
Proses operasi Amelia telah selesai. Juni sudah diperbolehkan melihat keadaan gadis itu. Dia duduk lumayan lama untuk menunggu Amelia tersadar.
Beberapa saat kemudian Amelia mulai terbangun, dia tampak mengerjapkan matanya beberapa kali. Perban terlihat memoles bagian kepala, lengan dan lututnya.
"Mel?" panggil Juni pelan. Namun Amelia malah merespon dengan linangan air mata.
"Maaf. . . kan a-aku Jun, selalu merepotkanmu. . ." ucap Amelia terbata-bata.
"Sudahlah, yang penting kau harus pikirkan kesehatanmu sekarang ya!" Juni menggenggam lembut tangan Amelia.
"Kau lebih baik pulang saja Jun, aku sudah sadar dan baik-baik saja," ujar Amelia. Dia melakukannya karena bisa melihat dengan jelas lelah pada raut wajah yang ditunjukkan Juni.
"Aku masih belum mau pulang tau!" bantah Juni dengan helaan nafasnya.
Amelia yang melihat lantas tersenyum singkat. "Terserahmu deh. . ." balasnya sembari memandangi Juni dengan binar kagum dimatanya.
Terjadi hening beberapa saat. Kala itu, Amelia berhasil memergoki Juni yang sedang memegangi bagian kepala, seolah ada sesuatu yang mengganggunya.
"Kau kenapa Jun? sepertinya ada yang dipikirkan?" Amelia bertanya.
"Risa mengajakku pergi ke London!" sahut Juni, yang otomatis menyebabkan mata Amelia membola.
"Benarkah? lalu apa kau setuju?" Amelia menatap serius.
"Itulah yang sedang aku pikirkan saat ini. Apa kau punya saran?" terang Juni seraya mengusap wajahnya satu kali.
"Kau mencintainya kan?" Amelia memastikan.
"Iya." Juni menjawab singkat.
"Kalau begitu pergilah Jun, buang saja ketidak pantasan yang kamu rasakan. Aku yakin kau pasti bisa memperbaikinya!" saran Amelia dengan nada yang meyakinkan.
"Menurutmu begitu?" Juni menatap heran.
Amelia mengangguk yakin dan berucap, "Aku bisa menjaga diriku sendiri Jun, toh mulai sekarang aku tidak ingin terlalu banyak bergantung kepadamu. Oh iya, aku juga sudah mencoba menemui pamanku, dan dia ternyata mau menerimaku!"
Juni melebarkan mata karena merasa sangat senang. "Syukurlah, lalu dimana dia sekarang?" tanya-nya sembari mengedarkan pandangannya.
"Emm. . . aku terlalu senang saat bertemu dengannya, jadi aku lupa meminta nomor telepon. . . tetapi katanya dia akan secepatnya menemuiku kok!" tutur Amelia.
"Aku ikut senang kalau begitu." Juni mengukir senyum simpul, sedangkan Amelia hanya membalas dengan senyum singkatnya lalu membuang muka untuk sejenak.
'Aku kira semuanya akan menjadi rumit. Tetapi ternyata tidak, keadaan Amelia malah semakin membaik. Dia bahkan sudah diterima oleh keluarga jauhnya. Apakah ini pertanda kalau aku harus ikut ke London bersama Risa?' pikir Juni sambil menggerakkan biji matanya pelan.
Juni lumayan lama menemani Amelia di rumah sakit, sampai-sampai ia lupa waktu dan tertidur di samping gadis berambut ikal tersebut. Getaran handphone yang tersimpan di saku celananya berhasil membuat Juni langsung tersadar. Dia pun segera mengangkat panggilan dari ibunya itu.
"Ada apa Mah?"
"Jun, kau kemana? ini sudah larut malam, kenapa belum pulang?" tanya Rahma dari seberang telepon.
"Em aku--"
"Cepat pulang Jun!" Rahma sengaja memotong kalimat yang hendak di ucapkan Juni. Setelahnya ia pun mematikan panggilan telepon secara sepihak.
"Apaan? tumben serius banget!" keluh Juni, berbicara kepada ponselnya sendiri.
"Kau pulang saja Jun, aku tidak apa-apa!" ungkap Amelia yang ternyata sedari tadi menyaksikan aktivitas Juni.
"Iya nih, Ibuku menyuruh pulang. Kau beneran tidak apa-apa?" Juni memastikan. Amelia sontak membalas dengan anggukan kepala dan senyuman.
"Ya sudah, aku pulang dahulu. Besok aku akan menemuimu lagi!" imbuh Juni sembari melangkahkan kaki menuju pintu.
Tring!
Gawai Juni kembali berbunyi, tetapi kali ini hanya memberitahukan sebuah pesan masuk. Lelaki tersebut segera memeriksanya.
Ilustrasi percakapan Juni dan Risa dalam aplikasi pesan:
•Risa
[Jun, kau punya waktu tiga hari untuk memberitahu keputusanmu.]
