The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 51 - Bertemu Jay



Juni tengah sibuk dengan kamera di ponselnya. Dia mengambil gambar pemandangan yang ada di pantai. Hingga atensinya tertuju pada gadis berambut merah muda yang terlihat sedang berpelukan dengan seorang pria.


'Eh tunggu, bukannya itu Risa ya? dia lagi sama siapa? kok mesra banget?' benak Juni bertanya-tanya.


"Risa, aku senang banget bisa melihatmu lagi!" ujar Jay yang semakin meng-eratkan pelukannya.


"Ja-jay, kita ada di tempat umum!" tegur Risa canggung sembari menepuk-nepuk pundak Jay.


"Maaf! aku terlalu bersemangat!" ungkap Jay yang sudah melepaskan pelukannya.


"Ngomong-ngomong, badanmu terlihat semakin berisi. Oh dan lihat rambut ini, apa kau sudah beruban!" ucap Risa seraya mengacak-acak rambut Jay yang diwarnai putih.


"Omg! kau tidak tahu trend, sekarang rambut berwarna putih sedang zaman!" tepis Jay. Dia berusaha menyisir rambut dengan jari-jemarinya.


Juni yang tidak sengaja menyaksikan pertemuan Risa dan Jay sempat mematung. Namun dia segera menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri.


'Udahlah Jun, lupakan Risa! dia selalu menganggapmu orang bodoh. Kali ini aku tidak ingin di bodohi lagi,' batin Juni, yang kemudian langsung beranjak pergi. Meskipun begitu rasa penasaran Juni tidak bisa dibendung, dia sesekali menoleh ke belakang. Hingga dirinya tidak sengaja bertukar pandang dengan Risa yang tiba-tiba saja menoleh ke arahnya.


'Astaga! Risa melihatku! kampret kali!' gumam Juni dalam hati sambil bergegas mempercepat langkahnya.


'Ish, apaan sih Juni? kayak lihat hantu!' batin Risa dengan sedikit terkekeh.


"Kenapa Ris, senyum-senyum sendiri!" tanya Jay yang bingung menyaksikan gelagat gadis yang ada di hadapannya.


"Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong kau sudah lama di sini?" balas Risa yang sengaja mengubah topik pembicaraan.


"Lumayan, sekitar satu mingguan. Kau? rumahmu dimana? nanti aku mampir deh!" Jay menatap serius.


"Rumahku di Jakarta. Aku baru saja sampai ke Bali. Ya mampir sajalah nanti!" sahut Risa.


"Eh, kita ngomong sambil makan aja yuk!" ajak Jay sembari menarik tangan Risa, lalu membawanya ke restoran terdekat.


Matahari bersinar sangat cerah, hingga hanya ada langit biru yang terlihat. Risa dan Jay sudah duduk saling berhadapan di sebuah restoran yang ada di dekat pantai. Keduanya tengah menikmati hidangan.


"Ris, kau cuman pesan salad?" tanya Jay yang terkesiap melihat Risa tengah menikmati makanannya.


"Aku sudah sembuh, bukan berarti aku sudah diperbolehkan makan segalanya!" ujar Risa dengan menyunggingkan mulut ke kanan. "Kalau kau Jay? tidak akan mengonsumsi obat-obatan lagi kan?" tambahnya yang melayangkan tatapan serius.


"Kau lihat badanku sekarang! itu bukti kalau aku sudah tidak kecanduan lagi." Jay merentangkan kedua tangan dan memajukan dada bidangnya untuk menunjukkan bentuk tubuhnya.


"Bagus deh! kau juga sepertinya rajin berolahraga." Risa mengangguk-anggukkan kepala. Gadis tersebut meneruskan memakan salad-nya.


"Do you see? look! (Apa kau melihatnya? lihat!)" sekarang Jay memperlihatkan otot perutnya yang tampak kotak-kotak beraturan.


"Roti sobek!" ucap Risa namun dengan menggunakan bahasa Indonesia, hingga membuat Jay mengerutkan dahi penuh tanya.


"What? (Apa?)" Jay mencondongkan kepala ke arah Risa.


"Roti sobek, seperti itulah orang-orang di Indonesia menamakan otot perut yang kau miliki!" ujar Risa dengan nada penuh penekanan di bagian kata 'Roti sobek'. Dia menjelaskannya dengan bahasa Inggris.


"Ro-de sabek?" Jay mengeja kata yang di-ejakan Risa untuknya. Ejaannya yang salah sontak membuat Risa tertawa geli.


"Sudahlah! itu tidak penting. Lebih baik kau kembali saja gih sama teman-temanmu!" imbuh Risa seraya me-ngelap bibirnya dengan serbet.


