
Juni hanya bisa membulatkan mata, kala Risa mulai mendekatkan wajahnya. "Ris! kamu bisa menjauh?" tegur Juni yang mulai merasa risih dengan tatapan Risa.
"Tetapi jawab dahulu pertanyaanku tadi, Jun!" balas Risa dengan wajah merengut.
"Risa?!" suara panggilan itu berhasil mengalihkan atensi Juni dan Risa. Lantas keduanya pun segera menjaga jarak satu sama lain. Dari belakang Juni muncullah Amelia dengan senyum lebarnya, dia tampak sangat bahagia melihat Risa.
Grab!
Amelia segera memeluk Risa. "Kamu kemana saja Ris? kenapa perginya nggak bilang-bilang ke kami?" ujar Amelia.
"Nanti aku akan jelaskan semuanya, tetapi aku ingin bicara dengan Juni dulu!" sahut Risa santai sembari melepaskan pelukan Amelia.
"Ya sudah! kita bicara sambil makan siang saja ya?" ajak Amelia dengan penuh semangat.
"Ide bagus Mel! aku lumayan lapar juga nih!" Juni menyahut dengan senyum tulusnya. Risa yang melihat ekspresi tersebut seketika curiga. Apalagi saat Amelia membalas tatapan Juni dengan binar matanya.
***
"Biar aku yang pesankan, kalian berdua duluan saja ya! sekalian reunian gih!" ungkap Amelia, lalu berjalan untuk memesan makanan.
"Biar aku saja Mel! apaan sih kamu," bantah Juni yang tidak ingin merepotkan sang pacar.
"Sudah pergi saja! sekali-kali aku nggak apa-apa Jun!" Amelia mendorong Juni ke arah Risa.
"Ayo!" Risa segera menarik lengan Juni, dan membawanya ke salah satu meja yang kosong. Keduanya duduk dengan saling berhadapan.
"Jun, kau masih marah padaku?" tanya Risa, serius.
"Hah? enggak kok! lagian aku juga salah kok! seharusnya saat itu aku tidak mengabaikanmu." Juni menundukkan kepala.
"Iya sih! tapi aku paham kok, makanya aku memilih pergi dan membiarkanmu sendiri," ucap Risa pelan.
"Kenapa kau nggak pernah bilang masalah keluargamu ke aku Ris?" Juni menggelengkan kepala jengah.
"Karena saat bersamamu aku selalu bahagia. Jadi, aku tidak ingin menghancurkannya dengan masalahku!"
Juni meringiskan wajah dan berkata, "Terserah apa alasanmu, yang jelas semuanya sudah berlalu. Jadi biarlah!"
"Benar! yang penting aku kembali lagi kan sekarang." Risa menopang dagunya dengan tangan, dia memandangi Juni dengan penuh rasa kerinduan. Namun raut wajahnya seketika berubah tatkala melihat gelagat Juni yang tak acuh. "Kenapa kamu cuek gitu? nggak kangen sama aku? aku kangen banget loh sama kamu Jun!" sambungnya lagi.
"Aku dan Amelia pacaran!" celetuk Juni, tetapi Risa terlihat tidak terkejut sama sekali.
"Sudah tahu kok! dari tingkah kalian berdua tadi. Ketahuan banget lagi kasmaran," Risa menjeda sejenak untuk menyenderkan badannya ke kursi lalu kembali berucap, "Tapi nggak akan merubah rasa cintaku padamu!"
Mata Juni membulat sempurna, dia sangat dibuat kaget dengan pernyataan Risa barusan. "Apa-apaan sih Ris! baru ketemu masih aja jahilin aku!" Juni mengernyitkan dahi.
"Lah! siapa yang jahilin, bukankah puisiku itu bisa menjadi salah satu buktinya?" balas Risa santai.
"Makanan datang. . ." Amelia datang sambil membawa nampan berisi makanan.
"Wah seharusnya kamu panggil aku tadi Mel, biar aku bawakan nampannya!" Juni membantu Amelia membagikan makanan.
"Amelia kuat kok Jun! dia kan jagoan lomba voli waktu SMA!" imbuh Risa dengan mengukir senyuman untuk Amelia.
"Nah! Risa aja tahu Jun!" Amelia menyetujui pendapat Risa. Ketiganya pun menikmati kebersamaannya kala itu. Mereka banyak membicarakan masa-masa sekolah dahulu.
"Jadi sekarang kamu kuliah di sini Ris?" tanya Juni.
