Secret Love

Secret Love
May I?



Titik-titik hujan masih berjatuhan semakin kerap membasahi bumi. Seiring derap langkah cepat yang saling mengayun untuk menghindari tetesan air yang akan membuat mereka semakin basah di malam itu.


Bian menarik Kiana untuk berjalan mengarah ke kamar gadis itu, setelah sebelumnya mobil yang ia parkirkan dibiarkan begitu saja di depan pelataran rumah.


Bian mengiring Kiana untuk segera masuk ke dalam. Kemudian pria itu pun ikut masuk dan tanpa diduga Bian menutup pintu lalu menguncinya.


"Merasa pusing?" tanya Bian menghampiri Kiana yang tengah mengelap tubuhnya dengan handuk.


"Nggak," Kiana menggelengkan kepalanya, melanjutkan kembali apa yang sedang ia lakukan.


Bian mengangguk pelan. Kemudian ikut duduk di samping Kiana, memperhatikan gadis itu dengan tatapan mengembun.


Buliran air masih menetes berjatuhan dari rambut panjang Kiana yang basah mengalir ke wajahnya. Bian terkesima, ia menelan salivanya dengan susah payah. Melihat Kiana seperti itu saja membuat Bian kembali merasakan desiran aneh di dalam tubuhnya.


"Baju Bapak basah," ucap Kiana saat memperhatikan Bian yang berada di sampingnya.


"Iya, basah." balas Bian dengan kekehan kecil seraya melihat pakaiannya memang basah.


"Bapak harus cepat ganti pakaian, nanti bisa masuk angin." ucap Kiana seraya bangkit dari duduknya.


Bian tersenyum kecil, ia tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya kala Kiana begitu perhatian padanya.


"Ki," panggilnya menahan Kiana agar tak beranjak dari tempatnya. "Kamu mau kemana?" tanya Bian sembari memegang pergelangan tangan Kiana.


"Ambil baju buat Bapak. Kebetulan baju Pak Bian masih ada di sini belum saya kembalikan."


"Nggak perlu, kamu disini aja." larang Bian, ia membawa Kiana untuk duduk kembali di tempat yang sama dengannya.


"Nanti Bapak bisa sakit,"


"Saya lebih khawatirin kamu sakit dibanding saya sendiri." Bian menghadap pada Kiana. Ia menatap lekat wajah Kiana seraya mengulurkan satu tangannya untuk mengusap pipi gadis itu.


Salah tingkah ditatap seperti itu oleh Bian, Kiana memalingkan wajahnya dari sorot mata yang membuat ia merasakan keresahan dalam hatinya.


"Saya ambilkan baju saj--"


"Sstt..." Bian menutup bibir Kiana yang sedang bersuara. Ia meletakkan satu jarinya dipermukaan bibir gadis itu. Mengusap lembut benda yang terasa kenyal dan hangat di jemarinya. "Saya nggak mau kamu kemana-mana." ucapnya lagi.


Kiana terpaku kala merasakan Bian merangkum wajahnya dengan kedua tangan besar pria itu. Ia dapat merasakan betapa dinginnya telapak tangan yang berwarna putih memucat itu. Saat ini hatinya tengah bertalu-talu ketika Bian semakin mendekatkan diri pada dirinya.


Bian sungguh tak kuasa menahan perasaan yang bergejolak di dalam dirinya. Dihadapannya kini terdapat sosok gadis yang membuat perasaannya tak karuan. Di usapnya setiap jengkal wajah Kiana tanpa ada yang terlewat. Ia lebih mendekatkan dirinya lagi pada Kiana sehingga tak ada jarak yang membatasi diantara mereka.


Di kecupnya bibir Kiana penuh dengan perasaan. Berlanjut tanpa henti hingga Bian mulai memagut mesra bibir yang ranum menggoda imannya itu. Merasai setiap manis madu yang ia dapatkan dari setiap sesapan yang ia lakukan. Bian benar-benar tengah terbakar gairah asmara.


"Pak..." desah Kiana saat ia merasakan Bian mulai mencumbui dirinya. Leher jenjang putih miliknya pun tak surut menjadi sasaran pria itu. Kedua tangannya mencengkram erat pungung Bian kala menahan sesuatu perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Bian seolah menulikan telinganya. Ia kembali meraup bibir Kiana untuk ia pagut, mengecapnya dengan lembut, dan mengeksplor setiap bagian yang ada di dalamnya, sehingga memberikan sensasi yang membuat Bian semakin bersemangat untuk menjelajahi permukaan lain dari diri Kiana.


Bian melepaskan tautan bibirnya pada Kiana setelah merasakan napas gadis itu terengah-engah akibat ulahnya. Ia menatap wajah Kiana yang memerah, sejurus kemudian membawa gadis itu untuk ia tidurkan bersamaan dengan dirinya yang kini tengah mengungkung berada di atas tubuh Kiana.