^^^•Juni^^^
^^^(Tidak. Tunggulah, aku akan memberitahukannya sekarang saja.)^^^
•Risa
[Yang benar? kau sudah membuat keputusan?]
^^^•Juni^^^
•Risa
[Kasih spoiler dong!]
^^^•Juni^^^
^^^[Aku mencintaimu.]^^^
Mata Risa membola kala menerima jurus cinta yang dikirimkan kekasihnya. Dia menutup senyum yang mengembang dengan sebelah tangannya.
"Apaan sih Juni, nggak nyambung banget deh!" gumamnya sembari masih senyum-senyum sendiri.
'Apakah ini pertanda baik?' benak Risa menerka-nerka petunjuk yang diberikan Juni. 'Eh tidak-tidak! jangan terlalu senang dulu sebelum semuanya jelas!' lanjutnya seraya menggelengkan kepala.
***
Setelah memakan waktu beberapa menit, Juni akhirnya pulang. Bukannya masuk ke rumah sendiri, dia malah bergegas berjalan menuju tempat tinggal kekasihnya.
Ceklek!
Pintu langsung terbuka sebelum Juni sempat mengetuk. Risa menyambut kedatangannya dengan wajah datar. Keduanya pun duduk saling berhadapan di sofa.
"Jadi. . ." Risa memulai pembicaraan dengan ragu.
"Aku akan ikut kamu--"
"Huaaaa!!!" Risa bersorak senang lebih dahulu, bahkan sebelum sang kekasih sempat menyelesaikan kalimatnya. Dia segera mendekap Juni dengan erat.
"Ris! Ris! aku belum selesai ngomong!" ujar Juni sambil menepuk-nepuk gadis yang tengah memeluknya.
Risa yang mendengar teguran Juni akhirnya melepaskan dekapannya. Mulutnya tampak memanyun. "Ayo teruskan kalau begitu!" suruhnya.
"Aku akan ikut kamu ke London, tapi. . ."
"Nah itu--" Risa kembali menjeda.
"TAPI. . ." Juni meninggikan nadanya dan meneruskan, "aku akan menyusulmu belakangan, karena banyak yang harus aku siapkan. Oke?"
"Jadi kau tidak pergi bersamaku? Kamu mau nyiapin apa sih?" Risa tak terima.
Juni memutar bola matanya. "Aku harus banyak belajar Ris, terutama bahasa inggris. Terus, aku juga mesti mencari-cari info mengenai kampus dan pekerjaan di London," terangnya, ia menggenggam salah satu tangan Risa.
"Haha! itu hal kecil Jun. Serahkan saja kepadaku, oke?" respon Risa yang sedikit tergelak.
"Kau yakin itu hal kecil?"
Risa mengangguk. "Yang penting kita bisa terus bersama!" ucapnya, yang perlahan mendekatkan wajahnya, kemudian mencium lembut pipi kekasihnya. Juni yang menerimanya hanya tersenyum tipis lalu mengacak-acak puncak kepala Risa.
***
Amelia masih terbaring di hospital bed-nya. Tatapannya terpaku pada langit-langit pelafon rumah sakit. Pikirannya terasa kosong, dia merasa kesal dengan dirinya sendiri. Perlahan gadis itu merubah posisi menjadi duduk. Terlintas dalam ingatannya, ketika ia mencoba menabrakan diri pada sebuah mobil sedan yang kebetulan lewat.
"Kenapa gagal? hiks! hiks! harusnya tadi aku mati!" Amelia mulai meratap. Kedua tangannya menangkup wajahnya sendiri.
Setelah puas melepaskan air matanya, Amelia tiba-tiba mencabut infusnya. Kemudian mencoba memaksakan berjalan keluar dari kamarnya.
Bruk!
Amelia jatuh tersungkur, karena kakinya merasakan sakit yang teramat sangat. Dia langsung mengerang kesakitan, hingga membuat seorang perawat bergegas menghampirinya.
"Ya ampun, apa yang Mbak lakukan? masih belum sembuh total loh," ujar sang perawat yang sepertinya berumur tiga puluh tahunan itu.
"Biarkan saja! hiks! aku sudah nggak sanggup!" rengek Amelia dengan pancaran air mata yang terus mengalir dipipinya.
..._________...
[EPILOG SPESIAL BAB 88]
Tok! Tok! Tok!
Amelia mengetuk pintu sebuah rumah.
Ceklek!
Seorang lelaki paruh baya yang tidak lain adalah pamannya membukakan pintu. Amelia segera menjelaskan mengenai siapa dirinya. Namun bukannya mendapat sambutan ramah, ia malah mendapat cacian dan hinaan.
"Pergi kamu! dan jangan pernah datang ke sini! dasar anak haram, kau dan ibumu itu menyebabkan banyak masalah dalam keluarga!" cibir sang lelaki paruh baya dengan keadaan wajah yang sudah memerah. Amarahnya seakan membara. Sedangkan Amelia, dia hanya bisa menerima hinaan tersebut dengan tangisan dan rasa sakit dihatinya.