Secret Love

Secret Love
Berubah Seratus Delapan Puluh Derajat



Ketiga pasang kaki itu saling melangkah bersamaan ketika memasuki sebuah unit hunian yang terbilang megah yang berpusat di tengah kota. Bian yang saat ini tengah bergantian memangku sang putra tercintanya yang terlelap dalam tidur di sepanjang perjalanan dengan penuh kehati-hatian membawa si kecil masuk ke dalam rumah mereka yang tak luput melepaskan genggaman tangannya pada istrinya.


Kiana, gadis itu nampak tak terlalu terkejut saat Bian membawanya ke sebuah tempat yang pernah sekali ia kunjungi sewaktu acara pernikahan mereka yang lalu secara mendadak. Gadis itu hanya mengedarkan pandangan matanya sesaat untuk memperhatikan suasana rumah yang tenang dan nyaman, tak berubah sejak terakhir ia menginjakkan kakinya di sana hingga sampai saat ini.


"Saya taruh di sini, Pak." ucap Dimas meletakkan barang bawaan milik Kiana dan Al. Sebuah tas yang tak terlalu besar berisi pakaian usang milik Kiana dan Al yang sengaja gadis itu bawa dari rumah lamanya.


"Terima kasih, Dim." sahut Bian seraya membenarkan posisi tidur Al dalam pangkuannya.


"Sama-sama, Pak. Ada yang bisa saya bantu lagi?" tawar pria itu yang mulai canggung dengan keadaan hening tersebut. Apalagi di sepanjang perjalanan tadi tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Bian dan Kiana. Hanya terdengar suara tangis Kiana yang memecah keadaan sunyi diantara ke tiga orang dewasa itu.


"Nggak ada, sekarang kamu boleh pulang." ujar Bian yang seolah tak bersemangat semenjak keluar dari rumah besar.


"B-baik, Pak. Kalau begitu saya izin pamit untuk pulang."


"Hem," balasnya yang hanya menganggukkan kepalanya samar, sama sekali tak menoleh pada asistennya.


Dimas pun berlalu pergi sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Dia menghela napas pelan saat berjalan ke arah pintu yang berniat untuk kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu dibuat kikuk dengan keadaan canggung melihat diamnya sang atasan yang tidak seperti biasanya. Namun apapun masalah yang tengah dihadapi oleh Bian-atasannya itu, dia berharap tak seperti apa yang dia pikirkan, semoga saja Bian bisa mendapatkan solusi yang terbaik untuk menghadapi masalah yang terlihat sangat berat bagi atasannya itu.


"Al masih tidur," ucap Bian pada istrinya yang masih berdiri dengan mata sembabnya.


"Biar aku yang pegang, Mas." sahut Kiana yang merentangkan tangannya ingin meraih Al.


"Nggak perlu, lebih baik kita tidurkan dia di kamar agar tidurnya lelap. Kasihan dia sepertinya kelelahan." ucapnya menatap sendu putranya yang tengah terpejam dalam buaian mimpinya.


Kiana tak menjawab, ia mengekori Bian dari belakang yang membawa Al ke salah satu kamar terdekat yang ada di depan ruangan itu.


Bian menidurkan Al di atas pembaringan dengan penuh hati-hati khawatir jika pergerakannya itu bisa membangunkan kembali putranya yang tengah terlelap tidur. Namun, baru saja Bian akan beranjak saat melepas tangannya dari si kecil, tiba-tiba Al menggeliat dan membuka matanya sesaat yang kemudian merengek hendak akan menangis.


"Ssst... hei boy, tidak apa-apa. Jangan menangis. Kamu sedang tidur di kamarmu saat ini." ucap Bian menepuk-nepuk raga kecil itu agar tak menangis dan berharap akan segera tertidur kembali.


"Mas," panggil Kiana pada Bian sehingga pria itu menoleh padanya. "Boleh aku berbaring di sini untuk menidurkan kembali Al?"


Bian hanya mampu tersenyum saat mendengar Kiana meminta izin padanya untuk sekadar berbaring di samping Al untuk kembali menidurkannya.


"Tentu boleh dong sayang, karena semua yang ada disini adalah milik kamu dan juga Al." ungkap Bian seraya memberikan ruang pada istrinya untuk berbaring.


"Makasih, Mas." balas Kiana yang segera berbaring di samping putranya. Melihat Al yang sudah menangis, Kiana meraih raga kecil itu untuk ia dekap kemudian menepuk-nepuknya pelan agar Al tenang dan bisa kembali tertidur.


"Anak ibu nggak boleh nangis, ibu ada di sini sayang." ucapnya sembari terus menepuk-nepuk pelan raga kecil itu. "Al tidur lagi ya, karena Al kan anak salehnya ibu dan bapak, Nak."


Bian yang melihat pemandangan di depan matanya itu pun ikut terharu. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya jika kebahagiaan yang sesungguhnya yang ia butuhkan adalah seseorang yang ada di depan matanya kini. Dua orang yang begitu sangat berharga baginya.


Tak ingin melewatkan moment terbaik itu, ia kemudian ikut bergabung membaringkan dirinya di tempat kosong samping Al sehingga terlihat raga kecil itu terjaga di sisi kanan kirinya diapit oleh kedua orang tuanya.


"Kamu benar, sayang." ucap Bian dengan suara pelan hampir seperti berbisik saat melihat mata si kecil mulai terpejam kembali.


"Apa?" Kiana menoleh pada Bian yang kini berada di sampingnya ikut bergabung membaringkan diri di pembaringan yang sama dengannya.


