Secret Love

Secret Love
Saya Nggak Marah



Kiana menatap box makanan yang berada tepat dihadapan matanya. Jika biasanya ia akan terlihat bersemangat saat Bian sudah terbiasa selalu membawakan berbagai jenis makanan yang hampir tak pernah Kiana makan sebelumnya, namun kini ia hanya menatap tanpa minat kearah makanan tersebut.


Kiana hanya memainkan ujung bajunya tak berani menatap Bian yang memperhatikannya dengan gurat wajah kekecewaan. Bian sedang merasa kesal padanya. Tidak tahu apa penyebab yang membuat laki-laki yang ada di hadapannya itu terlihat marah. Kiana hanya menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah menahan air mata yang mulai menggunung di sudut matanya.


"Makan," ucap Bian saat melihat Kiana yang hanya terdiam seperti malam-malam sebelumnya. Tak mengeluarkan suaranya sepatah kata pun, lebih banyak mengabaikan dirinya meski mereka tengah duduk saling berhadapan.


Bian melihat Kiana mengusap pipinya. Menghapus jejak lelehan air bening yang tidak tertahan yang akhirnya menetes juga. Sudut hatinya serasa nyeri teriris. Melihat sosok gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya itu menangis karena dirinya.


Lagi dan lagi Bian membuat Kiana tersakiti. Merasakan kesedihan sampai menahan tangis hingga tak bersuara seperti itu. Dia memang seorang laki-laki yang bodoh, dan juga sosok seorang suami yang tidak mengerti akan perasaan tentang seorang istri. Dia lebih mementingkan ego dan juga sifat kerasa kepalanya hanya dengan melihat tanpa mau berinisiatif untuk bertanya.


Meski pernikahan yang telah mengikat mereka dalam sebuah hubungan yang lebih dalam menjadi sepasang suami istri, tapi mereka belum paham akan makna tentang konsep berumah tangga yang sebenarnya itu seperti apa. Apalagi mereka menikah karena keterpaksaan kerena keadaan.


Kiana masih terlalu dini diusianya untuk membina sebuah hubungan dalam ikatan janji suci.


Bian tak pernah berpikir jauh ke depan. Dia hanya berpikir tentang rasa tanggung jawabnya pada Kiana saja. Dan juga tak mau lagi melihat gadis itu terus merasakan kesedihan karena Bian telah membuat kehidupannya hancur.


Dia tak mengerti tentang Kiana. Terlebih gadis itu tengah mengandung bayinya. Hasil perbuatan bejatnya yang telah merenggut masa depan Kiana. Dia juga tidak tahu bagaimana cara menghadapi seorang wanita hamil. Apa yang harus dia lakukan untuk kedepannya bersama Kiana Bian pun tidak tahu. Yang terpenting dia dapat mengatasi masalah hari ini dan untuk esok hari bagaimana nanti saja. Itu pola pikirnya saat ini.


"Kamu nangis?" tanya Bian saat mendengar isakan tangis mulai terdengar lirih di telinganya. "Karena saya?" tanyanya kembali memastikan.


Kiana tak menjawab. Gadis itu tetap diam dengan tangis yang semakin luruh saat Bian bertanya padanya. Mendengar suara Bian saja sudah membuat Kiana bingung dengan perasaan yang tengah dia rasakan saat ini. Ada perasaan rindu yang tidak tertahan selama seharian ini. Dan juga ada perasaan marah yang terselip dihatinya saat Bian pulang tetiba mengomelinya karena masih berkutat dengan pekerjaannya di malam hari.


"Saya udah buat kamu nangis, iya?" Bian menurunkan wajahnya untuk melihat Kiana dengan pasti jika gadis itu memang sedang menangis karena ulahnya. Bian tak menyangka jika hanya mengomeli Kiana karena gadis itu masih terlihat bekerja di malam hari harus sampai menangis seperti itu.


Kiana sedang hamil. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu yang membahayakan Kiana dan juga bayi yang ada dalam kandungannya. Bian akan merasa semakin bersalah jika hal itu sampai terjadi. Dan menyesal adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya.


"Kia..." panggilnya pada Kiana yang malah memalingkan wajahnya ketika Bian semakin mendekatkan kepalanya untuk mengintip wajah Kiana. "Kamu beneran menangis karena saya?"


