
"Apa maksudmu Ris?" tanya Amelia serius.
"Udah nggak usah di anggap serius, aku cuman bercanda, hehe. . ." Risa sedikit terkekeh. Amelia lantas mendengus kasar, lalu menggeleng dan tersenyum menyaksikan tingkah gadis yang ada di hadapannya.
"Dasar kamu Ris! benar kata Juni, kau memang sangat jahil. Bahkan di saat sakit begini masih sempat saja," tukas Amelia yang perlahan duduk ke kursi.
"Emang Juni bercerita apa?" tanya Risa, yang penasaran.
"Perihal kejahilan kamu yang pura-pura mati itu loh," jelas Amelia singkat.
"Idih! kamu dibohongi Juni!" tepis Risa sembari menggidikkan bahu.
"Yang bener?" Amelia mencoba memastikan.
Ceklek!
Bayu tiba-tiba membuka pintu. "Ngomongin apa kalian?" tanya-nya sambil membawa beberapa minuman bergelas karton.
"Bukan apa--"
"Perihal Risa yang pura-pura mati itu loh Om, apa itu benar?" Amelia memotong kalimat Risa, karena dia merasa sangat penasaran dengan ceritanya.
'Sudah dibaikin juga nih anak, malah ngelunjak. Pengen banget aku gundul kepalanya. Biar rambutnya nggak keriting lagi!' sumpah Risa dalam hati, dia menatap jijik Amelia.
"Oh itu, benar kok! Risa memang pernah berpura-pura mati," ujar Bayu yang menggelengkan kepala ketika mengingat tentang kebohongan anaknya sendiri.
"Terus gimana Om?" Amelia kembali bertanya.
"Sudah dong Yah! jangan ceritain lagi. Nanti aku ngambek mau?" ancam Risa kepada sang ayah. "Mel, jangan bicarain itu lagi dong!" tambahnya dengan dahi yang berkerut.
"Maaf Ris. . ." balas Amelia yang merasa tidak enak.
"Dasar kamu, gitu aja marah!" protes Bayu. Tidak lama kemudian Juni kembali, dia membawa kantong plastik hitam yang berisi berbagai makanan sehat.
"Nih buat kamu Ris, Om juga boleh makan," ucap Juni dengan kekehnya. Dia meletakkan kantong plastik di atas nakas.
"Iya, itu dari kami berdua Ris!" ujar Amelia dengan senyuman merekah.
"Oh, makasih." Risa merespon dengan singkat.
"Ya sudah, nanti Om juga makan," ungkap Bayu sambil melayangkan pantatnya ke sofa. Lalu segera memainkan smartphone-nya. " Kalian ngobrol aja ya, nggak usah pedulikan orang tua yang lagi duduk ini," sambungnya dengan nada santai.
"Iya Om!" sahut Amelia, lagi-lagi tersenyum lebar.
"Ris, aku sudah terima tawaran Pak Hendra loh!" tukas Juni seraya duduk di samping kasur Risa.
"Hooh! Juni gila kalau menolaknya!" Amelia menyahut.
"Pak Hendra yang menghampiri kamu setelah audisi itu ya?" tanya Risa yang mencoba memastikan. Juni membalas dengan menganggukkan kepala.
"Kamu tahu nggak Ris? Juni bergabung sama orang-orang terpilih di sana. Bahkan Kak Ello juga ada di sana, kamu kenal dia kan?" ujar Amelia yang tampak bersemangat untuk menjelaskan.
"Iya, terus kamu ngapain di sana Jun?" tanya Risa, dan menatap ke arah Juni.
"Kan belum kerja Ris, toh aku baru saja menghubungi Pak Hendra. Bahkan aku baru tahu kalau dia dosen senior di jurusanku," terang Juni.
"Hahaha! kenapa begitu? bukankah kau sudah setengah tahun berkuliah?" tanya Risa dengan sedikit terkekeh.
"Haiss! beliau itu sedang meneruskan studi-nya. Makanya nggak ngajar dahulu, dan diganti sama dosen lain," tepis Juni dengan segala penjelasan.
"Pantesan!" Amelia tertawa kecil. "Ris, aku bakalan sering ke sini nih. Karena setiap hari aku selalu bermalam di rumah sakit untuk menjaga ibuku. Tapi kamarnya jauh sih dengan kamarmu yang mewah ini," lanjut Amelia sembari mengedarkan pandangan ke berbagai sudut ruangan.
"Iya, kita bisa ngumpul bertiga di sini!" sahut Juni santai.
"Enggak!" Risa kelepasan beteriak, dia tidak terima dengan rencana dua sejoli yang tengah duduk di depannya. Tetapi dia sebenarnya menyesali teriakannya tersebut.
"Eh?" Amelia terperangah dan menatap bingung. Bahkan Juni sekali pun.
