
"Ma," panggil Fira pada ibunya saat wanita yang telah melahirkannya itu menutup pintu kamar tak membiarkannya untuk masuk ke dalam.
"Ma... Fira mohon Mama jangan begini, Fira nggak mau melihat Mama menangis karena itu buat aku juga ikutan nangis..." ucapnya lagi dengan suara parau akibat terus menangis.
"Ma... Bukain pintunya please... Biarin Fira masuk ke dalam ya buat nemenin Mama," tak ada sahutan sama sekali dari ibunya di dalam sana membuat gadis itu resah dan cemas dengan keadaan ibunya.
"Ma," panggilnya lagi tak putus asa.
"Mama mau sendiri dulu, Ra," sahut Bu Ajeng dari dalam kamar membuat Fira semakin gencar mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya itu.
"Ma, Mama! Mama nggak apa-apa kan? Boleh Fira masuk ya Ma? Please... Fira nggak mau melihat Mama sedih menangis seperti ini terus."
Tak ada lagi suara yang terdengar sebagai jawaban dari ibunya dari dalam sana.
"Ma... Bukain pintunya Mama..." rengeknya seperti anak gadis kecil.
"Kenapa dengan Mamamu?" tetiba terdengar suara bas seorang pria dari arah belakangnya membuat Fira melompat kecil saking terkejutnya dengan suara tersebut.
"Papa!" pekiknya sembari menahan dadanya yang berdebar hebat. "Ih... Papa ngagetin aku tahu nggak!"
"Ada-ada saja kamu ini. Mana ada Papa ngagetin kamu kayak orang yang nggak ada kerjaan aja." sahut Pak Hardi terkekeh saat melihat anak gadisnya yang ketakutan karena terkejut oleh dirinya dengan tak sengaja.
"Tapi aku kaget beneran tahu..." balas Fira dengan wajah cemberutnya memanyunkan bibirnya.
"Iya-iya, Papa minta maaf," mengalah pada anak gadisnya yang terlihat begitu sangat menggemaskan meski anak perempuannya itu sudah mulai beranjak dewasa. Tapi baginya, Syafira adalah anak gadis kesayangan yang tak akan berubah sampai kapanpun. Dia begitu sangat menyayanginya, tak ayal ia pun sering memanjakannya dengan selalu memberikan apapun yang diinginkan oleh Syafira.
"Mamamu mana?" tanya Pak Hardi.
"Di dalam, nggak mau bukain pintu buat Fira. Aku takut Mama kenapa-napa, Pa. Makanya dari tadi aku coba bujuk Mama buat bukain pintu biar bisa nemenin Mama. Tapi Mama bilang mau sendiri dulu," melasnya sembari menatap pintu yang tertutup dimana dibalik pintu itu ada sang ibu yang sedang bersedih hati.
"Sudah, biar Papa yang menangani Mama untuk sekarang. Lebih baik kamu lekas masuk ke kamar untuk beristirahat."
"Tapi Pa, aku khawatir banget sama Mama, aku mau lihat Mama dulu..." bersikerasnya.
"Mama saat ini membutuhkan ketenangan untuk bisa menerima semua yang sudah terjadi pada Kakakmu itu. Mama membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan dirinya. Jadi lebih baik sekarang kamu istirahat, Papa yang akan menjaga Mama dengan baik malam ini,"
Fira terlihat menghela napasnya, ia tidak rela jika harus meninggalkan Mamanya sendirian. Dia ingin berada di samping ibunya untuk sekedar menjadi sandaran untuk dapat menenangkannya. Walau bagaimana pun dia begitu sangat menyayangi Mamanya, tak mau sampai terjadi sesuatu pada ibunya apapun itu hingga berlarut-larut dalam kesedihan.
"Kak Bian, mereka--"
"Mereka sudah pulang sejak tadi," balas Pak Hardi.
"Pulang?" tanya lagi Fira pada ayahnya. Pak Hardi hanya menganggukkan kepalanya.
"Lho, kenapa pulang? Kak Bian mau pulang kemana lagi kalau bukan di rumah ini?"
"Entahlah, tapi yang Papa tahu dari Dimas mereka pulang ke apartemen baru milik kakakmu itu."
