The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 66 - Kencan Juni dan Risa



"Aaaauuuu. . ."


"Hihihihi!"


Suara-suara menyeramkan terdengar kala kereta yang dinaiki Juni dan Risa mulai berjalan. Kegelapan yang menyelimuti suasananya sontak membuat Risa merengek.


"Kamu bohong! ini gelap banget!" keluh Risa, matanya perlahan mengeluarkan air.


"Nggak apa-apa lah Ris, pffft!" Juni mencoba menenangkan Risa sembari berusaha menahan tawanya.


Plak!


"Enggak lucu tau!" geram Risa setelah melayangkan pukulannya ke pundak lelaki di sampingnya.


"Hiks! hiks! hiks! sumpah ya Jun, aku mau pulang setelah ini. Aku nggak peduli!" rengek Risa dengan nada penuh penekanan yang disertai tangisan histerisnya.


"Ya ampun, tenang sedikit dong Ris. Ada aku di sini." Juni mulai merasa khawatir ketika mendengar tangisan gadis di sampingnya. Dia pun membawa Risa masuk ke dalam dekapannya.


Dub!


"Aauuuu. . ."


Wahana kereta misteri yang mengusung tema hantu serigala itu tiba-tiba memperlihatkan pemandangan mengerikannya. Satu per satu patung replika dan gerakan mengerikannya mulai beraksi.


"Aaaarkkhh!" Risa memekik sangat lantang hingga Juni pun yang mendengar merasa ikut terkejut. Sekarang dia dalam posisi menenggelamkan wajahnya ke bagian dada Juni. Gadis tersebut juga tidak lupa menutup kedua matanya rapat-rapat. Juni yang sudah tidak mampu berbuat apapun, hanya bisa mengusap kepala kekasihnya dengan pelan.


Setelah menampilkan replika-replika menakutkan, kegelapan pun kembali menyelimuti. Kereta Juni dan Risa mulai menanjak naik. "Astaga! gila! gila! ini kenapa lagi sih! wahana sialan!" Risa bersumpah serapah kala kereta yang ia naiki semakin bergerak maju ke atas.


"Ya ampun Risa, hahaha!" respon Juni yang langsung mendapatkan serangan pukulan bertubi dari Risa.


"Nih rasakan ini! semuanya gara-gara ka--"


"Aaaaarrkhhhh!!!"


Risa reflek berteriak ketika kereta tiba-tiba melesat turun dengan begitu cepatnya. Dia yang tidak menyangka dengan gerakan itu merasa hampir jantungan.


"Woooo! ini baru seru!" celetuk Juni yang terlihat menikmati momen itu.


Kereta perlahan melambat, pertanda pertunjukkan telah berakhir. Kala kereta berhenti, Risa langsung buru-buru turun dan meninggalkan Juni di belakang. Gadis tersebut terlihat cemberut.


"Risaaa!" panggil Juni sembari berlari mengikuti Risa.


Ceklek!


Risa masuk ke dalam toilet dengan tergesak-gesak. Dia membasuh wajahnya yang telah dipenuhi air mata. "Ish! Juni keterlaluan!" gerutunya dengan dahi berkerut. Selanjutnya dia pun melangkahkan kaki keluar dan langsung disambut dengan kehadiran Juni.


"Ris, maafin aku ya?" Juni memegangi lengan Risa lembut. Alhasil gadis yang dipegangnya berbalik dan menatapnya.


"Oke! aku anggap kita impas. Aku paham kok kamu tadi balas dendam, iyakan?" timpal Risa sambil berkacak pinggang.


"Kok tahu? kamu mau naik wahana rumah hantu lainnya juga?" tawar Juni. Dia menampakkan senyuman tak berdosa.


"Haiiss! enak saja!" Risa melotot dan menggertakkan giginya.


"Ngomong-ngomong, Amel sama Jay kemana ya? dari tadi nggak kelihatan." Juni mencoba mengedarkan pandangannya ke arah belakang berharap bisa menemukan jejak dua orang yang dicarinya.


Risa menyunggingkan mulutnya ke kanan. "Bagus dong! kita beri mereka waktu saja!" ujarnya, kemudian langsung menyeret Juni untuk ikut bersamanya. "Naik bianglala yuk!" tambahnya dengan senyuman semringah.


"Sekarang aku paham alasan dirimu mengajak Amel untuk ikut!" ungkap Juni sembari menyamakan jalannya terhadap gadis di sebelahnya.


"Ide bagus kan?" Risa perlahan mengulum senyum. Dia dan Juni sekarang menaiki bianglala bersama.


