
Seperti biasa Bian akan menghampiri Kiana jika malam sudah tiba. Meski hatinya sedang kesal, tapi rasa keinginannya untuk selalu bertemu dengan Kiana tidak dapat dia elakkan.
Sejak kepulangannya dari cafe tadi sore, Bian sama sekali tidak menegur Kiana, bahkan tak segan Bian selalu memasang wajah cemberut walau ia sengaja berhilir mudik di depan gadis itu yang tengah mengerjakan berbagai pekerjaan rumah.
Hal itu justru mengundang cibiran dari adiknya sendiri. Fira tak kalah kesal dengan kelakuan kakaknya itu. Bukan hanya kesal karena Bian yang memarahinya karena hal sepele, tapi juga karena sudah mengganggu waktunya yang masih ingin bersama dengan Daniel. Fira kan masih kangen dengan laki-laki satu itu.
Saat ini Bian sudah berada di kamar Kiana. Sebelumnya ia sudah memastikan jika tidak ada orang yang tahu akan aktifitas yang selalu dia lakukan jika tengah malam tiba. Yaitu datang menemui Kiana secara diam-diam. Dan itu terbukti hampir dua pekan lamanya ia melakukan itu diam-diam tanpa ada yang mencurigainya. Termasuk adiknya sendiri, Syafira.
Bian berbaring membelakangi Kiana tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sejak gadis itu membukakan pintu masuk untuknya. Tak tega sebenarnya, tapi Bian masih kesal dengan Kiana yang mau saja ditinggal berdua dengan Daniel ketika di cafe. Bian paling benci dan tidak suka jika apa yang dia pikir itu miliknya harus dekat dengan lelaki lain selain dirinya, apalagi Daniel itu sahabatnya. Awas saja kalau si Daniel menyukai Kiana. Bukannya waktu itu Bian pernah curhat tentang masalahnya dengan Kiana. Seharusnya sahabatnya itu bisa menjaga jarak, bukan malah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Kiana duduk di kursi rias kecil, tak berani ikut berbaring di sebelah Bian. Biasanya pria itu yang selalu berinisiatif menarik dirinya untuk ikut merebahkan diri bersamanya. Tapi Kali ini, Bian tak seperti itu. Pria itu terlihat dingin, seolah menghakiminya karena suatu kesalahan besar yang sudah ia perbuat.
Sejak sore tadi Kiana merasakan ada hal yang berbeda dari sikap Bian. Pria itu seolah menghindarinya. Jelasnya enggan melihat kearahnya sekali pun. Kiana bingung sendiri jadinya. Apa dia melakukan kesalahan yang membuat Bian marah padanya? Kiana terus memikirkan hal itu sejak tadi.
Ternyata, diabaikan seperti itu rasanya tidak enak ya. Pikir Kiana.
"Tidur, sudah malam." ucap Bian di balik suaranya ia berpura-pura memejamkan matanya, padahal tidak tidur.
Kiana menoleh pada Bian yang pada akhirnya bersuara. Tapi yang dia lihat pria itu masih memunggunginya. Menyebalkan sekali. Maunya apa sih? Dia seperti sudah melakukan dosa besar sebagai seorang istri.
Istri?
Kiana berpikir dalam-dalam pernyataan hatinya yang baru saja mengakui sebagai sosok seorang istri bagi Bian. Ralatnya, mungkin istri sementara sampai bayi yang ada dalam kandungannya lahir, dan entah tidak tahu apa yang akan terjadi nanti kedepannya pada jalan hidup mereka bertiga.
Kiana mengesah, menenangkan hatinya yang serasa sesak.
"Kamu mau terus duduk di sana semalaman, Hem?" ucap Bian lagi yang kini sudah menatap Kiana yang ternyata sedang melamun memikirkan sesuatu hal dalam benaknya.
"Sebegitu senangnya kamu bertemu dengan pria baru?" Bian terkekeh sinis.
