
"Kita tunggu di sini saja mereka Kak!" ucap Sofi dengan senyum malu-malunya. Jay hanya mengangguk singkat untuk merespon penuturan gadis muda di sebelahnya.
"Risaaa! come on!" pekik Jay, yang bermaksud mendesak Risa untuk segera mendekat.
"Ayolah Jun! masa kamu kalah sama Jay!" ujar Risa seraya berlari lebih dahulu. Alhasil Juni pun mengerahkan tenaganya untuk ikut lari. Mereka ber-empat menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk berlari. Yang tentu saja tidak di isi dengan olahraga penuh. Apalagi Juni, ia terlalu sering beristirahat di tengah perjalanan. Sekarang mereka sudah kembali ke rumah masing-masing.
Bruk!
Jay tidak sengaja menutup pintu dengan keras. Hal itu sontak membuat Risa terperanjat. "Jay!" tegurnya dengan dahi yang berkerut.
"Sorry!" Jay reflek mengangkat kedua tangannya ke atas. "Ngomong-ngomong, ayahmu memang jarang pulang ya?" tanya-nya sembari melayangkan pantatnya ke sofa.
"Begitulah." Risa menjawab singkat. Tatapannya tampak kosong dan datar. Perlahan dia menuangkan air ke dalam gelas. Lalu meneguknya pelan-pelan.
"Jika ada sesuatu yang mengganggumu, tinggal katakan saja kepadaku," ungkap Jay lembut seraya ikut bergabung untuk mengambil minuman bersama Risa.
"Tidak ada," jawab Risa yang tak acuh. Dia memberikan senyuman singkatnya.
Di sisi lain Amelia sedang menghadiri rapat di perusahaannya. Dalam acara pertemuan tersebut, dirinya tidak sengaja bertemu dengan Bayu, ayahnya Risa. "Hai Om. . ." sapanya ramah.
Bayu mengernyitkan dahi, karena tidak mengingat gadis yang baru saja menyapanya. Alhasil Amelia pun berinisiatif menjelaskan tentang siapa jati dirinya. "Aku Amel Om, temannya Risa!"
"Oh iya, Om lupa! kamu bekerja di sini?" tanya Bayu yang merasa tak percaya. Amelia langsung menganggukkan kepala untuk mengiyakan.
"Wah, hebat sekali kamu ya!" puji Bayu yang perlahan menciptakan senyuman diwajah.
"Makasih Om!" sahut Amelia pelan seraya menyangkutkan beberapa helai rambut ke daun telinga.
"Ya sudah, sampai jumpa lagi ya!" ucap Bayu yang disertai lambaian tangannya.
'Aku ingin melakukan sesuatu terhadap ayahnya Risa. Tetapi, kenapa ada perasaan nggak tega ya? aku harus memikirkannya baik-baik terlebih dahulu' batin Amelia.
***
Ceklek!
Bayu baru saja masuk ke rumah. Risa yang mendengar suara pintu terbuka sontak berdiri dari sofa. "Ayah kenapa baru pulang?" tanya-nya.
"Tadi di kantor ada rapat!" jawab Bayu yang tampak tenang. Risa hanya bisa menghela nafas berat. Kemudian segera melangkah memasuki kamarnya.
Risa meraih ponsel yang ada di atas nakas. Lalu mencoba menghubungi Juni.
Drrrt. . . Drrrt. . .
Ponsel Juni bergetar, pemiliknya pun langsung mengangkat panggilan itu."Kenapa Ris?" sapa-nya.
"Jun, apa kau sudah mengantuk?" tanya Risa.
"Enggak juga sih, aku lagi main game!" balas Juni dari seberang telepon.
"Jalan-jalan yuk!" ajak Risa.
"Hah? gila! jalan-jalan mulu nih anak. Ini hampir tengah malam Ris, jalan-jalan sama setan aja sana!" tukas Juni.
"Oke, kalau begitu aku jalan-jalan sama Jay aja deh!"
"Eh jangan, jangan! ya sudah kalau begitu. Aku sepertinya harus lewat pintu belakang." Juni akhirnya setuju. Dia segera bergegas untuk bersiap-siap.
Risa berjalan berjinjit kala melewati kamar Jay dan ayahnya. Dia tidak lupa mengambil kunci mobil yang disimpan dalam rak yang ada di atas kulkas. Gadis tersebut masuk lebih dahulu ke dalam mobil dan menunggu Juni.
Juni membuka pintu mobil, dan langsung duduk di sebelah Risa. Tatapan sinisnya ter-arah kepada gadis yang sedang duduk di hadapan setir.
