Secret Love

Secret Love
Bertemu Kedua Kalinya



Berulang kali Bian melirik pada jam tangan mewah yang terpasang di pergelangan tangannya, bahkan beberapa kali juga ia mengintip waktu yang tertera di layar ponselnya.


Perasaan cemas menggelayuti dirinya sejak siang tadi saat mendapati pesan dari adiknya-Fira, jika kedua gadis itu-bersama dengan Kiana, nekad pergi keluar rumah seperti yang direncanakan oleh Fira saat pagi tadi.


Sontak saja hal itu membuat Bian kepikiran banyak hal dan tentunya panik setengah mati karena yang dibawa oleh adiknya itu bukan sembarang gadis biasa, Kiana adalah gadis spesial miliknya yang tengah mengandung cikal bakal Bian junior.


Sepanjang meeting berlangsung bersama klien yang bertempat disebuah cafe pusat kota, Bian sudah tidak enak hati. Bian tidak fokus. Dia gelisah tak karuan. Duduknya pun tak nyaman, sering mengubah posisi duduknya dan hal itu kentara sekali membuat orang-orang yang bersamanya menoleh beberapa kali. Bahkan Dimas pun memperhatikan gestur Bian yang seperti sedang memikirkan hal lain selain pekerjaan yang ada di hadapan matanya sendiri saat ini.


"Pak," panggil Dimas yang mendapati Bian masih melamun.


"Ya?" Bian menoleh pada Dimas. "Ada apa?" ucap Bian tak fokus.


"Klien pamit, dari tadi saya panggil Pak Bian melamun terus."


"Oh, sudah selesai? Jadi?" tanya Bian dengan raut wajah bingungnya.


"Ya sudah, orangnya baru saja pergi." tunjuknya pada punggung belakang klien yang baru saja meninggalkan mereka.


Bian mangut-mangut tidak jelas. Kemudian ia melihat ke arah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


Sudah sore. Dan dia belum mendapatkan kabar dari adiknya barang sedikit pun. Bian tidak tahu apakah mereka sudah pulang atau belum. Kecemasannya semakin menjadi, memikirkan dua gadis yang membuat hatinya tak tenang.


Fira yang baru saja kembali ke tanah air pasti akan merasa asing dengan tata letak kota yang mengalami banyak perubahan. Sementara Kiana, gadis itu pastinya akan merasa sangat asing dengan hiruk pikuk keramaian kota yang baru ia kenali beberapa waktu terakhir ini. Apalagi mereka tidak ditemani sopir atau pegawai lainnya saat ini. Itu semua semakin membuat Bian cemas.


Bian mendesah pelan. Kemudian ia menyeruput sisa kopi yang masih tersisa sedikit pada cangkir miliknya.


"Pak Bian ada masalah? Sejak tadi saya perhatikan Bapak tidak fokus pada meeting kali ini?" tanya Dimas sembari membenahi dokumen-dokumen penting yang ada di atas meja.


"Banyak, masalah saya masih banyak, Dim." ucap Bian kembali menghela napasnya pelan.


"Pantes, sejak dari kantor sampai sekarang banyak melamunnya dari pada bekerja." ujar Dimas memang benar adanya. Bian pun tidak bisa mengelak. "Bapak mikirin apa? Kegagalan proyek? Atau lagi mikirin mantan pacar Bapak yang bikin resah satu gedung kantor kita itu? Rumit memang, ada-ada aja masalah Bapak." Dimas geleng-geleng kepala saat teringat pada peristiwa yang baru-baru saja terjadi di gedung perusahaan mereka dimana Linda kembali membuat ulah di sana.


Bian melengos mendengarkan kalimat panjang dari asistennya itu.


"Buat apa saya mikirin masa lalu kelam yang nggak ada gunanya. Saya lagi mikirin masa depan saya ini," Bian berdecak sembari bangkit dari duduknya, meraih jasnya yang tersampir di salah satu kursi.


