Secret Love

Secret Love
Sayang Al?



Bian begitu teguh dengan pendiriannya kali ini. Pria keras kepala itu tetap bertahan. Ia tak mau sampai kehilangan orang-orang yang dia sayangi untuk kedua kalinya. Meski Kiana memandang tak suka terhadapnya, tapi Bian berusaha untuk bertahan walau gadis itu berulang kali memintanya untuk pergi.


Kiana tak lagi mau berbicara padanya. Sekuat tenaga Bian meluluhkan gadis itu percuma karena Kiana seketika kembali menjadi seorang yang dingin. Bian seperti orang asing yang tak diinginkan keberadaanya. Tak peduli sama sekali Kiana dengan keberadaannya di sana.


Ia hanya dapat menyaksikan interaksi yang terjadi diantara ibu dan anak itu di depannya. Ingin rasanya ia mendekat untuk bergabung bersama anak dan istrinya. Bersenda gurau, bahkan memeluk hangat hingga ia dapat merasakan perasaan membuncah di hatinya. Namun semua itu hanyalah angannya saja, ia dapat melihat dengan jelas Kiana yang begitu acuh padanya.


Bian tersenyum miris melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Irisan bening matanya menampakkan kebinaran atas suasana hangat yang terjadi saat itu juga. Namun hatinya begitu nelangsa merasakan kepedihan yang menyayat perih. Dirinya begitu jauh dari anak dan istrinya. Bian dapat merasakan ada jarak yang memisahkan antara mereka meski kedua hatinya berada di depan mata.


Sorot matanya kini melihat kepergian Kiana bersama Al dalam gendongannya. Tak tinggal diam, Bian pun mengikuti perginya Kiana. Dapat Bian lihat pula Kiana tengah kesusahan menenangkan Al yang sedang menangis dalam gendongannya.


"Al menangis?" tanya Bian saat menghampiri Kiana.


Kiana acuh tak menjawab pertanyaan pria yang baru saja terpogoh-pogoh menghampirinya. Terlihat jelas raut muka pria itu penuh dengan kekhawatiran saat menyaksikan bayi kecilnya itu sedang menangis.


"Kenapa Al menangis? Ada apa dengannya?" tanya lagi Bian yang masih dilanda kecemasan. Tak tega saat melihat putranya menangis seperti itu.


"Ki? Bayinya kita kenapa?" tak sabar Bian terus melontarkan pertanyaan pada Kiana yang masih saja bergeming.


Tak mendapat respon dari Kiana, Bian beralih pada bayinya yang tengah menangis seraya mengulurkan tangannya untuk meraih raga mungil tersebut.


"Sayang..." ucap Bian sendu menatap mata jernih yang berair itu. Namun tak di duga, Kiana menjauhkan Al dari sentuhan Bian yang ingin mencoba menenangkan putranya itu.


"Ki," protes Bian pada Kiana. "Apa salahnya saya yang cuma mau menenangkan bayi kita."


"Bapak salah karena Al adalah bayi saya, jadi jangan pernah mencoba untuk mendekatinya lagi karena Bapak nggak punya hak untuk itu." ucap Kiana ketus membuat Bian menghela napasnya berulang kali untuk mengontrol emosinya.


Bian menghela napas frustasi. Ia menyugar rambutnya ke belakang seraya mengusap kasar wajah dengan kedua tangannya.


"Saya mohon Ki, jangan membuat saya semakin bersalah dengan kamu menjauhkan saya dari Al. Walau bagaimana pun saya adalah ayahnya. Dia membutuhkan saya." tutur Bian memelas.


"Kamu boleh menghukum saya, tapi tidak dengan menjauhkan saya dari kehidupan kalian."


Kiana seolah menulikan pendengarannya. Ia tak menggubris sama sekali kalimat Bian yang walau nyatanya membuat ia sedikit merasa kesal dan marah. Pria itu memang sangat keras kepala. Ingin dimengerti tetapi tak bisa memahami keadaannya. Apa semua laki-laki seperti itu? Kiana tak habis pikir, pria itu sangat-sangat egois.


