
Deru suara kendaraan yang membawa keluarga kecil itu terdengar kala mereka telah memasuki pelataran rumah besar. Nampak Bian menuntun Kiana dengan hati-hati untuk keluar dari pintu mobil yang terlihat kesusahan saat membawa Al di dalam gendongannya.
Kiana cukup terperangah dan tak percaya saat kembali ke rumah yang sudah ia tinggalkan berbulan lamanya. Susana tampak masih sama seperti terakhir ia tinggalkan. Terlebih ia dapat melihat dengan jelas di pintu gerbang sana terdapat Arif dan Pak Joko yang tentu tengah memperhatikannya dari kejauhan.
"Kita sudah sampai, sayang. Apakah kamu tidak rindu dengan suasana rumah ini?" tanya Bian pada Kiana saat mereka saling berhadapan sebelum memasuki rumah yang mana Bian sadari kedua orang tuanya pasti sudah menunggu kedatangannya.
"Mas, aku--" ucap Kiana dengan tangan gemetar dan terasa dingin.
"Kamu tenang ya, ada Mas yang selalu ada di samping kamu. Kita hadapi semuanya bersama-sama." yakin pria itu sekali lagi mengecup punggung tangan Kiana untuk memberikannya keyakinan.
"Jagoan Bapak hebat sekali tidak menangis sepanjang perjalanan. Sebentar lagi Al akan bertemu dengan Oma dan Opa di dalam." alihnya pada sang putra yang terbangun membuka mata di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat Bian harus ekstra menjaga dan memperhatikan buah hatinya karena terkadang si kecil kerap sesekali menangis karena memuntahkan susu yang sudah ia minum.
"Mari Pak, bapak dan ibu sudah menunggu di dalam." ujar Dimas saat menghampiri mereka dan hendak membuka pintu bagasi mobil.
Bian mengangguk, seraya kemudian menggenggam tangan Kiana dan menuntunnya untuk melangkahkan kaki bersama masuk ke dalam rumah.
Tak dapat Kiana sembunyikan bagaimana perasaan cemas dan gelisah terus memperparah rasa ketakutan yang menyelimutinya di sepanjang ia melangkah melewati ruangan untuk bertemu dengan kedua orang tua Bian.
Bian memperhatikan Kiana yang terlihat tegang dengan rona pucat menghiasi wajah cantiknya. Tak ingin membuat sang istri yang semakin tersiksa dengan keadaannya, Bian merangkul Kiana untuk sekedar memberikan kekuatan padanya. Tidak dapat ia pungkiri, sama halnya seperti Kiana ia pun merasa jika ia begitu tegang dan cemas, takut jika apa yang diharapkannya tak sesuai dengan keinginan.
"Sayang, Mas minta kamu untuk tunggu di sini sebentar nggak apa-apa? Mas ingin mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Mama untuk dapat meyakinkannya. Karena walau bagaimana pun Mama pasti terkejut dengan kepulanganku membawa kalian ke rumah ini." ucap Bian menghentikan langkahnya. Dapat dilihat olehnya Al yang mulai tak nyaman dengan ruang geraknya yang sempit dalam gendongan kain jariknya.
Kiana hanya pasrah dengan menganggukkan kepalanya. Ia berusaha mengalihkan rasa ketakutannya dengan menenangkan bayi kecilnya itu.
"Mas akan cepat kembali untuk membawa kamu dan Al untuk bertemu Oma, Opanya." Ucap Bian seraya mencium kening Kiana sebelum pergi meninggalkan anak dan istrinya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga.
Bian melangkahkan kakinya dengan perasaan yang tak menentu. Kegelisahan terus menerpa dirinya dikala ia semakin mendekat dan memperlihatkan dirinya di depan kedua orang tuanya yang tengah duduk berdampingan bersama adiknya yang juga terlihat di sana.
"Ma, Pa," panggil Bian saat ia sudah berada dekat dihadapan kedua orang tuanya yang tak menyadari akan kedatangannya.
"Kak Bian!" teriak Fira saat mendapati Kakaknya yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah mereka.
"Bian!" pekik Bu Ajeng saat melihat putra sulungnya itu pulang. "Ya ampun, Bi... Akhirnya kamu pulang..." ucap Bu Ajeng haru akibat kekhawatiran pada putranya itu.
"Ma," pria itu menghampiri ibunya kemudian memeluknya sebagaimana ia juga yang sangat merindukannya. "Maafin Bian yang baru pulang hari ini menemui Mama,"
"Kamu kemana aja, Bi? Kamu itu udah buat Mama cemas karena terus mikirin kamu yang nggak pulang-pulang." sahut Bu Ajeng yang menangis haru dapat melihat anaknya itu.
