
Bian berjalan dengan sedikit tergesa-gesa. Mengabaikan Joko yang tidak biasanya bertugas di malam hari menggantikan Arif yang entah kemana. Bian tidak peduli. Setelah memberikan kunci mobilnya pada Joko, Bian berlari kecil untuk segera melangkah lebih dalam lagi kebagian rumahnya.
Penampilannya sudah terlihat kacau, yang terpenting saat ini ia harus segera masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan seseorang yang seharian ini selalu membayangi pikirannya.
Malam ini ia sedikit terlambat untuk sampai ke rumah karena kemacetan lalu lintas menyita waktunya lebih lama dari biasanya. Lembur malam yang ingin ia hindari akhirnya terlaksana juga. Ingin marah tapi bingung pada siapa. Yang ada disisa waktu lemburnya untuk menyelesaikan pekerjaan, Bian terus saja mendumel tidak jelas. Bahkan Dimas dan Puri pun menjadi korban keketusannya selama di kantor.
Belum lagi saat ia harus mengantri makanan yang ingin dia dapatkan malam itu. Singgah di sebuah resto yang baru pertama kali ia sambangi, membuatnya mempunyai pengalaman yang tidak mengenakan. Belum harus mengantri, Bian juga harus menyaksikan pertengkaran sepasang kekasih di hadapannya yang begitu sialnya ia mendapat siraman air minum yang menyasar padanya.
Ingin rasanya memaki dan mengumpat dengan kata-kata kasar tapi Bian tak bisa. Ia hanya menahan amarah dan kekesalannya saat itu meski ingin meledakkan semuanya. Wibawa dan pesona dirinyalah yang menjadi taruhannya. Apalagi ia berada di tempat umum. Jadi bersabar adalah kuncinya. Jika keberadaanya di sana bukan hanya demi Kiana dan bayinya, sudah dapat pastikan ia akan menyeret sepasang kekasih yang tidak tahu malu mengumbar masalah pribadi di tempat umum itu.
"Lama nunggu ya?" tanya Bian saat daun pintu kamar terbuka menampakkan wajah cantik Kiana yang tersorot remang-remang cahaya lampu taman.
"Bapak baru pulang?" tanya balik Kiana saat melihat Bian baru datang di tengah malam yang ia tunggui kedatangannya sejak masih sore hari.
Kiana akhir-akhir ini merasa sensitive. Apalagi itu berkenaan dengan Bian. Jika laki-laki itu tidak terus menerus mengumbar janji dari mulutnya, Kiana pun tidak akan pernah berharap atau bahkan mengharapkan sesuatu darinya. Tapi ini berbeda lagi, entah kenapa Kiana selalu merasa sedih jika Bian dirasainya mengingkari janjinya sendiri.
Misalnya malam ini saja, Bian pulang terlambat setelah sebelumnya ia berpesan akan pulang lebih awal untuk menemuinya. Kiana sedih, bahkan menangis kecil saat menyadari laki-laki itu tak kunjung pulang dan mungkin lupa dengan janjinya. Akhirnya ia pun tertidur dan terbangunkan kembali setelah mendengar ketukan pintu di luar kamarnya pada tengah malam hari.
"Maaf saya baru pulang. Hari ini lembur, kerjaan numpuk. Jadi ya mau gak mau karena deadline." jelasnya seraya menarik masuk Kiana dan mendudukkan gadis itu di sisian ranjang. "Pasti lapar kan? Saya bawa makanan yang baru lagi. Katanya enak, saya dapat dari resto yang baru saja buka. Saya belum coba sih, tapi semoga aja enak." sahut Bian seraya membuka penutup makanan yang ia pegang.
"Udah dingin karena kelamaan di jalan. Saya panasin dulu, kamu tunggu di sini jangan kemana-mana. Belum ngantuk kan?" Bian berniat untuk beranjak dari tempatnya, namun cekalan tangan Kiana pada lengan bajunya membuatnya tertahan dan menatap lekat gadis dihadapannya itu. "Kenapa? Kamu butuh yang lain? Nggak apa bilang. Nanti saya ambilin sekalian."
Kiana menggelengkan kepalanya. Ia menarik pelan Bian agar kembali duduk seperti semula.
"Bapak pasti capek. Nggak apa-apa saya makan. Pasti enak kok. Apapun yang Bapak bawakan untuk saya, pasti enak dan cocok di lidah saya." tahan Kiana mengucapkan kalimat yang membuat Bian terkesima dan tersipu malu. Mendapat pujian dari Kiana seolah menjadi obat raga dan pikirannya yang lelah karena seharian berkerja. Bian mengulum senyum saking senangnya.
"Ya udah, ayo-ayo makan. Pasti udah lapar banget kan? Saya suapi sekalian mau?" tawar Bian dari hati.
Kiana menggeleng. Gadis itu menahan senyum dengan tingkah Bian. Ia mengambil makanan yang Bian pegang, dengan suapan besar ia menikmati makanan yang terasa sangat lezat itu.
Kiana makan dengan lahap, terlihat sekali jika ia memang sedang lapar. Sama seperti malam-malam sebelumnya, bahkan sekarang nafsu makan Kiana bertambah berkali-kali lipat semenjak Bian selalu memanjakannya dengan makanan yang tidak pernah Kiana makan sebelumnya.