"Anak ibu udah haus, iya? Kasihan anak shalehnya ibu, sabar ya sayang sebentar lagi Nak," ucap Kiana pada bayinya.


"Ki, apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya dengan dahi mengernyit. Bian dapat melihat apa yang sedang Kiana lakukan untuk memberi minum bayinya. Kiana tengah meracik minuman dari air sisa mencuci beras yang dimasak matang sebelumnya, kemudian diberi sedikit gula anggur khusus untuk bayi sebagai perasanya.


"Kasihan anak ibu..." Kiana memberikan botol minum tersebut ke mulut mungil bayinya. "Iya-iya, Al sekarang bisa minum. Sabar Nak, pelan-pelan minumnya nanti bisa tersedak."


"Apa itu?" tanya Bian menyelidik dengan mata menyipit. "Kia, apa yang kamu berikan untuk Al?" tanya ulang Bian pada Kiana.


"Minum," balas Kiana datar tak sedikit pun menoleh pada pria itu.


Mata Bian membulat penuh. Tak salahkah pendengarannya saat Kiana mengatakan omong kosong itu? Minuman untuk Al katanya? Sumpah demi Tuhan, Bian tak habis pikir atas apa yang dia saksikan saat itu juga.


Dengan cepat Bian mengambil botol minuman yang sudah menempel di mulut mungil bayinya. Sekuat tenaga Bian melempar asal benda tersebut hingga tumpah berceceran di lantai.


Hingga kembali terdengar suara tangis si kecil yang menggema di seluruh penjuru ruangan akibat terkejut.


"Pikiran apa yang merasuki kamu hingga tega memberikan minuman seperti itu untuk Al?!" pekik Bian dengan nada tinggi penuh emosi yang mulai menyulut tak sengaja membentak Kiana.


Kiana tak menyahut, gadis itu hanya terdiam dengan uraian mata yang membasahi pipinya. Al yang berada dalam gendongannya pun kembali ikut menangis mendengar suara menggelegar dari Bian.


"Sayang... Maafin Bapak Nak yang sudah membuat kamu kesusahan selama ini. Bapak janji akan memberikan apapun yang kamu butuhkan saat ini. Al bisa tunggu, Bapak?Bapak pergi sebentar dan akan cepat kembali pulang untuk Al. Tunggu Bapak ya," ucap Bian seraya mengecup kening putranya.


Tak lama kemudian pria itu pergi meninggalkan rumah tanpa menoleh pada Kiana sedikitpun yang masih menangis dalam diam.


***


Bian menatap sendu putra kecilnya yang tengah menyedot minumannya dengan begitu lahap dalam pangkuannya. Pria itu mengelus lembut kulit wajah Al dengan ujung jarinya saat bibir mungil itu masih sibuk dengan minumannya. Terdengar suara napas si kecil yang terengah-engah kala menahan kuat botol susu yang melekat erat di mulut kecilnya.


"Pelan-pelan, Nak." ucap Bian bahagia melihat si kecil yang begitu asik dengan sebotol susu formula bayi yang Bian bawa setelah kembali ke rumah dengan tergesa-gesa.


"Minum yang banyak ya, Nak. Agar Al cepat sembuh dan sehat kembali. Al harus kuat. Karena Al adalah pelita hati Bapak. Mulai sekarang Al bisa minum susu sepuasnya tanpa harus merasa khawatir karena Bapak udah menyiapkan banyak untuk kamu, Nak."


Kiana yang mendengar kalimat itu langsung menoleh pada tumpukan karton susu formula yang Bian bawa setelah pria itu pergi begitu saja dan kembali membawa sesuatu yang cukup membuat Kiana tercengang.