"Maafin Bian, Ma," sesal pria itu pada akhirnya.
"Mama takut kalau kamu jatuh sakit lagi kayak dulu, Mama khawatir banget kamu bakalan kenapa-kenapa lagi." luapnya mencurahkan segala kecemasannya sebagai seorang ibu pada anaknya.
"Kami khawatir dengan keadaan kamu, Bi, melihat Mamamu yang terus bersedih karena mencemaskan anak laki-lakinya yang tak pulang-pulang." timpal Pak Hardi menengahi percakapan antara anak dan istrinya.
"Mama Papa jangan khawatir, Bian baik-baik aja. Bian bisa menjaga diri dari segala sesuatu hal yang bisa merugikan diri Bian sendiri. Mama jangan sedih lagi ya, Bian sekarang udah pulang buat ketemu sama kalian."
"Syukurlah kalau kamu memang baik-baik saja." sahut Pak Hardi yang ikut tenang melihat putranya yang memang terlihat baik-baik saja. "Apa yang sudah membuat kamu sampai tidak menyempatkan untuk pulang, Bi? Sebenarnya apa yang sedang kamu kerjakan akhir-akhir ini?" tanya Pak Hardi penuh selidik.
"Sebelumya Bian ingin meminta maaf sama Papa karena sudah mengabaikan pekerjaan dalam beberapa hari ini. Karena Bian nggak mau sampai kehilangan kesempatan untuk memperjuangkan apa yang selama ini Bian harapkan. Sebenarnya..."
"Kak, jangan bilang kalau Kakak--" tanya Fira yang sudah tak tahan ingin menanyakan sesuatu hal yang mengganjal baginya pada Kakaknya itu.
Bian menoleh pada adiknya yang terus memandanginya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Kak?" Fira terus gencar menekan Kakaknya atas keingin tahuannya itu.
Bian menganggukkan kepalanya. Sontak saja membuat Fira menutup mulutnya sendiri seolah dia tahu apa yang sedang Bian coba beritahukan padanya. Dengan cepat gadis itu beranjak pergi untuk memastikan apa yang dia pikirkan itu benar.
Tak dapat Fira duga, ia sungguh terkejut dengan apa yang dia lihat ketika mendapati seorang perempuan yang tengah berdiri dengan seorang bayi yang berada dalam gendongannya berada di sana. Fira sangat mengenali sosok itu meski perempuan dengan pakaian yang sederhana itu tengah membelakanginya.
"Sabar ya, Bapak sebentar lagi akan datang menjemput kita. Al nggak boleh nangis sayang, nanti orang-orang di rumah ini akan terganggu karena Al terus menangis." ucap Kiana yang tengah menenangkan bayinya.
"K-Kiana?" ucap Fira memanggil sosok yang lama tak pernah lagi ia temui itu.
Sontak membuat Kiana menoleh pada pemilik suara yang sangat ia kenali untuk memastikan jika ia tak salah mendengar.
"Ki, ini beneran kamu?" tanya lagi oleh Fira dengan suara yang bergetar menahan tangis saat memastikan jika apa yang dilihatnya kini benar sosok Kiana yang saat ini berada di rumahnya.
"Ya Tuhan Kiana..." Fira dengan terharunya langsung memeluk Kiana tanpa tedeng aling-aling saking senangnya kembali bertemu dengan gadis itu. "Akhirnya kamu pulang juga, Ki..."
"Mbak," Kiana tak dapat lagi berkata-kata, ia ikut membalas pelukan Fira yang membuat kedua gadis itu saling menangis larut dalam kesedihan.
"Kamu kemana aja Ki, kenapa kamu pergi dari rumah? Aku cari kamu selama ini tapi nggak pernah ketemu. Aku tuh takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu," ucapnya dengan suara yang tercekat diiringi tangis yang semakin luruh dengan deraian air mata.
"Maafin saya, Mbak," balas Kiana yang tak tahu lagi harus berkata apa.
"Kamu baik-baik aja kan?" Fira memeriksa keadaan Kiana dari atas kepala hingga ujung kakinya. Fira sangat sedih ketika melihat keadaan Kiana yang begitu ringkih dengan pakaian yang jauh dari apa yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Hingga ia tak sadar saat melihat sosok makhluk kecil yang berada dalam gendongan Kiana, tengah memperhatikannya dengan kerungan di dahi kecilnya.
"Ini keponakan aku?" ucap Fira masih dengan suara sesenggukkannya.
