mel, tetapi kamu tak perlu sampai repot-repot juga datang ke sini!" Juni menerima minuman pemberian Amelia sambil tersenyum kecut.
"Aku nggak repot kok! malah senang lagi, lihat kamu sudah mau membuka diri untuk menunjukkan bakatmu."
"Iya, iya. Sudah ah! jangan dibahas!" kata Juni sembari menenggak minumannya. Hingga suara air yang sedang melalui tenggorokannya dapat terdengar jelas di telinga Ervan. Alhasil lelaki itu pun hanya bisa meneguk salivanya sendiri.
Aksi minum Juni sudah selesai, dia tidak sengaja melihat raut wajah Ervan yang seolah juga menginginkan minumannya. "Kamu mau?" tawarnya.
"Eh enggak kok! itu kan minuman spesial dari Amel untukmu!" Ervan langsung menggeleng.
Amelia yang masih berdiri di dekat kedua lelaki tersebut lantas menepuk jidatnya sendiri. "Maaf ya Van, aku nggak tahu kalau kamu juga ikut!" tuturnya yang merasa tidak enak.
"Enggak apa-apa kok Mel! wujudku memang sering tak terlihat kok!" Ervan melakukan sindirian secara halus.
"Hah?" Amelia mengernyitkan kening bingung.
"Dia setan kali!" Juni menyimpulkan sendiri kalimat yang di ucapkan Ervan barusan.
"Apa-apaan kau Jun! enak aja!" protes Ervan yang tak terima dengan pendapat Juni.
"Ya sudah, ini minum saja punyaku!" Juni menyodorkan minumannya kepada Ervan.
"Iya tuh, minum punya Juni saja nggak apa-apa kok!" Amelia menyetujui.
"Enggak ah! sudah terkontaminasi sama mulut Juni!" kilah Ervan.
"Idih! lebay!" Juni menyikut Ervan karena merasa sedikit tersinggung. Namun dia sebenarnya tahu, Ervan hanya bermaksud bercanda.
"Ya sudah, sini!" pada akhirnya Ervan pun meminum air mineral milik Juni.
"Kamu bernaung dulu deh Mel, panas banget nih!" saran Juni lembut.
"Memangnya kenapa?" Amelia bertanya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Nanti kulitmu item lagi, kan cewek nggak suka kalau kulitnya nggak putih lagi."
"Kalau aku sih nggak peduli, aku cuman pengen berdiri di sampingmu doang kok!" Amelia melirik ke arah Juni. Hatinya masih sangat mengagumi lelaki itu.
"Sikat terus Mel! hahaha!" goda Ervan seraya tertawa geli. Dia lantas mendapatkan geplakan di kepala dari Juni. Sedangkan Amelia hanya meresponnya dengan semburat malu yang terpancar dari rona pipinya.
Antrian terus berjalan, Juni, Amelia dan Ervan sudah berdiri sekitar dua jam-an lebih.
"Ini beneran loh Mel, mendingan kamu duduk dulu deh!" Juni berterus terang. Hingga membuat Amelia mulai berpikir dan menyetujui saran Juni.
"Ya sudah, aku tunggu kamu sampai selesai. Semangat Jun!" Amelia tiba-tiba memeluk Juni erat. Bahkan Ervan pun merasa terkejut dengan gelagat gadis tersebut.
"Iya, makasih. . ." Juni tersenyum enggan sembari menepuk pundak Amelia dengan canggung. Setelahnya, Amelia pun segera beranjak pergi menuju tempat yang nyaman untuk menunggu.
"Mungkin kau menganggapnya seperti saudara Jun, tetapi menurutku Amel kayaknya masih punya perasaan tuh sama kamu!" Ervan berpendapat. Namun pernyataannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Juni.
"Eh aku ini lagi ngomong loh!" geram Ervan yang tak terima dirinya didiamkan.
"Ada yang ngomong, kok orangnya nggak ada ya?" ujar Juni, yang bertingkah seolah-olah tidak melihat keberadaan Ervan.
Buk!
"Bahlul kau Jun!" ucap Ervan setelah melayangkan pukulannya ke perut Juni. Alhasil pertengkaran yang terjadi di antara keduanya berakhir dengan gelak tawa.