The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 97 - The Story Of Risa (London Eye)



Seminggu telah berlalu, sekarang Risa sudah terbiasa bekerja di cafe milik Jay. Karya latte art-nya semakin bagus dan dikenal oleh para pelanggan. Bahkan Jay sudah menyebarkan beberapa karya terbaiknya di media sosial.


Ilustrasi latte art Risa baru-baru ini :



"Idemu untuk memberi warna pada busa latte memang sangat jenius Ris!" Jay memuji Risa untuk yang sekian kalinya. Jujur saja, dia hampir memberikan pujian kepada gadis pujaan hatinya tersebut setiap hari.


"Jay! kau sudah memujiku lebih dari seratus kali, bisakah kau berhenti?" Risa menatap malas sembari memanyunkan mulutnya.


"Kenapa? bukankah itu membuatmu bersemangat?"


"Kau terlalu berlebihan!" tukas Risa seraya menggeleng pelan.


"Mau bagaimana dong? aku kan benar-benar terkesan!" terang Jay singkat. Alhasil Risa pun mengukir senyuman diwajahnya. Entah kenapa dirinya reflek membawa Jay masuk ke dalam dekapannya. Sejak putus dari Juni, Risa memang lebih emosional dari biasanya.


Jay terkesiap, jantungnya bergemuruh tidak karuan. Secercah harapannya langsung membara.


"Terima kasih Jay, karena selalu berusaha menghiburku," ujar Risa, yang perlahan melepaskan pelukannya. Sekarang dia dan Jay saling bertukar pandangan.


Jantung Jay masih berdegub kencang, matanya menatap lekat gadis yang sedang berdiri di hadapannya. Dia pun perlahan mendekatkan wajahnya kepada Risa. Pupil matanya sekarang terfokus pada bibir merah muda alami milik Risa.


Plak!


Risa menepuk bibir Jay terlebih dahulu, sebelum bibir lelaki berambut perak tersebut menyentuhnya. "Jay, aku memelukmu bukan berarti aku mengijinkanmu untuk berbuat lebih!" tegasnya dengan dahi yang berkerut.


"Maaf deh kalau gitu, aku terbawa suasana!" Jay memegangi bagian bibirnya yang sakit.


"Ya sudah, hari ini aku pulang lebih awal ya. Soalnya ada yang mau di urus!" tutur Risa sembari mengusap kedua tangannya dengan tisu.


"Kemana?" Jay penasaran.


"Mau tahu aja deh kamu!" balas Risa sambil mencubit perut Jay.


"Risa! gimana orang nggak terbawa suasana coba, kalau kau terus memperlakukanku begitu!" protes Jay.


"Ya sudah, itu yang terakhir kalau gitu!" sahut Risa sambil berlalu pergi.


"Eh! bukan itu maksudku!" sesal Jay, dia hanya mendengus kasar.


Risa berniat ingin mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan dibanding menjadi pembuat latte art. Dia juga tidak mau berlama-lama merepotkan Jay. Apalagi lama-kelamaan lelaki tersebut semakin terbawa perasaan kala berdekatan dengannya.


"Jay semakin berani saja, aku tidak bisa lama-lama bekerja bersamanya!" gumam Risa sambil memoleskan liptin di bibirnya. Dia juga tidak lupa merapikan rambutnya. Setelahnya dia pun segera beranjak pergi keluar dari lingkungan cafe Jay.


Risa berjalan sendirian menyusuri jalanan trotoar. Matanya terus meliar kemana-mana, karena dia berharap dapat menemukan tempat yang menarik perhatiannya.


Risa sempat memasuki banyak toko dan perusahaan. Namun beberapa tempat itu menolaknya, dan sebagian lagi tidak cocok dengan keinginannya.


"Fiuh! ternyata sulit juga ya." Risa mengusap peluh yang sedikit membasahi jidatnya. Kala itu atensinya tiba-tiba terfokus pada sebuah kertas yang tertempel di pintu kaca toko butik. Tertulis kalimat, 'Sedang dicari designer wanita! freshgraduate/berpengalaman!'


Sesudah mengetuk pintu, Risa segera dipersilahkan masuk oleh Hans. Dia mendapati lelaki calon atasannya itu terlihat memiliki penampilan nyeleneh. Terbukti dari pakaian yang sedang dikenakannya. Hans tampak mengenakan pakaian berwarna mencolok dan gaya rambut yang dikeriting. Namun Risa tetap berpikir positif,


'Kan memang begitu ya, kalau seorang lelaki jadi designer. Pakaian mereka kebanyakan agak mencolok.' Risa berpendapat dalam hatinya.


"Silahkan duduk!" suruh Hans sambil menunjukkan mimik wajah serius. Keheningan terjadi selang beberapa saat. Risa juga berusaha menjaga sikapnya agar bisa diterima lebih mudah untuk bekerja.


