Secret Love

Secret Love
Bisik-bisik Tetanga



Pada siang hari tepat sebelum Bian dijadwalkan untuk pulang ke rumah, pria itu tengah tersenyum tipis menanggapi dua pria yang telah menjadi bagian dari dalam hidupnya. Kedua sahabatnya, Daniel dan juga Elang kembali menjenguk Bian yang mereka ketahui hari ini akan pulang setelah berbulan lamanya pria itu menghabiskan waktunya berbaring di pembaringan rumah sakit.


Senyum Bian mengembang tipis saat mendengar celotehan Elang yang bercerita tentang anaknya.


"Pokoknya, gue lagi gemes-gemesnya sama anak gue, Gio. Nggak berasa buntut gue itu udah makin gede aja. Bayangin aja Lo pada berdua, Lelah dan penat setelah pulang kerja terus disambut anak ganteng sama bini cantik," Elang berdecak sembari menggelengkan kepalanya. "Nikmat Tuhan mana yang dapat kau dustakan kawan..." adigungnya, memuji diri sendiri.


Bian dan Daniel yang mendengar celotehan Elang hanya dapat mampu tersenyum.


Memang tak salah sahabatnya itu. Diantara mereka bertiga, hanya Elang yang sudah bisa merasakan kebahagiaan dunia dengan memiliki sebuah keluarga kecil yang begitu membuat Bian dan Daniel merasa iri.


Bian tersenyum saat Elang kembali menceritakan bagaimana tingkah lucu anaknya yang membuat semua orang akan merasa gemas saat melihatnya, apalagi saat ini balita kecil itu hampir memasuki usia 2 tahun yang sedang aktif-aktifnya dalam masa tumbuh kembangnya.


"Bener udah sembuh ini, liat aja senyumnya udah kembali memikat para mantan di luaran sana." celetuk Elang menggoda Bian saat melihat sahabatnya itu yang baru saja sembuh dari sakitnya kembali tersenyum seperti dulu.


"Lo beneran mau pulang, Bi?" tanya Daniel memastikan akan kondisi kesehatan sahabatnya itu.


Bian mengangguk, "Iya, gue udah sembuh. Gue bosen disini dan pengen cepat pulang." jawab Bian dengan suara pelan karena masih lemas.


"Syukur deh kalau Lo udah bener-bener sembuh, Bi. Gue seneng banget saat denger sahabat gue ini ternyata udah bisa pulang ke rumahnya." Elang merangkul bahu Bian hingga pria itu meringis kesakitan karena saking senangnya.


"Auch..." ringis Bian merasakan sakit di bagian kakinya.


"Hati-hati, Lang. Bian masih sakit kakinya," seloroh pria setengah bule itu mengingatkan sahabatnya.


"Sorry-sorry, gue nggak sengaja, Bi!"


"Gak apa-apa, cuma masih sedikit ngilu."


"Lo sih bilang udah sembuh tapi masih ngerasa sakit aja kakinya. Gimana ceritanya mau pulang?" ujar Elang ada benarnya.


"Gue beneran udah sembuh, Lang..." keukeuh Bian. Menatap Elang dengan tatapan menghunus meski tak setajam dari biasanya.


Elang menelan ludahnya susah payah. Masih sakit saja tapi Bian sudah bisa keras kepala. Dasar memang sahabat satunya itu, sejak dulu selalu tidak mau terlihat lemah di depan banyak orang.


"Iya-iya, kayaknya ini kaki sakit lagi karena bekas dulu jatuh di motor itu, kan? Waktu Lo nganter pulang Sania. Lo inget kan Bi? Pasti ini nih penyebabnya. Emang ya tuh cewek enggak dulu nggak sekarang bisanya bikin Lo susah aja, Bi. Dulu ngilang gitu aja tanpa ada kabar setelah Lo masuk rumah sakit gegara kaki Lo patah. Eh sekarang kejadiannya sama lagi, bekasnya pula yang buat Lo sakit kayak gini." celotehnya teringat akan masa lalu sebuah peristiwa tragis yang menimpa Bian.


Bian hanya mengatupkan mulutnya mendengar Elang yang terus bercerita dan mengingatkannya akan kenangan masa lalu itu.


"Udah, Lo nggak perlu ingetin Bian itu lagi, Lang." sahut Daniel.


"Iya sih, tapi gue gedeg aja gitu. Ngomong-ngomong, apa kabarnya Sania ya, Bi? Penasaran gue sama bentukan dia sekarang kayak gimana. Makin cantik kali ya, wiih..." Elang membayangkan teman sekolah perempuannya itu yang sekaligus mantan pacarnya Bian.