"Kau mau ikut?" Jay menatap Risa lekat.


"Eh, mau kemana? aku belum selesai bicara!" protes Jay yang tidak terima dengan kepergian Risa.


"Aku benar-benar sibuk Jay, aku harus mempersiapkan karyaku untuk festival besok," jelas Risa yang sudah berdiri di depan kasir yang jaraknya dekat dengan meja makannya tadi. Kemudian di susul oleh Jay yang berusaha mencegah Risa membayar.


"Widih! banyak duit kamu sekarang ya!" goda Risa ketika menyaksikan banyaknya uang di dalam dompet Jay.


"Ya banyak! bayangkan dua juta poundsterling ditukar dengan rupiah," ungkap Jay.


"Oh iya, kau benar!" Risa sedikit terkekeh. "Makasih ya, traktirannya!" lanjutnya seraya berjalan keluar dari restoran.


"Aku antar deh, hotel kamu dimana?" Jay berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Risa.


"Dekat kok!" Risa menatap Jay lewat sudut matanya.


"Jangan-jangan kita satu hotel nih!" tebak Jay dengan penuh harap.


"Mungkin saja," balas Risa datar.


Di sisi lain, Juni baru saja kembali ke kamarnya. Kala itu dirinya tidak melihat sama sekali batang hidung Ello di kamar. Alhasil Juni pun duduk di ujung kasurnya. Dia membalas pesan Amelia yang bertebaran satu per satu. Dari puluhan pesan kekasihnya, ada satu pesan yang membuat atensinya teralih. Yaitu satu pesan dari Risa yang berisi,


'Jun, ketemu yuk! aku ingin bicara. Temui aku malam ini di halaman hotel.'


"Risa mau ngapain sih?" Juni mengerutkan dahi. Meskipun penasaran, dia sama sekali tidak membalas pesan dari sahabatnya tersebut.


Perlahan siang berganti malam. Jujur saja, pesan yang dikirimkan Risa terus membuat Juni penasaran sedari tadi. Akhirnya dia pun berjalan keluar hotel dengan kepala celingak-celingukan. Sekali-kali Juni mengusap bagian tengkuknya.


"Sudah aku duga kau akan datang!" suara Risa yang tiba-tiba terdengar sontak membuat Juni tersentak kaget.


"Ris! kaget aku loh!" protes Juni sembari memegangi area dadanya. "Sekarang jelaskan kenapa kau mengajakku bertemu?" sambungnya yang sudah sedikit tenang.


"Aku cuman ingin bilang," ucap Risa yang perlahan mendekatkan wajahnya untuk menatap sang sahabat lebih lekat. "Aku. . ." Risa mematung sejenak, saat dirinya saling bertukar pandang dengan Juni.


"Risa!" suara Jay yang memanggil, lantas membuat Risa dan Juni sama-sama melangkah mundur.


"Oh, hai Jay!" sapa Risa sambil mengukir senyuman.


"Aku ingin berkeliling kota, kau mau ikut?" Jay berjalan menghampiri. "Who is he? your boyfriend? (siapa dia? pacarmu?)" sambungnya setelah mengalihkan pandangannya kepada Juni.


"Dia Juni, sahabatku!" terang Risa seraya menepuk bagian bahu Juni.


"Oh hai Juni, aku Jay!" ucap Jay penuh semangat, lalu saling bersalaman dengan Juni.


"Juni," sahut Juni singkat. "Ya sudah, aku lebih baik kembali ke kamar saja!" sambungnya sembari mencoba beranjak pergi.


"Eh Jun, ikut kita dong!" Risa mencengkeram lengan Juni. "Toh kamu belum sempat jalan-jalan juga kan? masa ke Bali cuman mengeram di kamar. Kamu bukan ayam kan?" tambahnya yang disertai dengan sindiran.


"Haaaiiss!" Juni menggertakkan gigi. Dia menahan kegeramannya terhadap gadis berambut merah mudah sebahu di depannya.


"Iya, ikut sajalah! toh aku akan tunjukkan tempat-tempat yang seru dan asyik. Kemudian kita bisa makan-makanan tradisional di sini," terang Jay, yang sepertinya bisa menebak gelagat dua insan di hadapannya.


"Pfffft. . ." Risa berusaha menahan tawanya kala menyaksikan ekspresi bingung diwajah Juni.


"Skjsumeurnr kdujdbdjdhh jdhdhdhjndh." Setidaknya begitulah pendengaran Juni saat mendengar Jay bicara. Iya, dia tidak mengerti bahasa Inggris. :V