"Al, dia adalah anak saleh kebanggaan kita. Aku sungguh-sungguh menyayanginya melebihi dari apapun di dunia ini. Dia adalah belahan jiwaku, separuh napas dan nyawaku, dia adalah bagian dari bukti cinta yang hadir dalam diriku padamu. Dia makhluk mungil kecil yang sangat menggemaskan. Kehadirannya sungguh membuat kehidupanku berubah 180 derajat dari sebelumnya. Dia telah berhasil mengubah kehidupanku saat ini." ungkap Bian seraya menatap wajah damai putra kecilnya.


"Maaf sudah membuat Mas susah dengan keberadaan kami," sendu Kiana merasa bersalah pada apa yang sudah terjadi pada kehidupan mereka saat ini.


"Itu sudah menjadi jalan takdirku, Mas. Aku sudah berusaha ikhlas dan berdamai dengan semuanya. Meski rasa sakit yang pernah aku rasakan akan selalu membekas, tetapi aku mencoba untuk menguburnya dalam-dalam demi masa depanku bersama Al,"


"Maafin Mas, sayang..." lirih Bian membelai wajah Kiana.


"Aku mencoba untuk melangkah ke depan tanpa harus melihat kembali lagi ke belakang. Karena itu akan kembali membuatku teringat akan kenangan pahit yang sangat menyakitkan. Karena aku tidak mempunyai siapapun di dunia ini selain Al untuk sekedar bersandar sebagai pelipur laraku."


"Dan jangan kamu lupakan Masmu ini, sayang. Kita akan melangkah bersama-sama, Ki. Mas janji akan selalu membuatmu bahagia meski saat ini masih banyak jalan terjal yang menghalangi kita untuk menuju kebahagiaan itu."


"Asal itu bersama Mas, dan juga Al." tatap Kiana dengan mata berembun.


"Selalu, karena Mas sangat menyayangimu Ki. Mas cinta kamu," balas Bian menatap balik Kiana dengan ungkapan dan tatapan penuh cintanya.


Pandangan mata mereka saling mengunci, dengan tangan yang saling menggenggam erat seolah tengah menyalurkan perasaan mereka yang mendalam, yang terkikis oleh rasa kerinduan yang terpisahkan oleh jarak dan juga waktu.


"Hampir magrib," ucap Kiana tetiba setelah sekian lamanya mereka berbaring bersama menjaga Al yang masih berada dalam buaian mimpinya.


"Ya, Mas tahu sayang, tapi Al tertidur dengan begitu lelapnya, kita harus apa? Mas nggak tega untuk membangunkannya. Apa tidak apa-apa Al tertidur sampai memasuki waktu magrib seperti ini?" tanya Bian yang melihat begitu lelapnya putra semata wayangnya itu tertidur dengan nyaman dalam apitan kedua orang tuanya.


"Biasanya Al akan terbangun sendirinya kalau tertidur dengan waktu yang cukup lama. Tapi aku cukup khawatir karena sampai saat ini Al belum ada minum. Aku takut dia akan rewel semalaman."


"Benarkah? Kamu tenang saja, ada Mas yang akan menjaga Al semalaman kalau dia susah tidur lagi." ucapnya menenangkan kekhawatiran Kiana. "Oh iya sayang, Mas sampai lupa juga kalau kita belum ada makan sejak tadi siang. Maafin Mas ya sayang, kamu pasti ngerasa lapar kan sekarang?" ucapnya cemas.


"Nggak apa-apa, aku udah biasa menahan lapar kok. Jadi Mas nggak usah cemas seperti itu. Aku bisa masak makanan kalau Mas lapar."


"Makasih sayang, tapi untuk sekarang sepertinya kita pesan makanan saja ya? Soalnya di sini nggak ada bahan makanan untuk kamu pakai buat masak. Bagaimana?" tukas Bian.


"Aku ikut Mas saja," balas Kiana.


"Ya sudah, Mas langsung pesan sekarang. Kamu mau makan apa?"


"Apa saja terserah Mas,"


"Kamu yakin? Ada kepengen makan apa gitu yang kamu inginkan sekarang, hem?"


Kiana menggelengkan kepalanya, "Nggak ada, aku ikut Mas saja."


Bian tersenyum setelah berhasil mengusak rambut kepala istrinya dengan gemas. "Istriku ini memang beda dari pada yang lain. Ya sudah, Mas akan pesan makanan yang paling enak untuk kita. Oh iya, Al juga membutuhkan susu formulanya, jadi sekalian saja kalau begitu." tuturnya yang kini sibuk mengetikkan jari jemarinya di layar ponselnya.


"Mas, aku izin ikut membersihkan diri karena sebentar lagi sudah mau masuk magrib."


"Baik sayang, kita bergantian ya? Untuk sekarang biar Mas dulu yang menjaga Al." balas pria itu.


"Makasih Mas," ucap Kiana beranjak dari tempatnya, berlalu dengan senyuman manis yang membuat Bian terpaku di tempatnya.


"I-iya sayang..." gumam Bian saat melihat Kiana pergi dengan senyuman yang mampu membuatnya termangu akan pesona yang disuguhkan oleh istrinya itu. "Cantik," ucapnya dengan degupan jantung yang semakin berdebar-debar tak karuan. Hingga ia tak dapat mampu memutus tatapannya pada sosok Kiana yang semakin berlalu sampai raga itu tak terlihat. Bian berusaha menetralkan degupan jantungnya sembari menekan sebelah dadanya yang semakin berdetak kencang.


Sungguh, Bian telah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada sosok gadis yang membuatnya tak sanggup tidur dengan lelap karena selalu membayangkan wajah cantik istrinya itu.


*****