Sungguh, perasaannya saat ini sedang tidak baik. Ia memang begitu kesal saat melihat photo kebersamaan Kiana dan juga Daniel sahabatnya hanya berdua dalam satu meja yang sama. Meski Fira sudah menjelaskan bagaimana bisa ia mengirim photo tersebut padanya, tapi tetap saja Bian masih tidak terima dengan kenyataan bahwa Kiana bersama dengan laki-laki lain.
Kiana menoleh pada Bian dengan kerutan di dahinya. Tidak mengerti dengan arah pembicaraan pria itu.
"Maksud Bapak apa? Saya nggak ngerti apa yang Bapak bicarakan." ucap Kiana.
"Sudah, lupakan saja. Membahas ini semalaman nggak akan ada habisnya. Yang ada semakin menambah saya kesal saja." terang Bian, memalingkan wajahnya sembari bersedekap dada. Bian benar-benar tengah merajuk pada Kiana.
Kiana yang melihat hal itu berusaha menahan tawanya dengan menipiskan bibirnya. Bian seperti anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya. Terlihat lucu dan sangat menggemaskan.
"Kemari," perintah Bian yang masih duduk bersila di atas kasur. Kiana tak langsung meresponnya. Gadis itu tetap berusaha menahan senyumannya. Bagaimana tidak, Bian berbicara padanya tapi masih tetap memalingkan muka darinya. Apa memang seperti ini ya jika pria itu merajuk pada ibunya. Ah, ternyata Pak Bian anak Mama juga ternyata kalau memang seperti itu.
Bian mendengus kesal karena Kiana tak mendengarkan ucapannya. Ia kembali berbaring membelakangi Kiana dengan wajah yang cemberut.
Kiana tak ubah seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya. Tak mau sampai laki-laki itu terus menerus kesal kepadanya, Kiana akhirnya ikut membaringkan tubuhnya di samping Bian dengan hati-hati. Sama seperti Bian, Kiana membelakangi pria itu sehingga mereka dalam posisi saling memunggungi.
Tak tahan dengan keadaan itu, Bian akhirnya membalikkan badannya menghadap Kiana kala merasai Kiana sudah bersamanya. Ia memperhatikan bahu Kiana yang sedikit terbuka memperlihatkan kulit putih bersih gadis itu yang seketika membuat Bian menelan salivanya susah payah.
Didekatinya Kiana perlahan sampai tidak menyisakan jarak diantara mereka. Kemudian ia mengulurkan tangan menyampirkannya pada pinggang Kiana. Memeluk gadis itu dengan posesif, menariknya lebih dekat agar menempel pada tubuhnya. Sangat erat hingga Kiana dapat merasakan hembusan napas Bian di ceruk lehernya.
***
Bian bersenandung pelan saat ia tengah mengemudikan laju kendaraannya. Suasana hati pria itu sedang baik. Nampak wajah ceria dan senyum yang terus terukir di bibirnya menandakan bahwa hati Bian sedang berbunga-bunga.
"Pak?" ucap Kiana tetiba saat Bian masih bersenandung mengikuti lagu yang sedang ia putar.
Pria itu nampak menikmati perjalanannya hari ini, apalagi saat ini disampingnya ada Kiana yang menemani. Lebih tepatnya membawa gadis itu diam-diam ke suatu tempat, apalagi dengan kebetulannya hari ini Fira tengah berkunjung ke rumah om dan tantenya, sehingga tidak akan menimbulkan kecurigaan dari adiknya itu jika ia membawa Kiana keluar rumah.
"Ya?" tanya Bian, sekilas menoleh pada Kiana yang berada di samping kemudinya.
"Ada yang ingin kamu katakan, Hem?" Bian menunggu Kiana kembali bersuara cukup lama. "Bilang saja, saya nggak akan marah." ujarnya dengan menyelipkan sebuah senyuman manis.
Kiana memberanikan diri meski sedikit khawatir.