"Lang..." peringat Daniel dengan suara menggeram.


"Eh-eh tunggu-tunggu! Tapi gue penasaran sih. Diantara semua mantan Lo Bi, yang gue pikir paling cakep dan mendekati kata sempurna sih si Sania doang. Dibanding siapa itu namanya--" Elang terlihat seolah tengah berpikir, "Linda! Sebelas dua belas lah. Tapi gue tetep pegang Sania sih." cerocosnya membuat Daniel was-was saat mendengarkannya. Bian masih terlihat santai mendengarkan celotehan sahabatnya itu.


"Tapi--"


"Lang, udah." peringat lagi Daniel pada Elang.


"Apa sih Niel? Gue kan lagi ngomong ini! Bentar, gue jadi makin penasaran tahu!"


"Apa?" tanya Daniel. Bian pun tak kalah untuk mengerutkan keningnya.


"Gue inget satu nama cewek yang Lo bilang paling cantik yang pernah Lo liat bareng si kurcaci Fira." Elang nampak berpikir serius. Hingga decakan lidahnya membuat Bian dan Daniel terkejut.


"Kiana! Ya, Kiana. Gue inget namanya Kiana, kan Niel? Gue penasaran secantik apa itu cewek kalau dibandingkan sama pesona aduhainya si Sania. Hemm... Gimana, Niel? Iya gak sih?"


Daniel menyikut Elang lumayan keras saat melihat Bian kembali berair muka muram ketika mendengar nama Kiana menggaung di ruangan itu.


"Apaan sih Lo Niel ah, heran gue! Kenapa sih Lo, hah?!"


Daniel tak menjawab, ia hanya memberitahu Elang dengan menunjuk Bian menggunakan sorot kedua manik matanya. Seolah menyuruh Elang untuk diam biar nggak perlu lagi berbicara.


"Bi, Lo baik-baik aja kan?" tanya Daniel pelan-pelan melihat Bian yang terdiam dengan tatapan kosong menunduk ke arah bawah.


"Kiana," ucapnya menggumam. "Kiana, Niel?" ucapnya lagi dengan suara bergetar. Bian menatap Daniel dengan sendu seolah mengatakan bahwa dia sangat merindukan gadisnya, Kiana.


Daniel dan Elang saling bertukar pandang saat mendengar Bian memanggil sebuah nama yang membuat pria itu kembali merenung dalam kesedihannya.


***


"Ini kurang neng," ucap seorang penjaga toko saat memberitahu Kiana jumlah uang yang ia berikan untuk membayar barang belanjaan miliknya itu kurang.


"Berapa, Pak?"


"Lima belas ribu, harga susu kental manis sekarang lagi naik."


"Wah, nggak bisa atuh. Itu udah harga pas. Saya nggak balik modal kalau kurangnya banyak." jawab penjaga toko tersebut.


"Begitu ya, Pak." Kiana nampak menimbang-nimbang, "Kalau begitu saya ambil beras sama susunya aja."


"Telurnya nggak jadi, Neng?"


"Nggak jadi, Maaf ya Pak."


"Oh ya sudah, jadi uangnya pas ya."


Kiana mengangguk seraya menerima barang belanjaan miliknya dan segera bergegas untuk membawanya pulang karena si kecil sudah merengek dalam gendongan.


"Sabar ya, Nak... kita sebentar lagi sampai rumah," ucap Kiana berbicara pada bayinya yang saat ini sudah menangis karena bosan berada dalam gendongan kain jariknya.


Disepanjang perjalanan pulang, Kiana dapat melihat anak-anak yang tengah bermain berlari-larian di sepanjang jalanan yang sempit dan berliku di sebuah perkampungan padat di pinggiran ibu kota.


Ia berjalan menyusuri jalanan kecil hingga mengharuskannya untuk memasuki gang demi gang menuju rumahnya yang terletak paling ujung. Jalan sempit yang pengap bersisian dengan dinding rumah-rumah warga yang saling berhimpitan tanpa jarak yang memisahkan. Kiana terus melangkahkan kaki seiring dengan anak-anak kecil yang mengikutinya dengan bisik-bisik dan suara tawa yang seolah menemaninya berjalan hingga penghujung jalan memperlihatkan rumah mungilnya.


Sebuah rumah petak yang berada di tepian sungai dengan keadaan yang sudah memprihatinkan disinilah Kiana dan bayinya berada. Mereka tinggal di rumah tersebut sebagai satu-satunya tempat untuk berlindung dari panas dan hujan. Sebuah tempat yang dijadikannya sebagai pengharapan untuk mengadu nasib, menggapai asa, demi bertahan hidup di tengah keadaan yang begitu sangat keras dan sulit.


