
Perusahaan Adijaya
"Baiklah, jadi kita sepakat untuk memulai proyek ini pada bulan depan sesuai dengan prosedur dan poin-poin yang sudah kita sepakati sebelumnya. Kami harap semua dapat berjalan dengan lancar, tanpa ada hambatan, dan Bapak-Ibu sehat-sehat selalu untuk mewujudkan kesuksesan kerja sama kita." tutur Dimas dipenghujung meeting antara dua perusahaan besar milik Adijaya dan salah satu anak cabang perusahaan milik kedua orang tua Daniel yang berada di Indonesia.
"Jika tidak ada lagi pembahasan yang berlanjut, maka saya tutup meeting hari ini. Terima kasih, dan selamat beraktifitas kembali." Dimas menutup pertemuan yang terbilang sangat sukses dan berjalan lancar tanpa ada hambatan dan perbedaan pendapat untuk menyegerakan pengerjaan proyek mereka.
Semua staff yang mengikuti pertemuan membubarkan diri, kembali ke kegiatannya masing-masing baik dari pihak Adijaya maupun Daniel.
Bian membawa Daniel ke ruangannya yang diikuti oleh Dimas dan seorang wanita cantik yang merupakan sekretaris Daniel yang mengekorinya sejak tadi di belakang.
"Dim," panggil Bian saat mereka sampai di depan pintu ruangannya, namun sedikit geram karena asistennya itu tak menyahutinya karena sedang sibuk diam-diam melirik sekretaris Daniel yang berada di sampingnya. "Dimas!" panggilnya lagi dengan nada sedikit tinggi.
"I-iya, Pak?" Dimas gelapan karena tertangkap basah tengah mencuri-curi pandang sekretaris cantik tersebut.
Bian berdecak pelan. Dan itu terlihat jelas oleh Dimas kalau atasannya itu pasti sedang kesal padanya.
"Saya lanjut lagi mengobrol di dalam. Jangan ganggu, ini privacy. Handle pekerjaan sebaik mungkin. Ingatkan saya kalau sudah masuk jam makan siang." perintah Bian pada Dimas yang dijawab dengan anggukan oleh laki-laki itu.
"Puri, saya minta hasil meeting hari ini kamu rekap dan back up ke email saya."
"Baik, Pak." jawab lugas sekretarisnya itu.
"Niel, ada yang ingin gue omongin sama lo. Penting ini. Mumpung ada di sini juga. Ribet kalau ketemuan di cafe. Apalagi kalau ada Elang, nggak percaya gue sama mulut lemesnya."
"Memangnya kenapa kalau ada Elang?" tanya Daniel tak paham.
"Ck, udah deh. Nanti aja gue ceritain. Gue butuh pencerahan dari sahabat gue yang paling waras. Bukan yang malah berkontribusi buat ngomporin terus mojokin gue nantinya. Males gue," kelakarnya bersedekap tangan. Daniel hanya manggut-manggut mengiyakan apa kata Bian. Banyak bertanya dan menyanggah lelaki itu, sama saja dengan ia masuk ke dalam lubang yang sama seperti dengan Elang. Bian dan Elang memang 11-12 bawelnya, apalagi yang ini satu, Bian-emosian tingkat dewa.
"Riska, kamu kembali lebih dulu ke kantor sendiri tidak apa-apa? Saya masih ada keperluan di sini." tanyanya pada sekretarisnya.
Dimas senyum-senyum sumringah yang berada tepat di samping wanita itu. 'Oh... jadi namanya Riska? Hihi...' laki-laki itu mesam-mesem sendiri.
"Tidak apa, Pak. Kalau begitu saya pamit. Mari Pak Bian, Pak?" ucap Riska melihat pada Dimas yang saat itu belum tahu namanya.
"Dimas, nama saya Dimas. Salam kenal, hehe..."
"Ah, iya. Mari Pak Dimas, Bu Puri..." pamit Riska pada semua orang yang ada di sana. Wanita itu pergi berjalan dengan anggun. Mata Dimas sejak tadi tak lepas memperhatikan Riska yang mana mendapat cubitan lengan dari Puri dengan tatapan mata yang menyipit.
"Norak!" bisiknya dengan mengeratkan gigi dengan nada setengah kesal. Dimas memutar matanya malas saat mendengar ejekan dari partner kerjanya itu.