"Bapak mau kemana?" tanya Dimas disaat melihat atasannya hendak bersiap pergi dari tempatnya.


Bian menoleh, seraya memakai jasnya kembali.


"Pulang," jawab Bian. "Masih betah kamu di sini?"


"Ya nggak," decak Dimas. Bosnya itu, selalu saja diluar dugaannya.


"Mau kemana kamu?" tanya balik Bian yang melihat Dimas ikut-ikutan bersiap seperti dirinya.


"Pulang. Bapak pulang, ya saya juga pulang. Mari Pak,"


"Nggak-nggak!" Bian menggelengkan kepalanya. "Saya sendiri,"


"Terus saya?"


"Ya kamu pulang sendiri juga. Saya buru-buru ini." ucap Bian tak memperdulikan raut wajah Dimas yang penuh dengan kebingungan.


"Pak, kita kan satu mobil. Jadi Bapak mau pakai kendaraan umum gitu pulang ke rumah?"


Bian mendelik kesal.


"Siapa bilang saya yang pakai kendaraan umum?" sahut Bian santai. "Saya pinjam mobil kamu, Dim. Kamu pakai saja mobil saya nggak apa-apa. Kalau nggak, nanti kamu anterin mobil saya ke rumah buat ambil mobil kamu. Gimana, bagus kan ide saya?"


"Tapi--"


"Udah, nggak apa-apa, nggak usah khawatirin saya, Dim. Saya pergi." ucap Bian seraya menepuk-nepuk bahu asistennya itu dengan seutas senyuman yang membuat Dimas melongo, dan juga sedikit sebal pada Bian.


"Saya sih nggak khawatirin situ, secara yang dibawa itu mobil saya, Pak. Lah, Bapak nggak kasian gitu liat saya ke kantor sendirian pakai kendaraan umum, ck, ck, ck..." Dimas mendumel sendiri jadinya saat melihat kepergian Bian yang menghampiri mobil miliknya yang ada di depan sana. Dimas geleng-geleng kepala seraya menghela napas untuk menghibur dirinya sendiri dari perasaan sebal pada atasannya itu.


***


"Aduh!" pekik Fira saat melihat layar waktu di ponselnya.


"Kenapa, Mbak?" tanya Kiana yang cemas pada pekikan Fira yang tiba-tiba. Mereka berhenti di tengah-tengah perjalanan saat akan hendak turun dari lantai 3 Mall menuju lantai lobby menggunakan eskalator.


"Aku kaget, Ki."


"Memangnya kenapa, Mbak? Ada barang yang tertinggal di toko tadi? kalau gitu saya ambilkan dulu." ucap Kiana hendak beranjak dari tempatnya menuju toko yang terakhir kali mereka kunjungi.


"Eh, eh... nggak usah, Kia." tahan Fira memegang lengan Kiana. "Enggak ada yang ketinggalan kok. Aku cuman kaget aja pas lihat jam di hp."


"Udah sore ternyata. Kak Bian pasti nyariin kita ini." lanjutnya kembali sembari memeriksa ponselnya untuk mengintip aplikasi pesan online, takut-takut kalau kakaknya itu menghubunginya karena Fira sendiri lupa untuk mengabari Bian saat mereka sampai di tempat tujuannya. Dan benar saja, deretan pesan dan panggilan tidak terjawab dari Bian sangat banyak. Bahkan baru beberapa menit yang lalu Bian kembali menghubunginya dengan intens.


"Gawat ini... Kak Bian pasti ngomel-ngomel nanti." gumamnya seraya mengirimkan share lock pada kakaknya.


"Pak Bian nggak tahu kita ada di sini, Mbak?"


"Iya, Ki. Aku lupa ngabarin Kak Bian tadi. Aduh... gimana ini? Kak Bian pasti marah nanti."