Saat tengah melewati sekumpulan tetangga yang di dominasi oleh para wanita paruh baya, Kiana menundukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Eh-eh, bu-ibu, lihat tuh!" tunjuk seorang wanita berbisik saat melihat Kiana tengah melewat di depannya.


"Eh, Neng Kiana. Baru pulang nih?" tanya seorang ibu-ibu saat melihat Kiana dan menyapanya.


"Iya, Bu." balas Kiana pendek dengan ramah.


"Aduh, itu kasian bayinya nangis terus dari tadi. Haus atau laper mungkin. Kalau nggak di cek dulu atuh popoknya."


"Iya, Bu. Ini juga saya buru-buru pulang karena khawatir popoknya penuh. Kalau begitu saya permisi," Kiana pun pergi meninggalkan sekumpulan tetangga itu yang kembali bergunjing selepas kepergiannya.


"Kasian bener si Kiana. Mana bayinysma masih kecil, tinggal sendirian kagak punya keluarga, eh lakinya pun belum pulang-pulang juga sampai tuh anaknya udah brojol."


"Lagian masih muda udah punya anak aja, mana banting tulang nyari duit bawa-bawa bayinya terus lagi. Kan kasian anaknya," decak seorang ibu-ibu.


"Iya Bu-ibu, mana kagak ada lakinya lagi. Kasian sih si Kiana. Tapi denger-denger lakinya kagak ada karena belum balik merantau keluar pulau ya?"


"Ya kalau bener nggak balik-balik ada lakinya. Lah, kalau kenyataannya kagak ada, gimana ceritanya itu?"


"Jadi mpok bilang dia bunting punya anak kagak ada lakinya gitu?"


"Ye... gua mah kagak ngomong kayak gitu!"


"Terus namanya apa dong, Mpok?"


"Ya gua kagak tahu! Pokoknya mulai sekarang kita harus lebih hati-hati ama laki kita masing-masing. Jangan sampai laki kita tergoda imannya ama kembang yang lebih seger dibandingin kembang layu kayak kita."


"Bener juga sih. Mana masih muda, cantik, tapi kita nggak tahu dia masih gadis atau sudah janda."


"Kayak lagu aja," mereka pun tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan orang yang tengah mereka bicarakan.


***


Sesampainya di rumah, Kiana menidurkan bayinya yang masih merengek untuk segera memeriksakan popok bayinya.


"Al nangis karena popoknya udah penuh ternyata," ucap Kiana berbicara pada bayinya. "Kasihan anak ibu dari tadi nangis karena nggak nyaman."


"Ibu bersihin dulu ya biar nanti tidurnya nyaman." lanjutnya lagi sembari membersihkan bayinya.


"Ibu minta maaf ya, Nak. Untuk sekarang Al nggak pakai popok dulu. Uang ibu nggak cukup buat beli popok, Nak. Ibu janji setelah dapat uang nanti, ibu akan belikan semua kebutuhan Al yang banyak. Biar nanti Al bisa minum susu, dan juga bisa pakai popok setiap hari." terangnya pada bayi kecil yang tengah memperhatikannya dengan kerungan alis seperti sedang mendengarkan ibunya berbicara. Kedua tangan dan kaki mungilnya bergerak-gerak seperti ingin meraih Kiana dengan tangan kecilnya.


"Nah, udah selesai. Sekarang Al minum ya, sayang. Biar tidurnya nyenyak terus nggak nangis lagi." Kiana memberikan botol susu yang sebelumnya ia sediakan untuk bayinya.


Kiana menimang-nimang bayinya yang tengah menyusu sembari berucap lirih saat melihat putra kecilnya itu mulai terpejam.


"Maafin Ibu yang belum bisa membahagiakan Al. Ibu belum bisa memberikan kebutuhan Al dengan sebagaimana mestinya yang Al butuhkan. Ibu janji akan berjuang sekuat tenaga untuk anak shalehnya ibu ini. Terima kasih karena Al sudah hadir dalam hidup ibu, dan sudi menemani ibu dalam segala kekurangan yang ada." lirihnya berucap.


"Sabar ya, Nak. Al harus bertahan seperti selama ini Al berjuang untuk tetap dalam dekapan ibu. Al adalah anak yang kuat. Karena Al adalah harta berharga satu-satunya ibu. Cuma Al yang ibu punya di dalam dunia ini." ungkapnya membelai lembut wajah putra malangnya itu.


"Sehat selalu ya, sayang. Doakan ibu agar dapat membahagiakan Al. Karena Ibu sangat menyayangi Al." tutupnya dengan kecupan kecil di wajah bayinya yang kini telah tidur terlelap.


*****