
Ada yang berbeda di pagi kali ini. Tidak biasanya Bian senyum-senyum sendiri. Laki-laki itu terlihat lebih bersemangat untuk mengawali harinya. Bian melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mencari sesuatu yang menjadi sumber kebahagiannya itu.
Kedua netra matanya memindai ke segala penjuru ruangan untuk memastikan keberadaan seseorang di sana. Namun sedikit kekecewaan berhasil menghinggapinya sesaat, setelah sebuah suara menginterupsinya.
"Den Bian butuh sesuatu?" tanya Mbok Sarmi membuat Bian menoleh ke arahnya. "Aden mau di siapkan bekal buat makan siang di kantor?"
"Mbok," sebutnya sedikit terkejut. "Nggak, nggak usah. Mana pernah saya bawa yang begituan." ujarnya dengan senyum kikuknya.
"Sedang cari sesuatu? Mbok bantu kalau begitu,"
"Nggak, bukan, Saya cuma lagi--" kalimat Bian menggantung. Ia bingung akan berasalan apa.
Tidak mungkin bukan kalau ia secara terang-terangan menanyakan keberadaan Kiana. Yang ada si Mbok malah menaruh curiga padanya. Apalagi selama ini Mbok tahu kelakuannya pada Kiana selama ini seperti apa.
Mbok Sarmi menunggu Bian melanjutkan perkataannya, tapi yang ada laki-laki itu hanya terdiam tak mengeluarkan suara sedikit pun seraya matanya kembali celingukan ke arah jalan penghubung menuju teras belakang rumahnya.
"Saya ke belakang sebentar, Mbok. Tolong bilangin sama Joko buat panasin mobil saya. Jangan lupa di lap juga mobilnya, biar keliatan kinclong." setelah memberi arahan pada Mbok Sarmi, Bian dengan tergesa segera pergi menuju halaman belakang. Sebelum berangkat bekerja, ia ingin memastikan sesuatu. Agar hatinya tenang dan tidak membuat dirinya banyak memikirkan banyak hal.
Jauh dari pandangan matanya, Bian sudah dapat mengenali sesosok raga yang tengah menyirami bunga dan tanaman hias milik ibunya yang berjejer rapi di halaman belakang. Walau hanya dengan melihat punggung badan gadis itu saja, entah mengapa hati Bian serasa menghangat kala ia terus mendekat menghampiri Kiana yang tengah sibuk dengan kegiatan rutin setiap paginya.
"Pagi," sapa Bian penuh kelembutan saat ia sudah dekat, tepat berada di belakang Kiana. "Hai..." senyum merekah kini nampak di bibirnya dengan cerah.
Kiana menoleh pada sang pemilik suara yang sudah tak asing lagi di telinganya. Seketika mata Kiana berbinar saat melihat Bian dengan tiba-tiba berada di dekatnya. Menemuinya sepagi itu tidak tahu untuk apa, tapi yang jelas Kiana sangat merasa senang dengan kehadiran laki-laki itu di sana.
"P-pagi," jawab Kiana sedikit gugup.
"Saya cari kamu di dalam nggak ada, ternyata di sini rupanya." ujar Bian berbasa-basi. Padahal ia sendiri tengah merasakan kegugupan yang luar biasa. Entahlah, mulai sejak tempo hari Bian selalu merasakan perasaan seperti itu kala berada dekat dengan Kiana.
"Bapak, cari saya?"
Bian menganggukkan kepalanya. Sesekali ia menghirup udara pagi yang segar untuk menetralkan deguban jantungnya yang semakin tak bisa ia kendalikan.
"Sudah sarapan?"
"Sudah," jawab Kiana singkat. Ia bingung dengan pertanyaan Bian yang setiap hari selalu sama menanyainya tentang sudah atau belum untuk makan. Kiana tersenyum tipis, mengingatkannya pada Bu Ajeng saja. Sama persis. Bedanya Bu Ajeng terlihat sangat tulus. Lalu Bian, apa dia juga sama? Apa ini hanya sekadar basa-basi saja? Entahlah, Kiana pun tidak tahu.
Bian mangut-mangut terlihat puas dengan jawaban yang Kiana ucapkan.
"Bagus. Saya nggak mau kamu telat makan. Apapun itu alasannya." ucapnya tegas, seraya mendekati Kiana lebih dekat.
"Jangan terlalu capek," ucap Bian. "Hindari pekerjaan yang terlalu berat. Saya nggak mau kamu kenapa-napa. Terlebih dia." lanjutnya lagi seraya menunjuk ke arah perut Kiana dengan kedua matanya.
