
Risa dan Juni terdiam sejenak. Hanya ada suara hujan yang terdengar. Juni menghela nafas panjang, dia merasa bersalah dengan ucapannya sendiri.
"Ris, kamu pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku," ungkap Juni sambil menoleh ke samping, tepat dimana Risa berada.
Risa mengukir seringai diwajahnya dan berkata, "Aku awalnya juga berpikir begitu, tetapi hatiku mungkin menolak, aku harus bagaimana Jun?" Risa menatap datar ke depan, dia melihat air hujan yang perlahan berjatuhan.
"Ris. . ." lirih Juni yang merasa iba kepada sahabatnya. "Maukah kau memberitahu apa yang telah terjadi padamu? kau memang kembali, tetapi sikapmu sangat berbeda dengan dahulu," tutur Juni.
"Haaaah. . ." Risa mengeluarkan nafasnya lewat mulut, dia tampaknya tidak ingin menjawab pertanyaan Juni. "Kita bodoh ya Jun, jelas-jelas bawa mobil tetapi berteduhnya di tempat beginian. Harusnya kita diam aja di dalam mobil!" celetuk Risa, sengaja mengalihkan pertanyaan.
"Idih! aku kan ngajak ke sini karena mengira tempat ini restoran atau apa. Eh ternyata rumah kosong!" Juni menggertakkan giginya.
"Yuk kita jalan lagi, anginnya sudah nggak ada." Risa berlari lebih dahulu memasuki mobil. Lantas di ikuti Juni dari belakang. Mereka pun segera melanjutkan perjalanan.
Kala Juni dan Risa sudah sampai di desa yang mereka tuju. Tiba-tiba saja mereka dikagetkan dengan jalanan yang tergenang dengan air. "Banjir Jun!" mata Risa membulat sempurna.
"Pak, apa kami bisa lewat?" Juni membuka jendela mobilnya untuk bertanya kepada salah satu warga yang kebetulan ada di sana.
"Kalau mau masuk ke Desa nggak bisa Dik! air-nya sangat dalam. Wilayah ini juga akan segera tergenang seperti biasa, saya sarankan Adik kembali saja sebelum banjir-nya tambah parah!" jelas lelaki dengan kumis tebal itu.
"Lah! terus gimana Pak? saya mau jemput Ibu dan Adik saya!" balas Juni yang merasa tidak percaya.
"Terserah Adik saja lah, tapi takutnya mobilnya nggak bisa jalan lagi. Kalau ngeyel tanggung resikonya sendiri!" si lelaki berkumis mengernyitkan dahi. Seakan memaksa Juni dan Risa untuk kembali pulang saja.
"Sepertinya lelaki itu benar Jun, mending hubungi ibumu sama Sofi dulu deh," usul Risa. Alhasil Juni pun segera merogoh saku celana-nya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Rahma.
Juni : Mah, ini aku mau jemput tapi sedang ada banjir jadi nggak bisa lewat. Gimana dong?
Rahma : Kamu mending pulang saja Jun, banjir di rumah nenek sangat dalam. Ini kami sedang berada di atas atap!
Juni : Apa? terus keadaan Mamah, Sofi sama nenek gimana? (Juni sangat khawatir)
Rahma : Tidak apa-apa Jun, kami semua selamat. Sebentar lagi ada yang jemput. Kamu mendingan cepat-cepat pulang gih! sebelum airnya tambah naik!
Juni : Lah, terus Mamah pulangnya gimana? masa aku tinggalin begitu saja. Aku nggak mau!
Rahma : Tapi Jun. . .
Juni : Aku akan menunggu Mah! (Juni bersikeras)
Setelahnya, Juni dengan sigap mematikan panggilannya. Dia memutar mobilnya dan berniat mencari penginapan terdekat untuk menunggu sang ibu.
"Eh kita pulang Jun? Ibu sama adikmu gimana?" tanya Risa dengan dahi yang mengernyit.
"Kita cari tempat penginapan terdekat Ris, kamu kalau mau pulang lebih dulu nggak apa-apa kok!" ujar Juni sembari fokus menyetir.
"Nggak! aku nggak mau pulang duluan. Aku kan juga khawatir sama ibu dan adikmu." Risa bersikeras.
"Tapi kita kan nggak tahu sampai kapan banjirnya surut? kalau lama gimana? nanti ayahmu khawatir," tukas Juni yang selintas menatap Risa di sampingnya.