"Pak," lirih Kiana, ia menahan dada bidang pria itu yang hampir saja menghimpit dirinya. Kiana takut sekali jika Bian melakukan hal yang akan membuatnya trauma dan kesakitan sama saat seperti dulu.


Bian kembali mengecup bibir ranum yang selalu membuatnya salah tingkah. Tak hanya sampai di situ saja, Bian kembali mengecup semua permukaan wajah Kiana tanpa ada yang terlewat, menenangkan ketakutannya yang berakhir di kening gadis itu dengan lama.


"May I?" ucap Bian dengan suara beratnya.


Tatapan Bian meredup berkabut gairah penuh dengan dambaan kala menatap mata Kiana yang mulai terlihat sayu.


"Trust me, baby..." ucapnya lagi dengan semburat senyum yang memabukkan Kiana, Bian mengusap pipi merah merona Kiana seraya kemudian bangkit sesaat untuk melepas pakaian yang melekat diantara mereka.


***


"Mama..." panggil Fira berlari menghampiri ibunya yang baru saja keluar dari mobil yang membawanya pulang dari airport menuju rumah mereka.


Fira memeluk ibunya, sekaligus menciumi kedua pipi Bu Ajeng melepas kerinduan yang dirasakan olehnya selama beberapa minggu terakhir ini setelah kepulangannya sendiri.


"Kangen ih..." rengeknya lagi seraya menenggelamkan wajahnya pada pelukan ibunya.


"Anak gadis Mama udah gede, nggak malu apa masih manja kayak gini?" tutur Bu Ajeng melihat kelakuan anak gadisnya yang tidak pernah berubah sejak dulu. Tapi pada akhirnya Bu Ajeng membalas pelukan Fira juga. Dia sendiri pun rindu dengan anak-anaknya. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjaan sang suami yang tidak dapat ditinggalkan mengharuskan mereka melepas Fira untuk pulang lebih dulu ke tanah air.


"Aku kan kangen, hiks..." ujarnya dengan menitikkan air mata. "Kenapa coba baru pulang sekarang. Kenapa juga nggak kemarin-kemarin. Aku kan kesepian nggak ada temen," adunya dengan rengekan manjanya.


"Udah ah, malu udah gede nangis kayak gitu. Mama Papa kan udah pulang ini, lagian di rumah kan ada kakak kamu juga."


"Sama aja. Kak Bian sibuk sama urusannya sendiri. Aku ditinggalin sendiri terus di rumah. Eh, enggak deh. Untung ada Kiana sama Mbok yang suka nemenin aku."


"Jadi kangennya sama Mama aja nih? Sama Papa nggak kangen?" sahut Pak Hardi yang berdiri di samping istri dan anaknya. "Hem, nasib jadi seorang ayah memang harus menjadi nomor dua setelah ibunya. Anak-anak Papa nggak ada yang kangen satu pun juga." Pak Hardi berpura-pura memelas dengan wajah sendu yang dibuat-buat. Menarik perhatian anak gadisnya yang saat ini lengket pada ibunya.


"Ih Papa, aku kangen juga tahu! Satu-satu dulu, aku nya kan cuma ada satu. Jadi gantian ya?" ucap Fira masih seperti anak kecil. Sangat menggemaskan di mata Bu Ajeng dan Pak Hardi. Mereka masih tak percaya, anak gadis kecilnya sudah bertumbuh dewasa saat ini.


"Ya udah, Papa ngalah aja." ujar Pak Hardi dengan kekehannya mengusak rambut putri bungsunya.


"Iya, iya, aku peluk juga Papa," Fira memeluk ayahnya tak kalah erat sama seperti kepada ibunya. Pak Hardi tersenyum simpul menyaksikan sikap putrinya yang masih sama seperti dulu.


"Bian mana, Ra?"


"Nggak tahu," Fira mengendikkan bahunya. "Aku kan baru pulang dari rumah Tante Nia Ma, itu pun juga kaget karena Mama dan Papa udah nyampe aja."


"Dia lagi sibuk mungkin, Ma." sahut Pak Hardi.


"Iya, sibuk keluyuran dia. Awas aja nanti kalau ada apa-apa nyusahin semua orang lagi."


"Udah-udah, Mama kan bisa telpon Bian nanti. Ayo masuk, Papa udah capek ini." ajaknya pada istrinya.


"Pa, pesenan aku mana?" pinta Fira pada Pak Hardi.


"Apa?"


"Ih... itu loh yang kemarin aku bilang, Papa nggak lupa kan?"


"Inget-inget, Papa inget Kok. Ada di dalem koper tuh. Tapi ada syaratnya, bawain dulu kopernya ke dalam. Ayo, anak gadis nggak boleh males, nanti susah dapat jodoh." sambungnya menggoda putri kesayangannya.


Fira hanya mencembikkan bibirnya cemberut saat mendengar perkataan ayahnya. Namun tak ayal juga iya meraih koper milik kedua orang tuanya untuk ia bawa masuk ke dalam rumah.