"Hari ini saya harus kerja. Kamu nggak apa-apa saya tinggal?"
Kiana mengernyitkan dahinya dalam saat Bian mengatakan itu padanya.
"Memangnya saya kenapa?"
Bian gelagapan mendapatkan pertanyaan balik dari Kiana. Ia juga bingung. Untuk apa dia mengatakan itu. Bukannya setiap hari juga ia selalu pergi bekerja, dan Kiana pun akan baik-baik saja tanpa dirinya selama itu masih berada di dalam rumahnya.
Bian menggaruk kecil pelipisnya. Sebuah ceringan dia tunjukkan di depan Kiana. Merasa malu dengan tingkahnya sendiri. Akan tetapi, Bian merasa justru keadaannya saat ini sudah berbeda dari biasanya. Makanya ia bersikap seperti itu tiba-tiba pada Kiana. Karena Kiana itu mulai saat ini adalah... istrinya.
Menyebut kata istri, Bian jadi senyum-senyum sendiri lagi. Ia menipiskan bibirnya untuk menahan senyum bahagia yang tidak dapat ia jelaskan. Dan ini sangat aneh. Tapi Bian mulai menikmati keanehan yang terjadi padanya itu.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Kiana karena melihat Bian bertingkah aneh seperti itu.
"Hem?" Bian tersadar dan melongo saat Kiana memperhatikannya. Kikuk sendiri jadinya. Ia berdeham pelan, seraya merapikan kancing jas yang sedang ia kenakan. "Pokoknya kamu harus dengerin apa nasihat saya tadi. Nggak boleh ngebantah. Karena saya punya banyak mata di rumah ini. Ingat, kalau masih keras kepala, saya bakalan hukum kamu." kelakarnya yang kini membuat Kiana melongo tak percaya.
"Ngerti?" tanya Bian lagi memastikan. Kiana masih diam dan kali ini ia menundukkan kepalanya. Melihat Bian tegas seperti itu, seolah mengingatkannya pada sikap laki-laki itu disaat-saat pertama kali mereka bertemu.
"Iya," jawab Kiana pelan.
"Saya berangkat kalau begitu." Bian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir siang. Dia harus cepat pergi ke kantornya. Karena setumpukkan pekerjaan telah menantinya hari ini.
Kiana hanya mengangguk. Ia tak berani melihat wajah Bian meski laki-laki itu masih berada di hadapannya.
"Saya mau berangkat kerja Kiana..." ucap Bian lagi kala mendapati Kiana yang masih terdiam.
Kiana mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Bian.
Kiana mengangguk pelan. Ia juga bingung harus menjawab apa. Biasanya juga Bian berangkat bekerja tak pernah ada meminta izin padanya. Lalu kali ini, untuk apa? Memang benar-benar aneh tuan mudanya itu.
"Kamu terlalu banyak melamun." ucap Bian seraya lebih mendekat pada Kiana, kemudian tanpa diduga ia mencium kening Kiana sekilas, yang mana membuat gadis tersebut terhenyak dan membulatkan matanya penuh. Wajahnya memanas.
"Tunggu saya malam ini. Saya bakalan bawa lagi makanan buat kamu. Jangan keluar rumah. Apalagi saat malam. Ngerti, hem?"
"I-iya,"
"Jangan bertemu dengan orang lain selain orang-orang di rumah. Saya bakalan khawatir. Jaga dia baik-baik. Saya pergi bekerja dulu." ucapnya lagi seraya mengelus lembut pucuk kepala Kiana. Kemudian Bian pergi meninggalkan Kiana seorang yang masih mematung di tempatnya melihat punggung belakang kepergian Bian yang mulai menjauh.
***
Bian begitu sangat serius saat mengerjakan pekerjaannya. Jangan sampai hari ini ia lembur dan keinginannya untuk pulang lebih awal akan tertahan karena setumpukkan pekerjaan masih tersimpan rapi di meja kerjanya.
Bahkan acara makan siangnya pun ia lebih memilih untuk tetap berada di kantornya. Malas rasanya jika harus membuang waktu untuk sekedar mencari makan di luar, ia lebih memilih memanfaatkan jam istirahatnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Pak," panggil Dimas entah sudah yang ke berapa kali.
Tak menghiraukan. Bian masih tekun dengan pekerjaan yang ada di hadapannya.
"Pak," panggil kembali Dimas pada atasannya itu.