Kiana mengusap aliran air mata yang mengalir di pipinya. Ia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Bian yang semakin ingin membuatnya menangis.


"Maaf..." satu kata permintaan maaf kembali keluar dari mulut Bian untuk meminta pengampunannya dari Kiana. "Maafin saya udah buat kamu nangis lagi. Saya nggak mau lihat kamu kelelahan karena terlalu banyak bekerja. Apalagi ini sudah malam. Kamu harus banyak istirahat. Saya takut terjadi sesuatu sama dia dan juga kamu." jelasnya saat ia teringat sudah mengomeli Kiana sampai menangis.


"Saya mohon jangan nangis lagi. Saya nggak bisa lihat kamu menangis seperti ini karena saya. Maaf..."


Kiana menggelengkan kepalanya. Ia memberanikan diri untuk menatap Bian dengan sisa air mata yang masih tertinggal di wajahnya.


"Bapak marah," ungkap Kiana.


Bian menghela napasnya lega. Akhirnya malam ini ia dapat mendengar suara Kiana setelah berhari-hari gadis itu sengaja membisu dihadapannya.


"Saya marah? Kenapa saya harus marah? Saya tadi cuman sedikit kesal karena kamu nggak mau dengerin dan nurut sama saya buat nggak terlalu capek saat bekerja. Saya nggak marah."


"Bukan," Kiana kembali menggelengkan kepalanya.


"Lalu?" Bian mengerungkan dahinya dalam.


"Saya nggak nangis karena Bapak omelin. Saya cuman takut Bapak marah karena sudah membuat baju punya Bapak semakin kotor. Maaf..." lirihnya kembali menitikkan air mata walau tak seintens seperti sebelumnya.


Bian melongo ketika mendengar pengungkapan Kiana saat beralasan mengapa gadis itu menangis. Jadi bukan karena ia yang sudah mengomelinya, akan tetapi karena sebuah baju kotor miliknya?


Ingin rasanya Bian tertawa. Tapi sebisa mungkin dia tahan. Dia hanya terkekeh pelan. Mengingat akhir-akhir ini Kiana begitu sangat sensitive dan mudah sekali menangis karena hal-hal kecil. Dan Bian tak mau jika sampai Kiana kembali merajuk hingga mengabaikan dirinya lagi. Itu membuatnya tak nyaman dan sampai kepikiran.


"Baju saya? Memangnya kamu apakan baju sampai membuat bajunya semakin kotor? Apa kamu jadikan kain lap di dapur? Kalau itu sih saya bakalan marah." Bian mengulum senyum, menipiskan bibirnya menahan tawa. Ternyata menggoda Kiana seperti ini sangat menyenangkan pikirnya.


"Cuma apa, hem? Coba kamu bilang, kamu apain baju saya tadi sampai ngira saya bakalan marah?"


"Saya cuma--bajunya..." Kiana bingung untuk berkata apa. Tidak mungkin jika ia berkata tentang apa yang sebenarnya dia lakukan sebelum Bian dengan tiba-tiba datang saat dirinya sedang menciumi aroma baju milik Bian yang membuatnya senang bukan kepalang.


"Kenapa bajunya?" tanya Bian semakin asik menggoda Kiana. Bian senyum-senyum sendiri. Sebenarnya dia melihat apa yang sedang dilakukan oleh Kiana sesampainya dia datang di ruangan itu. Ia menyadari tingkah aneh Kiana yang membuatnya meringis.


"Kamu suka?" tanya Bian.


Kiana menoleh pada Bian sekilas. Tak lama berselang ia kembali memalingkan wajahnya.


"Suka? Kamu suka nyiumin aroma baju kotor saya? Kenapa?" ucap Bian akhirnya. Ia ingin tahu alasan mengapa Kiana begitu menyukai dengan aroma baju kotor miliknya. Bukan kah itu hal yang aneh? Apa Kiana tidak merasa jijik dengan apa yang dilakukannya pada baju kotor yang mengeluarkan bau keringat miliknya?


Kiana semakin tergugu menangis saat Bian mengatakan itu padanya. Dia malu sekaligus takut jika Bian akan benar-benar marah padanya karena sudah berbuat kurang ajar sebagai pembantu di rumahnya. Kiana menyadari hal itu. Tapi apa boleh buat, Kiana tidak dapat menahan keinginan anehnya itu. Kiana sangat malu tertangkap basah oleh sang pemiliknya.


