Secret Love

Secret Love
Chapter 39



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Aku dan Daffa sama-sama terdiam sesaat, tercermin raut kecemasan dari wajahnya.


"Pasti nanti ibu bakalan sidang aku,"


"Terus aku harus jawab apa?"


"Mungkin ini sudah saatnya orang kita tahu hubungan kita sekarang ini."


"Kamu yakin?"


"Tentu saja,"


"Mau kita sembunyikan hubungan kita ini sebaik apa pun, tetap saja akan tercium juga."


"Apalagi Al sudah lebih tahu tentang hubungan kita." Lanjutnya.


"Aku tidak yakin, aku akan siap untuk menghadapi ibu nanti."


"Tenang saja, nanti aku akan temani kamu. Biar bagaimana pun, aku yang lebih dulu ingin memulai hubungan ini." Jelasnya.


"Baiklah......."


Setelah mencapai kesepakatan, aku dan Daffa pun melanjutkan perjalanan kami menuju sekolah.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di sekolah, saat di parkiran kami malah bertemu dengan Rachel. Melihat kedatangan Daffa, yang tadinya Rachel tengah ngobrol dengan kedua temannya pun langsung menghampiri kami.


"Kak Daf.....!" Serunya.


"Hai....."


"Ya ampun, anak ini." Ucap Daffa pelan.


"Ya udah sebaiknya kamu hadapi dulu dia, aku ke kelas duluan."


Aku pun memutuskan untuk pergi ke kelas lebih dulu, soalnya aku tahu Rachel tidak akan menyukai keberadaan ku saat ini.


"Kenapa?" Tanya Daffa.


"Enggak, aku hanya mau sapa kak Daffa aja."


"Oh iya, ngomong-ngomong aku dengar kak Nizi sudah jadian sama kak Nathan."


"Berarti itu artinya, aku sudah tidak punya saingan lagi dong sekarang." Dengan polosnya.


Mendengar ucapan Rachel barusan, Daffa langsung terkekeh.


"Aku nggak tahu kalau masalah itu, tapi masalahnya itu sekarang ini aku sudah tidak sendirian lagi. Lebih tepatnya aku sudah punya pendamping," jelas Daffa.


"Hah? Apa?" Rachel terkejut.


"Aku tidak percaya," lanjutnya.


"Aku serius, aku tidak sedang becanda saat ini."


"Tapi aku nggak pernah sekalipun lihat kakak,menggandeng cewek."


"Ya itu karena......"


"Kakak jangan coba buat aku berhenti menyukai kakak, itu tidak akan berhasil tau nggak."


Ucapan Daffa langsung terpotong,mendengar Rachel berbicara seperti itu Daffa sangat terkejut.


"Pokoknya aku akan melakukan berbagai cara,untuk mendapatkan kakak. Terlebih lagi sekarang ini, aku sudah tidak punya lagi saingan." Jelasnya.


Setelah itu, Rachel langsung pergi sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Ya ampun anak satu ini, enaknya di apakan yah?" Gumam Daffa.


"Wey, kamu lagi ngapain di sini sendirian?"


"Udah kayak orang stres aja." Lanjut Dio.


"Ya gimana aku nggak stres, itu si Rachel."


"Udah nggak ada Nizi yang mengganggu hari-hari ku sejak lama, sekarang malah gantian dia yang gangguin aku. Kebayang nggak, gimana capeknya aku saat ini."


"Ya harus di maklum, namanya juga cowok yang banyak di idolakan oleh siswa di sekolah ini."


"Makanya, sebaiknya kamu segera punya pendamping deh. Biar nggak di gangguin lagi," balas Dio.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Di kelas aku langsung menghampiri Agnes yang tengah duduk sendirian dan tengah fokus dengan HP nya.


"Hei....." Sapa ku.


"Kamu baru datang yah? Kok aku nggak sadar yah."


"Ya mau sadar gimana, kamu saja fokus dengan HP kamu itu."


"Hehe ini, aku lagi balas chat dari bund aku. Beliau lagi ke Semarang saat ini, nanya aku mau di bawain apa katanya."


"Menurut kamu enaknya di bawaan apa yah?" Tanyanya.


"Kalau tidak salah,Semarang itu identik dengan lumpia. Benar nggak sih?"


