Secret Love

Secret Love
Persaingan



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Suara keras dan bentakan dari Nara tentu membuat Qia kaget sampai matanya berkaca-kaca. Ia tak pernah sampai sebegini takutnya jika yang memarahinya itu sesama karyawan, yang ia takuti justru adalah wanita di depannya kini mengatakan jika ia calon istri Direktur Utama. Tak hanya Qia, karna staf pun akan merasakan hal yang sama jika sudah bersangkutan dengan para petinggi perusahaan.


"Maaf, Nona," ucap Qia menunduk.


Nara yang tak suka dengan sebutan yang barusan Qia ucapkan langsung mendekat dan mencengkram tangan Office Gril tersebut.


"Apa kamu bilang, Nona? panggil aku Nyonya!" sentaknya lagi.


"I--iya, Nyonya," ulang Qia sesuai keinginan Nara.


Nara melepasnya secara kasar sampai Qia mundur satu langkah dari duduknya. Tak ada yang bisa membela atau menolongnya meski disana ada Maya dan OG lainnya juga.


Wanita yang sejak dulu sombong itu kembali masuk kedalam ruangan Skala setelah meminta Sekertaris DiRut memesankan makanan.


Qia yang masih terlihat Shock buru-buru dihampiri oleh Maya untuk ditenangkan karna ia pun sering kali diperlakukan hal yang sama.


"Sabar ya," ucap Maya sambil mengusap punggung Qia.


"Aku gak apa-apa kok, Mbak," jawab Qia dengan senyum sedikit ia paksa, tak mungkin juga ia menumpahkan rasa kesal bercampur malunya itu didepan Maya.


.


.


.


Jam pulang tiba, Qia yang membawa motornya langsung pulang ke Kos'annya sendiri karna malam nanti ia akan dibawa kerumah orang tua Fathan. Kali ini rasanya Qia tak bisa menolak lagi karna tak punya alasan apapun untuk berkata tidak.


Sambil menunggu Sang kekasih yang katanya akan datang jam 8 malam, Qia pun duduk diteras kos'annya seorang diri. Bertegur sapa dengan yang lewat atau dengan sesama penghuni kiri kanan dan depan kamarnya.


Senyumpun mengukir di ujung bibitrnya saat motor yang sudah dihapalnya itu semakin dekat.


"Maaf ya, Lama."


"Gak apa-apa, mau masuk dulu?" tawar Qia, Fathan pun menggelengkan kepalanya karna tahu kekasihnya itu belum berganti pakaian.


"Ya sudah, aku masuk dulu ya."


"Sip, Pacarnya Qia tunggu disini, Ok."


.


.


.


Uhuk.. uhuk... uhuk


"Napa lo?" tanya Heaven yang langsung menoleh saat mendengar sepupunya itu batuk tiba-tiba.


"Entah," jawab Skala yang juga aneh.


"Jomblo terhormat keselek angin," timpal ArXy yang akhirnya mengundang gelak tawa.


"Diem lo, Bujang lapuk!" balas Skala tak terima.


Merasa aneh karna sering sesak dan tersedak secara tiba-tiba membuat Skala bangun untuk mengambil minum. Saat ini ia memang sedang berada di kediaman Biantara, pulang dari kantor ia langsung meluncur ke bangun mewah tersebut karna di minta oleh Heaven.


"Kenapa ya? gak punya pacar tapi patah hati, kan gak lucu," gumam Skala yang sekarang sedang berdiri di balkon ditemani angin malam yang dingin sampai terasa menusuk ke tulangnya.


Bayangan Qia pun terlintas, sosok Si gadis bawah pohon itu terus terbayang di pelupuk matanya yang sebenarnya sudah sangat mengantuk karna Skala selalu menghabiskan banyak waktu malamnya untuk bercerita pada Sang Penentu jodoh.


Tak ada yang bisa di lakukan pria itu kecuali duduk diatas sajadah nya, karna Skala cukup tahu diri tak akan mampu jika harus menyapa gadis itu secara langsung.


.


.


.


Mungkin namamu tidak hanya disebut olehku, tapi aku yakin, dalam persaingan ini Tuhan hanya mendengar suaraku..