Hans mulai membuka lembar demi lembar berkas yang diberikan Risa kepadanya. Di sana dia dapat melihat hasil karya seni Risa yang sengaja dibuat dalam satu buku.


"Jadi, kau mau mencalonkan diri menjadi designer di tempatku?" tanya Hans, memecah kesunyian.


"Iya!" Risa mengangguk yakin sembari memberikan senyumannya.


"Karya-karyamu memang sangat bagus. Sepertinya kau sangat berbakat dengan hal-hal yang berbau gambaran dan rancangan. Tetapi kenapa kau berhenti kuliah jurusan arsitek di Universitas ternama?" Hans melakukan tatapan menyelidik. Dan Risa sama sekali tidak menunjukkan ekspresi gugup diwajahnya.


"Saya kemarin sempat sakit, makanya tidak bisa fokus kuliah. Jadi, harus merelakannya begitu saja. Lagi pula ayahku saat itu ada urusan bisnis di Indonesia, makanya saya melanjutkan kuliah di sana untuk sementara." Risa menjelaskan panjang lebar.


"Hmm. . . tetapi sepertinya kuliahmu juga tidak selesai ya di Indonesia. Terus bagaimana nanti kalau kau bekerja? kau tidak akan meninggalkannya begitu saja kan? soalnya aku tidak mau menerima karyawan yang kerjanya cuman setengah-setengah!" Hans menuturkan seraya menopang dagunya sendiri dengan sebelah tangan.


'Ya ampun nih orang benar juga. Aku selalu meninggalkan sesuatu tanpa pertanggung jawaban. Padahal aku sama sekali tidak berniat begitu,' batin Risa yang kemudian berbicara lewat mulutnya, "kali ini saya akan bersungguh-sungguh!" dia berusaha meyakinkan Hans.


"Karena aku sangat kesulitan menemukan seorang designer di kota ini. Maka aku akan memberimu kesempatan selama seminggu. Aku ingin melihat bagaimana karya dan kerja kerasmu, oke?" ujar Hans, yang sontak membuat Risa melebarkan mata dan tersenyum senang.


"Jadi saya diterima?" Risa mengarahkan tangan ke dadanya sendiri. Dia merasa masih tidak percaya.


"Selamat ya cin. . ." ucap Hans, sepertinya sekarang dia menunjukkan jati dirinya. Risa sempat terperangah, karena tidak menduga lelaki berpenampilan sangar di hadapannya ternyata berlagak layaknya wanita.


"Kaget ya? beginilah diriku yang asli Risa. Aku juga bukan pemilik asli bisnis ini, aku cuman kebetulan menjaga toko yang ada di sini." Hans menjelaskan ramah.


"Oh begitu." Risa mengangguk-anggukkan kepala karena merasa paham.


"Kau nanti bisa bertemu dengan direktur jika sudah resmi menjadi karyawan. Oke?" Hans mengangkat kedua alisnya.


"Tentu. Lalu kapan aku bisa mulai bekerja?" tanya Risa.


"Kau bisa datang besok! persiapkanlah rancanganmu dengan baik!" jawab Hans sambil melambaikan tangan dengan gemulai. "Oh iya, kau tidak sendiri Risa, kau punya banyak saingan. Makanya lakukanlah yang terbaik!" sambung Hans lagi, yang langsung direspon Risa dengan anggukan. Setelahnya Risa pun segera berpamitan untuk pulang.


'Astaga, aku tidak menyangka pria itu ternyata seorang banci. Padahal sikapnya pas di awal terlihat sangat sangar! pffft! ada-ada saja. Tetapi sepertinya Hans orang yang menyenangkan.' Risa bergumam dalam hatinya. Dia merasa sangat gembira bisa langsung mendapatkan pekerjaan di hari pertama pencariannya. Gadis tersebut memang memiliki nasib yang beruntung jika berkaitan dengan karir.


Mood Risa yang tadinya merasa baik seketika berubah tatkala pandangannya tertuju pada London eye. Bianglala yang menjadi ciri khas London tersebut membuat Risa kembali memikirkan Juni. Otaknya seolah menunjukkan gambaran kenangannya bersama Juni kala menaiki bianglala di taman bermain.


Ilustrasi London eye (bianglala khas London) :



Risa memejamkan matanya untuk sesaat. Dia berusaha menepis semua perihal Juni dalam kepalanya. 'Sudahlah, kali ini keputusanku akan tetap bersikukuh untuk melupakan Juni. Toh dia bukan tipe lelaki yang rela mencariku sampai ke sini. Karena sudah satu minggu aku di sini, Juni tidak muncul juga. Aku memang mengharapkannya datang, namun harapanku hanyalah omong kosong!' keluh Risa dalam hatinya. Raut wajahnya menjadi cemberut. Ia pun kembali menggerakkan kakinya lagi.