The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 36 - Bertiga di Cafe



Juni dan Risa telah tiba di rumah. Kedatangan mereka segera disambut oleh Rahma dan Bayu. Bahkan Amelia juga terlihat ada di sana.


"Kalian kemana saja? kami sangat khawatir!" ujar Rahma dengan dahi yang berkerut.


"Cuman bermalam di penginapan kok!" balas Risa santai, yang segera mendapatkan tatapan tajam dari Juni sekaligus Amelia.


"Kami kan menunggu kabar Mamah!" Juni berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Menunggu sih menunggu, tetapi kau sama sekali tidak menjawab panggilan Mamah!" Rahma menghela nafas sejenak. "Ya sudah, ayo istirahat dahulu. Tuh Amelia sampai datang ke sini karena ikut khawatir!" sambung-nya lagi.


"Iya, mending kalian istirahat dahulu." Amelia tersenyum ramah. Hingga berhasil membuat Juni tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Risa yang melihat segera memutar bola mata jengah.


Keesokan harinya, di kala matahari tinggal sedikit lagi tergelincir ke ufuk barat. Risa berjalan memasuki rumah sahabatnya dengan kaos oblong dan celana pendek.


"Mau kemana Jun? rapi banget?" Risa masuk ke kamar Juni dengan tiba-tiba. Dan berhasil membuat sahabatnya tersentak kaget.


"Ris! aku tahu kita akrab. Tapi tetap ketuk dahulu lah sebelum masuk!" geram Juni dengan dahi yang mengernyit.


"Iya, iya! lain kali! atau mau aku ulangi?" sahut Risa santai.


"Nggak perlu!" kata Juni dengan nada penuh penekanan.


"Jadi mau kemana nih? kamu belum jawab pertanyaannya loh?" Risa penasaran.


"Mau ke cafe bareng Amel." Juni tampak sibuk merapikan rambutnya.


"Ikut dong! aku sudah lama nggak jalan-jalan ke sekitar sini!" ujar Risa dengan penuh semangat.


"Ya sudah, sana gih siap-siap!" suruh Juni.


"Benarkah? waaah. . . kamu memang sahabat sejati, sampai kencan aja bisa ngajak aku. Yes! tunggu ya, aku mau ganti baju!" ucap Risa, kemudian segera bergegas kembali ke rumahnya.


***


Juni, Risa dan Amelia sudah duduk satu meja di sebuah cafe. Suasana canggung berhasil menyelimuti ketiganya. Apalagi Risa bersikeras duduk di samping Juni, hingga membuat Amelia terpaksa mengalah.


"Kamu mau pesan apa Mel?" tanya Juni santai.


"Aku capuccino aja," sahut Amelia pelan.


"Aku nggak di tanya juga?" Risa memanyunkan mulutnya. Namun Juni sama sekali tak hirau. Entah tidak ada angin, tidak ada hujan. Risa tiba-tiba saja menempelkan bibirnya ke pipi Juni.


Deg!


Jantung Juni langsung berdegup kencang. Matanya pun sontak membola. Bagaimana tidak?


Risa melakukannya tepat di hadapan Amelia. Seketika suasana berubah menjadi hening. Risa tampak tersenyum lebar menatap Juni. Sedangkan mata Amelia tengah melotot ke arah Risa.


"Kamu gila ya Ris!!!" Juni mengernyitkan dahinya sembari berdiri dari tempat duduknya. Orang-orang yang ada di cafe, langsung mengalihkan atensi mereka kepada ketiga insan itu.


"Apanya yang gila, orang aku dahulu juga pernah lakuin itu kepadamu kok! tenang aja Mel, itu cuman kenangan masa kecil kok!" respon Risa dengan santainya. Amelia hanya bisa menghentikan pelototannya, seakan memaklumi tindakan Risa. Dia tidak bisa berkutik ketika sedang berada di hadapan kekasihnya.


Juni memutar bola mata jengah. Dirinya masih geram dengan tindakan sahabatnya tersebut. Lantas dia pun menyeret Risa ke suatu tempat, agar bisa berbicara empat mata.