***


Kiana mengerjapkan matanya saat mendengar suara berdering yang begitu nyaring sejak tadi seolah mengusik tidurnya yang terasa lelap. Ia terpaksa untuk membuka kedua matanya meski rasa kantuk dan lelah masih mendera dirinya.


Terkesiap sejenak, ia terkejut saat membuka mata untuk pertama kalinya di pagi itu. Ia mendapati Bian yang tengah memejamkan matanya berada di bawah raganya yang juga sedang memeluk pria itu.


Kiana reflek melepaskan belitan tangannya pada tubuh Bian, hingga pria itu nampak terusik dengan pegerakan yang berada di atas tubuhnya.


"Mau kemana?" tanya Bian dengan suara seraknya merasakan Kiana yang hendak bangkit dari atas tubuhnya.


"Pak Bian bangun?" ucap Kiana yang mengehentikan pergerakannya. "Saya-ini--ponsel Bapak bunyi sejak tadi." ungkapnya dengan terbata, ia salah tingkah saat melihat posisi tidurnya yang tengkurap berada di atas tubuh Bian.


"Saya kira apa." balas Bian menghempaskan kembali raganya di samping Kiana yang kini sudah terduduk dengan memegang selimut sebatas dadanya. Bian menghela napas panjang. Ia meraih ponselnya di atas nakas, kemudian memeriksanya sebentar.


"Mama?" ucapnya dengan kening mengkerut.


Kiana menoleh pada Bian yang masih berbaring memainkan ponselnya. "Bu Ajeng?"


"Iya, Mama nelpon sejak tadi rupanya." ucap Bian. "Ada apa Mama nelponin saya sebanyak ini? Tumben sekali."


"Saya ke kamar mandi dulu." izin Kiana pada Bian seraya membawa selimut yang ia lilitkan pada tubuhnya.


"Tunggu," tahan Bian sebelum Kiana melangkah pergi.


"Bapak butuh sesuatu?"


Bian menggeleng pelan. "Kamu yakin bisa jalan?"


"Maksud Bapak?"


"Nggak sakit?" yakinnya lagi memastikan keadaan Kiana.


Kiana termenung sesaat untuk memahami kalimat Bian yang begitu ambigu baginya. Tapi tak lama kemudian, Kiana memalingkan wajahnya tersipu malu saat menyadari perkataan Bian untuknya.


"Saya nggak apa-apa, Bapak nggak perlu khawatir." ungkap Kiana yang begitu malu saat mengatakannya.


"Yakin? Kalau sakit saya bantu. Mau?" tawar Bian yang hampir bangkit dari tempatnya dengan keadaan dirinya yang tak memakai pakaian sehelai benang pun.


Kiana menggelengkan kepalanya. Ia meremat kain selimut yang ia pakai untuk menetralkan debaran kuat di dadanya.


"Saya tinggal lebih dulu tidak apa? Kamu akan baik-baik saja kalau saya tinggal sendiri di sini?"


"Iya," jawab Kiana singkat.


Bian berdiri dengan tanpa malu meski ia tak berpakaian sama sekali dihadapan Kiana. Memungut pakaiannya yang tergeletak begitu saja bercampur dengan milik Kiana karena ulah dirinya saat semalam.


Kiana sempat memalingkan wajahnya kembali saat melihat Bian seperti itu. Kiana jadi malu sendiri jadinya. Ia menggigit bibir bawahnya tanpa sadar.


Dengan cepat Bian memakai pakaiannya. Lalu pria itu mendekati Kiana untuk mengatakan sesuatu


"Cepat membersikan diri, sepertinya kita kesiangan kali ini." ucapnya dengan memegang kedua bahu polos Kiana. "Saya tinggal dulu, temui saya di lantai atas. Oke?"


Kiana menganggukkan kepalanya sepintas. Ia mendongakkan wajahnya untuk melihat Bian yang berdiri tegak tepat di hadapannya.


Bian mensejajarkan kepalanya dengan kepala Kiana. Mengecup lembut bibir Kiana sebelum ia pergi.


"Saya pergi," ucapnya dengan senyuman yang merekah di bibirnya. Mengusap lembut pipi Kiana.


Kiana mematung melihat kepergian Bian. Hati dan pikirannya seketika berkecamuk penuh kebimbangan dengan sikap dan tindakan Bian yang dilakukan selama ini padanya.


Hati Kiana bsrtanya-tanya.


Apa arti dari semua ini? Apakah mungkin saat ini Bian telah menerima keberadaan dirinya dalam kehidupan pria itu sepenuhnya? Tapi apa itu mungkin?


Kiana mengesah pelan.


Kiana tidak ingin ber-asa tinggi. Ia takut jika kemungkinan apa yang dia pikirkan akan jauh dari pengharapannya selama ini. Ia takut jika apa yang dia rasakan saat ini hanya dirasakan olehnya saja, tapi tidak dengan Bian.


Namun, bolehkah Kiana menggantung harapan?