"Kenapa Papa biarin mereka pergi? Kasihan Al Pa, dia masih terlalu kecil untuk bisa menghadapi masalah sebesar ini. Apalagi melihat keadaan susah yang di hadapi mereka selama ini, semua itu nggak adil buat mereka."
"Papa biarkan mereka pergi karena ingin tahu sampai mana kesungguhan kakakmu itu untuk mengemban tanggung jawabnya."
"Papa nggak kasihan sama Al? Dia itu cucu Papa, anaknya Kak Bian, ponakannya aku." tukas Fira.
"Papa tahu, tapi saat ini Mamamu lebih penting untuk kita jaga perasaannya yang tiba-tiba mendapat kabar yang sangat menguras emosinya. Sejujurnya Papa sangat kecewa dengan sikap perilaku yang dilakukan oleh Bian yang menyembunyikan masalah sebesar ini dari kita. Terlebih dia membiarkan dua nyawa yang hidup terlunta tanpa sepengetahuan kita selama ini. Papa begitu marah dengan kelakuannya itu yang seperti bukan orang yang berpendidikan dan jauh dari agamanya. Papa benar-benar kecewa sekali." tutur Pak Hardi meluap-luap mengeluarkan kekesalan isi hatinya yang begitu sangat kecewa.
"Maafin aku, Pa, semua gara-gara aku yang nggak jujur sama Papa dan Mama tentang keadaan Kak Bian. Kalau saja dulu aku--" Fira tercekat seolah ia berat untuk melanjutkan kalimatnya. "Aku nggak tahu kalau saat itu Kiana-- Dia-- Pa, aku nggak tahu kalau diantara mereka ada Al saat ini." ungkapnya menyesal yang terlambat untuk memberi tahu segalanya.
"Sudah, kamu jangan terus menyalahkan diri kamu sendiri seperti ini. Papa sadar ini semua sudah menjadi jalan takdir yang harus di jalani oleh kakakmu terlepas dari kesalahan yang dia perbuat. Yang terpenting sekarang kita harus bisa meluluhkan hati Mamamu agar bisa menerima semuanya. Ya sudah, Papa akan coba bujuk Mama agar membukakan pintunya. Kamu tengok ke belakang apa Mbok sudah pulang atau belum." perintah pada sang putri, karena dia sendiri pun begitu cemas dengan keadaan istrinya yang terus menangisi keadaan putra sulung mereka.
"Iya Pa," balas Fira meninggalkan ayahnya yang masih berdiri di depan pintu sembari memijat pangkal hidungnya yang terasa berat.
***
"Mas, bangun..." ucap Kiana terus mencoba membangunkan suaminya dengan pelan-pelan khawatir jika si kecil akan ikut terbangun.
"Mas bangun dulu," Kiana tak menyerah ia tetap terus mencoba membangunkan Bian yang masih terlelap dalam buaian mimpinya. Pria itu terlihat begitu terlelap dalam tidurnya dengan sebelah tangannya yang menyampir pada kaki Al.
"Ya ampun Mas, ini sudah subuh, ayo bangun dulu." peringat Kiana yang mendengus jengkel saat susah sekali membangunkan suaminya.
"Mas..." tangannya pun ikut menggoyang-goyangkan tubuh Bian berharap jika suaminya akan segera terbangun. "Mas, bangun!" ucapnya lagi mendekatkan bibirnya di telinga Bian dengan suara pelan.
Melihat Bian menggeliatkan badannya, cepat-cepat Kiana menjauhkan dirinya dari Bian seraya memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh pria itu.
"Mmm..." Bian menggumam dengan mata yang masih terpejam kala terlihat pria itu bergerak untuk merenggangkan badannya.
Hingga sampai kedua mata Kiana hampir membulat penuh saat melihat Bian hendak menerjang tubuh si kecil yang berada di sampingnya, dengan cepat Kiana menahan tubuh besar suaminya itu dengan kedua tangannya agar tak menimpa Al yang sedang tertidur lelap.
"Mas!" pekiknya dengan suara tertahan. Bian yang merasakan ada sesuatu menahan tubuhnya dengan malas membuka mata seraya menguap lebar tanda dirinya masih merasakan kantuk.