"Sekarang udah dikabari Pak Bian-nya?" tanya kembali Kiana ikut khawatir seperti Fira. Ia teringat pesan Bian tadi pagi sebelum laki-laki itu pergi bekerja menyempatkan menemuinya di taman belakang. Bian mewanti-wanti agar Kiana menolak jika Fira mengajaknya pergi. Dan tentu saja Kiana mengiyakan permintaan Bian itu. Ia sendiri sebenarnya tidak enak pada Mbok. Jika memang nantinya Fira memaksa untuk menemaninya pergi hingga akan mengabaikan pekerjaannya begitu saja. Tapi nyatanya, ia kini berada di sini, bersama Fira.


"Sudah, Kak Bian lagi di jalan buat jemput kita." jawab Fira. Ia memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas selempang miliknya. "Maaf ya Ki, saking senangnya aku lupa waktu. Kamu pasti capek ya?"


"Nggak apa-apa kok, Mbak." Kiana membalasnya kembali dengan senyuman. "Saya bawain sekalian." ujarnya berusaha mengambil barang belanjaan yang ada di tangan Fira.


"Nggak usah, Ki. Biar sama aku aja." tolak Fira. "Lihat, kamu aja kesusahan gitu. Gimana caranya kamu mau bawain semua yang ada di tangan aku." kekeh Fira, yang mana membuat Kiana ikut terkekeh pelan.


"Saya kan udah terbiasa, Mbak." mereka akhirnya tertawa kecil.


"Seharusnya kamu nggak perlu nolak. Biarin aja pembantu kamu itu yang bawa semua barang-barang kamu. Dia memang pantas, karena itu pekerjaannya. Kamu nggak perlu merasa nggak enakan seperti itu." ucap seseorang yang tiba-tiba berada didekat mereka.


Kiana dan Fira sontak menoleh pada pemilik suara yang ikut masuk ke dalam pembicaraan mereka. Fira mengerungkan dahinya saat melihat wajah seorang wanita yang nampak tidak asing baginya. Begitu pula dengan Kiana, ia cukup terkejut saat melihat wajah cantik pemilik suara yang cukup ia kenali belum lama itu.


"Hai... kamu-Fira bukan?" ucap wanita tersebut seraya lebih mendekat pada Fira. Ia menggeser posisi Kiana yang berada di sebelah Fira dengan sedikit memaksa mendorong Kiana hingga gadis itu tersentak ke belakang.


"Hei!" sentak Fira melihat Kiana terdorong gara-gara wanita itu. "Kamu siapa? Bisa nggak sih hati-hati! Kalau Kiana jatuh bagaimana?"


"Ups, sorry..." ucap wanita tersebut, pura-pura bersalah. "Sorry... aku nggak lihat ada pembantu di sini. Lagian pembantu itu adanya di dapur, bukan malah keluyuran bareng majikannya. Mengambil kesempatan dalam kesempitan!" ucapnya sinis seraya menatap Kiana dengan tatapan mata tak bersahabat.


"Nggak apa-apa, Mbak. Saya baik-baik aja." ucap Kiana menenangkan Fira yang terlihat sudah emosi dari raut wajahnya.


"Nggak bisa gitu, Ki. Dia itu udah nggak sopan. Apalagi dia sengaja dorong kamu sampai kamu hampir aja jatuh. Dia pikir dia siapa?" ujar Fira menggebu melirik tajam pada wanita tersebut yang tengah menyeringai pada mereka.


"Ya ampun Fira, aku Linda." ungkapnya dengan ketidak percayaan yang dibuat-buat.


"Linda?" ucap Fira seperti sedang mengingat-ingat. Lebih tepat berpura-pura. Ia mengenali pasti dengan nama tersebut, tapi tidak dengan wajahnya. Yang mana membuat Fira semakin sebal dan benci pada sosok itu.


"Iya, aku Linda. Calon kakak ipar kamu." terang wanita tersebut yang ternyata adalah Linda.


"Kakak ipar?" balas Fira dengan tawa kecil seperti mengejek.


"Iya, aku Linda, calon istrinya Bian-kakak kamu."


"Oh ya?" tanya kembali Fira seperti tidak percaya.