"Sudah, Dim. Kamu pergi sana..." usir Bian pada asistennya itu. "Ayo-ayo, Niel. Gue udah nggak sabar liat reaksi lo saat denger cerita gue." ajaknya pada Daniel yang mengikuti langkah Bian masuk ke dalam ruangannya.
Tertinggal Dimas sendiri di sana, berdiri di depan pintu yang tertutup rapat dengan wajah masam mencebikkan bibirnya.
"Bos, rese!" umpatnya dengan kesal.
***
"Kamu makin berisi, Ki." ucap Mbok pada Kiana saat mereka sedang berada di dapur memilah sayur mayur yang akan di gunakan untuk memasak besok hari.
"Apanya, Mbok?" tanya Kiana kurang paham.
"Kamunya, badan kamu makin berisi sekarang."
"Masa sih, Mbok? Emang aku keliatan gendutan ya?"
"Ya bukan gendut. Tapi lebih berisi saja. Beda saat dulu kamu baru datang ke sini." pasalnya ia melihat perubahan yang signifikan dari Kiana yang sangat berbeda dari biasanya. Bukan hanya badan Kiana yang terlihat lebih berisi, tapi akhir-akhir ini Kiana terlihat sering sekali mengemil makanan apa saja. Memang bukan hal yang aneh bagi gadis belia seusia Kiana mengalami perubahan transisi menuju usia dewasa. Tapi, si Mbok merasa ada yang aneh dan janggal ia tangkap dari perubahan Kiana.
"Makin jelek ya?" tanya Kiana dengan polosnya. Wajahnya meringis membayangkan wajahnya yang jelek, kusam, dan tidak terawat. Mbok yang mendengar penuturan Kiana hanya terkekeh.
"Kamu ini lho. Ya bukan begitu maksud si Mbok. Badan kamu makin berisi, dan di liat-liat wajah kamu makin bersinar, ayu tenan, makin cantik." paparnya menjelaskan dari sisi pengamatannya.
"Ah, si Mbok bisa aja. Mana ada aku cantik kayak yang Mbok bilang. Aku aja nggak pernah pakai produk perawatan wajah." Elak Kiana merasa Mbok berlebihan untuk sekedar memujinya.
"Dulu waktu hamil anak pertama, Mbok sering denger banyak orang bilang kalau wajah Mbok itu bercahaya, makin ayu, karena bawaan bayi. Walau Mbok ndak pernah merasa, tapi bagi orang lain yang melihat memang seperti itu." jelasnya menceritakan pengalamannya waktu dulu.
"Berat badan sering ikut naik kalau sedang hamil. Ya, karena kita jadi sering banyak makan karena ngisi dua perut sekaligus. Bawaannya selalu lapar setiap waktu."
Kiana tetiba terdiam. Raut wajah yang tadi bersemu merah kini berubah muram mendengar penuturan Mbok Sarmi. Bukan, bukan karena ia merasa tersindir. Akan tetapi untuk saat ini, ia merasakan semua gejala yang di sebutkan oleh Mbok seperti tadi. Ia juga merasa aneh belakangan ini. Keadaan tubuhnya berubah sebagaimana yang Mbok sebutkan.
Ia pun merasa akhir-akhir ini selalu merasa lapar meski sudah menambah porsi makan dari biasanya. Terlebih saat tengah malam menjelang, rasa perih di perutnya akan terasa menjadi. Bukan kebiasaanya makan di tengah malam, tapi untuk saat ini perubahan anehnya itu semakin memperkuat keyakinannya mengenai satu hal yang dianggapnya suatu salah memperkirakan.
"Tapi ya kamu jangan mikir cerita si Mbok ini bisa di samakan dengan perubahan kamu saat ini. Setiap gadis akan mengalami perubahan menuju usia kedewasaannya dengan berbeda-beda."
"Yang terpentingkan kita itu sehat. Nggak banyak neko-neko. Biar saja orang lain berkata apa, karena apa yang kita rasakan belum tentu bisa di rasakan oleh orang lain."
"Yo wis, Mbok mau dzuhuran dulu. Kita gantian seperti biasa. Mbok bikin puding kesukaan Den Bian dan makanan lain kesukaannya. Sudah di pisah untuk kita di meja makan belakang pegawai. Kamu ambil, cicipin. Mbok seneng sekarang kamu banyak makan ndak sungkan-sungkan lagi seperti dulu." ucap Mbok seraya melenggang pergi ke ruang ibadah yang berada di belakang rumah.
