The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 25 - Pacar Pertama



Juni, Agus dan Irfan tengah berjalan bersama di sebuah mall ternama. Ketiganya hanya berniat untuk bersenang-senang, bahkan mereka sama sekali tidak tertarik membeli barang apapun di sana.


"Lumayan juga cuci mata, tuh lihat ada cewek cantik!" Irfan melayangkan pantatnya ke sebuah kursi panjang, lalu menunjuk ke arah seorang wanita yang berpakaian minim.


"Lumayan juga itu, menurutmu Jun?" Agus menyenggol Juni dengan sikunya. Keduanya juga telah duduk di kursi panjang bersama Irfan.


"Biasa saja. . ." sahut Juni datar.


"Idih! sok-sokan nggak tertarik! kalau lihat cewek telanjang pasti doyan, ngaku aja Jun!" timpal Agus yang tidak menyerah untuk menggoda Juni.


"Ih apaan sih!" tepis Juni dengan kernyitan di dahi. "Kalian jangan bicara yang tidak-tidak, itu bisa jadi pelecehan loh!" sambungnya lagi.


Irfan mendengus kasar. "Jun, serius banget sih nanggepinnya. Kita cuman bercanda tahu!"


"Tahu kamu Jun! jadi nggak seru nih perayaan kita!" ungkap Agus.


"Lah, emang benar kok!. . . tapi kalau kalian emang anggapnya bercanda, terserah deh!" Juni mengangguk-anggukkan kepala.


"Tapi jujur deh sama kita, kamu pernah nonton bokep kan?" Agus berbisik ke telinga Juni.


"Apaan sih! ya pasti pernah lah kampret!" geram Juni yang pada akhirnya mengaku. Irfan dan Agus pun sontak tertawa geli.


"Jun, kamu sudah dekat kan sama Amel, mending tembak aja langsung. Kayaknya dia mulai menampakkan lampu hijau tuh!" ungkap Agus tiba-tiba.


"Aku sedang memikirkannya," balas Juni santai.


"Waah! bikin iri saja!" Agus tersenyum smirk seraya menatap Juni dengan sudut matanya.


"Oh iya, aku kira kamu sukanya sama Risa Jun! soalnya terakhir kali kami liat kalian anu. . ." Irfan mencoba mengingat kembali kejadian setahun yang lalu, ketika dirinya dan Agus melihat Risa mencium pipi Juni.


"Hah?. . . itu nggak perlu dianggap serius, kalian tahukan bagaimana jahilnya Risa!" tepis Juni sembari menyentuh salah satu pipinya.


"Kalau nggak dianggap serius kenapa pipimu merah begitu Jun?" Agus mengamati raut wajah Juni.


"Kalian pernah nggak di cium cewek, hah?" Juni menatap tajam Agus dan Irfan secara bergantian.


"Ya elah! sombong amat!" sahut Irfan dengan nada tinggi. Lantas mereka pun kembali melanjutkan dengan gelak tawa.


***


"Pulang malu tak pulang rindu, karena nasib belum menentu. Pada siapa aku mengadu? pulang malu tak pulang rindu. . .🎶" Agus menyanyi dengan suara lantang, dan agak sedikit memekakkan telinga. Juni dan Irfan ikut bergoyang tidak karuan. Kala itu ketiganya tengah berada di ruangan karoke.


Perayaan kelulusan tersebut berjalan sangat menyenangkan. Hingga membuat Juni lupa waktu dan pulang larut malam. Dia melangkah pelan memasuki rumahnya.


Ceklek!


Juni membuka pintu, dan dia langsung disambut dengan pelototan Rahma sang ibu. Sepertinya wanita paruh baya tersebut tengah menunggu kedatangan anaknya sedari tadi.


"Kemana saja kamu Jun? jam segini baru pulang!" omel Rahma dengan kernyitan di dahi.


Juni menghela nafas panjang. Sebab ibunya menjadi lebih over protektif semenjak kematian Fadli.


"Aku tadi jalan bareng sama teman Bu," balas Juni dengan nada malas. Dia hendak melangkah memasuki kamarnya.


"Juni! sini kamu!" titah Rahma, yang sekarang berdiri dari tempat duduknya.


"Apa. . . sih!" Juni menggertakkan giginya.


"Begitu kamu ya sama orang tua!!!" geram Rahma. Alhasil Juni pun terpaksa menghampiri sang ibu. Kala itu dia harus bisa bersabar dengan omelan-omelan Rahma yang sangat menohok.


