
Kiana dan Bian beriringan melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar Kiana saat pagi mulai benar-benar menyapa. Songsongan sang Surya mulai menampakkan cahaya kuningnya yang menghangati udara yang sebelumnya berselimutkan hawa dingin.
Setelah beberapa saat kembali tertidur dalam pangkuan Kiana, Bian akhirnya kini benar-benar terbangun dari tidurnya. Apalagi sebentar lagi pria itu akan pergi bekerja, dan harus segera bersiap sebelum semua pasang mata di rumah itu menyadari kebersamaannya dengan Kiana.
Hal tersebut berlanjut pada malam-malam selanjutnya. Bian seolah candu dan mulai terbiasa dengan kebiasaan barunya yang dapat tertidur jika ia benar-benar dekat dengan Kiana.
Pria itu seolah tak segan lagi jika harus tidur berduaan bahkan memeluk Kiana. Bagaikan seperti sepasang suami istri pada umumnya, Bian tidak menyadari dengan sikap yang sedang ia lakukan pada Kiana.
"Apa?" tanya Bian pada Fira saat mereka tengah sarapan bersama. Adik perempuannya itu tak henti memperhatikannya sejak saat pertama kali Bian bergabung di meja makan.
Fira terus menelisik Bian dengan mata menyipit seraya memainkan sendok yang berada di tangan kanannya.
"Hei!" sentak Bian melihat Fira dengan raut wajah yang sangat menyebalkan. Bian melempar gulungan tisu ke arah Fira yang mengenai tepat di wajahnya.
"Ih...Kak Bian!" pekik Fira tidak terima.
"Makanya nggak usah nyebelin kayak gitu!" sungut Bian. "Apa?" tanya ulang olehnya.
Fira berdecak. Niat hati ingin menggoda Kakaknya, yang ada Fira malah kena semprot di pagi buta.
"Kayaknya ada yang berbeda dari Kakak," ucap Fira masih dengan mata menyipitnya.
"Maksud kamu?" balas Bian yang jadi penasaran pada apa yang ada dalam pikiran adiknya itu.
"Ya, beda aja gitu..." Fira kini menyandarkan punggungnya seraya memangku kedua tangannya di dada. Tapi kedua matanya tak lepas memperhatikan Bian sejak tadi.
"Beda? Apa yang beda?" Bian mendengus pelan. Ia ikut menyandarkan punggungnya seperti Fira, dan hal yang dilakukan oleh adiknya. Sama persis. Ia meladeni tingkah adiknya itu dengan rela menunda menyelesaikan sarapan paginya.
"Kak Bian aneh," ucap Fira tiba-tiba, yang mana membuat kakaknya itu melotot tak percaya dengan apa yang di ucapkannya.
"Aneh? Apa yang aneh dari Kakak?" Bian mengerungkan dahinya.
"Jawab dengan jujur," ucap Fira membuat janji.
Bian berdecak. Ia tak mengiyakan permintaan adiknya itu dengan mengatakan 'Iya' atau bahkan dengan anggukan kepala sekalipun. Ia hanya menunggu adiknya itu membuka mulutnya yang siap kembali bersuara.
"Beberapa malam ini Kakak kemana? Kenapa aku nggak pernah liat Kakak ada di rumah?" tanya Fira menyuarakan rasa penasarannya akhir-akhir ini.
Bian terkekeh pelan, seraya menyeruput teh hangat miliknya. Tak menghiraukan ucapan adiknya meski sedikit banyak ia cukup gelisah dengan pertanyaan Fira yang secara tiba-tiba itu.
"Aku tuh serius nanya ini sama kakak, kok malah ketawa sih!"
Bian malah semakin terkekeh menyembunyikan perasaan cemas saat Fira terus menunjukkan keseriusannya bertanya perihal dirinya.
"Ih... nyebelin tahu!"
"Memangnya kamu pikir kakak kemana? Nggak usah mikir yang aneh-aneh." elak Bian terus menghiraukan Fira yang saat ini sudah mencebikkan bibirnya.
"Ya wajar dong aku nanya kayak gini, tiap malam aku panggil kakak tapi nggak suka nyahut." jelas Fira. "Lagian ya, aku tuh suka aneh tahu. Tiap pagi aku sering liat Kakak balik dari halaman belakang. Awalnya sih aku mikir pasti habis olahraga, tapi kayaknya sih nggak mungkin." terangnya lagi dengan kecurigaannya.
Bian hanya mendengarkan ocehan adiknya. Sesekali ia melirik ke arah Kiana yang sedang berada di bagian dapur, mungkin tengah mendengarkan percakapannya dengan Fira. Terlihat olehnya sendiri, raut wajah gadis itu terlihat tegang. Bahkan Bian dapat melihat, Kiana menggigiti bibir bawahnya. Hal yang Bian baru ketahui dari kebiasaan gadis itu. Justru membuat Bian semakin gemas dengan sikap Kiana yang membuatnya tetiba merasakan debaran di dadanya.
"Tuh kan, Kak Bian itu aneh." celetuk Fira saat melihat kakaknya itu diam-diam tersenyum tanpa sebab.
Bian langsung menoleh pada Fira. Memutus pandangannya dari Kiana yang ia khawatirkan adiknya itu memperhatikan apa yang tengah dia lakukan.
"Ngaco! Siapa yang aneh?" Bian berusaha kembali mengelak. "Kamu yang aneh karena banyak berpikir yang nggak-nggak."
"Aku nggak ngomong ngaco, tapi aku ngomong apa yang aku lihat dan rasain sendiri." keukeuh Fira dengan pemikirannya.
