
Penerbangan menuju London memakan waktu sangat panjang dan melelahkan. Risa hanya membisu, dan tidak seperti dirinya yang biasanya. Dia memang sangat membenci Juni, tetapi Risa lebih membenci rasa sedih yang sedang dirasakannya.
'Jujur saja, aku paling kecewa dengan diriku sendiri, yang selalu percaya dengan lelaki pecundang seperti Juni,' batin Risa. Dia tengah duduk di kursi tunggu.
"Ris, nih Ayah bawakan makanan!" Bayu tiba-tiba datang, dan memberikan burger beserta minuman untuk Risa.
"Terima kasih," Risa menyambut makanan yang diberikan Bayu.
"Kamu kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, coba ceritakan sama Ayah." Bayu memposisikan dirinya duduk di sebelah putrinya. Namun Risa hanya terdiam dan menundukkan kepala. Dia terpaku pada makanan yang sama sekali tidak menarik nafsunya. Entah kenapa matanya tidak mampu menampung cairan bening yang ingin berjatuhan. Pada akhirnya gadis tersebut terisak lagi.
Bayu perlahan membawa Risa masuk ke dalam pelukannya. Membiarkan sang anak meluapkan semua kesedihan meski tanpa penjelasan sedikit pun. Tangisan Risa sudah cukup untuk mengetahui keadaannya sekarang.
Setibanya di London, Risa segera mempersiapkan rencananya. Dia berusaha membuang jauh sakit hatinya. Gadis itu berniat ingin bekerja saja, dibanding harus melanjutkan kuliahnya. Itu dikarenakan ia menyadari adanya potensi dari bakat yang dimilikinya.
Di sebuah hari yang cerah Risa tampak mengenakan baju hitam dan celana jeansnya.
"Kau beneran tidak mau melanjutkan kuliahmu?" tanya Bayu sembari mengaduk kopi panasnya.
"Tidak dulu Yah, aku ingin mencari uang sendiri agar tidak merepotkanmu!" tutur Risa, tersenyum tipis.
"Kamu membuat Ayah terharu tahu nggak?!" ungkap Bayu, yang sontak membuat Risa tertawa kecil.
"Jangan lebay deh Yah!" balas Risa, dia tersenyum sejenak namun langsung memudar, karena pikirannya terlintas kenangannya bersama Juni. Dia sering mendapat ejekan kata lebay dari lelaki tersebut.
Risa menepis pikirannya jauh-jauh. Dia tidak ingin terpaku terlalu lama dengan kenangannya.
"Ayo sarapan, kok bengong aja!" tegur Bayu. Dia berhasil menghentikan Risa dari lamunannya.
Ceklek!
Suara pintu depan mendadak terbuka, terdengar bunyi langkah kaki semakin mendekat.
"Risaaaa!" Jay datang dengan senyuman girang. Dia segera membawa Risa masuk ke dekapannya. Saking senangnya dia mengangkat dan memutar tubuh Risa dengan mudahnya.
"Jay!" Risa tidak mampu berkutik terhadap kedua tangan Jay yang melingkar di pinggangnya.
Bayu yang menyaksikan adegan itu lantas cemberut dan langsung menegur. "Aku ada di sini juga!" ujarnya.
Jay sontak melepaskan pelukannya, dan mengalihkan perhatiannya kepada Bayu. "Hello, Mr. Pratama! i miss you too!" ucapnya seraya melakukan tosnya dengan Bayu.
"Jay, bukankah kita baru bertemu sekitar dua minggu yang lalu? kau tidak perlu sampai berlebihan begitu lah!" protes Risa sambil memperbaiki rambutnya yang sedikit rusak akibat ulah Jay.
"Baru? itu sangat lama bagiku Ris!" sahut Jay.
"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang!" Risa mengambil tasnya yang tergeletak di atas kursi.
"Kamu belum sarapan loh!" Bayu mengingatkan putrinya. "Jay, ayo sarapan dulu bareng kita!" tambahnya yang sekarang berbicara kepada Jay.
"Tidak usah Yah, aku akan makan di cafe Jay saja!" balas Risa, yang kemudian berlalu pergi.
"Lain kali aku akan sarapan bersamamu Tuan Pratama, tepatnya setelah aku menikahi putrimu!" tukas Jay, yang tentu membuat Bayu melebarkan matanya.
***
Jay dan Risa sudah berada di cafe. Jay yang masih tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya masih tampak bersemangat. Dia membawakan Risa secangkir cokelat panas dan kue macaroon rasa vanilla.
"Aah! enaknya." Risa menghirup cokelat panasnya. Rasa hangat yang menjalar sampai ke otaknya serasa telah memberikan ketenangan.