"Juni, dia soalnya--"
"Ris! hentikan!" titah Juni yang menutup mulut Risa dengan tangannya. "Jangan dengerin Om, kayaknya anak Om ngambek lagi nih, serahin saja padaku!" tambah Juni. Bayu pun hanya terkekeh melihatnya. Risa seketika menjauhkan tangan Juni dari mulutnya.
"Pasti gara-gara aku ya?" celetuk Amelia dengan binar getir di matanya.
"Bu-bukan gitu Mel, aku takut ganggu kamu. Kan kamu sibuk dengan kuliah dan pekerjaanmu yang banyak itu," jelas Risa seraya tersenyum kecut.
'Hedeh! aku seharusnya tidak boleh bersikap yang aneh-aneh saat ada ayah,' Risa mendengus kasar setelah bergumam dalam hati.
"Maksudnya kalau aku punya waktu Ris. . ." lirih Amelia, yang langsung direspon Risa dengan anggukan dan senyuman tipis.
"Nah gitu dong, akur! miris sekali lihat kalian berantem rebutin aku yang super ganteng ini!" celetuk Juni sambil menyilangkan tangan di dada, kemudian tertawa kecil.
"Bwueeek!" respon Risa, yang seolah ingin muntah.
"Idih! sejak kapan kamu jadi kepedean banget?" ujar Amelia, dia mendorong bahu sang kekasih.
"Ayo kita buang aja dia ke kamar mayat!" timpal Risa yang tiba-tiba langsung menjambak rambut Juni. Amelia yang menyaksikan kelakuan Risa hanya bisa tertawa geli.
"Kita harus pergi sekarang nih Jun!" ungkap Amelia setelah menengok jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Sekarang?" tanya Juni. Amelia mengangguk dengan senyuman.
"Ayo!" ajak Amelia yang sudah bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan menuju pintu. Membuat Juni sontak bangkit dan mencoba melangkahkan kaki. Namun Risa segera mencegah dengan cara menggenggam lembut lengan sahabatnya.
"Jangan pergi," imbuh Risa dengan binar penuh harap pada sorot matanya.
"Jun, ayo--" Amelia berbalik badan untuk mengajak kekasihnya ikut pulang bersamanya. Raut wajahnya seketika berubah menjadi datar tatkala melihat Risa sedang menggenggam erat lengan Juni.
"Mel, masih ada yang ingin aku bicarakan dengan Juni," terang Risa, yang kemudian memberikan senyum tipisnya.
"Gimana Jun? bukankah setelah ini kamu berjanji menemaniku ke suatu tempat?" Amelia menatap ke arah Juni. Dia tidak ingin kalah dari Risa.
"Hah? benarkah Jun?" Risa ikut menatap Juni.
"Iya," sahut Juni singkat. Alhasil Risa pun perlahan melepaskan cengkeramannya.
"Toh, malam ini Juni juga akan bekerja untuk pertama kalinya di cafe Pak Hendra!" ujar Amelia yang sengaja memberikan penjelasan.
"Udah sana pergi deh!" suruh Risa dengan nada pelan.
"Nanti, sehabis kerja aku ke sini lagi kok!" imbuh Juni yang tengah berjalan ke arah pintu.
"Nggak usah dipaksakan Jun!" sahut Risa dengan senyum enggannya.
Setelah berpamitan, Juni dan Amelia pun langsung pulang bersama. Kala itu Risa mulai merasa bahwa dirinya tidak bisa mengalahkan posisi Amelia di mata Juni.
'Memang, terkadang kebohongan adalah sesuatu yang sia-sia,' Risa bergumam dalam hati, lalu perlahan kembali merebahkan diri.
***
"Selamat datang Juni!" Pak Hendra saling bersalaman dengan Juni.
"Terima kasih Pak, saya merasa terhormat mendapatkan tawaran ini. Apalagi di cafe yang sebesar ini lagi!" balas Juni.
Setelahnya, Juni pun diperkenalkan dengan pemain musik lainnya di Cafe. Salah satunya Ello yang merupakan pemain piano sekaligus senior di kampus Juni.
"Kamu yang namanya Juni ya?" Ello menyalami Juni, lalu kembali berucap, "Pak Hendra telah memberitahukanku tentang dirimu. Katanya suaramu sangat bagus, pas sekali kami sedang tidak memiliki vokalis di sini!"
"Benarkah? a-aku? jadi vokalis?" Juni merasa tidak percaya. Keringat dingin mulai menyelimuti tubuhnya.
'Astaga, kenapa sekarang aku malah ingin mundur saja dan membatalkan tawarannya. Jujur demam panggungku belum pulih sepenuhnya.' gumam Juni dalam hati seraya sesekali menghapus peluh yang menetes.