"Ayo kita cari penginapan, cari yang bertingkat Jun, buat jaga-jaga," imbuh Risa yang tidak hirau dengan peringatan Juni.
"Sama kayak kamu kan!" Risa menyilangkan tangan di dada.
"Idih! apaan sih." Juni sedikit terkekeh. Risa membulatkan matanya seolah sedang terkejut dan lalu berucap, "Mungkin kita berjodoh!"
"Haaiss nih anak!" geram Juni sambil melayangkan pukulannya ke kepala Risa namun meleset.
Tidak lama kemudian keduanya pun berhasil menemukan tempat bermalam yang cocok. Penginapan tersebut memiliki bangunan yang tinggi dan terlihat nyaman. "Permisi Mbak, apa masih ada kamar?" tanya Juni kepada resepsionis yang tengah berjaga.
"Wah pas banget ada satu kamar yang masih tersisa. Kalian sangat beruntung, apalagi dengan keadaan banjir yang sedang terjadi di sekitar. Ini merupakan tempat yang tepat untuk beristirahat dan melanjutkan bulan madu kalian!" ucap resepsionis bernama Iren itu dengan panjang lebar.
Mata Juni membola mendengarkan ucapan dari Iren. Tetapi tidak untuk Risa, dia terlihat tersenyum simpul dan berjalan maju menghampiri Iren.
"Satu kamar? tapi--"
"Bagus! bagus sekali, waaah. . . kita sangat beruntung sayang!" jeda Risa pada Juni yang tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya.
"Ris!" Juni mencengkeram lengan Risa.
"Kami akan mengambil kamarnya!" kata Risa yang tak acuh. Dia pun segera mendapatkan kunci kamar dari Iren, dan berjalan lebih dahulu memasuki kamar.
Bruk!
Risa menghempaskan dirinya ke atas kasur. Dia menghela nafas panjang, karena tubuhnya yang penat akhirnya bisa beristirahat
"Ris! kenapa kamu ngomong gitu?" Juni tampak gelagapan.
"Aku nggak mau capek-capek cari tempat lain Jun. Toh kita kan udah sering rebahan berdua, kenapa kamu ketakutan gitu?" Risa sedikit terkekeh.
"Takutlah! kalau ada polisi yang grebek kita gimana? nanti kita dikira melakukan yang tidak-tidak," ujar Juni dengan paranoid-nya.
"Sudahlah, sini dulu. Kamu pasti capek!" Risa sedikit bergeser untuk memberikan Juni ruang. Dia menepuk-nepuk tempat yang dia sediakan untuk sahabatnya. Alhasil Juni pun tidak punya pilihan lain selain ikut merebahkan diri.
"Nah enak kan, sekarang kita hanya perlu menunggu kabar ibumu," kata Risa, lalu melakukan uapan-nya yang lumayan panjang. Perlahan matanya mulai terpejam.
'Astaga, kenapa jantungku berdebar-debar begini? semuanya tidak mungkin karena Risa kan? menyebalkan. Eh tunggu, aku lupa membalas pesan Amel!' ucap Juni dalam hati, kemudian segera dilanjutkan dengan membalas pesan sang pacar. Dirinya sekarang mengubah posisi menjadi duduk.
Sudah lumayan agak lama Juni dan Amelia bertukar pesan. Juni tampak sangat asyik sendiri dengan ponselnya, bisa dilihat dari pandangannya yang tidak bisa lepas dari layar ponsel. Hingga dia baru menyadari keberadaan Risa yang sudah terbangun, dan mengintipnya dari belakang.
"Membosankan sekali percakapan kalian!" kritik Risa, yang sontak membuat Juni terperanjat dan berbalik menatapnya.
"Risaaa! sejak kapan kamu lihat?"
"Sejak kamu balas 'maaf ya Mel, aku tadi masih di jalan' terus--" Juni segera menutup mulut Risa dengan tangannya. Dirinya tidak ingin lagi mendengar ejekan dari sahabatnya.
"Oke! aku nggak bakalan ngomong lagi!" Risa menghempaskan tangan Juni untuk menjauh dari mulutnya. Namun kala itu keduanya lagi-lagi tidak sengaja bertukar pandang. Juni lebih dahulu tersadar dan berusaha memalingkan wajah. Tetapi Risa tidak terima, dia malah menangkup wajah Juni untuk memaksanya menatap.
"Eh, jangan macam-macam kamu ya!" protes Juni yang tidak terima. Lantas Risa pun memasang raut wajah cemberut sembari melepaskan tangannya dari wajah Juni.