The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 13 - Keputusan Juni



Sambil memberikan senyuman canggungnya, Risa terlihat hanya bisa menggaruk bagian belakang kepala. Wanto yang melihat kehadiran gadis itu raut wajahnya langsung semringah.


"Kamu ngapain di sini Ris?" tanya Wanto pelan.


"Mau beli mobil bekas Kak!" Risa masih tampak tersenyum canggung.


"Kamu maunya mobil yang kayak gimana emang?" Wanto mengernyitkan dahi sembari menatap Risa dengan binaran matanya.


"Tunggu Kak!" Risa pun segera mengambil ponsel yang ada di tas ranselnya. Kemudian dia tunjukkan sebuah foto mobil yang selama ini ingin dia beli.


"Ini? kau suka mobil kayak gini? perasaan mobil lo yang sebelumnya udah bagus banget, kenapa..." Wanto langsung menghentikan ucapannya saat melihat kernyitan dahi Risa. Gadis itu seakan tidak ingin Wanto menanyakan apa yang ada di isi kepalanya.


"Ya sudah, ikut aku!" ujar Wanto sambil melangkahkan kaki untuk mengantarkan Risa ke tempat mobil idamannya. Risa pun mengekori Wanto dari belakang.


***


Setelah menyusuri sela-sela mobil bekas, akhirnya sampailah Risa ke sebuah mobil yang menarik perhatiannya. Meskipun tidak begitu mirip dengan mobil yang ada di foto, setidaknya mobil tersebut sangat cocok dengan kriteria mobil idaman Risa saat ini.


"Kak, ini bagus banget!" raut wajah Risa tampak kagum ketika melihat mobil idamannya.


"Kamu ya Ris emang cewek yang unik! orang-orang pengen mobil mewah, tapi kau malah pengen mobil truck kecil begini," ujar Wanto sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ini aku banget pokoknya Kak! berapa harganya?" ucap Risa santai.


"Uang yang kau bawa emangnya berapa?" Wanto berbalik bertanya.


Risa pun mengatakan berapa uang yang saat ini ada di tangannya. Tanpa pikir panjang Wanto langsung menjual mobil truck kecil itu pada Risa dengan diskon lima puluh persen. Tetapi dengan satu syarat, Risa harus menerima Wanto menjadi temannya, dan juga pergi ke acara prom bersamanya.


Risa menyeringai, sempat terlintas dalam pikirannya tentang betapa cerdiknya Wanto. "Oke! itu bukan syarat yang sulit!" kata Risa sembari masuk ke dalam truck kecil idamannya.


"Oh iya Wan! kamu sekarang masih sibuk? kalau enggak, aku bisa temenan sama kamu sekarang!" Risa membuka kaca jendela truck kecilnya.


"Kurang ajar kamu Ris! sebelum beli mobil tadi aja kau panggil aku 'Kakak' lah sekarang?" keluh Wanto dengan cengar-cengirnya.


"Ya sudah! nggak jadi!" pancing Risa. Yang membuat Wanto seketika masuk ke dalam truck kecilnya.


***


Tring. . . tring. . . tring🎶


Juni memainkan gitar sembari menatap cermin yang ada di depannya. Sudah puluhan kali dirinya menghela nafas panjang, hanya karena merasa begitu pesimis dengan apa yang dimilikinya. Baik dari segi penampilan maupun bakatnya.


Bulir-bulir tetesan air hujan di jendela menetes pelan. Menemani kesendirian Juni di dalam kamar. Puluhan panggilan dan pesan dari teman-temannya di abaikan begitu saja. Keputusan Juni sebenarnya sangat yakin, bahwa dia tidak akan tampil di panggung acara prom tersebut.


Ceklek!


Tiba-tiba dari balik pintu muncul seorang lelaki paruh baya yang memiliki perawakan mirip dengan Juni. Dialah Fadli, seorang ayah yang selalu memeriksa keadaan anaknya ketika pulang dari kantor.


"Lah Jun, kenapa wajahmu sendu begitu? lagi mikiran apaan?" tanya Fadli yang perlahan masuk ke dalam kamar.


"A-a-ayah! nggak ada kok!" Juni tampak gelagapan ketika sang ayah memergokinya yang tengah melamun. Dia langsung meletakkan gitarnya ke kasur.


"Nah kok berhenti main gitarnya! lelaki kok pemalu! jangan kalah sama Risa dong!" kritik Fadli, yang membuat raut wajah Juni semakin merengut.