"Hah? mau ngapain dia?" Juni berbalik tanya.


Sofi memutar bola mata malas, lalu mendengus kasar. "Apa lagi! ya dia suka sama Kakak! Saat belajar kelompok kemarin itu loh. Pas Kakak baru pulang dari cafe. . . kata mereka Kak Juni ganteng banget! huweeek!" ujar Sofi, yang berakhir dengan mual yang ia buat-buat.


"Oh. . . bilang saja aku sudah punya pacar!" ucap Juni datar. Mendengarnya, Sofi pun berbalik dan mencoba beranjak pergi.


"Sof! kamu harus terima kenyataan ya, kalau kakakmu ini sudah jadi ganteng! ckckck!" goda Juni yang sepertinya sedang memiliki suasana hati baik.


"Idih! kepedean banget! bwekk!" Sofi menyahut dengan menjulurkan lidahnya. Namun sesungguhnya, dia merasa bahagia melihat sang kakak bisa tertawa lagi. Sebab sudah lama dirinya dan Juni tidak saling bercanda satu sama lain.


***


"Rajin sekali kamu Jun! sekalian deh kamu cuci piring di dapur!" tegur Amelia, ketika melihat Juni tengah membersihkan meja kasir.


"Oh iyakah? ya sudah!" jawab Juni polos.


"Hahaha! ih kamu serius banget Jun, aku cuman bercanda!" Amelia tertawa geli.


"Kirain beneran, jangan kerjain pemula kayak aku dong!" Juni sedikit terkekeh. Kala itu cafe sudah mulai sepi, Juni dan Amelia sedang bersih-bersih. Namun Amelia yang lebih berpengalaman terlihat selesai lebih dahulu.


"Mel!" panggil Juni, yang sontak membuat Amelia kembali menatapnya.


"Kenapa Jun?"


"Ada yang ingin aku bicarakan. . ." Juni memasukkan sebelah tangannya ke saku celana jeansnya, akibat perasaan gugup yang menyelimuti. Amelia pun memandang Juni dengan binar matanya.


"Bicaralah Jun!" desaknya, sepertinya dia bisa menerka apa yang ingin dikatakan Juni.


"Aku. . . a-a-aku. . . aku menyukaimu. . ." ucap Juni seraya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Kemudian menundukkan kepala.


"Terus?" goda Amelia, yang perlahan melangkah mendekati Juni.


"Kamu mau nggak jadi pacarku?" Juni memberanikan diri menatap gadis di depannya. Tatapannya langsung disambut hangat dengan sorot mata Amelia.


"Kamu tahu, aku sudah lama menunggumu mengatakannya, bahkan sejak kamu sering menontoniku dari jauh." imbuh Amelia, yang membuat Juni segera membulatkan mata.


"Jadi, kamu tahu?" tanya Juni, mencoba memastikan.


"Jun, setiap wanita itu punya firasat dan sangat perasa. Mereka tahu cowok mana yang menyukainya, apalagi dengan tatapan, itu ketahuan banget! karena mata tidak pernah bisa berbohong!" terang Amelia lembut.


"Benarkah?. . . memalukan sekali!" ujar Juni dengan tersipu malu.


"Pfffft. . . nggak usah malu, kan aku juga menyukaimu. . ." Amelia tersenyum simpul, sekali-kali dia mengaitkan rambutnya ke daun telinga. Hening menyelimuti keduanya dalam hitungan detik. Mereka masih berusaha menyesuaikan diri dengan sebuah hubungan baru.


"Sudah selesai beres-beresnya?" tanya Juni sambil melepaskan celemeknya.


"Sudah! kamu?"


"Sama! kita pulang bareng kalau gitu!" ajak Juni sambil mengambil tasnya.


Juni dan Amelia pun pulang bersama, meskipun harus menggunakan bus umum. Keduanya duduk bersebelahan, sesekali salah satu di antara mereka mencoba mencuri pandang. Jantung Juni berdebar tidak karuan, dia merasa sangat bahagia hari itu.


Syut!


Supir bus merem dengan tiba-tiba, lantas Juni dan Amelia langsung tersentak kaget. Mereka tidak sengaja saling berpegangan tangan.


"Maaf!" ucap Juni dengan gelagat salah tingkahnya. Dia berusaha melepaskan tangannya dari Amelia. Namun gadis tersebut malah tersenyum dan semakin menggenggam erat jari-jemari Juni.