"Berarti penglihatan kamu yang aneh, bukan Kakak." sungut Bian.
Fira kembali berdecak. Ia mencebikkan bibirnya. Oke, kali ini ia belum berhasil mengorek tentang kecurigaannya pada kakaknya sendiri. Tapi ia yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakaknya itu selama ini. Dia yakin jika perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Bian semata-mata ada sesuatu hal yang terjadi begitu besar di rumahnya itu.
***
Kiana menghela napas sesaat setelah mengurai rasa mual yang tetiba menyerang dirinya. Saat ini gadis itu tengah terduduk, menerima sodoran air hangat dari Mbok Sarmi yang kemudian ia meminumnya.
"Sudah mendingan?" tanya Mbok pada Kiana.
Kiana menganggukkan kepalanya. Merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu merasakan mual yang mendera saat pagi mulai menyapa. Terlebih ketika ia mencium bau masakan yang kuat menusuk hidungnya sehingga ia tidak dapat menghindari untuk memuntahkan isi perutnya.
"Sepertinya masuk angin lagi ini." ucap Mbok seraya memijat pelan bagian tengkuk leher Kiana.
"Aku nggak apa-apa, Mbok." elak Kiana. Karena ia sendiri memang tidak merasa tengah sakit karena masuk angin seperti apa yang dikatakan wanita sepuh dihadapannya itu.
"Jangan disepelekan, nanti semakin parah. Gosok dulu pakai minyak angin, jangan langsung dulu minum obat."
"Aku udah biasa. Mungkin karena kurang tidur aja."
"Makanya jangan terlalu banyak bergadang. Anak gadis nggak boleh seperti itu. Nanti kebiasaan. Itu bisa mengundang penyakit."
Kiana hanya tersenyum miris. Ia tahu dengan keadaan dirinya sendiri saat ini. Bukanlah sakit yang sedang ia derita. Dalam hati Kiana memohon ampun dan maaf karena sudah tega membohongi wanita sepuh yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri itu.
"Gimana, udah baikan?" tanya Fira yang baru saja datang membawa minyak angin untuk dia berikan pada Mbok.
"Udah mendingan, Mbak. Makasih, maaf jadi merepotkan semuanya." ungkap Kiana yang merasa tidak enak dengan semua orang yang ia repotkan karena keadaannya.
Fira menggeleng. Ia ikut duduk di sebelah Kiana seraya memijat pelan tengkuk gadis itu.
"Jangan ngerasa begitu. Aku seneng bisa bantu kamu kok, Ki."
"Makasih, Mbak." ungkap Kiana. Merasa tak enak karena kini anak majikannya itu membantu mengurai rasa mualnya dengan ikut memijat lehernya. Tidak ada rasa jijik atau apapun itu. Sikap Fira terlihat sangat tulus di mata Kiana.
"Sama-sama, kamu nggak perlu merasa sungkan." balas Fira dengan senyum tulusnya. "Kia, apa sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja?"
Kiana terkejut saat mendengar kalimat Fira yang mengajaknya untuk pergi ke rumah sakit. Memeriksakan keadaanya yang mereka tahu ia tengah sedang sakit.
"Apa yang dikatakan Non Fira betul, Ki. Sekali-kali kamu harus memeriksakannya ke rumah sakit. Apalagi belakangan ini kamu sering sakit."
Fira mengangguk setuju. Tapi tidak dengan Kiana. Gadis itu nampak terdiam memikirkan berbagai cara agar ia dapat menolak ajakan Fira untuk memeriksakannya pada seorang dokter.
"Kalau kamu merasa nggak kuat, kita bisa memanggil dokter langganan keluarga ke rumah. Bagaimana?"
Kiana menggeleng tanda tidak setuju. Tentu saja ia menolak. Itu akan merepotkan, terlebih rasa khawatir yang sedang ia rasakan takut sesuatu hal yang ia takutkan akan terjadi.
"Saya pikir nggak perlu, Mbak. Saya baik-baik aja, nanti juga akan sembuh sendiri."
"Mana ada seperti itu," ucap Fira tidak percaya. "Orang sakit itu, ya dibawa berobat. Bukan di biarin gitu aja."
"Saya nggak apa-apa. Mbak nggak perlu kuatir." elaknya lagi.
"Kamu yakin?" tanya Fira memastikan. "Kalau nanti masih terasa sakit? Lebih baik kita temui dokter untuk memeriksakannya agar lebih pasti, Kia."
"Tapi--"
"Ayo, aku bakalan temenin kamu, Kia. Jangan takut, pokoknya kita harus pergi ke rumah sakit. Kita bersiap dulu, oke." ajak Fira tanpa mau ada bantahan. Keras kepala sekali seperti kakaknya.
Kiana pasrah saat Fira membawanya pergi untuk bersiap. Gadis itu seakan tak kuasa menolak ajakannya. Dia pasrah. Tapi tetap terus berpikir mencari cara. Dia khawatir jika harus sampai menemui dokter untuk memeriksakan keadaannya. Bagaimana dengan nasibnya nanti. Apa dengan cara ini semua orang akan tahu rahasia yang ia sembunyikan selama ini bersama Bian?
Kiana menghela napas pelan. Semoga saja ada jalan yang membuat mereka dapat mengurungkan untuk pergi ke rumah sakit. Dia tahu niatan baik dari Syafira untuk membantunya. Tapi untuk kali ini, Kiana pikir itu tidaklah baik baginya dan juga Bian dalam keadaan seperti ini.