"Risa lagi, Risa lagi! Ayah harus tahu semua anak di dunia ini nggak ada yang suka di banding-bandingin!" Juni menggertakkan giginya. Fadli langsung menepuk pundak putra sulungnya itu sembari mengernyitkan dahi. Dia tampak kecewa mendengar perkataan sang anak.


"Ayah nggak bandingin! Ayah cuma pengen kamu lebih berani aja Jun! emang kamu tahu alasan Ayah beliin gitar ini buat kamu?" tanya Fadli yang sekarang duduk di samping Juni, lalu mengambil gitar yang sudah ditaruh putranya.


"Apa?..." ujar Juni masih dengan wajah merengut.


Juni yang mendengarnya hanya terdiam, menatap raut wajah sang ayah yang sedang bersenandung. Juni pun mengukir senyuman tipis di wajahnya. Perlahan hatinya luluh melihat kelembutan hati ayahnya.


Meskipun aroma keringat lelahnya begitu menyengat, tapi Juni sangat suka aroma itu. Bukan aroma yang busuk atau menyebalkan, tetapi aroma kasih sayang seorang ayah untuk keluarganya.


Tak gendong kemana-mana


Tak gendong kemana-mana


Enak toh


Wuenak toh 🎶


"Ayah! udah ah!" Juni mencoba merebut gitar dari tangan Fadli dengan tawa gelinya.


"Lah, Ayah lagi nyanyi kok..." Fadli menampakkan raut wajah gusar.


"Suara Ayah jelek!" sahut Juni yang sontak membuatnya kena jeweran sang ayah di telinga. Juni hanya bisa memekik keras karena berusaha menahan sakit. Setelah puas menjewer kuping putranya, Fadli pun segera beranjak pergi.


Juni bernafas lega, sambil menatap punggung sang ayah yang semakin menjauh dari pandangan. Ucapan ayahnya pun langsung menimbulkan keyakinan dalam hatinya. Sekarang dia siap memberikan keputusan kepada teman-temannya. Juni pun langsung mengambil ponsel dan segera menulis pesan yang berisi,


Hei guys! gue mau kasih tahu kalau gue akan tampil di acara prom!


Pesan itu sekarang terkirim ke grup chat yang ada di salah satu aplikasi ponselnya.


***


Risa dan Wanto mulai sedikit akrab, meskipun baru saling berbicara dalam beberapa menit. Mereka banyak membicarakan tentang sekolah dan juga mobil.


Matahari tampak sudah tenggelam di ufuk barat. Lampu-lampu sudah mulai menyala di berbagai sudut kota. Mengubah suasana interaksi Risa dan Wanto menjadi lebih hening.


Drrrt. . . drrrt


Tiba-tiba ponsel Risa bergetar. Karena melihat nama Juni di ponselnya, gadis itu pun segera membuka pesan itu tanpa pikir panjang. Saat melihat pesan tersebut, Risa menginjak rem dengat tiba-tiba. Mengagetkan Wanto yang kala itu tengah menikmati perjalanan.


SYUUTT!


Wanto tampak memegangi dadanya, sambil menatap tajam ke arah gadis yang sedang menyetir di sampingnya.


"Kamu kenapa Ris!" pekik Wanto.


"Kau turun di sini ya Wan!" ujar Risa santai.


"Hah? gila! bukannya kamu ngajak aku jalan sekarang?"


"Ada urusan mendadak Wan! sumpah ini penting banget! maafin aku ya..." sahut Risa dengan memasang ekspresi memelasnya.


"Ya udah aku akan bantuin kamu buat ngurusin masalahmu itu sekarang!" balas Wanto yakin.


"Ini masalah pribadi Kak Wanto, kumohon!" Risa memohon dengan lembut sembari memegang lengan baju Wanto.


"Ba-ba-baiklah..." ucap Wanto lirih.


"Tapi kasih aku nomor handphone kau dulu, baru aku keluar dari mobil!" ancam Wanto tak mau kalah. Tanpa pikir panjang Risa pun langsung memberikan nomor handphonenya pada Wanto, dan langsung mendorong pelan tubuh lelaki itu agar segera bisa cepat keluar dari mobil.


"Maaf ya Kak Wanto!" ujar Risa sembari menjalankan mobilnya menjauh dari Wanto.


"Dasar! kalau ada maunya baru panggil Kakak!" gumam Wanto dengan sedikit terkekeh. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukannya benci, dia malah semakin menyukai sifat Risa yang tidak biasa dari gadis yang pernah di temuinya.