"Bapak belum makan?" tanyanya saat menyadari Bian memperhatikannya tanpa beralih.
"Hem?" Bian menggeleng. "Sudah tadi,"
"Belum makan." duga Kiana dengan pasti. "Bapak harus makan, nanti bisa sakit." ujar Kiana seraya mengambil satu sendok baru dan ia berikan pada Bian.
Bian tersenyum sumringah. Ternyata Kiana lebih peka meski ia sempat berbohong. Bian memang belum makan walau tadi di kantor di tawari oleh Dimas. Tapi menolak dengan alasan sedang tak berselera. Tapi kali ini, hanya dengan melihat Kiana makan dengan begitu lahap, sedikit membuatnya tergoda sehingga rasa lapar yang tadi tidak terasa kini seolah meminta untuk di isi.
Mata Bian berbinar saat menyuapkan satu sendok penuh makanan ke mulutnya.
"Enak," ucapnya. "Rasanya enak. Saya memang nggak pernah salah dan gagal untuk memilih makanan." sahutnya jumawa, seraya kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Kiana hanya geleng kepala, memperhatikan guratan lelah yang nampak kentara terlihat di wajah tampan Bian.
***
Kiana masih memperhatikan dengan seksama tanpa melewatkan satu titik pun keadaan yang membuatnya seketika takjub. Bangunan besar dan mewah, tak pernah Kiana lihat bahkan berani untuk memasukinya.
Tangannya digenggam erat oleh Bian di sepanjang mereka berjalan saat memasuki lobby mall tersebut. Kiana tak menyadari hal itu, karena ia sibuk dengan dunianya sendiri mengagumi keindahan dan kemegahan yang nampak lebih membuatnya terkagum-kagum saat berada diluar tadi.
Berulang kali Kiana berdecak kagum. Bibirnya terbuka untuk memuji tempat yang indah dan megah tersebut. Sampai-sampai Bian yang berada di sampingnya pun terus mengulas senyum.
"Kamu suka?" tanya Bian saat mereka berhenti untuk memperhatikan interior mewah dari mall tersebut.
Kiana menoleh pada Bian. Ia menganggukkan kepalanya sejurus menarik senyuman untuk menjawab ucapan Bian.
"Ini salah satu mall terbesar yang ada di Indonesia. Banyak toko-toko, gerai elektronik, bioskop, sampai toko yang menjual banyak makanan pun ada di sini." jelas Bian singkat saat Kiana masih mengagumi tempat tersebut.
"Lihat," tunjuknya ke berbagai jejeran toko-toko yang berada di lantai satu, tempat mereka berada. "Ada banyak barang-barang yang dijual. Pakaian, tas, sepatu, dan berbagai resto ada di lantai atas. Mau kesana?" ajaknya semakin semangat melihat antusias dari Kiana.
"Ramai, banyak orang." sahut Kiana yang kini memperhatikan keadaan sekitar yang ternyata memang sangat ramai pengunjung.
"Akhir pekan pasti ramai. Banyak pengunjung yang bukan hanya untuk sekedar berbelanja saja. Ayo, kita ke atas."
"Pak," tahan Kiana saat Bian akan membawanya.
"Kenapa? Kamu mau lihat-lihat toko yang ada di sini?"
Kiana menggeleng, " Bukan," Kiana memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sana.
Ada perasaan minder dari dalam dirinya, melihat penampilan orang-orang tersebut yang sangat jauh berbeda darinya. Ia memandangi penampilannya saat itu yang hanya mengenakan dress terusan di bawah lutut berwarna cream motif bunga kecil, dengan tali simpul di bagian pinggangnya. Serta sebuah sepatu flat berwarna coklat yang sudah lusuh ia kenakan. Sangat-sangat jauh berbeda dari banyak orang di sana yang terlihat stylish dan modis. Tapi dirinya terlihat sangat kuno pikirnya.
"Bapak yakin ajak saya ke dalam?" tanya Kiana memastikan.
"Memangnya kenapa? Kita sudah ada di sini. Apa yang membuat saya tidak yakin?"
"Nanti Bapak malu," ucapnya lirih seraya memalingkan wajahnya. Ia kembali memperhatikan orang-orang yang juga ternyata kini tengah memperhatikan mereka. Terutama dirinya.
"Buat apa malu?" ungkap Bian. Ia kembali mengamit jemari Kiana untuk ia genggam. "Kita nggak perlu mikirin orang lain yang mau berbicara apa, karena mereka nggak tahu apa-apa tentang kita. Jadi kamu nggak usah malu. Kamu dan mereka sama mempunyai hak untuk berada di sini."
"Bapak yakin? Apa sebaiknya kita pulang saja?" Kiana nampak masih ragu. Ia terlihat cemas dengan keadaan sekitar yang semakin lama membuatnya terintimidasi.
"Kamu terlalu banyak berpikir. Saya mengajak kamu ke tempat ini untuk membuat kamu senang. Bukan semakin menambah beban pikiran. Ayo, sebaiknya kita cari tempat yang menjadi tujuan kita hari ini." ajak Bian membawa Kiana masuk lebih dalam lagi. Kini tangan Bian mulai melingkar di pinggang Kiana, meletakkannya dengan begitu posesif saat orang-orang silih bergantian memperhatikan mereka.
*****