"Apa?" tanya Bian ketus, yang pada akhirnya mengalah untuk menoleh sekilas pada asistennya itu.
"Itu, Hp nya bunyi. Apa nggak lebih baik di terima dulu panggilannya?"
Bian berdecak pelan. Ia melayangkan tatapan tajam pada Dimas. "Nggak perlu," sahutnya malas. Ia kembali serius pada pekerjaannya. Menghadap pada sebuah laptop yang menampilkan layar grafik perusahaan.
"Kalau itu panggilan penting, gimana?"
"Bawel." ucap Bian tanpa menoleh. Ia mengabaikan Dimas yang membuatnya jengkel setengah mati seharian ini.
"Pak, mungkin itu dari--"
"Nggak usah kamu lanjutin kalau udah tahu siapa yang nelpon saya. Ganggu orang aja!"
"Ya iyalah Pak orang, masa jin atau setan yang diganggu." balas Dimas hampir bergumam tak terdengar suaranya. "Makanya dari itu saya ngasih tahu, soalnya yang nelpon Bapak itu--"
"Saya denger kamu bicara sekali lagi, saya kirim kamu tempat antah berantah ya, Dim! Bawel banget dari tadi. Saya lagi kerja ini. Nggak usah negerecokin saya terus. Saya nggak mau ya, kalau sampai hari ini lembur malam. Awas aja kamu, saya potong gaji kamu!"
"Tega bener Pak, saya kan cuma ngingetin kalau ada yang nelpon Bapak itu penting." Dimas mencebikkan bibirnya.
"Nggak, nggak perlu! Nggak penting juga siapa nelpon saya udah tahu. Saya udah bilang sama kamu berulang kali, jangan bahas tentang wanita itu." sungut Bian yang tak habis pikir pada asistennya itu. Dia malas jika harus membahas tentang masalah mantan kekasihnya itu. Bahkan sampai saat ini ia tak tahu dimana dan bagaimana keadaan wanita itu setelah terakhir kali Linda membuat onar di perusahaannya. Bian tidak peduli lagi.
"Wanita siapa? Bapak punya wanita lain lagi selain Bu Kiana?" Dimas tampak terkejut dengan dugaannya sendiri. Oke, mulai saat ini dia harus membiasakan memanggil istri bosnya itu dengan embel-embel 'Bu', karena walau bagaimana pun saat ini Kiana telah resmi menyandang status istri dari atasannya. Ya walau Dimas tahu pernikahan Bian yang penuh rahasia dan tertutup dari orang-orang, bahkan keluarganya sendiri. Hanya dirinya saja yang tahu. Dia harus tetap menghormati Kiana bagaimana pun juga.
"Mulutmu, Dim! asal kalau bicara. Kalau Kiana denger, bisa berabe nanti. Awas aja kamu ya!"
"Ya kan saya cuma nanya, penasaran aja gitu. Baru juga dua hari nikah. Kalau memang kejadian, kelewatan banget sih Pak Bian."
"Mana ada saya gitu! Udahlah, mendingan kamu diam, Dim. Kepala saya makin pusing kalau denger suara kamu!"
"Bener nih pusing karena saya?" ucap Dimas berpura-pura tak peduli, ia kembali memeriksa setumpukkan dokumen yang ada di hadapannya. "Lebih pusing mana kalau yang nelponin dari tadi Bu Ajeng tapi sama Bapak di diemin terus? Saya sih nggak kebayang kalau ibu bakalan ngomel-ngomel lagi." lanjutnya lagi sembari menahan tawa.
Bian seketika menoleh pada Dimas dengan raut muka penuh pertanyaan.
"Mama? Mama nelpon saya? Kapan? Kenapa kamu nggak ngasih tahu saya, Dimas...?" tanya Bian panik kalau sudah bersangkutan dengan ibunya. Tidak bisa membayangkan akan secerewet apa jika ibunya sudah mengomel.
"Nggak tahu," pura-pura Dimas nampak tak peduli. Ia mengangkat kedua bahunya. Membalas ucapan monohok dari Bian. "Kayaknya ibu marah tadi waktu saya bilang telpon dari beliau itu nggak penting."
"Sialan lo, Dim! Awas aja kamu ya!" Bian segera meraih ponselnya, menjawab panggilan dari ibunya yang masih berdering. "Iya Ma..." Bian menjauhkan ponsel dari telinganya yang baru saja menempel untuk menyapa ibunya.
'Mampus gue!' batinnya merutuki.
*****