"Iya, Mbok." jawab Kiana dengan pandangan menunduk ke arah bawah menatap datar perutnya yang kini terdapat kehidupan baru di sana.
***
Wajah Daniel terlihat mengkerung, tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Bian baru saja. Apa ia tidak salah mendengar? Atau Bian yang memang sengaja sedang usil kepadanya? Tapi rasa-rasanya melihat air muka Bian yang serius, semakin membuatnya tidak percaya atas apa yang Bian ungkapkan padanya.
"Lo serius, Bi? Nggak lagi ngeprank gue kan? Lo bercanda jangan kelewatan deh, Bi. Kalau nanti kejadian gimana?"
"Lo liat tampang gue sekarang, perhatiin baik-baik!" Bian mendekatkan wajahnya pada Daniel yang seketika menjauhkan badannya dari Bian. "Ada ini tampang gue lagi bercanda? Gue serius, Niel!"
"Gue masih belum percaya. Lo nggak perlu mengada cerita biar gue bisa nemenin lo di sini. Gue tahu lo lagi punya banyak masalah, Bi. Cukup cerita masalah lo apa yang udah bikin lo stress kayak gini, gue dengan senang hati bakal dengerin cerita lo."
Bian menghela napas kasar. Ia menjatuhkan punggung belakangnya pada badan sofa. Dia kira dengan bercerita pada Daniel, ia akan sedikit banyak mendapat masukan dan solusi baik yang dapat ia ambil. Tapi ya ternyata tetap sama saja. Malah yang ada ia kini dituduh mengarang cerita, mengada-ngada karena memang Bian akui ia selalu bertingkah jahil pada kedua sahabatnya itu.
"Hah... justru Masalah terbesar gue ya itu. Gue nggak maksa buat lo percaya sama keluh kesah gue. Sekarang itu gue lagi stress berat, bro. Gue bingung harus ngapain. Gue juga nggak tahu harus bersikap bagaimana nantinya ke depan. Gue takut ngecewain nyokap-bokap gue."
"Yakin? Gue agak sangsi sih buat percaya sama semua cerita lo. Ya, mau gimana lagi. Lo nggak meyakinkan gitu." ucap Daniel yang masih tetap tak percaya pada Bian.
"Gue nggak pura-pura DANIEL JOSEP SANTOSO... percuma, lo banyak ketularan Elang kayaknya sekarang!" ujar Bian setengah kesal pada sahabatnya itu. Membuang waktu percuma dengan bercerita yang ujung-ujungnya dianggap berkata bohong juga.
"Kemana?" tanya Daniel saat melihat Bian dengan lunglai tak bersemangat berjalan menuju pintu untuk keluar.
Bian menekuk wajahnya, tatapan menyalang dengan tajam ia sorotkan pada Daniel.
"Keluar gue. Makan. Laper gegara baper, gara-gara lo!" ketusnya.
"Gue?" tunjuk Daniel pada dirinya sendiri.
"Diem aja lo di situ sampai bisa berkembang biak." sungutnya tidak kira-kira. "Cepet anter gue! Lo harus tanggung jaw--" perkataanya menggantung sejurus kemudian saat tiba-tiba muncullah Dimas di depannya.
"Pak," panggil Dimas dengan wajah cemas terlihat jelas di wajahnya.
"Apalagi ini...?" gerutunya ingin memaki pada orang-orang yang sudah membuatnya kesal hari ini. Bian menghembuskan napasnya kasar. "Telat! Lo telat, Dimas. Alarm perut gue lebih peka dari pada lo, minggir!"
"Iya saya tahu, tapi ini lebih penting dibanding masalah cacing-cacing di perut Bapak yang banyak maunya."
"Apa?! Cepetan ngomong!" sentak Bian semakin kesal saja.
"Di bawah ada pacar Bapak, eh salah--ada mantan pacar Bapak lagi buat huru-hara. Dia marah-marah sama resepsionis, katanya maksa ingin naik ke sini buat ketemu sama Bapak."
Bian yang mendengar penuturan Dimas menggeram kesal. Tangannya terkepal kuat untuk menahan amarah yang khawatir ia tidak dapat mengontrol emosinya.
"Berani-beraninya dia!" geramnya menyertakan deretan giginya.
*****