Gadis itu hanya dapat duduk menundukkan kepalanya seraya memperhatikan interaksi antara bayinya bersama Bian. Kedua pria berbeda generasi itu tampak harmonis. Ayah dan anak itu seolah memperlihatkan kehangatan yang terjalin karena ikatan batin diantara mereka.


Sungguh Kiana merasa terharu melihat semua itu. Terlebih saat ini bayinya dapat merasakan kasih sayang seorang ayah yang belum pernah ia dapatkan sejak ia lahir dari sosok seorang Bian. Kiana tak dapat menyangka, dibalik sosok Bian yang keras kepala dan arogannya, pria itu memiliki kasih sayang figur seorang ayah yang dapat menyayangi anaknya sepenuh hati. Kiana dapat melihat pancaran tersebut dari irisan mata indah Bian yang menunjukkan ketulusan.


Kedua pasang manik tersebut beradu pandang beberapa saat dengan tak sengaja. Kiana dapat melihat sorot mata penuh dengan kelembutan terpancar dari mata pria itu. Jangan abaikan sebuah senyum manis terbit di wajah Bian kala menatap lamat dirinya. Kiana terpesona pada pahatan sempurna dari makhluk ciptaan sang maha kuasa tersebut.


Hingga sampai Kiana tersadar ia memalingkan wajahnya memutuskan padangan mata mereka yang membuat debaran jantung miliknya kembali bertalu-talu dengan tidak tahu malunya.


Wajah Kiana memerah. Malu rasanya ia memperhatikan Bian seperti itu. Apa pria itu menyadari apa yang dilakukannya? Kiana menggelengkan kepalanya. Bian memang pria yang tampan. Pantas saja banyak wanita yang tergila-gila padanya hingga dapat melakukan apapun untuk mendapatkannya.


Termasuk Linda. Wanita itu mungkin saja berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Teringat jelas olehnya wanita itu berusaha melakukan cara apapun untuk mendapatkan Bian. Termasuk menyingkirkannya dengan cara licik menghancurkan hatinya yang rapuh. Selain memiliki paras cantik yang nyaris sempurna, wajar saja Bian sangat mencintai wanita itu. Jauh berbeda dengan dirinya yang hanya seorang pembantu hina yang terikat oleh keberadaan seorang makhluk kecil diantara mereka. Ya, terlebih sepasang kekasih itu saling mencintai. Pastilah hidup mereka sangat bahagia saat ini.


Kiana tersenyum kecut. Mengingat semua itu mendadak hatinya kembali terasa sakit. Kiana sudah bertekad akan melupakan semua yang telah terjadi dan menguburnya dalam-dalam. Biarlah semua kesakitan itu hanya dia yang merasakan. Terlebih saat ini dia memiliki buah hatinya sebagai lentera dan pelipur lara dikala hidupnya hancur. Dia tak pantas. Tak pantas berada di tengah orang-orang yang selalu memberikannya kesakitan. Kiana akan pergi membawa luka yang dalam di hatinya.


Tapi, tapi mengapa pria itu kembali pada ke kehidupannya? Apa itu semua karena Al? Tapi kemana dia selama ini jika memang peduli pada darah dagingnya itu? Tak peduli kah pria itu untuk sudi mencari keberadaan bayinya selama ini?


Kiana menghela napas dalam untuk melegakan hatinya yang semakin terasa sesak. Hingga suara bas mengalun indah di telinganya hingga membuat Kiana menoleh pada pemilik suara tersebut.


"Kamu jangan khawatir, semua susu formula ini aman untuk di minum oleh Al." ucap Bian pada Kiana. Gadis itu hanya mengerungkan dahinya mendengar kalimat Bian. Pria itu tersenyum melihat wajah polos istrinya.


"Terbuat dari susu kedelai, jadi aman untuk bayi kita yang sedang sakit karena alergi susu formula biasa." tuturnya lagi.


"Kamu bisa minum sepuasnya, Nak. Al suka? Bapak senang kalau kamu suka. Habiskan semuanya ya, biar Bapak bisa membelikannya lebih banyak lagi buat Al." Bian beralih pada bayinya yang tengah menatapnya dengan sebotol susu yang masih menggantung di mulutnya.


