
Risa berlari secepat yang dia bisa untuk mengejar Dina. Membuat Juni kewalahan untuk mengikutinya dari belakang. Lelaki itu berhenti berlari dan memegangi kedua lututnya dengan nafas yang tersengal-sengal. Padahal belum satu menit dia berlari.
Risa yang masih berlari tidak mempedulikan lagi sahabatnya. Tekadnya untuk mencari tahu alasan Dina menghilang sangat menggebu-gebu. Tiba-tiba gadis itu mengukir seringai diwajahnya, karena melihat lari Dina yang mulai melambat.
Perlahan akhirnya Dina menyerah, dia langsung memalingkan wajah untuk berhadapan dengan Risa. Dengan ekspresi yang tampak kesal, gadis itu masih berusaha mengatur deru nafasnya.
“Dina apa kamu tahu? kau itu mengkhawatirkan semua orang!” tukas Risa, dia sama sekali tidak kelelahan.
“Aku tahu! terus, apa pedulimu?” balas Dina dengan wajah masamnya.
“Ya aku peduli lah, kehidupanku jadi terusik karena perkelahian kita kemaren!” Risa menyilangkan kedua tangan di dada.
“Terusik?” Dina berjalan mendekati Risa dengan tatapan tajamnya.
“Bukan begitu maksudnya Din..." Risa mencoba mengalah. Sebab dia tidak ingin kecipratan masalah perkelahian lagi dengan Dina.
“Terus?” Dina mengangkat dagunya.
"Kamu tenang dulu pokoknya, kita bicarakan baik-baik!... aku nggak mau berkelahi lagi untuk yang kedua kalinya!” Risa mencoba menyentuh bahu Dina. Dia berusaha memahami Dina kala itu, karena dari penampilannya saja Risa yakin gadis itu sedang mengalami masalah yang sulit.
Bhueek!
Tiba-tiba Dina memuntahkan cairan dari mulutnya. Sontak membuat Risa kebingunan dan segera membantunya duduk. Setelah beberapa saat Juni pun datang dengan nafas yang ngos-ngosan.
“Din, kenapa kau lari?” timpal Juni yang tiba-tiba datang.
“Oh iya, aku lupa tanya, kenapa?" Risa ikut bertanya pada Dina.
Tanpa diduga Dina merengek, dan perlahan air matanya mulai berlinang di pipi. Dia kelihatan tidak mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi padanya. Juni dan Risa yang menyaksikan hal itu, memilih untuk diam. Mereka membiarkan Dina bernafas sejenak sebelum menceritakan alasan dia melarikan diri.
“Aku akan cerita, tapi nggak di sini...“ ujar Dina dengan suaranya yang mulai parau.
“Bagaimana kalau di warung Pak Ali!” Juni mengusulkan. Dia tidak berniat bercanda, lelaki itu hanya menuruti nafsu makannya yang tinggi.
“Ya sudah! aku pergi saja!” Dina mencoba beranjak pergi, karena tidak setuju dengan usulan Juni.
“Oke, oke Din! kamu aja yang pilih tempatnya!” Risa mencegah Dina yang berusaha kembali kabur. Gadis itu pun menganggukkan kepala pelan.
***
“Ini tempat tinggalku sekarang!” Dina menunjuk bangunan kost-kostan yang baru dia tinggali beberapa hari.
“Kamu lebih pilih tinggal di sini dari pada rumahmu itu, aneh sekali!” celetuk Juni dengan kekehnya. Dia membayangkan rumah Dina yang lumayan besar.
Dina dan Risa sontak menatap Juni, membuat lelaki tersebut seketika langsung terdiam. Setelah itu ketiganya pun masuk ke kost-kostan Dina.
Dina tiba-tiba saja menghentikan Juni yang ingin ikut masuk ke kost-kostannya. Gadis itu menunjuk ke kertas yang tertempel di dinding bertuliskan 'Dilarang keras membawa laki-laki ke sini'.
Juni berdecak kesal, dia terpaksa kembali melangkahkan kaki keluar. Risa melambaikan tangannya pada Juni untuk sekedar menggodanya. Membuat Dina yang kala itu melihat sedikit terkekeh.
Dina mengajak Risa masuk ke kamarnya. Saat berada di dalam, Dina tampak gelagapan. Dia berusaha mencari sesuatu di laci meja riasnya.
“Cari apa Din?” tanya Risa penasaran.
“Cari penjelasan, biar aku tidak perlu memberikan penjelasan yang panjang lebar padamu!” jawab Dina dengan gelagat tengah mencari-cari sesuatu.
Tidak beberapa lama kemudian, Risa melihat Dina memegang sesuatu seperti pulpen ditangannya. Gadis berambut panjang itu terdiam dan tampak ragu untuk memperlihatkan benda yang ada di tangannya kepada Risa.
Dina berpikir sejenak sambil menatap ke arah Risa. Dia merasa bisa mempercayai Risa untuk menyimpan masalah yang sedang di alaminya. Toh lagi pula dia adalah anak baru di sekolah, dan pastinya tidak akan semudah itu menyebarkan berita. Dina juga sedang membutuhkan teman bicara. Apalagi sekarang dirinya sedang tidak bisa membicarakan masalahnya pada sahabat dekatnya Amelia. Dikarenakan sahabatnya itu juga sedang menghadapi masalah keuangan yang sulit.
“Nih!” Dina menyerahkan benda yang sedari tadi dia cari. Risa membulatkan mata tatkala melihat benda tersebut. Ternyata itu tospek dengan tanda positif, yang berarti memberitahukan bahwa Dina tengah hamil.