Linda menganggukkan kepalanya dengan antusias.


"Aku tahu Bian belum sempat mengenalkan aku ke kelarganya sampai saat ini. Terlebih Mama dan Papanya yang sangat sibuk. Begitu juga kamu yang masih berada di luar negeri. Tapi aku yakin, suatu hari nanti Bian akan membawa aku ke dalam rumah besar kalian untuk diperkenalkan sebagai calon istri satu-satunya." ungkapnya, melirik sinis Kiana yang berada di sampingnya.


"Wah..." Fira berpura-pura takjub. Dia sendiri tidak terlalu mengacuhkan perkataan Linda yang beromong kosong. Karena dia sendiri tahu siapa itu Linda. Dan bagaimana perangai wanita itu mendekati Bian sebagai kekasih kakaknya itu.


"Aku yakin kita akan menjadi dekat seperti adik dan kakak perempuan setelah Bian menikahiku. Karena ternyata hobi kita sama." tunjuknya pada salah satu paper bag brand ternama yang ada di tangannya.


Fira tersenyum sinis. Ia menaut tangan Kiana untuk dia pegang, dan berniat segera cepat pergi dari hadapan wanita yang sangat berbahaya itu. Ia tidak mau lama-lama meladeni perkataan Linda yang menurutnya itu hanya sebatas angan-angannya saja.


"Kita pulang, Ki. Aku capek." ucap Fira tanpa menghiraukan lagi Linda.


"Kamu mau pulang? Gimana kalau aku antar saja? Tapi cuma kamu aja, soalnya aku nggak biasa bawa pembantu masuk ke dalam mobilku. Bisa bau apek mobilku nanti. Mendingan kamu suruh dia pulang naik bajaj aja. Cocok banget kan?"


"Oh, nggak perlu repot-repot. Aku bisa pulang bareng Kiana. Aku suka jalan bareng Kiana, orangnya asik, nggak annoying kayak cewek lain yang bikin aku males sama kehaluannya." balas Fira tak kalah menohok.


Kiana hanya mampu terdiam dan menundukkan kepalanya tak bisa membalas perkataan Linda saat ia mendapatkan tatapan tajam dari Linda.


"Aku harap kamu bisa berhati-hati sama orang yang bermuka dua, Fira. Terkadang orang yang biasa kita anggap baik itu mempunyai niat jahat yang terselubung. Termasuk seorang pembantu. Apalagi sampai bermimpi untuk menjadi nyonya dengan segala cara liciknya." jelas Linda panjang lebar.


"Ya, aku akan lebih berhati-hati pada orang seperti itu. Kita lihat saja nanti. Maaf kami permisi duluan." Fira tersenyum tipis. "Ayo Kia, kita pulang. Nggak baik lama-lama berada di sini." ajaknya seraya membawa langkah Kiana untuk mengikutinya.


Linda tersenyum puas. Ia semakin tinggi hati jika rencananya kali ini akan berhasil. Melalui Fira, ia akan mendapatkan Bian secepatnya tanpa ada kerikil kecil yang dapat menghalanginya. Jika dengan cara kotor saja membuat ia tak berhasil mendapatkan Bian, maka dengan cara liciklah yang akan dia gunakan untuk membawa Bian kembali ke dalam pelukannya.


Fira berjalan tergesa-gesa dengan menarik langkah Kiana yang berada di belakangnya. Ia ingin segera pergi menjauh dari hadapan wanita yang tidak sama sekali ia bayangkan akan bertemu dengannya hari ini secara tiba-tiba. Ia sendiri bergidik ngeri saat bertemu muka dengan sosok Linda, sang kekasih bayangan dari kakanya-Bian.


"Kita harus cepat pulang, Kia. Badan aku serasa lemas dan panas waktu liat penampakan wanita tadi." gumamnya tak jelas. Kiana hanya manut saat tangannya di tarik oleh Fira dengan langkah lebar-lebar sehingga ia sedikit meringis menahan nyeri dibagian perutnya.


*****