"Nggak lah, kan aku nggak punya pacar!" sahut Risa dengan wajah cengengesan. Lantas hal tersebut berhasil membuat Juni semakin naik pitam.


"Mulai hari ini, aku nggak mau ajak kamu jalan bareng kami lagi!!!" tegas Juni yang langsung melingus pergi dari hadapan Risa. Namun gadis itu hanya mengukir seringai di wajahnya.


Juni terlihat menggandeng tangan Amelia erat seraya berjalan membawanya pergi meninggalkan cafe. Risa hanya bisa diam mematung, menatap kepergian Juni dan Amelia. Kali ini, lelaki tersebut terlihat tidak peduli lagi dengan sahabatnya. Padahal biasanya Juni selalu memperlakukan seorang perempuan dengan baik. Apalagi Risa, yang telah menjadi sahabatnya sejak lama. Namun hari ini sepertinya dia menganggap kelakuan sang sahabat sudah melebihi batas.


***


Juni dan Amelia masuk ke dalam mobil. Dari jauh Amelia bisa melihat Risa masih menatap kepergian mereka.


"Sudahlah Mel, jangan ladenin dia. . ." ujar Juni lembut sambil menyentuh lengan Amelia pelan.


"Iya. . ." sahut Amelia dengan senyuman tipis dan binar matanya. Juni lantas menyalakan mobil dan segera beranjak pergi.


Dalam perjalanan, hening kembali menyelimuti Juni dan Amelia. Sebenarnya dalam pikiran Juni, dirinya begitu mengkhawatirkan keadaan Risa yang di tinggalkan sendirian di cafe. Meskipun Risa agak tomboy, tetapi dia merupakan salah satu gadis rumahan akut.


"Jun!" panggilan Amelia langsung merunyamkan kekhawatiran Juni.


"Kenapa Mel" jawab Juni.


"Maaf ya, gara-gara aku hubunganmu dan Risa akhir-akhir ini jadi renggang, padahal Risa baru aja kembali," ujar Amelia seraya menatap kosong ke kaca mobil depan.


"Haha! nggak kok, hubungan kami baik-baik saja sekarang, seperti biasa lah. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku bertengkar hebat dengannya!"


"Benarkah?"


"Iya! Risa itu orangnya jahil. Jadi sering bikin keributan!" ucap Juni dengan kekehnya. Dia mengingat kejahilan-kejahilan yang pernah Risa lakukan.


"Tapi kayaknya dia beneran suka sama kamu deh. Menurutku dia menyatakan cintanya dengan serius!" tanpa rencana, kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Amelia.


"Nggak Mel! Sudah ku-bilang dia orangnya jahil. Kamu jangan ketipu sama kejahilan dia. Bahkan dia pernah berpura-pura mati untuk mengerjai ayahnya sendiri. Aku tidak ingin tertipu dengan godaannya atau apalah itu!" balas Juni yang tak percaya.


"Terserah! yang jelas kau tidak jatuh cinta padanya!" sahut Amelia dengan nada penuh penekanan.


"Enggaklah!" tepis Juni yakin.


Syut. . .


Juni menghentikan mobil dengan pelan, karena sudah tiba di depan rumah sang kekasih.


"Aku duluan ya Jun, makasih!" ujar Amelia yang masih terlihat cemberut. Tetapi segera dicegah oleh Juni dengan cara menggenggam lembut lengannya. Kemudian menempelkan bibirnya tepat ke pipi kanan Amelia.


"Idih! caramu selalu begitu untuk membuatku tersenyum," respon Amelia sambil memegangi pipinya. Dia pun bergegas keluar dari mobil, seakan sudah merasa terlalu malu melambaikan tangan atau sekedar melepaskan kepergian kekasihnya.


Selanjutnya Juni memutar mobilnya dan kembali ke cafe. Entah kenapa dirinya merasa sangat khawatir dengan Risa. Dan benar saja, sahabatnya itu masih duduk menunggu di cafe.


"Kamu belum pulang juga?" ucap Juni yang berjalan menghampiri Risa.


"Sudah kuduga kau akan kembali!" imbuh Risa seraya bangkit dari tempat duduknya.