Kiana menganggukkan kepalanya, ia menatap Al yang tengah memperhatikan Fira yang mendekatkan wajahnya pada bayi kecilnya itu.
"Al, namanya Albio." ungkap Kiana dengan senyuman getirnya.
"Hai Al, ini aunty Fira, akhirnya kita bertemu..." sapa Fira mengelus lembut wajah tampan Al yang terlihat begitu menggemaskan. "Aunty kangen banget sama, Al. Oma, Opa juga pasti kangen sama Al yang tampan ini,"
"Mbak, Mas Bi--" ucap Kiana yang kalimatnya tak selesai saat Fira menginterupsinya lebih dulu saat tahu apa yang akan Kiana tanyakan padanya.
"Ayo, kita hampiri Kak Bian, sekalian kita bawa Al untuk menemui Oma, Opanya." ajak Fira menggandeng tangan Kiana menuju ruangan dimana Bian dan kedua orang tuanya berada.
Bian menundukkan kepalanya saat hendak mengatakan alasan mengapa beberapa hari ini ia tak ada pulang ke rumah, dan mengabaikan pekerjaannya yang baru saja kembali ia geluti pasca bangkit dari keterpurukannya.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan, Bi. Jangan membuat kami semakin penasaran. Apa sudah terjadi sesuatu sama kamu?" tanya Pak Hardi pada anaknya yang semakin memperlihatkan gestur yang mencurigakan.
"Bi, apa yang ingin kamu katakan?" Bu Ajeng ikut bersuara yang semakin penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Bian.
"Sebenarnya, Bian--"
"Ma," panggil Fira pada ibunya yang kembali ikut bergabung bersama kedua orang tuanya. "Mama pasti bakalan terkejut kalau tahu siapa yang udah datang hari ini," ucapnya dengan raut berbinar walau jejak-jejak air mata masih terlihat di wajahnya.
"Siapa yang kamu maksud, Ra?" tanya Bu Ajeng.
"Mama tahu, di depan sana ada siapa?" Fira semakin membuat kedua orang tuanya penasaran saja. Hingga Bian pun ikut menoleh pada adiknya yang hendak akan membuka mulutnya lagi untuk mengatakan sesuatu.
"Kak, ayo cepetan bawa mereka sekarang juga untuk bertemu dengan Mama dan Papa,"
Bian pun beranjak untuk menemui anak dan istrinya yang bersembunyi tak berani menampakkan dirinya di hadapan kedua mantan majikannya itu.
"Sayang, ini sudah saatnya Al bertemu dengan kakek dan neneknya. Kita hadapi bersama-sama ya, Mas yakin Mama dan Papa pasti akan menerima kehadiran kamu dan Al," ajak Bian yang sejurus kemudian merangkul bahu istrinya itu.
Saat langkah mereka semakin mendekat pada kedua orang tua Bian yang tengah duduk dengan gelisah menunggu kejutan apa yang ingin Bian tunjukkan pada mereka. Bian dengan keteguhan dirinya begitu mantap ingin mempertemukan Kiana dan Al kepada kedua orang tuanya.
"Ma, Pa, Bian mengajak pulang dua orang yang selama ini Bian perjuangkan. Mereka sangat berarti untuk hidup Bian hingga selama ini Bian merasa nggak bisa hidup tanpa mereka." ucap Bian yang membuat Bu Ajeng dan Pak Hardi menoleh, terkejut dengan apa yang mereka lihat tepat di hadapan mereka saat ini.
"Ki?" ucap Bu Ajeng tak percaya saat melihat Kiana berdiri di samping anaknya dengan Bian yang merangkul bahu gadis itu.
"Bian bawa Kiana pulang, Ma. Bian berhasil menemukan Kiana dan juga Al yang selama ini Bian harapkan keberadaanya di hari-hari saat Bian terpuruk karena kepergiannya." ungkap jujur Bian pada kedua orang tuanya.
"Maksud kamu apa, Bi? Kenapa kamu membawa-bawa nama Kiana? Dan siapa Al?" tanya Pak Hardi yang seolah tak mengerti dengan keadaan.
"Sayang," ucap Bian pada Kiana yang terus menundukkan kepalanya, meminta persetujuan agar mereka lebih mendekat pada kedua orang tuanya untuk memperlihatkan putra kecil mereka.
"Ini anak Bian Ma, Pa, cucu kalian," ungkapnya dengan lirih memperlihatkan Al pada mereka, hingga tak terasa matanya mulai berembun.
"Cucu?" ucap Bu Ajeng yang kini giliran wanita paruh baya itu yang semakin memperlihatkan keterkejutannya.
*****