The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 62 - Tidak Perlu Alasan



"Kalian habis dari mana?" tanya Jay sembari memasukkan kedua tangan ke saku celana.


"Belanja barang bulanannya Juni," terang Risa singkat.


'Hedeh! mendengar mereka bicara saja aku pusing,' keluh Juni dalam hati.


"Kamu masuk duluan gih Jun, aku mau bicara sebentar dengan Jay!" ucap Risa.


"Hah? enak aja, aku mau ikut!" sahut Juni seraya bergegas melangkah mendekati Risa.


"Ini sudah larut, lebih baik kita pulang ke rumah masing-masing saja," tutur Risa, yang dilanjutkan dengan berjalan memasuki rumahnya. Jay otomatis mengekorinya dari belakang dengan senyum dan lambaian tangan ke arah Juni. Sepertinya gadis itu masih kesal perihal Amelia tadi.


Juni hanya bisa terpaku menatap kepergian Risa dan Jay. 'Ish! bahaya banget nih kalau Jay berlama-lama menginap di rumah Risa!' batinnya. Kemudian dilanjutkan dengan langkah terpaksa memasuki rumahnya.


Bruk!


Juni membanting pintu kamarnya, dia bergegas menghampiri jendela. Dari balik tirai dia berusaha mengintip ke arah rumah Risa. Berharap bisa menyaksikan apa yang sedang dilakukan Risa dan Jay. Namun nihil, dia tidak mampu melihat apapun. Juni hanya bisa menghela nafas panjang.


Di sisi lain, Risa sedang saling berbincang dengan Jay di meja makan. "Jay, kau sudah makan?" tanya-nya.


Jay menggeleng. "Belum, kau mau memasakkan sesuatu untukku?" terkanya.


"Tapi aku hanya punya telur dan mie instan. Tidak apa-apa kan?" ujar Risa, yang langsung direspon Jay dengan anggukan kepala. Risa lantas segera berjalan menghampiri kompor dan memasak.


"Jay, kenapa paspormu bisa sampai hilang sih? sial sekali nasibmu. Atau, kau membohongiku?" kata Risa sambil berpaling dan menatap ke arah Jay.


"Hei! untuk apa aku membohongimu! aku benar-benar kehilangan pasporku. Kau tidak tahu berapa lama aku mencarinya, aku sudah dua hari di sini!" jelas Jay dengan dahi yang berkerut.


"Apa seseorang sengaja merampasnya darimu?" tebak Risa.


"Entahlah, aku hanya meninggalkannya sebentar ke toilet. Tetapi saat aku kembali semua barang-barangku sudah menghilang. Untung saja aku menyimpan uang di dompet, jika tidak aku pasti langsung menjadi gelandangan!" tutur Jay dengan wajah sendunya.


"Kasihan sekali," ucap Risa seraya tertawa kecil.


"Eh! jangan mentertawakanku!" tegur Jay, yang tidak terima dirinya ditertawakan Risa. "Tetapi aku akan mengambil hal positifnya saja dari kejadian ini," tambahnya.


"Hal positif?" Risa mengernyitkan dahi.


"Iya, hal positifnya aku bisa bermalam di rumahmu, dan bisa membuat hubungan kita lebih dekat!" ungkap Jay. Risa yang mendengar menggaruk bagian kepala yang tidak gatal. Dia berusaha mencari jalan keluar untuk menjawab pernyataan yang dilontarkan Jay.


"Kenapa kau terlihat gelisah begitu?" tanya Jay.


"Gelisah? eh siapa yang gelisah!" bantah Risa seraya memajukan bibir bawahnya. Jay yang melihat sontak terkekeh.


Risa telah selesai memasak, dia segera meletakkan hidangannya ke meja makan. Namun sedari tadi ponselnya terus bergetar dan mengganggu. "Jay, kau makan duluan ya! aku mau ke toilet sebentar," katanya, yang dilanjutkan dengan lari kecil menuju toilet.


Klik!


Risa mengunci pintu dan langsung mengambil ponsel dari saku celana. Dia menduga penyebab ponselnya bergetar terus menerus adalah ulah Juni. Benar saja, terdapat panggilan dan puluhan pesan dari lelaki yang tinggal di sebelah rumahnya tersebut. Risa lantas menghubungi Juni kembali melalui ponsel.


"Jun! kamu kenapa sih?" tanya Risa.


"Apanya yang kenapa? aku cuman khawatir Jay melakukan hal yang aneh-aneh sama kamu!" ujar Juni dari seberang telepon.