"Ah iya, kamu benar. Kok aku bisa lupa, padahal lumpianya itu enak banget. Untung aku nanya kamu dulu, tadi aku udah kebingungan." Jelasnya.


Tidak berselang lama, Daffa dan Dio pun datang dan bergabung dengan kami berdua.


"Kalian lagi ngobrolin apa sih?" Tanya Dio.


"Ah ini, lagi ngomongin bunda aku. Kan dia lagi di Semarang sekarang ini, nanya sama aku mau di bawain apa gitu." Jelas Agnes.


"Oh......"


"Itu wajah kamu kenapa Daf, kok di tekuk kayak gitu?''


"Ah ini, biasalah. Pagi-pagi udah ada yang ganggu si Rachel." Balas Dio.


"Makanya kamu tuh cepetan dong, punya gandengan. Biar cewek-cewek yang di kuar sana tuh, pada jauhi kamu."


Mendengar hal itu, aku langsung melihat ke arah Daffa dan memberi isyarat supaya dia tidak keceplosan.


"Iya......" Balas Daffa lemas.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Saat kami tengah ngumpul di depan kelas, karena hari ini tidak ada guru yang masuk. Tiba-tiba saja Daren dari bawah dengan setengah berlari, memberikan bungkusan plastik pada Daffa.


"Apa ini?" Tanya Daffa heran.


"Ah ini,"


"Tadi pas di kantin aku ketemu sama adik kelas kita, kalau nggak salah namanya Rachel. Dia mint aku bawain itu untuk kamu," jelasnya.


"Udah terima aja Daf, lumayan buat teman cemilan kalian kan lagi ngumpul." Lanjutnya.


Daffa yang tadinya berniat tidak menerima bingkisan itu pun, langsung menerimanya dan menyimpannya tepat di tengah-tengah.


"Lumayan juga, jadi kit tidak perlu jauh-jauh pergi ke kantin." Ucap Dio.


"Ya udah makan aja, aku nggak mau." Timpal Daffa.


Dengan senang hati, Dio langsung membuka isi dari bungkusan itu dan langsung menyantapnya.


"Gimana sih kamu Dio, yang ada kamu itu jangan membukanya. Harusnya bingkisan ini di balikin sama Rachel, nanti yang ada anak itu beranggapan Daffa menerimanya lagi." Jelas Agnes.


Mendengar hal itu Daffa pun langsung membungkus kembali bingkisannya dan merebut snack yang tengah di makan Dio.


"Ya ampun, nggak kayak gini juga kali."


"Ini kan kita nggak minta, dapat di kasih." Lanjutnya.


"Tau ah, aku malah bingung."


Daffa pun langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke lantai bawah dengan wajah yang cemberut.


"Gara-gara kamu tuh," ucap Agnes.


"Kamu yang duluan. Kan emang Daffa nggak pernah minta, ini kan dapat di kasih." Balas Dio.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Pas jam istirahat, Daffa mendadak mengajak aku dan Dio untuk makan siang di kantin depan. Dio yang tadinya sudah bermaksud pergi menuju kantin yang biasa kami kunjungi pun langsung mutar balik.


"Kita mau makan apa sih? Udah enak-enak di kantin yang biasa." Ucapnya.


"Malas aku makan ke sana, nanti yang ada ketemu sama bocil itu lagi."


"Lah terus gimana sama Agnes, nanti dia nyarion kita lagi."


"Ya tinggal kamu telpon aja, ribet banget."


Sepertinya Daffa masih kesal dengan kejadian pas tadi pagi. Dari tadi di kelas dia kebanyakan diam dan tidur.


Aku merasa tidak enak sama dia, kalau saja aku tidak bersikeras untuk merahasiakan hubungan kami ini. Pastinya dia nggak akan kesulitan seperti sekarang ini. Terlebih lagi, kami berdua sudah di hadapkan dengan masalah ibu yang sudah penasaran dengan siapa aku sekarang ini pacaran.


Pulang sekolah nanti, kami sudah harus bersiap untuk menghadap ibu untuk bicara jujur sama beliau.


"Coba saja kalau......" Daffa tiba-tiba saja berhenti sambil berbalik melihat ke arah ku.