Risa menatap Dina dengan nanar, dia tidak tahu harus berkata apa. Karena dirinya belum pernah memiliki pengalaman yang serupa.
Dina kembali menangis, Risa mencoba menenangkannya dengan pelukan yang lembut. Dina juga menceritakan lelaki yang menghamilinya bertingkah tidak peduli terhadap keadaannya. Dengan isakan tangisnya, gadis itu mengatakan bahwa keluarganya tidak tahu sama sekali tentang masalah yang menimpanya. Sebab Dina tidak ingin mengecewakan keluarganya.
“Tapi kau-malah membuat mereka khawatir Din!” imbuh Risa pelan.
“Aku tahu, tapi kan aku butuh waktu untuk mengatakan yang sebenarnya, selain itu aku juga masih ingin terus sekolah...“ ucap Dina, masih dengan isakan tangisnya.
“Benarkah?” Dina mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk.
“Itu karena kau punya keluarga yang sangat menyayangimu," sahut Risa sembari menundukkan kepala, karena dalam pikirannya terlintas tentang keadaan keluarganya yang tidak pernah peduli. Dina terdiam dan terlihat memegangi bagian perutnya.
“Jadi hari kamis itu kita berkelahi gara-gara ini ya!” kata Risa dengan kekehnya.
“Hari itu mood-ku benar-benar buruk! dan semakin memburuk waktu kau merebut minumanku di kantin! paham?!” Dina mengarahkan tinjunya ke arah Risa.
"Maaf Din, saat itu aku benar-benar kehausan! sumpah deh! maaf ya sekali lagi..." Risa menampakkan raut wajah memelas, agar Dina tidak marah lagi padanya. Alhasil usahanya berhasil membuat Dina sedikit tertawa kecil.
“Terserah lah Ris, tapi aku juga salah kok, jadi... maaf ya!” Dina memalingkan wajahnya dari Risa.
“Jadi sekarang kita impas ya!” Risa melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Dina pun akhirnya ikut mengukir senyuman diwajahnya untuk Risa.
Setelah mendengarkan keluh kesah Dina, Risa pun segera berpamitan untuk pulang. Sekarang keduanya berjalan menyusuri lorong kecil bangunan kost-kostan tersebut.
"Oh iya, ada yang ingin aku tanyakan, kamu sama Juni pacaran ya?" tanya Dina penasaran.
"Ah nggak Din! kami sudah berteman dari kecil," jawab Risa singkat.
"Ooh... soalnya kalian berduaan terus sih, siapa yang nggak curiga," ujar Dina tersenyum tipis.
***
Risa keluar dari kost-kostan Dina, dia menilik sekeliling tempat itu untuk mencari Juni. Dia sempat berpikir sang sahabat sudah pulang lebih dulu karena terlalu lama menunggu. Namun ketika dirinya menengok ke samping bangunan, ternyata Juni masih setia menunggunya. Lelaki tersebut tampak memakai headset di kedua telinganya, seraya bersenandung dengan suara yang pelan.
Risa mendekati Juni perlahan dan menepuk pundaknya. lelaki itu pun langsung menatap Risa sambil melepaskan headset yang menempel di telinganya.
“Konser sama mba kunti?” tegur Risa sembari menunjuk ke pohon yang ada di depan Juni.
“Lama banget sih!” balas Juni yang mengerutkan dahinya.
“Eh jangan salahin aku, sebenarnya kalau kau mau pulang duluan nggak papa kok!” ungkap Risa santai.
“Terserah! yuk ke warung Pak Ali," Juni menuntun Risa kembali berjalan kaki.
“Nggak penasaran sama cerita Dina?” rayu Risa yang mencondongkan lehernya untuk menatap Juni.
“Aku lebih lapar dari pada penasaran!” balas Juni melangkahkan kakinya lebih cepat.
“Makan teruus!” sindir Risa dengan ukiran seringai diwajahnya.
***
“Jun, aku tahu kau sangat suka makan! tapi kamu harus perhatikan kesehatan juga demi masa depan kan!” kritik Risa saat melihat Juni yang makan sangat lahap.
“Kamu tahu kan Ris, aku sudah sering cobain buat diet tapi gagal terus, sia-sia lah pokoknya!” sahut Juni seraya mengunyah nasi goreng Pak Ali di mulutnya.
“Jun, aku akan bantu kau diet! gimana?” tukas Risa yakin. Juni menatap tajam Risa dan sedikit terkekeh. Dia kemudian menggelengkan kepala.
“Nggak bisa lah pokoknya Ris! apalagi kalau sama kamu, nggak mempan!” imbuh Juni.
“Lihat saja nanti!” ujar Risa bertekad.
“Oh iya ceritakan apa yang kau bicarakan sama Dina tadi? sampai hampir dua jam aku tunggu!” tanya Juni dengan sindirannya.
“Nggak sampai dua jam kali!” bantah Risa sembari menggertakkan giginya.
“Ya sudah ayo ceritain!” desak Juni. Risa pun menceritakan semuanya pada sahabatnya itu. Dia juga menyuruhnya untuk merahasiakan masalah yang sedang dihadapi Dina sekarang.
"Jun aku bingung kenapa Dina menceritakan semuanya padaku ya?" tanya Risa.
"Mungkin dia lagi butuh seseorang untuk di ajak bicara kali," jawab Juni singkat.
Risa menganggukkan kepala dan tersenyum. Dalam pikirannya dia sangat setuju dengan pendapat Juni. Dia juga berharap bisa menceritakan masalah keluarganya pada sahabatnya tersebut, tapi entah kenapa semuanya selalu saja tidak bisa terucap dari mulutnya.