"Sayang?" ucap Bian dengan suara seraknya khas seperti orang bangun tidur kala mendapati wajah istrinya sedang berada di atas tubuhnya. "Kamu--sedang apa?" tanyanya sembari menatap wajah istrinya yang cantik itu dengan mata sipitnya.
"Mas geser dulu!" titah Kiana.
"Ada apa?" tanya Bian dengan wajah kebingungannya.
"Ada Al di samping Mas."
"Apa?!" dengan terkejut Bian segera bangkit dan beranjak dari tempatnya saat menyadari jika ada putra kecilnya itu di sampingnya. Dia Baru ingat jika semalaman tertidur di dekat putranya itu hingga tak merasakan ada si kecil di dekatnya.
"Ya ampun sayang, Mas lupa kalau sekarang ada si kecil." paniknya dengan raut kekhawatiran menatap raga kecil itu dengan lamat-lamat.
"Hampir saja Mas kamu menimpa Al tadi."
"Maaf sayang, Mas nggak sengaja. Mas lupa kalau di samping Mas itu ada Al,"
"Lagian susah sekali membangunkan Mas sejak tadi. Ternyata kebiasaan buruk kamu itu nggak berubah sejak dulu." gerutu Kiana membenarkan selimut yang menempel pada Al.
"Maafin Mas, Ki, Mas nggak dengar kalau kamu bangunin Mas sejak tadi. Mas masih ngerasa ngantuk banget karena baru bisa menidurkan Al sebelum subuh tadi." ungkapnya seraya mendekat pada Kiana dan memeluk tubuhnya.
"Al baru tertidur? Jadi Mas juga--" Kiana menoleh pada Bian yang kini berada di belakangnya, memeluknya.
"Iya sayang, maafin Mas. Soalnya jagoan kita itu kuat banget bergadangnya. Sampai-sampai Mas pun nggak sadar bisa tertidur begitu saja di samping Al." ungkapnya lagi seraya mengendus ceruk leher Kiana yang ia rasai begitu harum menggoda.
"Maafin aku ya Mas, aku nggak tahu kalau kamu baru tidur juga. Aku bangunin kamu karena ini udah subuh, nanti waktunya bisa terlewat kalau dinanti-nantikan." sesal Kiana merasa bersalah pada Bian.
"Nggak apa-apa sayang, apa yang aku lakukan saat ini nggak ada berarti apapun dibandingkan kamu yang sudah mengurusi Al selama ini dengan kesusahan. Aku rela bergadang setiap malam untuk menjaga Al, bahkan aku pun masih sanggup untuk menjaga anak-anak kita lainnya nanti." ujarnya seraya tak melepas pelukannya pada Kiana. "Kamu wangi banget sayang..." ucapnya yang terus menciumi wangi harum tubuh Kiana.
"Mas..." desau Kiana yang merasakan sensasi geli saat Bian menyusuri permukaan kulit leher Kiana dengan bibirnya.
"Iya sayang?" balas Bian dengan suara beratnya. "Kamu membangunkanku dalam lelap untuk beribadah bukan? Kalau begitu, ayo kita beribadah sekarang juga. Mas sudah siap lahir batin untuk membimbing kamu dalam ibadah menuju surga-Nya," ucap Bian seraya tersenyum nakal pada Kiana yang saat ini gadis itu tengah membulatkan mata menatapnya.
"Mas,"
"Untuk sekarang Mas mau kamu memandikan Mas seperti kamu memandikan Al. Ayo sayang, mumpung Al masih tertidur," senyum nakalnya semakin menjadi kala ia merekatkan dirinya pada Kiana. Sampai Bian yang sudah tak tahan lagi melihat wajah menggemakan Kiana, ia mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas! Kamu mau ngapain? Turunin aku sekarang juga!" teriak Kiana terkejut saat Bian dengan tiba-tiba menggendong tubuhnya. Kiana berpegangan erat mengalungkan tangannya pada leher Bian takut-takut jika sampai ia terjatuh.
"Ssst... jangan berisik sayang, Al masih tertidur. Seperti yang kamu bilang, hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi kita karena akan menunaikan ibadah untuk pertama kalinya." bisiknya di telinga Kiana seraya membawa tubuh istrinya itu ke dalam kamar mandi meski Kiana yang terus meronta meminta untuk di turunkan.
*****