"Iya. beneran tidak apa-apa kan aku melakukannya di cafe milikmu?" tanya Risa enggan.
"Ya ampun, aku malah senang bisa melihatmu setiap hari. Kau dapat menunjukkan hasil karyamu sesuka hati di sini. Selain pengagum orangnya, aku kan juga penggemar karyamu!" ujar Jay, yang sontak membuat Risa terkekeh.
"Bolehkah aku bertanya mengenai hubunganmu dan Juni?" Jay merubah raut wajahnya menjadi serius.
Risa menghela nafasnya. "Kami sudah putus Jay, dan setelah ini jangan menyebut namanya lagi di hadapanku. Aku sekarang benar-benar ingin melupakannya!" ungkapnya seraya menundukkan kepala, dan memfokuskan diri pada kue macaroon-nya.
Jay merasa sedih, karena melihat ekspresi Risa yang sendu. Dia merasakan semangat gadis itu semakin berkurang, dan sangat berbeda dari biasanya.
"Kau ingin jalan-jalan sebentar? mungkin bisa menyegarkan kepalamu," tawar Jay.
"Ish! bukankah kamu harus menjaga cafe-mu. Jangan mengada-ngada!" tukas Risa, menolak ajakan Jay secara halus.
"Bolehkah aku memotretmu?" tanya Jay.
"Haha! kau ternyata masih menggeluti hobimu itu ya? aku kira sudah nggak lagi, soalnya saat di rumahku kau sama sekali tidak pernah memotret apapun!"
"Astaga, apa kau lupa mengenai hilangnya koperku?"
Risa menepuk jidatnya sendiri dan berkata, "Kau benar! aku lupa. Pantas saja kau tidak menggunakan kamera favoritmu itu. Apa kau sekarang membeli yang baru?"
"Iya, tunggu sebentar, aku akan mengambilnya dulu!" Jay beranjak dari tempat duduknya, lalu berlari kecil untuk mengambil kamera barunya.
Risa hanya tersenyum tipis kala menyaksikan kelakuan Jay. Dia menopang dagu dengan tangannya sendiri. Pikirannya sebenarnya masih berkecamuk. Rasa penasaran akan kabar Juni kembali muncul dalam benaknya.
Beberapa pasangan yang duduk mengelilinginya, membuat Risa semakin dihantui kenangannya. Jika mengingat mengenai perpisahannya dengan Juni, maka matanya akan otomatis berembun.
Drrti. . . Drrrt. . .
Ponsel Risa bergetar, dia menyaksikan puluhan panggilan dan pesan dari Juni. Gadis itu memang sengaja tidak menerima segala jenis kontak dari Juni. Namun, dia sebenarnya merasakan penasaran yang teramat sangat. Alhasil tangannya pun digerakkan untuk membuka puluhan pesan tersebut.
Dari banyaknya pesan itu, Juni banyak membahas mengenai hadiah yang diberikannya. Risa mendengus kesal. Akhirnya dia pun membalas untuk memberikan ketegasannya.
•Risa
[Jun! kumohon jangan menghubungiku lagi. Aku tahu kau mengharapkan hubungan LDR, tetapi aku tahu pasti satu hal, kau akan mementingkan Amel dibandingkan diriku. Saat aku dekat denganmu saja, kau lebih memilihnya. Apalagi ketika jauh?
Jadi, hubungan jarak jauh terkesan sia-sia untukku. Selamat tinggal pokoknya, setelah ini kau tidak akan bisa menghubungiku. Karena aku akan mengganti nomor dan memblokir kontakmu.]
Risa membalas pesan dengan panjang lebar. Setelahnya, dia benar-benar mengeluarkan kartu selulernya dan membuangnya ke bak sampah. Dua tetes cairan bening berhasil lolos dari kelopak matanya. Risa pun lekas-lekas mengusapnya sebelum Jay kembali menghampirinya.
Tak! Tak! Tak!
Jay berlari menghampiri Risa seolah tergesak-gesak.
"Maaf lama ya!" ujar Jay seraya melayangkan pantatnya ke kursi. "Ayo berpose-lah!" suruhnya yang sudah siap dengan kameranya. Hingga membuat Risa otomatis merapikan diri dan memasang gaya terbaiknya. Dia berpose menutupi wajahnya dengan cangkir mug cokelat panasnya.
"Risa, kenapa kau menutupi wajah cantikmu itu!" protes Jay sambil tertawa kecil.
"Yang penting tetap cantik kan?" balas Risa percaya diri. Dia tergelak berbarengan dengan Jay.
"Boleh aku upload di insta-ku kan?" tanya Jay.
"Silahkan." Risa membolehkan.