
🍂🍂🍂🍂🍂
Peluk, cium, dengan segala rayuan gombal selalu di berikan Skala untuk wanita yang mendadak ia halalkan, cinta itu semakin tumbuh subur dimana kini ada si kembar di antara mereka berdua. Kebahagiaan yang benar-benar tak bisa ia tukar dengan apapun itu termasuk dengan harta yang kini ada dalam genggamannya.
"Kenapa? ada yang salah denganku?" tanya Qia saat ia sadar sedang di perhatikan.
"Tak ada, kamu selalu sempurna di mataku," ucap Skala yang membuat kedua pipi istrinya kini mirip buah strawberry, merah dan sepertinya sangat manis.
"Masih berani merayuku? buntutmu sudah dua, Mas," ledek Qia sambil mencibir, ia kadang sering di buat lemas jika sudah masuk kedalam perangkap suaminya sendiri.
"No, Sayang, buntutku cuma satu. Tapi dari satu buntut itu malah sekarang jadi buntut buntut yang lain," jawab Skala yang kini malah tertawa.
Otaknya selalu geser kemana-mana jika sudah berdua dengan pawangnya. Entahlah, mungkin ini akibat ia dulu terlalu takut dekat dengan gadis incarannya hingga saat doanya dikabulkan ia justru tak mau lepas meski hanya sedetik.
"Ish, kenapa aku geli sendiri sih, Mas."
"Kamu bayangin apa memangnya, hem?" goda Skala, ia bicara sambil berbisik pelan namun itu sudah berhasil membuat bulu halus Qia meremang.
"Buntut! Mas Skala ngomong buntut ya aku bayanginnya buntut," jelas Qia panik, tentu ia tak mau ketahuan jika otaknya juga kini sedang bermesum ria.
"Yakin, buntut yang seperti apa?" bisiknya lagi yang kini bibirnya mulai nakal turun ke leher yang putih dan harum.
Satu, dua dan tiga sesapan mulai di lakukan oleh Skala yang akhirnya meninggalkan jejak kemerahan disana, meski kecil tapi cukup lumayan terlihat nyata.
Jangan tanya dimana letak tangan pria itu kini, karna sudah pasti ada di salah satu area favorit yang tak di kuasai oleh dua jagoannya.
"Buntut---, buntut apa ya?" ucap Qia seraya menggigit bibir bawahnya, hatinya berdebar hebat seolah seperti tersangka maling ayam tengah malam.
"Depan, eh salah, belakang maksudku!" jawab Qia yang merutuk dirinya sendiri karna keceplosan, sedetik saja ia membuka matanya sudah bisa di pastikan ia akan melihat dirinya sedang di tertawa kan oleh suaminya sendiri.
Kadang, Qia berpikir apa Skala yang kini jadi suaminya sama dengan Skala yang dulu jadi bosnya, sebab ini sungguh berbeda dari yang ia alami saat menjadi office girl di perusahaan Rahardian Group.
Skala yang ia tahu dulu cukup menyebalkan karna tak pernah ramah dengannya, saat Qia menyapa sopan pun hanya di jawab deheman pelan dari pria itu sambil terus berjalan tanpa menoleh. Angkuhnya seorang Direktur Utama memang sudah cukup terkenal dan Qia tahu akan hal tersebut, jadi saat ia sadar Skala yang kini dengannya adalah mantan bosnya yang dulu tentu masih membuatnya tak percaya. Semua yang mendadak baginya seakan masih menjadi mimpi di siang bolong.
Dan kini, Qia yang malu tentu langsung bergegas ke ranjang dalam kamar mereka untuk bersiap tidur, tak perduli dengan suaminya yang masih cekikikan tak jelas di sofa depan TV.
"Mom, kok tidur sih," ujar Skala yang ternyata ikut naik ke ranjang juga.
"Ngantuk, Mas Skala emang gak mau tidur? ini udah malam loh," sahut Qia yang sudah memejamkan matanya. Ia harap suaminya itu tak lagi berbisik padanya.
"Mau sih," balas Skala.
"Ya udah tidur, cepetan!"
.
.
.
Gimana mau tidur, kalo buntut depannya justru bangun? main tembak tembakan dulu yuk, Mom..