Tidak tega, Bian meraih raga Kiana yang bergetar karena menahan tangis yang pada akhirnya pecah juga saat tubuh kecil itu sampai pada pelukannya.


Bian mendekap erat Kiana. Melingkarkan kedua tangannya pada raga itu. Ujung dagunya ia letakkan pada pucuk kepala gadis itu. Sesekali ia mengusap surai hitam panjang milik Kiana dengan lembut. Menenangkan gadis itu agar tidak kembali menangis, karena dia cukup khawatir jika bayi yang ada di dalam kandungannya ikut bersedih karena ibunya terus menangis karenanya.


"Nggak perlu nangis. Kalau kamu suka saya nggak bakalan ngelarang. Itu cuma baju kotor. Tapi yang buat saya aneh, kenapa kamu suka sekali nyiumin baju kotor saya? Baju saya bau keringat, apa tidak jijik?"


Kiana menggelengkan kepalanya yang bersandar pada dada bidang Bian. Rasanya nyaman sekali. Ia bahkan lebih menyukai menghirup aroma Bian secara langsung yang membuatnya meraskan


ketenangan. Seolah perasaan gelisah yang menyelimutinya sepanjang hari ini menguap begitu saja. Kiana benar-benar merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Bian mengurai pelukan mereka. Ia menangkup wajah Kiana dengan kedua tangannya. Memindai ciptaan Tuhan yang begitu membuatnya terpesona. Kiana begitu sangat cantik di usianya yang masih sangat belia. Ia mengusap pipi basah Kiana dengan lembut. Mengusap benda kenyal yang terlihat ranum berwarna peach bak buah ceri yang siap untuk dia lahap. Membuat Bian menelan salivanya susah payah. Hingga tak tahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Kiana dan segera menyergap bibir indah dan hangat itu dengan bibirnya. Menekan lebih dalam meski Kiana tak membalasnya, setidaknya gadis itu tidak menolak juga.


Bian mengusap lembut bibir Kiana yang terlihat basah oleh karenanya. Di tatapnya wajah cantik Kiana yang semakin hari semakin memancarkan kecantikannya. Bian sungguh sangat terpesona olehnya. Jika mengikuti keegoisannya, ingin rasanya Bian mengurung gadis itu selamanya dalam pelukannya.


"Jangan acuhkan saya lagi. Saya nggak bisa lihat kamu diemin saya seperti itu. Saya tahu kamu marah karena kejadian tempo hari. Saya sudah bilang, jangan dengarkan perkataan wanita itu. Saya akan pastikan, dia akan menerima balasannya karena telah berani menyakiti kamu. Jangan marah lagi, oke?" tutur Bian seraya menatap lekat irisan bening mata Kiana.


Ah... itu membuat degup jantung Bian semakin berdetak lebih cepat dari biasanya saja.


"Saya nggak marah," ucap Kiana dengan suara seraknya. "Saya kemarin cuma benci Bapak, karena Bapak terus maksa saya buat makan banyak terus." ungkapnya yang menjadi alasan Kiana mengacuhkan Bian karena kelewat sebal.


"Hah?!" Bian membulatkan matanya tak percaya. "Gara-gara itu? saya kira,"


Kiana semakin aneh saja. Wanita hamil memang penuh kejutan baginya. Bian menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


"Maaf," kikuknya, dengan cengiran khas laki-laki itu, yang mana terlihat sangat lucu dan menggemaskan bagi Kiana.


*****


Akhirnya bisa nulis juga dan update walau sehari cuma 1 bab aja. Absen beberapa hari ini karena lagi sibuk, dan mungkin akan lebih sibuk lagi sampai bulan depan karena tugas sekolah yang menumpuk. Tapi akan diusahakan untuk menulis, dan up sehari 1 bab. Jadi, tetap setia ya buat baca kelanjutan cerita novel ini.


Makasih buat yang sudah tetap menunggu novel ini, tetap dukung aku ya agar dapat menyelesaikan karya novel SECRET LOVE ini.


Thanks,


happy reading ygy,


peluk online dari author.