"Hooh! jurusan seni rupa! kelasnya ada di sebelahmu loh Jun, kalau kamu Mel?" Risa beralih menatap Amelia.
"Oh, nggak apa-apa! nanti aku yang jagain Juni!" sahut Risa dengan senyum smirk-nya.
"Hah? ngapain Juni dijagain, udah segede biawak gini badannya!" balas Amelia sembari terkekeh memandang Juni.
"Orang ganteng-ganteng gini kok dipanggil biawak, awas kamu ya! nggak aku anterin pulang!" celoteh Juni yang tak terima dengan ejekan sang pacar.
"Biarin! bwuek!" Amelia menjulurkan lidah untuk membuat Juni lebih jengkel.
'Menjengkelkan sekali! aku merasa seperti nyamuk!' keluh Risa dalam hati seraya menatap dua sejoli yang tengah bercanda di hadapannya.
"Mel! Jun! ada yang ingin aku bicarakan!" ungkap Risa dengan nada tinggi. Lantas Juni dan Amelia pun segera memusatkan perhatian mereka kepada Risa.
"Apa?" tanya Juni singkat.
"Aku menyukai Juni, bahkan sebelum dirimu Mel!" kali ini Risa memancarkan ekspresi serius. Amelia yang mendengarnya seketika merasa ciut dan terdiam seribu bahasa.
"Ris! apaan sih kamu!" Juni mencoba menegur Risa dengan dahi yang berkerut.
"Jadi! aku tidak peduli dengan hubunganmu dan Juni!" ujar Risa yang menekankan kalimatnya dengan sengaja. Alhasil dia segera mendapatkan pelototan dari Juni.
"Cukup Ris! ayo Mel, aku anterin kamu ke Fakultas." Juni mencoba membawa Amelia ikut bersamanya. Gadis tersebut masih tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, dia merasa sangat terkejut dengan perkataan Risa.
Selanjutnya, Juni dan Amelia meninggalkan Risa sendirian. Mereka berdua sedang berjalan berdampingan. Juni berusaha sebisa mungkin menenangkan hati sang pacar.
"Sudahlah Mel, jangan terlalu dipikirkan!" ucap Juni sambil mengelus jari-jemari Amelia.
"Bagaimana aku tidak memikirkannya Jun! aku. . ."
Cup!
Ciuman Juni ke pipi sontak membuat Amelia langsung terdiam. Setelahnya Juni berkata, "Kamu cinta pertamaku Mel, dan akan menjadi yang terakhir!"
Amelia yang mendengar segera mengukir senyuman di wajah, pipinya terlihat merah merona. "Aku harap begitu. . . aku akan mempercayaimu!" kata Amelia.
***
Juni kembali lagi ke fakultasnya sendiri, kepalanya celingak-celingukan untuk menemukan keberadaan Risa. Hingga akhirnya dia terhenti kepada seorang gadis berambut merah muda yang tengah membaca buku.
"Ris! ikut aku!" tanpa pikir panjang, Juni segera menyeret Risa ke tempat yang jauh dari keramaian.
"Apaan sih Jun! kalau kangen berat bilang aja lah!" timpal Risa dengan santainya. Juni yang mendengar sontak menghela nafas panjang.
"Ris! apa-apaan sih tadi, kenapa kamu jadi begini sih! apa ada sesuatu hal buruk yang terjadi?" tukas Juni, yang sekarang menatap Risa dengan dahi yang mengernyit.
"Sudah kubilang, ini karena aku mencintaimu Jun! Men-cin-ta-i-mu!" Risa sengaja mengeja kata terpentingnya.
"Oke! oke! tapi apa perlu kamu membicarakannya di depan Amel? hah? dia sudah punya beban hidup yang berat, kenapa kamu tambah!" geram Juni yang begitu frustasi.
Risa memutar bola mata jengah dan berucap, "Pentinglah! biar kalian tidak bermesraan di hadapanku! jijik aku lihatnya!"
"Bermesraan? kapan? kami tadi cuman bercanda kok!" tepis Juni.
"Menurutmu, tapi kalau di mataku itu namanya bermesraan!" Risa sejenak menjeda ucapannya lalu melanjutkan lagi, "sudahlah Jun, kamu akan memberiku kesempatan kan?" Risa menatap Juni penuh harap.
"Terserah! yang jelas aku masih mencintai Amelia sekarang!" tegas Juni seraya melingus pergi melewati Risa.
"Sekarang. . . tetapi lihat saja nanti!" gumam Risa sambil menatap punggung Juni yang semakin menjauh.