"Maaf Pak, kita akan kemana?" tanyanya kemudian dengan hati-hati.
"Ke suatu tempat." jawab Bian santai.
"Kemana?" tanya lagi Kiana dengan menautkan kedua alisnya yang masih penasaran kemana pria itu akan membawanya pergi.
"Suatu tempat, kamu akan menyukainya nanti." lagi Bian tidak mau mengatakan kemana tujuan mereka pergi.
Lama mereka terdiam. Akhirnya Bian kembali mengucapkan sesuatu yang membuat Kiana membulatkan matanya.
"Kiana?"
"Ya?" balas Kiana kembali menoleh pada Bian yang hendak akan mengucapkan sesuatu dari mulutnya.
"Saya nggak suka,"
"Maksud Bapak? Saya nggak ngerti." Kiana meringis tak mengerti apa yang dikatakan oleh Bian.
"Saya nggak suka melihat kamu seperti kemarin." ungkap Bian.
Kiana nampak berpikir. Mengingat-ingat hal yang terjadi saat kemarin yang mana membuat Bian merajuk padanya.
"Mengenai apa? Maaf kalau saya lancang pergi keluar rumah tidak dengan izin dari Pak Bian."
"Termasuk itu." Bian menegaskan kekhawatirannya. "Bukan melarang, tapi saya nggak mau terjadi sesuatu pada kalian berdua. Tapi ada hal lain yang membuat saya kesal."
"Karena saya?"
"Bukan," Bian menggeleng pelan. "Saya nggak suka ada pria lain dekat dengan kamu, siapa pun itu saya nggak suka." lanjutnya lagi.
"Mas Daniel? Bapak salah paham. Saya dan Mas Da--"
Bian mencebikkan bibirnya. Hatinya tiba-tiba memanas saat mendengar Kiana memanggil Daniel dengan embel-embel 'Mas' untuk sahabatnya itu.
"Dia sahabat saya." potong Bian sebelum Kiana menyelesaikan kalimatnya. " Kami bersahabat sangat lama. Sejak kami masih duduk di bangku SMP, saya dan juga Daniel sudah berteman. Dan juga Elang, kami bertemu saat memasuki sekolah menengah atas yang sama."
Kiana mendengarkan cerita Bian yang mengisahkan pertemenan Bian dengan para sahabatnya yang sudah terjalin sejak lama.
"Saya tahu bagaimana sifat dan watak mereka. Terutama Daniel. Elang sudah berkeluarga, apalagi dia sudah dikarunia seorang bayi mungil yang sangat tampan, mirip sekali dengannya. Sedangkan Daniel dia masih sendiri, jarang sekali mengenalkan teman wanitanya sejak dulu. Dia sangat tertutup dengan masalah percintaannya."
"Saya sangat mengenali Daniel seperti apa. Dia bukan tipe sahabat yang dapat menikam sahabatnya yang lain dari belakang. Saya yakin dia dapat menjaga kepercayaan para sahabatnya."
"Saya nggak suka jika apa yang sudah saya miliki dapat di dekati atau di miliki juga oleh orang lain." ungkap Bian sekilas melirik ke arah Kiana yang diam mendengarkan.
Hening, hanya terdengar deru suara mesin mobil dan sahutan suara dari kendaraan lain yang ada di jalanan itu.
"Sudah sampai," ujar Bian saat kendaraan yang ia tunggangi sampai di tempat yang ia tuju.
"Saya pernah berjanji akan memberikan kebahagiaan itu sama kamu, benar?" Bian menatap Kiana dengan tatapan teduh yang membuat Kiana terenyuh.
"Dan ini salah satu cara saya agar kebahagiaan itu pantas kamu dapatkan, datang untuk menjemput kita mulai saat ini." ucap Bian dengan mengulas senyum seraya mengusap puncak kepala Kiana.
"Saya berjanji untuk itu," yakinnya lagi membingkai wajah Kiana dengan kedua tangannya.