Langit kala itu tidak cerah dan juga gelap. Sebuah cuaca yang bisa terbilang nyaman untuk dinikmati. Bianglala mulai menyala dan membawa Juni dan Risa semakin naik ke atas. Perlahan tapi pasti namun tidak semenegangkan wahana lainnya. Kali ini Juni dan Risa tidak duduk saling berhadapan lagi. Sekarang keduanya duduk dalam posisi berdampingan. Kenangan di malam prom kembali terlintas dalam benak mereka.


"Jun, kau ingat kita terakhir kali menaiki wahana ini kan?" tanya Risa. Dia menundukkan kepalanya.


"Iya, itu adalah malam paling bersejarah dalam hidupku." Juni menatap datar ke depan. Tepatnya pada cakrawala yang sudah dinodai oleh gedung-gedung nan tinggi.


"Jujur, aku tidak menyangka kebahagiaan kita bisa langsung berganti dengan kesedihan. . ." ungkap Risa yang di akhiri dengan lirihnya.


"Tapi kau harus tahu satu hal. Malam itu jantungku berdebar untuk yang pertama kalinya kepadamu!" tutur Juni seraya melirik ke arah Risa.


"Benarkah?" Risa menatap balik.


"Ris, tolong katakan padaku kalau puisi yang kau buat itu cuman sebuah istilah. Kau tidak mungkin jatuh cinta padaku sejak umur sepuluh tahun, itu hal yang sulit untuk dipercaya!" ungkap Juni. Dia sekarang menyenderkan badannya ke belakang.


"Memangnya kenapa? aku ini dewasanya lebih cepat darimu Jun. Makanya jatuh cintanya juga cepat!"


"Ish! apaan sih!" Juni terkekeh.


"Saat pertama kali mendengar kau mengatakan menyukai Amel, hatiku sangat sakit Jun!" Risa menyentuh area dadanya, dia mengatakannya dengan nada dramatis. "Kamu tidak tahu perasaan yang telah di derita sahabatmu ini," lanjutnya masih dengan nada yang sama.


"Haiss! jangan lebay kamu!" protes Juni sambil menggetok kepala Risa dengan kepalan tinju.


"Ternyata begini ya rasanya kencan. Sekarang tinggal sentuhan mesra nih yang belum," tukas Risa. Dia memeluk Juni erat lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang kekasih.


"Ris! aku nggak suka ngelakuinnya di tempat umum!" keluh Juni yang sontak membuat Risa mengukir ekspresi cemberut.


Di sisi lain Amelia dan Jay baru saja turun dari kereta wahana rumah hantu. Keduanya tampak gelagapan keluar dan mencari Juni dan Risa.


"Mereka kemana sih!" Amelia menghentakkan sebelah kakinya.


"Hei! kau penduduk pribumi, cepat tunjukkan jalan yang benar!" desak Jay. Kepalanya celingak-celingukan kemana-mana.


"Bagaimana bisa! kalau kita tidak tahu dimana mereka berada!" sahut Amelia yang tengah menampakkan wajah masamnya.


"Kita minum dahulu deh, aku haus!" ucap Jay, lalu segera melangkahkan kaki ke stand minuman. Amelia yang tidak punya pilihan lantas terpaksa mengikuti Jay dari belakang. Sekarang keduanya duduk dengan wajah yang sendu.


"Jay, aku sangat mencintai Juni. Aku menyesal telah memutuskan hubungan dengannya . . ." lirih Amelia.


"Itu memang terdengar seperti salahmu. Harusnya kalau masih cinta tidak perlu lekas-lekas mengambil keputusan," sahut Jay.


"Aku cuman mau jadi wanita yang sukses dan pantas untuk Juni. Yang pasti aku tidak ingin menjadi beban saat bersamanya." tutur Amelia dengan kondisi mata yang sudah mulai berembun.


"Sepertinya kau memang sangat mencintainya ya," tukas Jay yang akhirnya menoleh ke arah Amelia. "Aku juga sangat menyukai Risa, dia satu-satunya gadis yang mampu membuatku tertawa!" lanjutnya seraya membayangkan senyuman lebar dari seorang Risa.


"Apa menurutmu Juni dan Risa saling mencintai?" terka Amelia.


"Entahlah, bukankah tingkah yang mereka tunjukkan agak mencurigakan?"


"Apa kau rela mereka bersatu? atau kau mau menjadi egois saja?" Amelia menatap dengan raut wajah serius. Namun Jay hanya terdiam seribu bahasa.


"Aku tidak tahu apa pilihanmu Jay. Tetapi kali ini aku tidak akan menjadi gadis yang lemah lagi!" ucap Amelia lagi seraya bangkit dari tempat duduknya.