"Kenapa? kalau terpaksa mending nggak usah aja deh!" geram Risa.
"Kamu kenapa? lagi PMS ya?" Juni menggeleng maklum.
"Aku lagi sumpek aja di rumah. Terus sudah bosan ke rumah kamu. Lagi pula kita tidak bisa berbicara berduaan dengan leluasa," jelas Risa seraya menyalakan mesin, kemudian menjalankan mobilnya dengan pelan.
"Kita mau kemana? aku nggak mau ya di ajak lomba makan lagi!" tegas Juni.
"Tidak. Tetapi mungkin lebih ekstrim dari itu!" ucap Risa. Mata Juni sontak membola. Dia merasa khawatir Risa akan melakulan hal-hal yang aneh.
"Ris, serius deh. Kamu kenapa?" Juni bertanya sekali lagi.
Syuut!
Risa menginjak rem secara tiba-tiba. Juni lantas menatapnya dengan gemertak giginya. Namun dia harus menyimpan omelannya, karena menyaksikan Risa tiba-tiba menangis. Gadis tersebut menelungkupkan kepalanya ke setir yang ada di depannya.
"Eh, kamu kenapa malah nangis? belum juga aku ngomong!" Juni menyentuh pelan pundak Risa. Tetapi pertanyaannya sama sekali tidak digubris oleh sang kekasih.
"Sudahlah Ris, bukankah katanya tadi mau jalan-jalan?" Juni mencoba menenangkan sambil mengelus pundak Risa lembut.
"Boo! kena kamu Jun! hahaha!" Ekspresi Risa tiba-tiba berubah menjadi tawa yang penuh akan kepuasan.
"Tega kamu ya! jahilin aku lagi. Nggak lucu tahu!" Juni membuang muka dari gadis yang duduk di sampingnya.
"Cup! cup! aku cuman pengen diperhatiin kok. Soalnya kalau tidak begitu kamunya nggak peka!" ungkap Risa dengan nada penuh penekanan. Dia kembali melanjutkan tawanya.
"Pokoknya nggak lucu!" sahut Juni dengan mimik wajah merengut.
"Ya sudah, kita beli es krim saja deh!" Risa kembali menjalankan mobil. Sedangkan Juni masih terlihat kesal dengan kejahilan Risa terhadapnya.
Sebenarnya air mata Risa bukanlah suatu kejahilan ataupun palsu. Tetapi rasa kesedihan yang mendalam. Gadis tersebut hanya merasa kesepian dan kurang kasih sayang. Terutama dari orang tuanya. Perilaku Bayu yang tak acuh dan jarang pulang akhir-akhir ini, sudah membuat Risa mulai memikirkan yang tidak-tidak.
'Apakah Ayah punya pacar? mungkin saja kan? tetapi kenapa aku takut ya.' pikir Risa seraya menekuni aktifitas mengemudinya.
"Kalai nyetir tuh jangan melamun!" tegur Juni yang tidak sengaja memergoki Risa.
"Eh siapa yang melamun!" bantah Risa sambil meringiskan wajah. "Jun, kamu kalau ibumu menikah lagi bakal setuju nggak?" celetuk-nya.
Juni yang tidak menduga akan pertanyaan itu, sontak membulatkan mata. "Apa? kenapa kau menanyakannya?" ia berbalik tanya.
"Penasaran saja. Apa kau tidak pernah memikirkannya? mungkin saja kan ibumu tertarik?" tutur Risa.
"Entahlah. Aku benar-benar tidak kepikiran sampai ke sana. Memangnya ayahmu mau menikah lagi?" Juni menatap ke arah gadis di sebelahnya.
"Enggak sih. Cuman aku curiga kepadanya akhir-akhir ini. Dia mulai jarang pulang ke rumah!" terang Risa.
"Bukannya ayahmu sibuk karena bekerja? jika sedang dekat dengan seorang wanita aku yakin dia pasti akan memberitahumu."
"Aku harap tidak. Kalau dia menikah lagi, aku ingin kabur saja darinya!" kata Risa. Juni yang mendengar matanya langsung terbelalak.
"Kabur? kemana?" timpal Juni yang merasa syok dengan pernyataan Risa.
"Menikah sama kamu dong! ckckck." Risa mencubit salah satu pipi Juni. Lalu kembali fokus menyetir.
"Ish! aku tadi nanya-nya serius loh sukimin!" geram Juni yang hanya bisa memotar bola mata malasnya.