"Saya masih ingat jelas apa yang kamu katakan pada dokter tempo hari mengenai keadaan Al. Maafin saya Ki, nggak seharusnya saya membentak kamu seperti tadi. Saya cuma terkejut saat kamu memberikan minuman aneh yang mungkin saja bisa membuat Al semakin sakit."


"Dia sudah terbiasa," balas Kiana dengan nada dingin ketika merasa Bian menyinggungnya.


"Saya tahu, saya tahu mungkin selama ini Al terbiasa. Tapi yang saya takutkan jika itu akan membahayakan Al di kemudian hari. Biarkan saya bertanggung jawab sebisa apa yang dapat saya lakukan. Karena bagaimana pun saya adalah ayahnya. Seorang ayah berhak untuk membuat kehidupan anaknya lebih baik. Jadi beri saya kesempatan itu, Ki. Jangan biarkan saya semakin bersalah pada kalian. Al membutuhkan saya."


"Seorang ayah tidak hanya memberikan tangung jawab pada anaknya saja, akan tetapi kasih sayang yang diberikan itu cukup lebih baik dari apapun. Al membutuhkan keduanya selama ini. Lalu Bapak?"


"Saya sangat menyayangi Al," ucap Bian lirih.


"Dan Bapak tidak memperdulikannya."


"Sangat, saya sangat peduli, saya menyayangi Al."


"Lalu kemana saja selama ini? Apa Bapak berusaha mencarinya di tengah kesulitan yang sedang dihadapinya? Apa Bapak ada saat dia menangis karena kelaparan? Apa Bapak ada di saat dia menangis karena sakit? Apa Bapak ada saat dia menangis karena merindukan sosok ayahnya?"


"Ki..."


"Apa itu bisa di sebut kasih sayang dari seorang ayah pada anaknya? Apa itu sebuah kepedulian?" Kiana tersenyum sinis seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu bukan apa-apa. Kami sudah berjuang selama ini tanpa Bapak. Lalu kenapa anda datang begitu saja di saat kami berusaha untuk melupakan?"


"Nggak, saya nggak mau kalian lupakan, Ki. Saya membutuhkan kalian berdua dalam hidup saya. Rasanya tersiksa diri ini hingga hati saya hancur mendapati kalian pergi begitu saja. Saya berusaha selama ini untuk bangkit dari keterpurukan itu, demi kalian."


"Dan itu yang kalian inginkan bukan? Bukankah saat ini kalian hidup bahagia? Lalu kenapa harus membutuhkan kami lagi? Kami adalah orang yang tidak penting dalam hidup Bapak. Orang hina seperti kami memang pantas untuk dilupakan." ujar Kiana menyuarakan kepedihan hatinya secara gamblang.


"Kamu salah, saya berusaha saat itu. Dan rasanya sangat sakit menerima kenyataan pahit itu..."


"Apapun alasannya, kami sedang berusaha untuk mencari kebahagiaan kami. Jadi saya mohon, pergi Pak. Biarkan kami. Kami akan baik-baik saja meski itu tanpa Bapak sekalipun. Jangan membawa lagi masalah yang lebih berat untuk kami. Karena orang kecil seperti kami tidak akan mampu untuk melewatinya. Cukup, saya lelah dengan semuanya. Kembali lah pada keluarga Bapak, anak dan istri anda pasti sedang menunggu kepulangan anda. Jangan urusi kami yang bukan siapa-siapa." Kiana bangkit pergi meninggalkan kedua pria itu


dengan deraian air mata yang lolos mengalir di pipinya.


Sekali lagi, hatinya begitu perih dan sakit pada dunia yang semakin kejam serta merta tak selalu memihak kepadanya. Kiana menyeka air matanya saat tubuhnya bergetar hebat menahan isak tangis dengan meluruhkan raganya dan bersimpuh di lantai.