"Gila! ngapain kamu berpikiran kayak begitu. Aku bisa menjaga diriku sendiri lah. Ngomong-ngomong kau cemburu ya?" goda Risa yang perlahan mengukir senyuman.


"Eh! apaan sih!" jawab Juni yang langsung mematikan panggilannya secara sepihak.


"Parah! malah dimatiin!" Risa menggertakkan giginya. Dia pun bergegas keluar dan kembali mengobrol dengan Jay.


"Mamah sedang apa? masak kue ya?" tanya Juni lembut. Tidak seperti biasanya.


"Kamu kenapa? nggak kuliah?" balas Rahma ketus.


"Idih! seram amat sih Mah, aku kan cuman tanya," sahut Juni sambil meringiskan wajah.


"Mamah kan juga sedang tanya!" ucap Rahma kembali dengan nada tingginya.


"Ya sudah, Mamah sekarang lagi masak apa?" Juni menilik ke arah sang ibu.


"Memangnya kau mau apa?" Rahma berbalik tanya.


"Mau ngasih ke tetangga lah!" jawab Juni santai. Rahma yang mendengar mengernyitkan dahi. "Maksudmu Risa?" tebaknya.


"Hooh!" balas Juni singkat. Rahma tiba-tiba menatap sang anak dengan penuh curiga. "Tumben, sepertinya ada yang mencurigakan nih!" ujarnya.


"Apaan sih Mah!" bantah Juni dengan gelagat yang mencurigakan. Dari belakangnya Sofi muncul dengan piama dan rambut yang berantakan.


"Huaaaah!" Sofi menguap dengan geliatan tangan yang hampir menampar wajah sang kakak.


"Astaga nih anak!" protes Juni sambil memukul tangan Sofi yang sedikit lagi mengenai wajahnya.


"Aku setuju sama Mamah! aku juga curiga sama Kak Juni dan Kak Risa!" celetuk Sofi, yang reflek membuat mata Juni membola.


"Diam kamu!" pekik Juni. Dia melayangkan pelototan kepada sang adik. Namun Sofi malah tertawa geli seraya memegangi perutnya. Rahma yang melihat wajah merah malu Juni pun ikut tertawa.


"Ada yang jatuh cinta nih!" goda Rahma.


"Iya Mah, kemarin aku lihat mereka sedang--" Juni dengan sigap menutup mulut Sofi rapat-rapat. Agar adiknya tersebut tidak berbicara yang tidak-tidak.


"Lah, memangnya kenapa Jun? Toh Mamah juga sangat menyukai Risa. Jujur, dia lebih baik dari pacar kamu yang dahulu itu siapa namanya tuh. . ." ujar Rahma, di akhiri dengan membuat otak kanannya bekerja lebih keras. Dia berusaha mengingat nama Amelia.


"Kak Amel Mah!" ungkap Sofi yang telah berhasil menjauhkan tangan sang kakak dari mulutnya.


"Nah itu!" balas Rahma yang menyetujui tebakan Sofi.


"Terserah deh kalian mau bilang apa!" respon Juni pasrah, dia tidak bisa berkilah lagi.


"Kak Jun, aku tadi lihat bule ganteng banget! kayak aktor hollywood favoritku!" ucap Sofi seraya menangkup wajahnya sendiri.


"Maksudmu Jay?" tebak Juni dengan mengukir kerutan di dahinya.


"Jadi namanya Jay, bagaimana Kak Jun tahu?" Sofi menatap penuh tanya.


"Ya iyalah tahu, dia itu temannya Risa yang berasal dari London," terang Juni.


"Benarkah? waaaah! senangnya, berarti dia bakalan menginap di rumah Kak Risa kan ya?" girang Sofi yang tak berhenti tersenyum.


"Memangnya kau mau apa?" Juni meringiskan wajahnya.


"Nggak apa-apa, cuman senang aja!" imbuh Sofi.


"Bule? jadi Risa mengajak temannya menginap ke rumah? wah Mamah jadi ikut penasaran Sof! jarang-jarang kan kita lihat bule di sekitaran sini," tutur Rahma sembari meletakkan telur dadar ke atas piring.


"Iya Mah! guaaanteng lagi. Pantesan Kak Jun merasa terancam, makanya dia mau mencari alasan untuk ke rumah Kak Risa!" ungkap Sofi, yang langsung mendapatkan pukulan dari Juni di area jidatnya.


"Kamu kalau sedang berjuang ngapain bikin alasan sih. Pergi aja sana apa susahnya!" Rahma menatap Juni dengan gaya berkacak pinggang. Juni hanya bisa mendengus kasar kala mendengar celotehan sang ibu dan adiknya.